Zhang Xun

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Zhang Xun

Zhang Xun (Hanzi: 张巡, 709-24 November 757) adalah seorang jenderal Dinasti Tang yang terkenal karena kepahlawanannya mempertahankan kota Yongqiu (sekarang Kabupaten Ji, Henan) dan Suiyang (sekarang Shangqiu, Henan) dari serbuan pemberontak semasa Pemberontakan Anshi. Pertahanannya yang gigih hingga titik darah penghabisan berhasil menghambat gerak laju pasukan pemberontak ke wilayah selatan Sungai Huai dan mengulur waktu bagi pasukan Tang di selatan untuk mengkonsolidasi kekuatan. Zhang gugur sebagai pahlawan setelah jatuhnya kota Suiyang dan menolak untuk menyerah pada musuh.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Zhang Xun dilahirkan pada tahun 709 semasa pemerintahan Kaisar Tang Zhongzong. Ada beberapa versi berbeda mengenai tempat kelahirannya, Kitab Dinasti Tang mengatakan ia lahir di Puzhou (sekarang Yuncheng, Shanxi), sementara Kitab Dinasti Tang Baru menyebutkan ia berasal dari Dengzhou (sekarang Nanyang, Henan). Sejak muda, ia sudah mendalami strategi perang dan dikenal sebagai seorang yang ambisius. Ia seorang yang sangat selektif dalam bergaul, hanya berteman dengan orang-orang yang dianggapnya terhormat sehingga pergaulannya tidak terlalu luas dan dirinya kurang dikenal. Ia lulus ujian kekaisaran sekitar akhir periode Kaiyuan (713-741), semasa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong dan memulai kariernya dalam pemerintahan sebagai salah satu anggota staff putra mahkota Li Heng sebelum akhirnya diangkat sebagai kepala daerah Qinghe (sekarang Xingtai, Hebei). Selama masa tugasnya di sana, ia membuktikan dirinya sebagai pejabat yang kompeten dan sangat memperhatikan rakyat yang membutuhkan pertolongannya. Setelah masa tugasnya berakhir, ia kembali ke ibukota Chang’an. Saat itu pemerintahan sedang didominasi oleh perdana menteri Yang Guozhong yang korup. Beberapa temannya menyarankan pada Zhang agar ia menemui perdana menteri Yang untuk meminta jabatan baru, namun ia dengan tegas menolak dengan mengatakan bahwa tidak sepantasnya seorang pejabat negara menjadi penjilat.

Zhang lalu ditugaskan sebagai pejabat daerah di Kabupaten Zhenyuan (sekarang Zhoukou, Henan). Saat itu daerah tersebut dikuasai oleh klan-klan lokal yang berpengaruh dan memerintah sebagai tiran. Hua Nanjin, seorang anggota klan yang menjadi pejabat setempat, adalah salah satu yang sangat berkuasa sampai ada sindiran yang beredar di kalangan rakyat mengatakan, “Segala sesuatu yang keluar dari mulut Hua Nanjin setara dengan yang berasal dari pemerintah.” Tidak lama setelah memegang jabatan di Zhenyuan, Zhang menghukum mati Hua atas dakwaan penyalahgunaan wewenang, sedangkan kepada kroni-kroni Hua yang mau bertobat, ia memberikan pengampunan. Ia senantiasa menjalankan tugasnya sebagai kepala daerah dengan baik sehingga rakyat pun mencintainya. Selain dikenal sebagai pejabat yang lurus, Zhang dan juga dikenal sebagai sastrawan yang handal, demikian pula kakak laki-lakinya, Zhang Xiao, yang juga menjadi pejabat pemerintah.

Pemberontakan Anshi[sunting | sunting sumber]

Pertempuran Yongqiu[sunting | sunting sumber]

Pada akhir tahun 755, ketika Zhang masih menjabat di Zhenyuan, jenderal An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing). An memimpin pasukannya bergerak cepat ke selatan mencaplok ibukota timur Luoyang dimana ia mendeklarasikan berdirinya Dinasti Yan dengan dirinya sebagai kaisar. Salah satu jenderalnya, Zhang Tongwu bergerak ke timur untuk menerima penyerahan diri sejumlah pejabat Tang. Yang Wanshi, gubernur Qiaozhou (sekarang wilayah Zhoukou) yang adalah atasan Zhang Xun termasuk salah satu yang bergabung dengan pemberontak, ia mengajak Zhang ikut memberontak. Yang menjanjikan jabatan sebagai sekretaris jenderal pada Zhang dan memerintahkannya untuk memimpin delegasi untuk menyambut Zhang Tongwu. Zhang Xun memang menghimpun delegasi, namun bukan untuk bergabung dengan pemberontak, ia mengajak mereka ke kuil Laozi (filsuf besar yang dianggap leluhur para kaisar Tang dan secara anumerta diberi gelar Kaisar Xuanyuan). Disana ia memimpin ritual penyembahan lalu mendeklarasikan sumpah setia pada Dinasti Tang dan membulatkan tekad melawan kaum pemberontak. Beribu-ribu pejabat dan rakyat memberi dukungan dan berdiri di belakangnya untuk bersama-sama berjuang membela negara. Selanjutnya Zhang memimpin 1000 prajurit pilihan ke Yongqiu, dimana Jia Bi, seorang jenderal lain yang setia pada Tang, sedang bertahan dari serangan Linghu Chao, mantan pejabat Tang yang membelot ke kubu pemberontak. Yongqiu sendiri tadinya merupakan wilayah kekuasaan Linghu, namun ketika ia sedang keluar dari sana untuk kampanye militernya, pasukan di kota itu memberontak dan mengakat Jia sebagai komandannya.

Belakangan Jia gugur dalam pertempuran ketika Linghu melakukan serangan balasan. Kini Zhang memegang komando tunggal atas Yongqiu dan bertanggung jawab penuh mempertahankan kota itu. Zhang mengirim surat pada komandan tertinggi Tang di wilayah itu, Li Zhi, Pangeran Wu. Li pun secara resmi mengangkatnya sebagai komandan pasukan Yongqiu. Tak lama kemudian, Linghu kembali dengan memimpin 40.000 pasukan pemberontak, didampingi oleh Li Huaixian, Yang Chaozong, dan Xie Yuantong. Zhang membagi 2000 pasukannya dalam dua kelompok, yang satu untuk bertahan dan yang lain untuk menyerang. Menghadapi pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya itu, Zhang beberapa kali melakukan serangan dadakan yang berhasil menimbulkan kerusakan besar di pihak lawan. Yongqiu dikepung selama 60 hari, namun para pemberontak itu tidak berhasil mendudukinya sehingga terpaksa mundur. Musim semi 756, Linghu kembali mengepung kota itu. Dalam situasi kritis karena pengepungan yang erat itu, enam perwira Zhang menyarankan agar menyerah saja pada pemberontak karena kaisar sendiri sudah meninggalkan Chang’an dan kabur ke Yizhou (sekarang Chengdu, Sichuan). Zhang pura-pura menerima saran mereka, keesokan paginya ia menggantung lukisan Kaisar Xuanzong dan memerintahkan para prajurit untuk memberi hormat serta memerintahkan keenam perwira itu dihukum mati. Keteguhan ini membuat moral para prajurit untuk terus bertahan semakin membara. Linghu kembali gagal merebut kota itu dan mundur ke Chenliu (sekarang Kaifeng, Henan). Sementara itu, seorang jenderal pemberontak lain bernama Li Tingwang mencoba untuk mencaplok Yongqiu dengan menyerang Ningling dan Xiangyi (keduanya sekarang termasuk wilayah Shangqiu, Henan). Serangan ini pun berhasil dihalau oleh Zhang sehingga Li terpaksa mundur dari Ningling dan Xiangyi.

Pada musim dingin tahun itu, Linghu bersama Wang Fude, kembali menyerang Yongqiu dan kembali pula dipukul mundur oleh Zhang. Linghu dan Li lalu membangun benteng di utara kota itu untuk memutus jalur perbekalan. Dengan jatuhnya beberapa kota di daerah itu dan persiapan pemberontak menyerang Ningling di bawah pimpinan Yang Chaozong, Zhang meninggalkan Yongqiu untuk mempertahankan Ningling. Di sana ia bertemu dengan Xu Yuan, gubernur Suiyang. Mereka bekerjasama dan berhasil memukul mundur Yang. Belakangan Zhang diangkat sebagai deputi gubernur militer Henan, Li Ju, Pangeran Guo (pengganti Li Zhi). Namun ketika meminta bantuan dari Li Ju yang ketika itu sedang berada di Pengcheng, Li menolak memberi bantuan materi, ia hanya memberikan kenaikan pangkat pada beberapa bawahan Zhang. Saat itu, An Lushan telah tewas dibunuh oleh anaknya sendiri, An Qingxu. Setelah naik tahta, An Qingxu mengirim jenderal Yin Ziqi menyerang Suiyang. Xu Yuan yang ketika itu telah kembali ke Suiyang meminta bantuan pada Zhang. Karena itu, Zhang mempercayakan Ningling pada perwiranya, Lian Tan, lalu membawa sebagian besar pasukannya ke Suiyang. Pada awalnya mereka berhasil mengalahkan Yin, namun Yin segera mengkonsolidasi pasukannya dan mengepung kota itu. Xu Yuan menyerahkan komando atas pasukan Suiyang kepada Zhang dengan alasan dirinya hanya seorang pejabat sipil yang tidak piawai dalam bidang militer. Kini ia hanya memegang tanggung jawab masalah logistik.

Pertempuran Suiyang[sunting | sunting sumber]

Berkali-kali Yin Ziqi melancarkan serbuan terhadap kota Suiyang, namun setiap kali serangannya selalu dipatahkan oleh Zhang. Yin bahkan kehilangan mata kirinya karena terkena panah. Pasukan pemberontak sangat frustasi karena selalu gagal merebut kota, mereka hanya bisa mengepung di luar tembok. Namun dari hari ke hari, persediaan makanan di kota makin menipis. Persediaan itu adalah hasil kerja Xu Yuan yang telah dikumpulkan tak lama sebelum pertempuran, namun Li Ju memaksanya untuk membagikan persediaan itu pada dua pos militer lainnya, Puyang (di Provinsi Henan) dan Jiyin (sekarang Heze, Shandong). Menjelang musim panas 757, situasi Suiyang semakin genting, para prajurit terpaksa memakan nasi dicampur dengan daun teh, kertas, atau kulit pohon untuk memenuhi kebutuhan pangan. Banyak yang mulai jatuh sakit. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Zhang untuk terus bertahan hingga akhir. Ia berbagi tugas dengan Xu, bagian timur laut dijaga olehnya, sementara Xu menjaga bagian barat daya, keduanya berjuang keras siang dan malam bersama para prajurit mempertahankan kota itu. Seringkali Zhang menyerukan pada pasukan pemberontak agar mereka kembali ke pihak Tang dan berjuang bersama membela negara. Beberapa dari mereka tersentuh oleh kata-katanya dan memilih menyerah dan bergabung dengannya.

Zhang mengutus perwira Nan Jiyun untuk meminta bantuan dari wilayah sekitar. Nan bersama 30 pasukan berkuda menembus kepungan musuh menuju Linhuai (sekarang Huai'an, Jiangsu) untuk meminta bantuan pada Jenderal Helan Jinming yang memiliki pasukan terkuat di wilayah itu. Namun sayangnya, Helan menolak permintaan itu dengan alasan Suiyang sudah dalam kondisi kritis dan akan segera jatuh dan ia tidak ingin menjerumuskan pasukannya ke dalam risiko berbahaya. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Helan menolak karena ia iri pada Zhang dan Xu, ia juga khawatir dirinya akan diserang oleh Xu Shuji, sekutu dekat perdana menteri Fang Guan yang adalah lawan politiknya. Sebagai gantinya, Helan menawarkan Nan untuk menjadi salah satu staffnya, namun Nan menolaknya mentah-mentah lalu segera menuju ke Ningling dimana ia bergabung dengan Lian Tan dan 3000 pasukannya sebelum akhirnya kembali ke Suiyang. Namun begitu kembali, mereka terlibat pertempuran sengit di luar tembok kota dan menderita cukup banyak korban, hanya 1000 dari mereka yang selamat.

Beberapa perwira Zhang menyarankan agar meninggalkan Suiyang dan mundur ke timur. Zhang dan Xu mendiskusikan hal ini, namun akhirnya mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan kota dengan pertimbangan Suiyang terletak di posisi strategis dan bila sampai jatuh maka akan membuka jalan bagi pasukan pemberontak untuk menyerang wilayah di antara Sungai Huai dan Sungai Yangtze, selain itu kalaupun meninggalkan Suiyang, bencana lain seperti kelaparan di jalan siap menghadang karena makanan yang tidak cukup dan perjalanan yang berat. Sementara itu, persediaan makanan semakin menipis saja, kuda-kuda perang mulai disembelih untuk dijadikan makanan. Setelah kuda habis, mereka mulai memakan burung gagak dan tikus. Setelah itu manusia pun mulai dijadikan makanan. Dengan penuh kesedihan, Zhang membunuh selir yang dikasihinya untuk dimakan pasukannya. Xu membunuh para pembantunya, dilanjutkan para wanita dan orang-orang cacat di dalam kota. Ketika itu situasi sudah sedemikian kritis, mereka sadar bahwa bila kota jatuh para pemberontak akan membantai mereka, sehingga ketika akan disembelih, tidak seorang pun melawan dan merelakan dagingnya berguna untuk memberi kekuatan bagi prajurit untuk terus berjuang bagi negara. Hingga saat-saat terakhir, hanya tinggal 400 orang yang tersisa.

Jatuhnya Suiyang dan kematian[sunting | sunting sumber]

24 November 757, pasukan pemberontak berhasil menaiki tembok kota, pasukan Zhang yang sudah lemah karena sakit dan kelaparan tidak berdaya menghalau mereka. Suiyang akhirnya jatuh ke tangan pemberontak, Zhang dan Xu ditawan. Mereka dibujuk untuk menyerah dan ditawarkan jabatan yang layak, namun Zhang, Xu, dan para perwira lain yang tersisa menolaknya mentah-mentah. Yin sangat mengagumi Zhang karena kegigihan dan kesetiaannya, ia sebenarnya ingin memberi pengampunan padanya, namun para bawahannya berkata bahwa dengan membiarkan Zhang tetap hidup sangat besar risiko meletusnya pemberontakan para tawanan perang. Yin pun akhirnya menjatuhkan hukuman mati pada Zhang dan 36 perwira pentingnya termasuk Nan Jiyun dan Lei Wanchun. Ketika akan dieksekusi, ekspresi Zhang tetap tenang tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun. Xu Yuan digiring ke Luoyang, namun dibunuh di Yanshi (dekat Luoyang) setelah para pemberontak mendengar kabar jatuhnya kota itu ke tangan pasukan Tang dan Huige (nenek moyang suku Uyghur) yang dipimpin oleh Li Chu, putra Kaisar Tang Suzong (putra Kaisar Xuanzong yang telah naik tahta menggantikannya).

Setelah Kaisar Suzong kembali ke Chang’an yang berhasil direbut kembali, ia memberi penghargaan secara anumerta kepada para pejabat setia pada yang gugur dalam perang. Timbul kontroversi ketika penghargaan itu akan diberikan pada Zhang dan Xu karena kasus kanibalisme di Suiyang. Seorang teman Zhang bernama Li Han menulis biografi Zhang untuk membelanya, dalam tulisannya ia berargumen bahwa bila Zhang tidak berjuang sedemikian gigih hingga pada taraf ekstrem, bukan tidak mungkin Dinasti Tang akan mengalami kekalahan total. Beberapa pejabat lain seperti Li Shu, Dong Nanshi, Zhang Jianfeng, Fan Huang dan Zhu Juchuan mendukung argumen Li. Kaisar Suzong akhirnya menerima pembelaan Li, ia memberi penghargaan kepada Zhang, Xu, Nan dan para perwira lain yang gugur dalam pertempuran di Suiyang. Keluarga mereka dianugerahi hadiah berlimpah, termasuk putra Zhang, Zhang Yafu, yang diberi jabatan penting dalam pemerintahan. Di kota Suiyang dibangun sebuah kuil untuk memperingati kesetiaan Zhang dan Xu, kuil tersebut dinamai Kuil Ganda (双庙, Shuang Miao), belakangan kuil ini diubah namanya menjadi Kuil Lima Raja (五王庙, Wuwang Miao) dengan ditambahkannya Nan Jiyun, Lei Wanchun, dan Jia Bi sebagai tokoh yang disembah. Tahun 1991, pemerintah RRC memindahkan kuil itu ke depan gerbang selatan kota Shangqiu dan mengubah namanya menjadi Kuil Zhang Xun (张巡祠, Zhang Xun Ci)

Persepektif sejarah[sunting | sunting sumber]

  • Keberanian dan kesetiaan Zhang Xun menuai pujian dan decak kagum dari generasi setelahnya. Wen Tianxiang, patriot besar pada akhir Dinasti Song, memuji Zhang dalam puisi terkenalnya ‘Lagu Kebenaran’ (正气歌, Zhengqige). Para sastrawan, negarawan dan patriot lain seperti Yue Fei, Wang Anshi, Han Yu, Lu You juga pernah menyanjungnya dalam tulisan-tulisan mereka. Agama Tao bahkan menjadikan Zhang sebagai salah satu dewanya.
  • Dari sudut pandang militer, Zhang adalah seorang pemimpin militer yang gemilang, dengan pasukan yang sedikit ia sanggup bertahan melawan pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak serta menimbulkan kerusakan besar di pihak lawan dengan strategi perang yang cerdik. Ia juga seorang pemimpin yang mampu mengobarkan semangat anak buahnya, sikapnya yang bersahaja, mau berbagi suka dan duka dengan mereka telah membuat mereka sangat hormat dan rela mempertaruhkan jiwa raga di medan perang.
  • Bagimanapun, tindakan ekstrem Zhang yang telah menyebabkan kanibalisme tidak luput dari kritik. Wang Fuzhi, filsuf Konfusius pada masa Dinasti Qing, mengkritik keras Zhang atas tindakannya itu, demikian pula sejarawan Tiongkok modern, Bo Yang, yang menyatakan bahwa tindakan Zhang, yang menurutnya tidak menghargai kehidupan demi kesetiaan dan idealisme, sangat disayangkan.
Istana Hushan di Taipei, Taiwan, salah satu kuil yang didedikasikan bagi Zhang Xun
  • Terlepas dari segala kontroversi, Zhang Xun tetap merupakan seorang tokoh yang dihormati dan menjadi teladan bagi setiap generasi Tionghoa. Kuil-kuil peringatan dirinya banyak dibangun di berbagai daerah di Tiongkok maupun di luar Tiongkok seperti Taiwan dan Singapura. Puisi-puisinya, terutama yang ditulis pada sela-sela pertempuran di Yongqiu dan Suiyang mengenai kesetiaan dan semangat yang membara dalam membela negara, tetap abadi hingga kini dan senantiasa menginspirasi para patriot dalam perjuangan mereka.

Referensi[sunting | sunting sumber]