Yohanes 2

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
pasal 1       Yohanes 2       pasal 3
Papyrus 5, ~250 CE

Yohanes 16:14-22 pada sisi recto dari Papirus 5, yang ditulis sekitar tahun 250 M.
Kitab: Injil Yohanes
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 4
Kategori: Injil

Yohanes 2 (disingkat Yoh 2) adalah bagian dari Injil Yohanes pada Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen, menurut kesaksian Yohanes, seorang dari Keduabelas Rasul pertama Yesus Kristus.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Pembagian isi pasal (disertai referensi silang dengan bagian Alkitab lain):

Ayat 1[sunting | sunting sumber]

Perkawinan di Kana

Perkawinan di Kana terjadi pada hari ke-3 setelah pertemuan Yesus dengan Filipus dan Natanael.[3] (lihat "Kronologi" pada pasal 1)

Ayat 10[sunting | sunting sumber]

"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."[4]

Ayat 11[sunting | sunting sumber]

Mujizat pengubahan air menjadi anggur yang diperbuat Yesus Kristus di kota Kana, Galilea, dicatat dalam Injil Yohanes "sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya".[5] Seluruhnya ada 7 tanda yang dikemukakan dalam Injil ini. Injil Yohanes menggunakan istilah bahasa Yunani semeion (="tanda"), atau juga ergon (="pekerjaan"), sedangkan Injil-injil sinoptik (Matius, Markus dan Lukas) lebih memakai istilah dynamis (="kuasa"), untuk "mujizat".[6]

Ayat 20[sunting | sunting sumber]

Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"[7]

Pembangunan Bait Allah ini dimulai oleh raja Herodes pada tahun 20 SM, dan diselesaikan oleh Herodes Agripa II pada tahun 64 M. Jadi 46 tahun setelah pendirian oleh Herodes jatuh pada sekitar tahun 26 M.[8]

Perkawinan di Kana[sunting | sunting sumber]

Letak kota Kana di Shepherd's Historical Atlas, 1923. Masih ada keraguan mengenai lokasi sebenarnya.

Peristiwa perkawinan di kota Kana ini terkenal di kalangan orang Kristen dan pakar Alkitab khususnya bagian Perjanjian Baru, karena di sini terjadi mujizat Yesus Kristus yang pertama.[9] Meskipun tidak dicatat di ketiga Injil yang lain, dalam Injil Yohanes, mujizat ini penting karena merupakan yang pertama dari tujuh tanda bahwa Yesus Kristus itu Anak Allah dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.[10] Masih menjadi perdebatan apakah kisah ini merupakan peristiwa nyata atau hanya suatu perumpamaan rohani (alegori). Sebagai alegori, hikmat dari kisah ini adalah pengharapan dan kabar sukacita seperti yang dikatakan oleh pemimpin pesta perkawinan kepada pengantin laki-laki pada #Ayat 10.
Juga dapat diartikan bahwa meskipun saat paling gelap adalah menjelang terbitnya fajar, hal yang baik akan datang. Makna yang lebih umum adalah kedatangan Yesus membawa harapan, dan dalam Injil ini di pasal 14 dikatakan Yesus adalah pokok anggur yang sejati.[11] Kehadiran Yesus dalam pesta perkawinan dan penggunaan kuasa ajaib untuk menyelamatkan pesta itu dari malapetaka (kehabisan minuman anggur) diartikan sebagai persetujuan Yesus akan institusi perkawinan, yang kemudian dibahas oleh rasul Paul dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, pasal 7.[12] Juga digunakan sebagai argumen melawan ajaran yang melarang minum anggur (teetotalisme).[13]

Refleksi[sunting | sunting sumber]

Pada zaman itu, dalam budaya mayarakat semasa Maria dan Yesus Kristus menjalani hidup (roh, jiwa, sorgawi) dan menghayati kehidupan (daging, raga, duniawi) di dunia, anggur mempunyai nilai dan tempat tersendiri dibandingkan dengan anggur bagi kita zaman ini. Demikian halnya ketersediaan anggur di dalam perjamuan nikah kala itu jauh berbeda nilainya di dalam pesta nikah pada zaman sekarang.

Perikop "Perkawinan di Kana" dalam Injil dapat diaplikasikan dalam sebuah gambaran kehidupan yang penuh sukacita, di mana anggur merupakan salah satu hidangan utama. Coba tengok, apa yang akan diperbuat saat "hidangan" habis ditengah-tengah penyelenggaran sebuah pesta? Bagaimana pula jika peristiwa "kehabisan cita" dalam hidup pasangan suami-istri? Apa yang akan terjadi ketika "kehabisan" kasih, kejujuran, ketulusan, keadilan, kebenaran dan semacamnya dalam keluarga, komunitas, masyarakat, berbangsa, bernegara sampai pada perhelatan hidup beragama dan beriman?

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.
  3. ^ Yohanes 1:43-51
  4. ^ Yohanes 2:10
  5. ^ Yohanes 2:11
  6. ^ Brown, Raymond E. (1997). An Introduction to the New Testament. Doubleday. ISBN 0-385-24767-2. .
  7. ^ Yohanes 2:20
  8. ^ The New Oxford Annotated Bible. 4th ed. New York: Oxford Press, 2010.
  9. ^ Towner, W. S. (1996). Wedding. In P. J. Achtermeier (Ed.), Harper Collins Bible dictionary (pp. 1205-1206). San Francisco: Harper
  10. ^ Yohanes 2:11
  11. ^ Smith, D. M. (1988). John. In Mays, J. L. (Ed.), Harper's bible commentary (pp. 1044-1076). San Francisco: Harper.
  12. ^ 1 Korintus 7
  13. ^ Geisler, N. L. (1982), A Christian Perspective on Wine-Drinking. Bibliotheca Sacra, 49

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]