Yairus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bangkitnya anak perempuan Yairus lukisan Paolo Veronese, 1546

Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat di Galilea, menurut catatan Injil Markus dan Injil Lukas.[1] Ia disebutkan namanya dalam kaitan dengan mukjizat Yesus Kristus membangkitkan kembali anak perempuannya yang mati.[2] Ini merupakan salah satu 3 mukjizat membangkitkan orang mati oleh Yesus Kristus yang dicatat dalam kitab-kitab Injil di Perjanjian Baru Alkitab Kristen. Injil Matius mencatat peristiwa pembangkitan kematian ini tetapi tidak menyebutkan nama Yairus, diduga karena berbeda dengan Injil-injil lain, Injil Matius ini ditulis pertama-tama untuk orang-orang Yahudi dan Matius tidak ingin keluarga Yairus ini mendapatkan sorotan yang kurang baik.

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Peristiwa ini dituliskan oleh ketiga Injil segera setelah mukjizat pengusiran roh jahat di Gerasa (atau Gadara). Ketika Yesus turun dari kapal yang membawanya dari pantai timur danau Galilea, kembali ke pantai barat danau itu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau berbicara kepada mereka, datanglah Yairus. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya. Yairus berkata: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." (Injil Matius mencatat: "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.") Anaknya perempuan yang satu-satunya itu berumur kira-kira 12 tahun. Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak berbondong-bondong mengikuti serta berdesak-desakan di dekat-Nya.

Menarik sekali bahwa dalam ketiga Injil, diceritakan bahwa dalam perjalanan itu, di antara orang-orang yang mengerumuni Yesus, ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau." (Catatan Injil Markus: Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?") Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku." Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Perempuan itu menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. Maka Yesus memandang kepada perempuan itu serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"

Peristiwa ini mempunyai sejumlah arti penting, tetapi 2 hal yang berhubungan langsung dengan pembangkitan anak perempuan Yairus adalah:

  1. Secara hukum Yahudi, Yesus menjadi najis (paling sedikit selama sehari, yaitu sampai matahari terbenam), dan harus membersihkan diri sebelum dapat menyentuh orang lain, kalau Ia disentuh oleh seorang yang mengalami pendarahan (seorang yang dianggap najis). Namun, karena perempuan itu mengakui bahwa ia tidak lagi mengalami pendarahan, segera saat menyentuh jubah Yesus, maka ia tidak lagi najis, dan Yesus pun tidak menjadi najis.
  2. Dengan adanya penundaan ini, maka anak perempuan Yairus yang tadinya hampir mati, tidak tertolong lagi, dan benar-benar mati.

Ketika Yesus masih berbicara dengan perempuan yang baru sembuh dari pendarahan itu, datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" Tetapi Yesus mendengarnya dan tidak menghiraukan perkataan mereka, Ia berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu Ia melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama (3 orang murid-Nya itu) dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," (bahasa Aramaik dalam Injil Markus dialih-aksara ke bahasa Yunani: ταλιθα κουμ) yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah 12 tahun. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. Dan takjublah orang tua anak itu dan semua yang hadir, tetapi Yesus dengan sangat berpesan kepada mereka dan melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu. Namun, tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Interpretasi[sunting | sunting sumber]

John Donahue dan Daniel Harrington mengatakan peristiwa ini menunjukkan bahwa "iman percaya, khususnya yang dimiliki oleh perempuan yang mengalami pendarahan itu, dapat muncul dalam keadaan yang nampaknya tanpa harapan".[3] Kombinasi cerita ini merupakan contoh "intercalation", yaitu satu insiden dimasukkan ke dalam insiden lain, dan membandingkan seorang perempuan tua yang sakit selama 12 tahun, dengan seorang anak perempuan yang berusia 12 tahun.[4] Michael Keene mengatakan ada hubungan antara Yairus dengan perempuan yang mengalami pendarahan itu: "Penghubung antara keduanya adalah iman karena baik Yairus maupun perempuan yang mengalami pendarahan itu menunjukkan iman percaya yang besar terhadap Yesus."[5] Walvoord dan Zuck mengatakan: "Apa yang nampaknya merupakan penundaan berakibat fatal (untuk anak perempuan Yairus) sewaktu menyembuhkan perempuan yang mengalami pendarahan itu sebenarnya menjamin kebangkitan anak perempuan Yairus dari kematian. Hal itu diatur secara ilahi untuk menguji dan menguatkan iman Yairus."[6] Lange juga menulis: "Penundaan ini bersifat menguji dan sekaligus menguatkan iman Yairus."[7]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Markus 5:22; Lukas 8:41
  2. ^ Markus 5:21–43; Matius 9:18–26; Lukas 8:40-56
  3. ^ John R. Donahue, Daniel J. Harrington 2005 The Gospel of Mark ISBN 0-8146-5965-9 page 182
  4. ^ Intercalations in the synoptic tradition
  5. ^ Michael Keene, 2002 St Mark's Gospel and the Christian faith ISBN 0-7487-6775-4 page 72
  6. ^ John F. Walvoord, Roy B. Zuck, 1983 The Bible Knowledge Commentary ISBN 0-88207-812-7 page 124
  7. ^ Johann Peter Lange, 1960 A commentary on the Holy Scriptures Zondervan Press ASIN: B00133NOEM page 174