Yi Yin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Yi Yin

Yi Yin (Hanzi: 伊尹, 1648 SM-1549 SM) adalah negarawan yang turut membantu Cheng Tang mendirikan Dinasti Shang. Pengaruhnya pada masa-masa awal Dinasti Shang sangat besar.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Yi berasal dari golongan budak yang bekerja untuk istri Tang. Walaupun seorang budak, Yi dikaruniai otak yang cerdas, ia belajar dan memahami karya-karya klasik dan strategi dari lingkungan istana tempatnya bekerja. Belakangan ia bekerja sebagai koki di istana Tang. Dalam suatu kesempatan, Tang sangat terkesan ketika bercakap-cakap dengannya mengenai masakan. Yi mengatakan bahwa untuk memasak dengan baik jangan menaburkan garam terlalu banyak atau terlalu sedikit, dengan campuran bahan-bahan yang tepat maka terciptalah makanan yang lezat, hal ini sama dengan mengatur negara, seorang penguasa tidak dapat memerintah dengan baik kecuali dia dapat bertindak rasional dan tepat. Mendengar itu, Tang menyadari bahwa Yi mempunyai bakat besar, maka ia mencabut status budaknya dan memberikan jabatan sebagai mentri.

Menjadi mata-mata di Xia[sunting | sunting sumber]

Sudah lama Tang ingin menggulingkan Raja Jie dari Xia yang kejam dan sewenang-wenang. Mengetahui jalan pikiran rajanya, Yi menawarkan diri untuk menjadi mata-mata yang dikirim ke istana Raja Jie dengan tujuan mengadakan penyelidikan tentang seluk-beluk mereka. Rencana pun diatur, Yi pura-pura melarikan diri dari Shang sebagai seorang buronan hingga akhirnya tiba di Zhenxun (sekarang bagian selatan Yanshi, Henan), ibukota Xia. Raja Jie yang tertarik dengan kepandaian dan tutur katanya langsung percaya padanya dan memberinya pangkat dan kedudukan.

Di tempat barunya, Yi menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekejaman Raja Jie yang tiap hari berpesta pora dengan selir-selirnya dan membiarkan rakyatnya menderita karena terus membayar pajak yang tinggi, siapapun yang menentangnya akan dihadapkan pada hukuman mati. Yi pernah mencoba menasihati Jie agar menyadari kesalahannya, namun sang tiran itu sudah tuli dari nasihat apapun. Dalam waktu tiga tahun, Yi sudah memperoleh banyak informasi mengenai Kerajaan Xia, lalu ia kabur dari Xia dan kembali ke Shang. Tang menyambutnya dengan penuh sukacita dan mengangkatnya menjadi perdana mentri. Mereka mulai menyusun rencana untuk menumbangkan Xia.

Rencana besar menggulingkan Xia[sunting | sunting sumber]

Yi mengusulkan agar langkah pertama yang harus diambil adalah menggerogoti kekayaan Xia. Raja Jie mempunyai ribuan selir yang suka berpakaian mewah, maka dieksporlah bergulung-gulung kain sulaman ke Xia untuk ditukar dengan gandum. Siasat ini sangat jitu. Dalam beberapa tahun saja, Xia menjadi sangat miskin, sebaliknya Shang menjadi makmur. Atas anjuran Yi, Tang membagikan kelebihan ransum kepada rakyat yang kelaparan dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Dengan demikian Tang memenangkan dukungan dari rakyat dan penguasa wilayah sekitarnya.

Ketika Raja Jie mulai merasa curiga pada Tang, dia menjebaknya dan memenjarakannya di Xia. Menghadapi krisis ini, Yi turun tangan dengan pergi ke Xia sambil membawa banyak barang berharga dan puluhan wanita cantik. Jie yang gila wanita sangat senang melihat wanita-wanita yang dibawa Yi sehingga dia pun mengampuni Tang. Setelah Tang dibebaskan, Yi membantunya menyusun langkah-langkah berikutnya untuk menggulingkan Xia.

Pada awal abad ke-16 SM, Shang menyatakan perang terhadap Xia. Berturut-turut pasukan Shang dapat merebut daerah kekuasaan Xia. Akhirnya mereka berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Gunung Mingtiao (sekarang Gunung Zhongtiao di selatan Shaanxi). Dinasti Xia yang telah berkuasa di Tiongkok selama lebih dari 400 tahun akhirnya tumbang dan digantikan oleh Dinasti Shang dengan Tang sebagai raja pertamanya.

Pengabdian selama tiga generasi[sunting | sunting sumber]

Atas jasa-jasanya, Yi Yin kini diangkat sebagai pejabat kepercayaan Tang. Ia bekerja keras membantu Tang mengatur negara. Setelah Tang mangkat, ia terus melanjutkan pengabdiannya pada putra-putra Tang yaitu berturut-turut Taiding, Waibing, Zhongren, hingga cucunya Taijia. Dengan demikian ia mengabdikan diri selama tiga generasi dan lima raja. Ia menjadi orang yang paling berpengaruh dalam Dinasti Shang.

Tahun 1579 SM, cucu Tang, Taijia, naik tahta. Taijia bukanlah seorang penguasa yang baik, dia banyak menghabiskan waktunya bersenang-senang dan main perempuan sehingga sering mengabaikan urusan negara. Beberapa kali Yi menasihatinya untuk mengubah kelakuannya agar Dinasti Shang tidak berakhir tragis seperti Dinasti Xia dulu. Karena Taijia masih belum sadar, akhirnya Yi mengambil langkah yang sangat berani yaitu menjadikan Taijia tahanan rumah di sebuah istana kecil dekat makam kakeknya, Tang, sementara dia sendiri mengambil alih tugas-tugas sang raja. Seiring berjalannya waktu, Taijia mulai merengungi kesalahannya, ia mulai mendengarkan nasihat Yi dan merasa bersalah karena telah mengecewakan para pendahulunya.

Taijia tinggal disana selama tiga tahun dan dibawah bimbingan Yi, akhirnya ia bisa memperbaiki dirinya. Yi pun mengembalikan kekuasaan padanya. Berkat hukuman yang diberikan Yi, Taijia kini menjadi penguasa yang bijak. Tahun 1549 SM, Yi menghembuskan napas terakhir dalam usia 100 tahun. Ia dimakamkan secara istimewa dengan tata cara penguburan untuk seorang raja di sebelah makam Tang sebagai rasa penghormatan atas jasanya yang sangat besar.

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

  • Meskipun Yi berjasa besar, namun tindakannya memenjarakan Taijia banyak dicontoh dan disalahgunakan oleh generasi berikutnya, terutama oleh para petualang politik yang haus kuasa sebagai pembenaran atas tindakan makar terhadap kekuasaan yang sah sehingga tidak jarang justru menimbulkan kericuhan yang berkepanjangan. Misalnya yang pernah dilakukan oleh Huo Guang pada masa Dinasti Han Barat, Dong Zhuo pada akhir Dinasti Han, Zhu Quanzhong pada akhir Dinasti Tang, dll.
  • Yi juga dianggap dewa masak bangsa Tionghoa karena dialah yang memulai pola-pola memasak masakan Tionghoa. Menurutnya seorang koki yang baik harus dapat memanaskan masakan tanpa menghanguskannya dan harus dapat merebus makanan sampai matang tetapi tidak terlampau matang, selain itu ia juga harus mengerti titik terbaik antara manis, asin, asam, pedas, empuk, dan berminyak untuk memperoleh citarasa yang baik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Fu Chunjiang, “Chinese History: Ancient China to 1911”, Singapore: Asiapac Books, 2005
  • Fu Chunjiang, “Origins of Chinese Food Culture”, Singapore: Asiapac Books, 2003