Wiro Sableng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Wiro Sableng

Wiro Sableng Roh Dalam Keraton.jpg
Sampul novel Wiro Sableng dalam episode Roh Dalam Keraton

Penerbit Muncul Perdana[1]
Muncul
perdana
Empat Brewok dari Goa Sranggeng
Pencipta Bastian Tito
Karakteristik
Nama Karakter Wira Saksana
Dunia asal Nusantara
Afiliasi
kelompok
Golongan Putih
Alias Pendekar Kapak Maut Geni 212
Pendekar Gunung Fuji
Ninja Merah
Kemampuan Ilmu bela diri dari berbagai aliran
Ilmu gaib

Wiro Sableng atau Pendekar 212 adalah tokoh fiksi serial novel yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng. Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan, dari berbagai guru.

Daftar isi

Pengarang[sunting | sunting sumber]

Penulisan[sunting | sunting sumber]

  1. Dalam menyelesaikan satu episode rata-rata menghabiskan waktu 3 minggu.
  2. Pengetikan dilakukan oleh penulis sendiri, untuk proses pengeditan dan penyelesaian buku dilakukan oleh asisten.
  3. Sekali menulis serial Pendekar 212, biasanya penulis menyelesaikan sekaligus langsung 2 sampai dengan 3 buku.
  4. Waktu penerbitan buku episode baru di pasaran tergantung stok cerita selanjutnya atau jumlah buku selanjutnya yang akan diterbitkan, apabila mengalami keterlambatan berarti stok buku berikutnya sudah hampir habis sedangkan penulis masih dalam proses menyelesaikan tulisannya.
  5. Apabila jumlah stok buku yang akan diterbitkan habis sedangkan penulis masih dalam proses penulisan biasanya akan terjadi keterlambatan terbit lebih dari 2 sampai 3 bulan.
  6. Keterlambatan ini biasanya disebabkan lamanya waktu yang dihabiskan penulis untuk survei tempat-tempat yang dikunjungi demi kepentingan penulisan.

Survei tempat[sunting | sunting sumber]

  1. Untuk memperkuat dan menambah kualitas cerita, penulis langsung mengunjungi dan mensurvei tempat atau daerah yang akan ada di serial Pendekar 212.
  2. Untuk satu tempat biasanya membutuhkan waktu sampai 2 minggu sehingga penulis benar-benar bisa mengetahui adat, budaya, legenda maupun cerita-cerita masyarakat setempat dan dihubungkan dengan situasi, suasana alam dan keadaan di masa silam.

Penulis selalu membawa alat perekam[sunting | sunting sumber]

  1. Kemanapun penulis pergi selalu membawa alat perekam.
  2. Hal ini dilakukan untuk merekam semua yang dilihat dan didengar penulis, jadi setiap apa yang dilihat maupun percakapan yang didengar penulis kadang dituangkan ke dalam bukunya, jadi tidak mengherankan apabila isi cerita, isi percakapan para tokoh, gaya bahasa serta gaya penulisan penulis terasa benar-benar hidup.
  3. Tentu saja semua itu harus disertai pula ilmu dan bakat yang memadai untuk menjadi seorang penulis yang handal.

Judul buku terlaris[sunting | sunting sumber]

  1. Serial Wiro Sableng berhasil mencapai 2 kali orbit, tepatnya tahun 1989 dan 1994.
  2. Buku yang berhasil orbit ternyata buku terbitan lama tapi dicari kembali dan laris pada tahun 90-an.
  3. Dua buku yang berhasil orbit berjudul Makam Tanpa Nisan dan Guci Setan.
  4. Judul Makam Tanpa Nisan meledak 921.020 eksemplar pada tahun 1989.
  5. Judul Guci Setan meledak 924.078 eksemplar pada tahun 1994.
  6. Berikut 10 judul serial Pendekar 212 yang terlaris selain 2 judul di atas (rata-rata terjual di atas 800.000 eksemplar): Badai Di Parang Tritis, Topeng Buat Wiro Sableng, Wasiat Iblis, Geger Di Pangandaran, Kiamat Di Pangandaran, Gerhana Di Gajah Mungkur, Kembali Ke Tanah Jawa, Senandung Kematian, Kematian Kedua dan episode terakhir Jabang Bayi Dalam Guci.

Waktu senggang penulis[sunting | sunting sumber]

  1. Penulis menyukai permainan catur, salah satu hal yang disukai penulis dari catur karena bidaknya selalu berwarna hitam dan putih.
  2. Tentu saja waktu senggang penulis utamanya dihabiskan untuk berkumpul, bercengkerama dan sesekali berekreasi bersama keluarga.

Karakter Wiro Sableng[sunting | sunting sumber]

Foto alm. Bastian Tito (kiri) pengarang Wiro Sableng, dan Ken Ken pemeran serial Wiro Sableng.

Jika dicermati, terasa sekali perubahan karakter, sifat dan sikap Wiro seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Sejak Wiro masih muda dan masih sableng-sablengnya hingga dewasa, sedikit demi sedikit pribadinya berubah menjadi lebih bijaksana dan berpikirnya pun lebih dewasa serta mengurangi kesablengannya yang kadang menyakiti perasaan orang lain.

Walaupun sedikit ceriwis dan banyak disukai bahkan disayangi gadis-gadis cantik, tapi Wiro bukanlah tipe laki-laki brengsek pengobral cinta. Apalagi mulai dari episode Wasiat Iblis dan seterusnya, Wiro mengalami proses pendewasaan dalam dirinya, mulai dari cara berpikir maupun sikap dan tingkah lakunya.

Sampai sejauh ini Wiro pernah mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung hanya kepada dua orang gadis saja, yaitu Bunga dan Bidadari Angin Timur. Setelah mengungkapkan kata-kata sayang dan cinta kepada Bunga, hanya kepada Bidadari Angin Timur lah Wiro kembali mengungkapkan perasaan hatinya. Itu pun karena ada alasan kuat kenapa Wiro pada akhirnya tak bisa bersatu dengan Bunga. Saat Wiro mengungkapkan perasaan hatinya kepada Bidadari Angin Timur pun terpaut perbedaan waktu cukup jauh dengan saat dimana Wiro menyatakan cintanya kepada Bunga.

Wiro pernah menyukai atau mencintai gadis lain selain ketiga gadis di atas, tapi semua hanya Wiro pendam dalam hati dan tak sekalipun langsung Wiro ungkapkan dengan kata-kata. Apalagi bila akhirnya Wiro mengetahui bahwa gadis yang dicintainya lebih memilih pria lain, pendekar kita memilih lebih baik mundur dan merelakan si gadis pergi demi kebahagiaan gadis yang dikasihinya.

Senjata-senjata Wiro Sableng[sunting | sunting sumber]

Kapak Maut Naga Geni 212[sunting | sunting sumber]

Senjata utama Wiro Sableng. Sebuah kapak besar bermata dua, dengan gagang berupa seruling dan ujung gagang berbentuk kepala naga. Di masing-masing mata kapak terukir angka 212. Di seri pertama Wiro Sableng : "Empat Berewok dari Goa Sanggreng", dikatakan bahwa kapak ini terbuat dari logam dan gading. Mulut ukiran naga dapat menembakkan jarum-jarum beracun, dengan jalan menekan tombol rahasia pada kapak. "Seruling" di gagang kapak dapat ditiup dan mengeluarkan suara yang sangat dahsyat. Beberapa musuh WIro Sableng yang tidak dapat dibunuh dengan kesaktiannya yang lain, dapat dikalahkan atau dibunuh dengan bunyi seruling ini, misalnya : Dewi Siluman dari Bukit Tunggul pada episode Dewi Siluman dari Bukit Tunggul, atau nenek Arashi pada episode Pendekar Gunung Fuji. Kapak ini baru dapat digunakan dengan mengerahkan tenaga dalam. Tebasannya terlihat seperti sinar putih dan mengeluarkan bunyi seperti dengungan ratusan tawon. Kapak ini juga mengandung racun mematikan. Pada episode Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin, di akhir episode, pemegang Cambuk Api Angin terbunuh oleh racun ini, setelah tangannya putus ditebas Kapak Maut Naga Geni 212.

Batu Hitam 212[sunting | sunting sumber]

Batu hitam seukuran telapak tangan orang dewasa, berukir angka 212. Jika batu hitam ini diadu dengan mata Kapak Maut Naga Geni 212, dapat memercikkan semburan api besar yang sangat panas.

Bintang 212[sunting | sunting sumber]

Senjata rahasia berbentuk bintang dengan ukiran angka 212, digunakan dengan cara dilemparkan, seperti senjata "shuriken" milik ninja. Bintang 212 digunakan dalam episode Keris Tumbal Wilayuda dan Rahasia Lukisan Telanjang

Beberapa kesaktian Wiro Sableng[sunting | sunting sumber]

Pukulan Harimau Dewa[sunting | sunting sumber]

Diwariskan oleh Datuk Rao Basaluang Ameh, mahluk setengah roh setengah manusia dari kepulauan Andalas. Di awali dengan tiupan di tangan sebelah kanan yang memunculkan gambar kepala harimau putih (Datuk Rao Bamato Hijau), pukulan ini sanggup menghancurkan apa saja tanpa perlu mengeluarkan tenaga dalam. Hanya beberapa musuh utama Wiro Sableng yang dapat mematahkan / mengimbangi pukulan Harimau Dewa ini, seperti Datuk Lembah Akhirat, yang mempunyai tenaga dalam setingkat para Dewa (yang didapat dari menghisap tenaga dalam para pendekar yang lain).

Pukulan Sinar Matahari[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Sinto Gendeng alias Sinto Weni. Berupa sinar menyilaukan berwarna putih keperakan yang sangat panas. Diawali dari sinar putih keperakan memancar dari tangan, kemudian tangan digerakkan dengan gerakan memukul, dan sinar putih perak itu ditembakkan kepada lawan (energy blast/energy shot). Kekuatan pukulan ini adalah suhu yang sangat tinggi, dan dalam episode Halilintar Di Singosari, pukulan Sinar Matahari disebutkan dapat melumerkan borgol besi. Pukulan Matahari juga sangat berguna di dunia batin.Terutama yang bisa mengeluarkan Ruhnya dari Jasadnya untuk sementara.

Pukulan Angin Es[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Sinto Gendeng. Berupa suhu yang sangat dingin. Mampu membuat lawan tak dapat bergerak karena sangat kedinginan. Gerakannya berupa mengangkat kedua tangan lalu telapak tangan dikembangkan dan diputar perlahan-lahan, kemudian suhu udara di sekitar lokasi mulai dingin dan dapat membuat lawan yang dituju menjadi kaku seperti salju. Ilmu kesaktian ini biasa digunakan Wiro sewaktu menghadapi musuh yang mempunyai kesaktian berintikan api atau panas. Mayat Hidup dari Gunung Klabat dikalahkan Wiro dengan pukulan ini.

Pukulan Angin Puyuh[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Sinto Gendeng. Berupa hempasan angin yang sangat deras.

Pukulan Dewa topan menggusur gunung[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Tua Gila. Berupa hempasan angin yang sangat deras.

Pukulan Benteng Topan melanda samudera[sunting | sunting sumber]

Berupa hempasan angin yang sangat deras.

Pukulan Kunyuk melempar buah[sunting | sunting sumber]

Berupa hempasan angin yang deras dan berat, seperti sebongkah batu besar yang dilemparkan.

Ilmu silat Orang Gila[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Tua Gila, paman guru (kakak seperguruan eyang sinto gendeng) Wiro di Pulau Andalas (sekarang Pulau Sumatera). Berupa gerakan-gerakan silat (martial arts) yang terlihat ngawur dan mirip gerakan orang gila, namun sangat berbahaya.

Pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih-Menindih[sunting | sunting sumber]

Diajarkan Sinto Gendeng, berupa angin dahsyat yang berhembus menyebar dan menggempur susul menyusul hanya dengan sekali pukul. Keistimewaan pukulan ini adalah fungsinya yang bersifat 3 dalam 1; dapat digunakan menyerang, bertahan, sekaligus mengembalikan serangan lawan ke pemiliknya.

Ilmu Pedang Pendekar Pedang Akhirat[sunting | sunting sumber]

Diajarkan dedengkot rimba kangouw Tiongkok , Pendekar Pedang Akhirat (Long Sam Kun), berupa tiga jurus ilmu pedang tingkat tinggi yang masing-masing bernama Cip-hian Jay-bong (Tiba-tiba Muncul Pelangi), Lo-han Ciang-yau (Malaikat Menundukkan Siluman) dan Kui-gok Sin-ki (Iblis Meratap Malaikat Menangis).

Daftar lengkap kesaktian Wiro Sableng[sunting | sunting sumber]

Pukulan sakti (17 pukulan)[sunting | sunting sumber]

Sinto Gendeng (8 pukulan)
  1. Pukulan Sinar Matahari
  2. Pukulan Angin Puyuh
  3. Pukulan Angin Es
  4. Pukulan Kunyuk Melempar Buah
  5. Pukulan Benteng Topan Melanda Samudra
  6. Pukulan Segulung Ombak Menerpa Karang
  7. Pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan
  8. Pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih
Tua Gila (2 pukulan)
  1. Pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung
  2. Pukulan Kilat Menyambar Puncak Gunung
Kitab Putih Wasiat Dewa (7 pukulan)
  1. Pukulan Harimau Dewa
  2. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari
  3. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang
  4. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Rembulan
  5. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Air Bah
  6. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Api
  7. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Tanah

Jurus silat [19 jurus][sunting | sunting sumber]

Sinto Gendeng (13 jurus)
  1. Jurus Membuka Jendela Memanah Rembulan
  2. Jurus Dibalik Gunung Memukul Halilintar
  3. Jurus Titiran Terbang Ke Langit
  4. Jurus Burung Walet Menembus Awan
  5. Jurus Kepala Naga Meyusup Awan
  6. Jurus Ular Naga Menggelung Bukit
  7. Jurus Menepuk Gunung Memukul Bukit
  8. Jurus Orang Gila Mengebut Lalat
  9. Jurus Kincir Padi Berputar
  10. Jurus Kipas Sakti Terbuka
  11. Jurus Naga Sebatkan Ekor
  12. Jurus Pecut Sakti Menabas Tugu
  13. Jurus Gunung Meletus Batu Melesat Ke Luar Kawah
  14. Jurus Rajawali Membubarkan Anak Ayam
Tua Gila (4 jurus)
  1. Jurus ilmu silat Orang Gila
  2. Jurus badai menerpa gelombang
  3. Jurus Orang Gila Melenggang Ke Awan
  4. Jurus Ular Gila Membelit Pohon Menarik Gendewa
Pendekar Pedang Akhirat (3 jurus)
  1. Jurus ilmu pedang Tiba-Tiba Muncul Pelangi/Cip Hian Jay Hong
  2. Jurus ilmu pedang Malaikat Menundukkan Siluman/Lo Han Ciang Yau
  3. Jurus ilmu pedang Setan Meratap Malaikat Menangis/Kui Gok Sin Ki

Ilmu kesaktian (15 ilmu)[sunting | sunting sumber]

Sinto Gendeng (4 ilmu)
  1. Ilmu Belut Menyusup Tanah
  2. Ilmu lari Kaki Angin
  3. Ilmu Menyusupkan Suara
  4. Ilmu pukulan Telapak 212
  5. Ilmu Sepasang Sinar Inti Roh
Nenek Muka Kucing/Neko (1 ilmu)
  1. Ilmu Koppo/Mematahkan Tulang
Ratu Duyung (1 ilmu)
  1. Ilmu Menembus Pandang
Kitab Putih Wasiat Dewa (1 ilmu)
  1. Ilmu Sepasang Pedang Dewa
Raja Penidur (1 ilmu)
  1. Ilmu Silat Orang Tidur
Luhrembulan (1 ilmu)
  1. Ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah
Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud (1 ilmu)
  1. Ilmu Empat Penjuru Angin Menebar Suara
Hantu Selaksa Angin (1 ilmu)
  1. Ilmu Menahan Darah Memindah Jasad
Nyi Roro Manggut (1 ilmu)
  1. Ilmu Meraga Sukma
Kumara Gandamayana (1 ilmu)
  1. Ilmu Masuk dan Bernapas Dalam Tanah
Dewi Loro Jonggrang (1 ilmu)
  1. Ilmu Bahasa Gerak Tangan Orang Bisu
Nenek Rauh Kalidhati (1 ilmu)
  1. Ilmu Tiga Bayangan Pelindung Raga

Episode pertama kali munculnya tokoh utama[sunting | sunting sumber]

Berikut episode-episode yang menceritakan pertama kali munculnya beberapa tokoh utama:

Dewa Tuak dan Anggini

Episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Kakek Segala Tahu

Episode Rahasia Lukisan Telanjang

Tua Gila

Episode Banjir Darah Di Tambun Tulang

Nyanyuk Amber dan Pandansuri

Episode Raja Rencong Dari Utara

Raja Penidur

Episode Siluman Teluk Gonggo

Pangeran Matahari dan Si Muka Bangkai

Episode Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi

Bunga/Suci

Episode Misteri Dewi Bunga Mayat

Bujang Gila Tapak Sakti
  • Episode Hari Hari Terkutuk (di episode ini Bujang Gila belum menyebut namanya)
  • Episode Bujang Gila Tapak Sakti
  • Episode Purnama Berdarah
Dewa Ketawa dan Dewa Sedih

Episode Halilintar Di Singasari dan episode Pelangi Di Majapahit

Bidadari Angin Timur

Episode Guci Setan

Dewi Ular dan Si Manusia Paku Sandaka

Episode Dendam Manusia Paku

Ratu Duyung

8 rangkaian episode Wasiat Iblis

Kaitan beberapa episode[sunting | sunting sumber]

Berikut sedikit ulasan/catatan mengenai kaitan beberapa episode dalam serial Pendekar 212 Wiro Sableng yang menjadi alasan Padepokan 212 membuat urutan episode versi kedua:

Episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng, Maut Bernyanyi Di Pajajaran & Dendam Orang Orang Sakti[sunting | sunting sumber]

Ketiga episode ini merupakan tiga episode awal serial Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng. Karena tiga episode ini memiliki kaitan erat satu sama lain, maka dijadikan satu rangkaian episode.

Pada episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng menceritakan tentang Wiro sejak masih bayi dimana kedua orangtuanya dibunuh oleh Suranyali (Mahesa Birawa). Sewaktu rumah kedua orangtuanya dibakar, Sinto Gendeng menolong Wiro yang saat itu masih bayi dari dalam rumah yang terbakar. Wiro dibawa ke puncak Gunung Gede dan dijadikan murid oleh Sinto Gendeng. Setelah digembleng selama 17 tahun oleh Sinto Gendeng, akhirnya Wiro turun gunung. Misi pertamanya adalah membalas dendam kematian kedua orangtuanya. Ketika kembali ke desa kelahirannya, yang ditemui Wiro hanya Kalingundil yang merupakan anak buah Suranyali. Saat itu Kalingundil sedang berseteru dengan komplotan Empat Berewok Dari Goa Sanggreng. Di akhir episode, Kalingundil kehilangan salah satu tangannya sewaktu berhadapan dengan Wiro.

Suranyali sendiri baru bisa ditemui Wiro dalam episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran. Saat itu nama Suranyali telah berubah menjadi Mahesa Birawa dan membantu para pemberontak yang menyerang kerajaan Pajajaran. Dalam episode ini Wiro berhasil menuntaskan dendamnya terhadap Suranyali (Mahesa Birawa).

Dalam episode Dendam Orang-Orang Sakti, karena dendam, Kalingundil memfitnah Wiro atas pembunuhan sejumlah tokoh persilatan. Di Puncak Gunung Tangkuban Perahu semua tokoh silat yang mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang yang terbunuh berkumpul untuk membuat perhitungan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng.

Episode Keris Tumbal Wilayuda & Neraka Lembah Tengkorak[sunting | sunting sumber]

Kaitan kedua episode ini hanya pada kemunculan Anggini sebagai Dewi Kerudung Biru secara berturut-turut.

Episode Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga & Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin[sunting | sunting sumber]

Kaitan kedua episode ini hanya pada kemunculan Sekar. Dimana setelah berhasil menumpas kejahatan Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, Wiro masih ditemani Sekar di episode Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin.

Episode Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin & Dewi Siluman Bukit Tunggul[sunting | sunting sumber]

Kaitan episode ini hanya pada kemunculan kembali Nenek Telinga Arit Sakti bersama gurunya di episode Dewi Siluman Bukit Tunggul. Nenek ini ingin membalas dendam terhadap Wiro, karena sebelumnya nenek ini sempat bertarung dan dikalahkan Wiro di episode Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin.

Episode Dewi Siluman Bukit Tunggul & Banjir Darah Di Tambun Tulang[sunting | sunting sumber]

Kaitannya yaitu pada kemunculan Kiai Bangkalan. Pada episode Dewi Siluman Bukit Tunggul Kiai Bangkalan berjanji akan memberikan ilmu pengobatan kepada Wiro bila Wiro berkunjung ke tempat kediamannya. Saat Wiro berkesempatan menyambangi Kiai Bangkalan, ternyata Kiai Bangkalan telah terbunuh dan Kitab Seribu Pengobatan dilarikan pembunuhnya yang tak lain adalah Datuk Sipatoka.

Episode Munculnya Sinto Gendeng, Telaga Emas Berdarah & Iblis Berjanggut Biru[sunting | sunting sumber]

Pada episode Munculnya Sinto Gendeng diceritakan Sri Baginda memberikan hadiah berupa peta rahasia telaga emas kepada Ki Rana Wulung atas jasanya membantu kerajaan bersama Sinto Gendeng.

Pada episode Telaga Emas Berdarah terjadi perebutan peta telaga emas yang semula di pegang kakek Anom dan nenek Amini (Ratu dan Raja Bengawan Solo).

Pada episode Iblis Berjanggut Biru terjadi perebutan peta rahasia telaga emas yang disimpan Ki Rana Wulung. Di episode ini disebutkan 30 tahun, masih kurang jelas apakah peta itu yang berusia 30 tahun atau peta itu sudah disimpan Ki Rana Wulung selama 30 tahun. Apabila petanya yang berusia 30 tahun, ada kemungkinan peta tersebut adalah peta yang diberikan Sri Baginda di episode Munculnya Sinto Gendeng. Jika yang dimaksud adalah 30 tahun lamanya Ki Rana Wulung menyimpan peta tersebut, berarti peta itu bukan pemberian Sri Baginda. Berarti ada peta telaga emas yang lain lagi, karena waktu kejadian pemberian peta itu oleh Sri Baginda tidak mungkin 30 tahun yang lalu karena waktu peta itu diberikan saat itu Wiro sudah ada.

Ciri peta di tiga episode itu pun ada sedikit perbedaan.

Pada episode Munculnya Sinto Gendeng, peta tersebut disebutkan berupa gulungan kain kecil berwarna putih yang sudah agak lusuh selebar telapak tangan, tergambar sebuah puncak gunung, sungai berkeluk, tanda silang dan matahari.

Pada episode Telaga Emas Berdarah, peta tersebut disebutkan sehelai kain lusuh yang tadinya berwarna putih berubah kekuningan dan dekil kotor, lebarnya sama seluas telapak tangan, tapi bergambar puncak gunung, sungai berliku-liku serta rumah kecil.

Pada episode Iblis Berjanggut Biru, peta tersebut disebutkan sebuah lipatan kertas tebal berwarna kekuningan karena telah dimakan usia, tergambar sebuah sungai dan gunung lalu lingkaran bengkok-bengkok mungkin gambar sebuah telaga, lalu tanda silang di sebelah timur telaga.

Atas dasar itulah saya tidak cantumkan episode Telaga Emas Berdarah sebagai episode yang berkaitan langsung dengan episode Munculnya Sinto Gendeng, namun bila dikaitkan dengan episode Iblis Berjanggut Biru mungkin ada karena di episode Iblis Berjanggut Biru juga muncul Sepasang Setan Bermata Api yang sebelumnya juga muncul di episode Telaga Emas Berdarah.

Episode Iblis Berjanggut Biru mungkin yang memiliki kaitan paling dekat dengan episode Munculnya Sinto Gendeng karena selain kaitannya dengan peta yang mungkin adalah peta pemberian Sri Baginda tersebut, tapi yang paling jelas karena menceritakan kembali mengenai sahabat Sinto Gendeng yaitu Ki Rana Wulung.

Episode Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi, Bajingan Dari Susukan & Panglima Buronan[sunting | sunting sumber]

Tiga episode ini saya jadikan satu rangkaian episode karena memiliki kaitan cerita yang sangat dekat, mulai dari kemunculan Pangeran Matahari, tokoh-tokoh yang terlibat, permasalahan terjadi di sekitar dan berputar di kerajaan yang sama, juga keberadaan Ni Luh Tua Klungkung yang selalu menemani Wiro. Juga dalam episode Kutunggu di Pintu Neraka dimana Pangeran Matahari sebagai penguasa Kerajaan Siluman yang memakai cincin berkepala ular sendok yang dikenal sebagai Cincin Warisan Setan

Episode Ki Ageng Tunggul Keparat & Ki Ageng Tunggul Akhirat[sunting | sunting sumber]

Supit Jagal dan Supit Ireng yang di akhir cerita episode Ki Ageng Tunggul Keparat disangka telah mati, di awal-awal cerita episode Ki Ageng Tunggul Akhirat diceritakan masih dalam keadaan hidup dan ada yang menyelamatkan. Tak lama berselang datanglah Pangeran Matahari yang menjadikan kedua orang itu budak suruhannya.

Waktu kejadian di akhir episode Ki Ageng Tunggul Keparat dengan munculnya Pangeran Matahari di awal episode Ki Ageng Tunggul Akhirat sangat berdekatan, karena itu episode Ki Ageng Tunggul Akhirat saya jadikan lanjutan dari episode Ki Ageng Tunggul Keparat.

Episode Hari Hari Terkutuk, Bujang Gila Tapak Sakti & Purnama Berdarah[sunting | sunting sumber]

Di episode Hari Hari Terkutuk Bujang Gila Tapak Sakti muncul, tapi belum menyebutkan namanya dan Wiro pun belum mengenalnya. Diperkirakan itu adalah Bujang Gila Tapak Sakti berdasarkan ciri-cirinya, mulai dari badannya yang gemuk, selalu mengipas badannya walaupun udara dingin, memakai baju terbalik dan selalu memakai kupluk. Itu semua terjawab di episode Purnama Berdarah, Wiro akhirnya tau pemuda gemuk yang ditemui sebelumnya adalah Bujang Gila Tapak Sakti.

Di episode Bujang Gila Tapak Sakti, menceritakan tentang Bujang Gila Tapak Sakti mulai dari masa kecil hingga dewasa dan menjadi pendekar muda yang memiliki kesaktian sangat luar biasa. Bujang Gila Tapak Sakti sendiri adalah keponakan Dewa Ketawa dan Dewa Sedih.

Adaptasi[sunting | sunting sumber]

Sampul VCD Wiro Sableng

Serial Wiro Sableng ini telah diadaptasi sebagai sinetron dan film. Film dibintangi oleh Tonny Hidayat, dan sinetron dibintangi oleh Herning Sukendro (Wiro Sableng I episode 1-59) dan Abhie Cancer (Wiro Sableng I episode 59-91). Sinetron Wiro Sableng telah dibuat 2 bagian.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Tony Hidayat[sunting | sunting sumber]

Judul yang tersedia:

  1. Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
  2. Dendam Orang-Orang Sakti
  3. Neraka Lembah Tengkorak
  4. Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin
  5. Sepasang Iblis Betina
  6. Siluman Teluk Gonggo
  7. Khianat Seorang Pendekar

Ken Ken[sunting | sunting sumber]

Judul yang tersedia:

  1. Maut Bernyanyi Di Pajajaran
  2. Dendam Orang-Orang Sakti
  3. Keris Tumbal Wilayuda
  4. Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
  5. Dewi Siluman Bukit Tunggul
  6. Rahasia Lukisan Telanjang
  7. Pendekar Andalas
  8. Sepasang Setan Dari Tenggarong

Abhie Cancer[sunting | sunting sumber]

Judul yang tersedia:

  1. Siluman Biru Menabur Dendam
  2. Sepak Terjang Cokorda Gde Jantra
  3. Perampok Warok Gde Jingga
  4. Peramal Sinting & Pendekar Kecapi
  5. Mawar Merah Menuntut Balas
  6. Purnama Berdarah

Hak cipta[sunting | sunting sumber]

Wiro Sableng terdaftar pada Departemen Kehakiman RI Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek di bawah nomor 004245.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]