Williams F1

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bendera Britania Raya Williams-Renault
WilliamsF1.svg
Nama resmi Williams F1 Team
Kantor pusat Grove, Oxfordshire, Inggris
Pimpinan tim Bendera Inggris Frank Williams
Bendera Inggris Patrick Head
Direktur teknis Bendera Inggris Pat Symonds
Situs web www.williamsf1.com
Formula Satu musim 2014
Pembalap 19. Bendera Brasil Felipe Massa
77. Bendera Finlandia Valtteri Bottas
Pembalap tes Bendera Britania Raya Susie Wolff[1]
Sasis TBA
Mesin Mercedes-Benz
Ban Pirelli
Sejarah tim dalam ajang Formula Satu
Lomba pertama 1978 Argentine Grand Prix
Lomba terakhir Grand Prix Abu Dhabi 2014
Ikut lomba 592
Gelar konstruktor 9 (1980, 1981, 1986, 1987, 1992, 1993, 1994, 1996, 1997)
Gelar pembalap 7 (1980, 1982, 1987, 1992, 1993, 1996, 1997)
Menang 114
Posisi pole 127
Lap tercepat 131
Klasemen 2012 8th (76 pts)

Williams Grand Prix Engineering, Ltd.[2] atau lebih dikenal dengan Williams F1 adalah tim balap mobil peserta Grand Prix Formula Satu yang didirikan dan dijalankan oleh Sir Frank Williams dan Patrick Head. Dasawarsa 1980-an dan 1990-an merupakan puncak kejayaan tim Williams yang memenangi sembilan kali gelar juara konstruktor dan tujuh kali untuk gelar juara dunia pembalap. Bersama tim Ferrari, McLaren, Lotus, dan Renault (termasuk saat masih turun atas nama Benetton), tim Williams dijuluki sebagai tim "Raksasa Penguasa F1", yaitu tim-tim yang secara sejarah berkontribusi besar bagi perkembangan dunia balap mobil F1 modern. Williams juga bersama Ferrari dan McLaren sering dijuluki sebagai "Tim Tiga Besar F1" yaitu sebuah sebutan bagi tim yang mampu memenangi balapan di F1 di atas angka 100 kali.

Seluruh sasis tim Williams dinamai FW yang berarti inisial sang pemilik tim, Frank Williams. Beberapa pembalap kenamaan yang sempat turun membalap di F1 bersama Williams di antaranya: Clay Regazzoni, Heinz-Harald Frentzen, Ralf Schumacher, Jenson Button, Juan Pablo Montoya, dan sang legendaris Ayrton Senna. Williams juga dikenal sebagai pembibit para desainer handal. Beberapa di antara nama desainer mobil F1 yang pernah bergabung bersama Williams antara lain: Adrian Newey, Ross Brawn, dan Geoff Willis. Sedangkan pembalap-pembalap yang pernah menjadi juara dunia bersama tim Williams yaitu Alan Jones (1980), Keke Rosberg (1982), Nelson Piquet (1987), Nigel Mansell (1992), Alain Prost (1993), Damon Hill (1996), dan Jacques Villeneuve (1997).

Pada tahun 2014, tim ini menggunakan mesin buatan Mercedes-Benz dengan pembalap Felipe Massa dan Valtteri Bottas

Awal mula[sunting | sunting sumber]

Frank Williams memulai tim Williams yang ada saat ini pada 1977 setelah sebelumnya dikenal dengan nama: "Frank Williams Racing Cars" (FWRC). Awalnya tim FWRC gagal untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan Frank Williams. Meskipun sebelumnya ada janji dari pemilik baru FWRC yaitu jutawan Kanada Walter Wolf, Williams di musim 1976 tetap tidak kompetitif. Masuk ke tahun 1977 Frank kemudian mengambil alih aset Walter Wolf dan pindah ke Didcot untuk kemudian membangun tim baru bernama "Williams Grand Prix Engineering". Frank lantas merekrut insinyur muda bernama Patrick Head bekerja untuk tim, dan kemudian kelak pasangan ini dikenal sebagai duet tersukses dalam sejarah F1.

Sejarah di ajang Formula Satu[sunting | sunting sumber]

Akhir 1970-an[sunting | sunting sumber]

Williams FW06 yang ditampilkan kembali pada tahun 2007.

Williams memasuki dunia F1 dengan memakai mobil "custom" March 761 untuk musim 1977. Pembalap Patrick Neve muncul di 11 balapan tahun itu, dimulai dengan penampilannya di Grand Prix Spanyol. Tim gagal mencetak satu poin pun sampai musim usai, dan hanya mencapai posisi finish terbaik di P7 di Monza.[3]

Untuk musim 1978, Patrick Head masuk ke tim dan merancang mobil pertama Williams: FW06. Williams mengontrak pembalap Australia Alan Jones, yang telah memenangkan Grand Prix Austria musim sebelumnya untuk tim Shadow, setelah kematian pembalap utama mereka, Tom Pryce. Lomba pertama Jones untuk tim Williams adalah di Argentina dengan menjadi satu-satunya pembalap Williams yang lolos kualifikasi di P14 namun kemudian gagal finish saat lomba berlangsung. Williams kemudian berhasil mencetak poin F1 pertamanya di seri Afrika Selatan ketika Jones finish di urutan keempat. Williams lantas mendapatkan posisi podium pertama mereka saat finish P2 di Grand Prix Amerika Serikat.[4] Williams mengakhiri musim 1978 dengan finish di posisi 10 klasemen dengan raihan 16 poin.

Patrick Head kemudian merancang FW07 untuk musim 1979. Williams kemudian mencoba inovasi baru yaitu ground effect, yang merupakan sebuah teknologi yang pertama kali diperkenalkan oleh Colin Chapman dari Team Lotus. Williams juga memperoleh keanggotaan dari Asosiasi Konstruktor Formula Satu (FOCA) yang memperbolehkan tim untuk menurunkan dua mobil dalam satu balapan. Tampil sebagai duet pembalap di Williams adalah Alan Jones dan Clay Regazzoni.[5] Williams kemudian harus menunggu sampai balapan ketujuh musim 1979 yaitu di Monte Carlo, untuk mencetak poin. Kemenangan pertama tim Williams akhirnya datang di Silverstone melalui tangan Regazzoni[6] Selanjutnya Williams berhasil finish 1-2 di Jerman dengan urutan Jones-Regazzoni. Jones berhasil mencetak hatrick kemenangan saat ia menang di Österreichring. Belum puas dengan hal tersebut, tim Williams kembali meraih kemenangan di Zandvoort lagi-lagi lewat Alan Jones. Scheckter mengakhiri rentetan kemenangan Williams setelah ia memenangi balapan di rumah Ferrari di Grand Prix Italia. Pada akhir musim Alan Jones kembali berhasil menang lagi di Montreal untuk mengakhiri musim F1 Williams yang cukup fantastis. Tim Williams kemudian berhasil naik delapan tingkat di klasemen konstruktor, dan Alan Jones finish di P3 klasemen pembalap dengan 43 poin.

1980-an[sunting | sunting sumber]

Gelar juara dunia pertama[sunting | sunting sumber]

Williams FW08 (1982) yang ditampilkan kembali di Silverstone tahun 2008.

Pada tahun 1980 Alan Jones bermitra dengan Carlos Reutemann dari Argentina. Jones lantas berhasil memenangi lima kemenangan di musim 1980 yaitu di Buenos Aires, Paul Ricard, Brands Hatch, Montreal dan putaran terakhir musim di Watkins Glen yang sekaligus mengantarkannya menjadi juara dunia pertama dari tim Williams. Tak puas dengan gelar tersebut, Williams juga berhasil memenangkan gelar juara dunia konstruktor mereka yang pertama, dengan mencetak 120 poin, hampir dua kali lebih banyak dari pemegang posisi runner-up yang diduduki tim Ligier.

Masuk ke musim 1981, duet Jones-Reutemann memenangkan empat balapan untuk tim. Alan Jones menang pada putaran pertama di Long Beach, California dan putaran terakhir di Las Vegas, sementara Carlos Reutemann menang pada putaran kedua di Jacarepagua dan putaran kelima di Zolder. Williams kembali memenangkan gelar juara dunia konstruktor dengan mencetak 95 poin, 34 poin lebih banyak dari posisi kedua yang ditempati tim Brabham.

Alan Jones pensiun dari Formula Satu di musim 1982 dan digantikan oleh pembalap Finlandia, Keke Rosberg. Rosberg kemudian memenangkan kejuaraan dunia 1982 dengan hanya menang satu kali balapan saja yaitu di Swiss yang diadakan di Dijon-Prenois. Rekan satu tim Rosberg, Carlos Reutemann, memilih untuk mengundurkan diri dari F1 setelah musim memasuki balapan kedua. Kursinya lantas diisi oleh Mario Andretti untuk GP AS Barat sebelum Derek Daly mengambil alih untuk sisa musim balapan. Tim Williams kemudian hanya berada di urutan keempat dalam kejuaraan konstruktor tahun itu, 16 poin di belakang juara dunia Scuderia Ferrari. Menjelang akhir musim, Frank Williams menyadari bahwa untuk bersaing di tingkat atas Formula Satu ia membutuhkan dukungan dari produsen besar, seperti Renault atau BMW yang bisa memasok timnya dengan mesin turbo.

Aliansi dengan Honda[sunting | sunting sumber]

Masuk ke musim 1983, Frank Williams berhasil membuat kesepakatan dengan Honda yang membuat tim berkesempatan menggunakan mesin yang sedianya akan dipakai untuk musim 1984. Untuk beberapa balapan di musim 1983, Williams tetap menggunakan mesin Ford kecuali untuk balapan putaran terakhir di Afrika Selatan. Tim lantas berada di urutan keempat dalam kejuaraan konstruktor, dengan mencetak 36 poin, termasuk juga raihan kemenangan untuk Keke Rosberg di Monte Carlo.

Untuk musim 1984 Patrick Head merancang mobil FW09 yang kelihatan cukup canggung. Keke Rosberg berhasil memenangi balapan di Dallas dimana sebelumnya ia berhasil finish kedua di putaran pembuka musim di Jacarepagua. Pasangan tim Rosberg itu, Jacques Laffite, berada di posisi ke-14 di kejuaraan pembalap dengan lima poin. Tim sendiri finish di urutan keenam dengan 25,5 poin, dengan Rosberg yang berada di posisi kedelapan dalam klasemen pembalap.

Mobil Williams FW10 yang dikendarai Nigel Mansell.

Pada tahun 1985, Head mendesain FW10, disaat yang sama, tim McLaren sudah memulai proyek teknologi rancangan sasis dengan serat karbon. Pembalap lokal Nigel Mansell bergabung dengan tim sebagai mitra Rosberg. Tim mencetak empat kemenangan, dua dengan Rosberg yaitu di Detroit dan Adelaide, dan dua lagi bersama Mansell yang memenangkan balapan di Eropa dan Afsel. Williams finish ketiga dalam kejuaraan konstruktor, dengan mencetak 71 poin.

Pada bulan Maret 1986, Frank Williams menghadapi tantangan paling serius dalam hidupnya. Ketika kembali menuju bandara di Nice, ia terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya lumpuh. Ia tidak kembali ke pit lane selama hampir setahun. Meskipun tidak diawasi oleh Frank, tim Williams memenangkan sembilan balapan dan berhasil menjuarai kejuaraan konstruktor tahun 1986. Nigel Mansell sendiri nyaris saja menjadi juara dunia 1986, namun ia mengalami masalah saat balapan di Australia yang menyebabkannya kehilangan gelar juara dunia. Kegagalan Mansell kemudian berhasil memuluskan langkah Alain Prost dari McLaren untuk mempertahankan gelar juara dunia yang diraih di 1985, sekalipun ia hanya finish di posisi bawah.

Williams FW11B, yang memenangi musim F1 1987.

Musim 1987 menjadi musim manis bagi koalisi Williams-Honda, karena duet koalisi ini kemudian berhasil menjadi juara dunia baik di kategori pembalap (lewat Nelson Piquet) maupun kategori konstruktor. Dengan raihan 137 angka, Williams berhasil mengungguli McLaren yang ada di posisi runner-up dengan selisih 61 poin dari Williams. Namun di akhir musim, diawali konflik antara Frank Williams dan Honda gara-gara Williams tidak mau memakai Satoru Nakajima sebagai pembalap kedua, Honda akhirnya memutuskan hengkang dari Williams dan memilih untuk bermitra bersama McLaren dan Lotus.

Masa transisi dari Honda ke Renault[sunting | sunting sumber]

Tidak dapat membuat kesepakatan dengan produsen mesin besar, Williams kemudian memutuskan untuk memakai mesin Judd untuk musim 1988.[7] Hal ini kemudian membuat tim Williams menjadi tim papan tengah yang gagal memenangi balapan sampai akhir musim. Nelson Piquet dan Honda kemudian hengkang ke Lotus. Williams menggantikan Piquet dengan Riccardo Patrese. Satu kejadian heboh adalah di GP Italia, saat pembalap pengganti Nigel Mansell, Jean-Louis Schlesser menabrak Ayrton Senna dari McLaren dan 'turut' membantu tim Ferrari finish 1-2 di rumah mereka sendiri.[8]

Williams FW12, mobil Williams pertama bermesin Renault.

Era kemitraan Renault bersama Williams dimulai pada tahun 1989[9], dengan pembalap Riccardo Patrese dari Italia dan pembalap Belgia Thierry Boutsen. Tampil buruk di awal musim, Williams secara perlahan tapi pasti mulai menanjak naik.[10] Kemenangan pertama bersama mesin Renault diraih di Kanada saat tim finish 1-2 . Di akhir musim Williams berhasil finish sebagai runner-up dalam klasemen konstruktor dengan 77 poin.

1990-an[sunting | sunting sumber]

Williams FW14B, yang mengantarkan Nigel Mansell juara dunia 1992.
Nigel Mansell (foto tahun 1991), sang juara dunia pembalap bersama tim Williams tahun 1992.

Masa keemasan[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1990, Williams mempertahankan pasangan Boutsen-Patrese sebagai pembalap tim. Meskipun Patrese memenangkan balapan di San Marino dan Boutsen meraih posisi pole dan memenangi balapan di Hungaria, tim ternyata hanya mencetak 30 poin lebih sedikit dari tahun sebelumnya dan hanya berada di P4 klasemen konstruktor. Dalam kategori kejuaraan pembalap, Boutsen finish di urutan keenam dengan 34 poin dan Patrese ketujuh dengan 23 poin.

Boutsen meninggalkan Williams dan bergabung dengan Ligier pada awal 1991. Penggantinya adalah Nigel Mansell, yang pulang kampung setelah sebelumnya sempat memperkuat Ferrari selama dua musim. Williams juga merekrut calon juara dunia 1996, Damon Hill, sebagai salah satu pembalap tes mereka. Williams gagal finish di balapan pertama musim 1991 di Phoenix, dimana kedua pembalap gagal finish karena masalah gearbox. Kemudian berturut-turut Williams ditimpa kesialan setelah di San Marino mereka gagal finish kembali.[11] Masa pencerahan muncul di Monako saat Mansell berhasil finish dan meraih angka. Selanjutnya di Kanada, lagi-lagi dua Williams tersingkir karena masalah teknis. Williams akhirnya baru bisa mencetak kemenangan di Meksiko saat Patrese memimpin Mansell untuk mengantar Williams meraih kemenangan 1-2. Mansell kemudian memenangkan Grand Prix Prancis, dengan selisih lima detik di atas Ferrari Alain Prost. Ia kemudian menang lagi di Inggris di kemudian di Jerman. Senna mengakhiri dominasi kemenangan Williams di Hongaria, dengan finish lima detik lebih cepat dari Nigel Mansell. Namun Mansell kemudian kembali memenangkan Grand Prix Italia dan Spanyol, sementara Patrese memenangkan balapan di Portugal setelah balapan Mansell kacau saat pitstop di mana hanya tiga mur roda yang dipasang. Williams berhasil finish kedua di kejuaraan konstruktor, mencetak total 125 poin, 14 poin di belakang McLaren. Mansell sendiri berada di posisi kedua dalam kejuaraan pembalap, mencetak 72 poin, 24 poin di belakang Senna.

Musim 1992, Williams masih mempertahankan duet Mansell dan Patrese. Williams langsung menggebrak awal musim dengan kemenangan 1-2 di Afrika Selatan. Selanjutnya Mansell mulai mendominasi musim dengan memenangi empat balapan lain: Meksiko, Interlagos, Spanyol dan Imola. Patrese berhasil finish kedua di semua balapan itu kecuali di Spanyol saat ia tersingkir. Ayrton Senna sekali lagi mematahkan dominasi kemenangan Williams setelah ia menang di Monaco. Mansell kemudian kembali menang di empat balapan lainnya (termasuk juga di Inggris), dan saat musim memasuki balapan di Hongaria, Mansell sudah menjadi juara dunia. Di balapan terakhir di Adelaide, dua Williams tersingkir dari lomba. Meskipun begitu, gelar juara dunia konstruktor akhirnya tetap aman dalam genggaman Williams setelah Senna terlibat kecelakaan bersama Mansell. Mansell mengakhiri musim sebagai juara dunia dengan 108 poin dan Riccardo Patrese berada di posisi kedua dengan 56 poin. Namun meskipun berhasil mengantar Williams sebagai juara dunia, posisi Mansell sebagai pembalap akhirnya berakhir setelah ia digantikan Alain Prost untuk 1993. Riccardo Patrese sendiri akhirnya pindah ke Benetton Formula, dan membuat Damon Hill naik pangkat sebagai pembalap untuk tahun 1993.

Di musim 1993 dengan mobil canggih Williams FW15C yang dilengkapi suspensi aktif[12], Alain Prost mengawali musim dengan baik saat ia menang di Afsel. Namun di Brasil Prost mengalami kecelakaan dan hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Damon Hill yang mencetak podium pertamanya dengan finish di P2. Prost lantas memenangi tiga balapan selanjutnya secara beruntun, dan puncaknya terjadi di Perancis saat Prost dan Hill finish 1-2. Setelah sempat kalah dari Senna di balapan tengah musim, Prost kembali dengan kemenangan spektakuler di Inggris dan Jerman. Hill sebenarnya sempat memimpin di Silverstone dan Hockenheimring[13], tetapi ia gagal memenangi lomba akibat kegagalan mekanis, namun ia mampu bangkit saat balapan di Hongaria, Spa, dan Monza, dimana Hill benar-benar menguasai tiga balapan tersebut dengan kemenangan spektakuler. Setelah GP Italia, Williams gagal memenangi lomba sampai akhir musim, dan walaupun gagal menang di penghujung musim, Alain Prost akhirnya tampil sebagai juara dunia dan Williams tampil sebagai juara dunia konstruktor.

Tragedi Ayrton Senna dan melawan Schumi[sunting | sunting sumber]

Salah satu sasis Williams FW16 - mobil maut yang menewaskan Ayrton Senna di San Marino 1994.
Damon Hill dalam mobil Williams FW17 tahun 1995.

Musim 1994, Williams mengontrak pembalap Ayrton Senna, dan disaat yang bersamaan Alain Prost memilih untuk pensiun ketimbang berpasangan dengan mantan rival abadinya di McLaren tersebut. Williams mengembangkan dua jenis sasis FW16 untuk musim 1994. Sasis FW16B yang kemudian dipilih untuk diturunkan saat balapan dan sasis FW16 biasa digunakan untuk sesi tes. Perbedaan mendasar antara FW16 dan FW16B adalah di versi FW16B tidak ada perangkat-perangkat elektronik yang baru saja dilarang FIA di akhir 1993: suspensi aktif, kontrol traksi, dan ABS. Williams juga tampil dengan logo sponsor baru, yaitu produsen rokok Rothmans.[14]

Awal musim bagi Williams terbilang buruk saat Senna gagal finish di Brazil saat balapan tersisa 16 lap lagi. Disusul kemudian di GP Pasifik saat Senna kandas oleh mantan rekannya di McLaren, Mika Hakkinen sesaat selepas start. Masuk ke GP San Marino, Senna penuh percaya diri yakin bahwa ia bisa memberikan kemenangan bagi tim barunya tersebut. Namun ternyata sebuah kecelakaan hebat menimpa Senna saat memasuki lap kelima. Mobil FW16B Senna keluar dari trek dan menghujam tembok pembatas.[15] Senna tewas tiga jam seusai lomba di rumah sakit di kota Bologna.[16] Balapan GP San Marino kemudian dikenang oleh fans F1 sebagai balapan paling kelam dalam sejarah F1. Balapan selanjutnya di Monaco, Williams hanya menurunkan satu pembalap saja, yaitu Damon Hill.[17] Dan sejak GP Monaco juga, Williams menampilkan logo Senna dalam setiap mobil F1 mereka sebagai tanda penghormatan bagi Sang Legenda Brazil tersebut.[18] Meskipun begitu, tim Williams juga harus menghadapi tuntutan hukum dari pemerintah Italia atas pembunuhan tidak sengaja kepada Ayrton Senna. Kasus yang melibatkan Frank Williams, Patrick Head, dan Adrian Newey ini baru bisa selesai pada tahun 2005.[19][20]

Di GP Spanyol 1994, Williams menarik David Coulthard sebagai pembalap, dan Damon Hill secara tidak terduga tampil sebagai penantang gelar juara dunia melawan Michael Schumacher dan tim Benetton. Di sisa empat balapan terakhir musim 1994, Williams kembali memanggil Nigel Mansell untuk membalap menggantikan Coulthard.[21][22] Hill yang menjadi penantang gelar juara dunia, dikalahkan Schumi di balapan terakhir di Australia, dimana saat itu Schumi secara kontroversial menghalangi dan menyenggol mobil Hill hingga mereka berdua tersingkir dari lomba, dan memuluskan Schumi meraih gelar juara dunianya yang pertama.[23][24] Nigel Mansell tampil sebagai penyelamat dengan menang di Australia sekaligus memastikan Williams sebagai juara dunia konstruktor 1994.

Musim 1995, Hill dan Coulthard bertahan di Williams dan Nigel Mansell bergabung ke McLaren. Rival utama Williams kali ini masih Michael Schumacher dan Benetton yang sekarang diperkuat oleh mesin Renault yang serupa dengan yang dipakai Williams. Balapan pertama di Interlagos, Schumi menguasai lomba dan Coulthard finish kedua. Namun seusai balapan, Benetton dan Williams sempat didiskualifikasi karena memakai bahan bakar ilegal. Elf dan Renault lantas mengajukan banding ke FIA, dan banding tersebut diterima, sehingga Schumi dan Coulthard tetap dinyatakan finish 1-2, tetapi poin konstruktor untuk Benetton dan Williams dibatalkan.[25] Damon Hill lantas memenangi lomba di Argentina, San Marino, Hungaria, dan Australia. David Coulthard hanya mencatat satu kemenangan saja di Portugis (kemenangan perdananya di ajang F1).[26] Koalisi Ross Brawn dan Rory Byrne di Benetton berhasil mengakhiri dominasi Williams dalam kejuaraan konstruktor, dan Schumi kembali mempertahankan gelar juara dunia yang ia raih di 1994.

Akhir masa keemasan[sunting | sunting sumber]

Jacques Villeneuve membalap dengan mobil Williams FW18 pada tahun 1996.

Untuk tahun 1996, Williams kembali memiliki mobil tercepat yang dapat diandalkan untuk perebutan gelar juara dunia.[27] David Coulthard meninggalkan Williams untuk bergabung dengan McLaren bersama Mika Hakkinen. Pengganti DC adalah rookie asal Kanada Jacques Villeneuve, sedangkan Hill tetap bersama dengan tim. Michael Schumacher hengkang dari Benetton dan bergabung dengan Ferrari. Williams memenangkan lima balapan pertama di musim 1996. Olivier Panis mematahkan dominasi kemenangan Williams pada ronde keenam di Monte Carlo setelah kedua mobil Williams tersingkir dari lomba. Hill kembali lagi tersingkir untuk kedua kalinya lomba. Setelah itu berturut-turut Hill dan Villeneuve saling bergantian menguasai arena, dan hanya dua kali mereka dikalahkan oleh Schumi dan Ferrari yaitu di Belgia dan Italia. Di akhir musim, Hill akhirnya tampil sebagai juara dunia, dan JV harus puaberturut-turut setelah ia melintir di Spanyol, sementara rekan timnya, Villeneuve, mampu finish di tempat ketiga. Hill dan Villeneuve mendominasi balapan berikutnya di Kanada, dengan hasil posisi start 1-2 di babak kualifikasi dan kemenangan 1-2 dalam s sebagai runner-up. Ironisnya di bulan November seusai musim lomba berakhir, Frank Williams mengumumkan bahwa Damon Hill tidak akan diperpanjang kontraknya untuk 1997, dan tim akan menggantikannya dengan Heinz-Harald Frentzen. Adrian Newey yang mulai muak dengan kebijakan tim yang tidak boleh mendahului keputusan dari Patrick Head akhirnya juga mulai mencari celah untuk keluar dari tim. Newey akhirnya hengkang ke McLaren di bulan Desember 1996, dan meninggalkan rancangan terakhirnya, sasis FW19.

Tahun 1997 merupakan tahun terakhir dari dominasi Williams-Renault, dengan pasangan Villeneuve dan Frentzen. Heinz-Harald Frentzen hanya menang satu balapan saja yaitu di GP San Marino.[28] Jacques Villeneuve memenangkan tujuh balapan selama musim 1997, dengan saingan utamanya, Michael Schumacher dari Ferrari yang bangkit kembali yang berhasil menang lima balapan. Williams juga berhasil menang di kandang sendiri di Silverstone. Masuk ke putaran terakhir musim di Jerez, Schumacher memimpin atas JV dengan selisih 1 angka, namun pada lap 48, Schumacher dan Villeneuve bertabrakan. Schumacher didiskualifikasi dari tempat kedua di kejuaraan sebagai hukuman atas kecelakaan antara dirinya dan JV.[29] Williams memenangkan gelar konstruktor untuk kedua kalinya berturut-turut dengan mencetak 123 poin, sementara Jacques Villeneuve memenangkan gelar juara dunia dengan selisih tiga poin atas Michael Schumacher, yang secara kontroversial poinnya masih tetap dimasukkan dalam penghitungan klasemen sekalipun ia didiskualifikasi. Heinz-Harald Frentzen finish di tempat ketiga klasemen pembalap dengan selisih poin jauh atas JV.

Era Mecachrome dan Supertec[sunting | sunting sumber]

Alex Zanardi di musim 1999.

Setelah tahun 1997, tim tidak mampu mempertahankan dominasinya di Formula 1 setelah Renault mengundurkan diri dari F1, dan Adrian Newey hengkang ke tim rival McLaren. Williams kemudian harus membayar untuk mesin Mecachrome, yang berbasis dari mesin Renault yang mereka gunakan di musim 1997.[30] Kedua mobil Williams di musim 1998 benar-benar kedodoran, dan ada beberapa pengamat F1 yang menyebut bahwa mobil 1998 Williams tidak sesuai dengan aturan regulasi baru yang diterapkan FIA. Perubahan besar lainnya adalah sponsor rokok Rothmans yang memilih untuk mempromosikan merek lain mereka Winfield, yang sekaligus juga mengakhiri era seragam biru dan putih yang populer.[31] Untuk tahun 1998 sendiri Williams masih mempertahankan dua pembalap dari musim sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya sejak tahun 1983 seorang juara dunia tetap bertahan membalap untuk Williams. Sementara Ferrari dan McLaren bersaing untuk perebutan gelar pembalap dan konstruktor, Williams malah terseok-seok di barisan tengah. Tim tidak memenangkan satu balapan pun dan hanya meraih tiga podium selama musim 1998, dengan Frentzen yang finish ketiga di Albert Park dan Villeneuve yang finish ketiga di Hockenheim dan Hungaroring. Williams akhirnya hanya menempati posisi ketiga dalam klasemen konstruktor dengan 38 poin. Sementara Jacques Villeneuve hanya berada di posisi kelima dalam klasemen pembalap dengan 21 poin. Heinz-Harald Frentzen sendiri hanya berada di P7 klasemen akhir.

Pada tahun 1999, Williams memakai mesin Supertec yang juga masih berbasis dari mesin Renault pada tahun 1997. Sebelumnya, Jacques Villeneuve pindah ke tim baru, BAR dan Heinz-Harald Frentzen pindah ke Jordan. Williams kemudian merekrut pembalap Jerman yang juga adik Michael Schumacher, Ralf Schumacher dan pembalap Italia Alex Zanardi. Sekali lagi, Williams hanya berhasil meraih tiga podium di 1999, yang semuanya diraih oleh Ralf Schumacher, dengan tempat ketiga di Australia dan Inggris, dan tempat kedua di Italia. Tim kemudian hanya berada di posisi kelima dalam kejuaraan konstruktor, yang merupakan posisi terendah dari posisi tim Williams di musim-musim sebelumnya.

2000-an[sunting | sunting sumber]

Ralf Schumacher bersama Williams FW23 di Kanada 2001.

Kerjasama dengan BMW[sunting | sunting sumber]

Saat musim 1998 berjalan, Williams menandatangani perjanjian jangka panjang dengan BMW. Pabrikan mobil asal Jerman itu setuju untuk menjadi pemasok mesin dan pengembangan teknis untuk jangka waktu 6 tahun. Sebagai bagian dari perjanjian dengan BMW, Williams wajib memasang setidaknya satu pembalap Jerman dalam tim, dan Ralf Schumacher menjadi pilihan logis saat itu. Pada tahun 1999, tim mulai mencoba mobil dengan mesin BMW dalam sebuah pengujian di Paul Ricard, dalam rangka persiapan untuk debut pada tahun 2000. Williams sendiri kemudian mulai memantau bakat-bakat muda, salah satunya adalah pembalap Kolombia Juan Pablo Montoya yang sedianya akan masuk ke tim sebagai pembalap kedua. Sayangnya Montoya malah terburu-buru hengkang ke ChampCar dan sebagai gantinya Frank merekrut calon juara dunia 2009, Jenson Button sebagai pembalap kedua untuk menemani Ralf Schumacher.

Di musim pertama BMW bersama Williams pada tahun 2000, tim belum memperoleh satu kemenangan pun. Tetapi kemajuan berarti mulai terlihat saat mereka berhasil naik podium tiga kali yang kesemuanya diraih oleh Ralf Schumacher. Williams kembali naik ke posisi ketiga dalam kejuaraan konstruktor, dengan 36 poin. Ralf Schumacher sendiri berada di posisi kelima dalam klasemen pembalap, sementara Button, dalam musim debutnya berhasil berada di posisi delapan klasemen.

Jenson Button pada tahun 2001 pindah ke Benetton-Renault karena kedatangan Montoya di tim Williams. Mobil FW23 berhasil memenangkan empat balapan, tiga oleh Ralf Schumacher di Imola, Montreal, dan balapan di rumahnya di Grand Prix Jerman. Rekan setimnya, Juan Pablo Montoya, memenangi balapan sekali di Monza. Hasil gemilang tersebut masih belum mampu mendongkrak tim Williams yang masih harus puas di posisi ketiga klasemen konstruktor.

Untuk tahun 2002, Williams mempertahankan duet pembalap mereka. Secara keseluruhan tim hanya memenangkan satu balapan saja, yaitu di Malaysia, sebagai salah satu dari hanya dua balapan yang tidak dimenangkan oleh Ferrari pada tahun dominasi Michael Schumacher dan Rubens Barrichello.[32] Williams hanya naik satu posisi dalam klasemen konstruktor yaitu di posisi runner-up. Juan Montoya sendiri hanya mampu meraih peringkat ketiga dalam klasemen pembalap, delapan poin di depan Ralf Schumacher, yang berada di urutan keempat.

Musim 2003 menjadi puncak sukses dari tim BMW-Williams. Selama pra-musim, Frank Williams sangat yakin bahwa mobil FW25 akan menjadi salah satu penantang gelar juara dunia.[33] Tim memenangkan empat balapan, Montoya menang dua kali di Monaco dan Jerman, sementara Ralf Schumacher menang di Nürburgring dan di Magny-Cours. Montoya bahkan sempat masuk ke dalam kandidat juara dunia. Namun pembalap Kolombia akhirnya harus puas di P3 klasemen, 11 poin di belakang Michael Schumacher, sedangkan Ralf Schumacher hanya mampu berada di posisi kelima klasemen. Williams sendiri masih berada di posisi kedua dalam klasemen konstruktor, dua poin di depan McLaren.

Ralf Schumacher, pembalap Willams dari tahun 1999-2004.

Pada awal musim 2004, Juan Pablo Montoya mengejutkan publik bahwa ia akan memperkuat McLaren mulai musim 2005. Tim Williams memperkenalkan sebuah desain radikal di musim 2004 yaitu desain-kerucut hidung radikal, yang dikenal sebagai "Hidung-Walrus", yang ternyata saat prakteknya di trek hidung ini terbukti tidak kompetitif dan digantikan oleh desain hidung konvensional di paruh kedua musim. Ferrari untuk ketiga kalinya dalam tiga musim berturut-turut kembali mendominasi musim dengan menang 15 dari 18 balapan, Williams hanya memenangi satu balapan saja di balapan terakhir di Brasil dimana Juan Pablo Montoya memenangkan lomba setelah mengalahkan posisi kedua yang diduduki Kimi Raikkonen. Williams mengakhiri musim 2004 dengan berada di posisi keempat, mencetak 88 poin dan meraih posisi podium enam kali.

Untuk musim 2005, Ralf Schumacher pindah ke Toyota sedangkan Juan Montoya pindah ke McLaren. Williams lantas mengontrak pembalap Australia Mark Webber dan Nick Heidfeld dari Jerman.[34][35] Awalnya Jenson Button diklaim telah bergabung dengan Williams untuk 2005, tapi sebuah keputusan dari Badan Hukum FIA berhasil membuat Jense tetap duduk di kursi BAR karena Jense dianggap melanggar kontrak kerja dengan BAR.[36][37] Nick Heidfeld bersaing dengan test driver Brasil Antônio Pizzonia untuk kursi balap kedua selama Desember 2004 dan Januari 2005, dan Heidfeld akhirnya terpilih karena BMW masih tetap menginginkan agar ada satu pembalap Jerman dalam tim.[38] Pizzonia akhirnya harus puas sebagai test driver bagi tim selama musim 2005. Sementara itu, Button secara aklamasi menandatangani kontrak sebagai pembalap Williams untuk musim 2006.

Selama musim F1 tahun 2004 dan 2005, BMW Motorsport dan DR. Mario Theissen mengkritik ketidakmampuan tim WilliamsF1 untuk menciptakan paket mobil yang mampu memenangkan kejuaraan konstruktor, atau bahkan beberapa kemenangan dalam satu musim.[39] Williams, di sisi lain, menyalahkan BMW karena tidak mampu membuat sebuah mesin yang cukup bagus.[40] Kegagalan Williams mendatangkan Jenson Button dari BAR disinyalir juga menjadi awal masalah Frank vs. BMW. Meskipun Frank Williams memakai Nick Heidfeld sebagai pembalap kedua diduga demi tuntutan komersial, Frank tetap menyukai pembalap tes mereka Antonio Pizzonia. Puncak dari perang Williams vs. BMW adalah hengkangnya BMW dari tim yang kemudian memilih untuk membeli Sauber dan meluncurkan ulang tim dengan nama BMW-Sauber.[41] Williams sebenarnya bisa memilih untuk melanjutkan kontrak dengan mesin BMW pada tahun 2006, meskipun pada kenyataannya produsen mesin Jerman tersebut hendak membentuk tim sendiri. Pada akhirnya, WilliamsF1 memilih mesin V8 Cosworth untuk 2006.

Periode 2000-2005 Williams kembali membentuk image lama dengan pulas mobil tim yang berwarna biru-putih. BMW juga menetapkan bahwa seluruh sponsor yang hendak memasang iklan di atas mobil Williams wajib mewarnai logo sponsornya dengan warna biru dan putih. Williams menjadi tim besar yang mempelopori penghapusan iklan sponsor rokok sejak tahun 2000 dan mendukung perusahaan-perusahaan teknologi informasi sebagai sponsor utama tim, salah satunya Compaq. Sponsor tersebut berlangsung sampai akuisisi Compaq oleh Hewlett-Packard. Pada GP Inggris 2002, tim memulai debut sponsor Hewlett-Packard. Setelah datang beragam keluhan tentang logo HP pada sayap belakang yang dinilai kurang efektif karena tidak terlihat oleh fans baik di sirkuit maupun di layar TV, maka pada tahun 2003 dengan Williams menggantinya dengan slogan HP: "Invent".

Mencoba mesin Cosworth (2006)[sunting | sunting sumber]

Nico Rosberg mengemudikan mobil Williams-Cosworth di Kanada 2006.

Musim 2006 Nico Rosberg, pembalap muda putra juara dunia 1982 Keke Rosberg, masuk ke tim menggantikan Nick Heidfeld, yang ikut BMW ke BMW Sauber, sedangkan Mark Webber tetap tinggal bersama tim. Meski telah menandatangani kontrak bersama Williams, Jenson Button memutuskan untuk tetap tinggal dengan BAR untuk tahun 2006 yang kemudian berubah nama menjadi Honda Racing F1 Team. Pada bulan September 2005 kesepakatan dicapai untuk memungkinkan Button untuk tetap dengan BAR, dengan Williams menerima kompensiasi sekitar £24.000.000, sebagian dibayar oleh Jenson sendiri untuk membatalkan kontrak ini.

WilliamsF1 dan Cosworth mengadakan perjanjian kemitraan di mana Cosworth akan memasok mesin, transmisi dan perangkat elektronik serta perangkat lunak untuk tim.[42] Sponsor utama Hewlett-Packard (HP) mengakhiri perjanjian sponsor satu tahun sebelum kontrak mereka resmi berakhir di akhir 2006. Tim WilliamsF1 juga beralih ke ban Bridgestone, dan mengklaim bahwa tim kini sudah murni independen dan menjadi salah satu pendukung Scuderia Ferrari dan FIA dalam melawan aliansi tim-tim pabrikan yang tergabung dalam GPWC.

Musim 2006 dimulai Williams dengan baik, dengan kedua pembalap mereka yang mampu mencetak poin di balapan pembuka musim. Nico Rosberg juga mencatatkan lap tercepat di Grand Prix Bahrain. Namun, memasuki balapan kedua dan berlanjut terus sampai pertengahan musim, Williams mulai tampil mengecewakan, dengan catatan 20 kali tersingkir dari 36 start untuk kedua mobilnya. Tim gagal mencapai posisi podium dimusim 2006, yang merupakan kali pertama sejak debut Williams di 1977. Tim ini akhirnya hanya mampu finish kedelapan dalam klasemen konstruktor, dengan hanya meraih 11 poin.

Kerjasama dengan Toyota[sunting | sunting sumber]

Setelah meraih hasil terburuk sejak 1978, tim Williams yang berbasis di Grove mengumumkan bahwa produsen mobil Toyota asal Jepang akan memasok mesin untuk musim 2007.[43] Seiring dengan masuknya Toyota sebagai pemasok mesin kepada tim, sejumlah perubahan lain diumumkan untuk 2007: Alexander Wurz, yang pernah menjadi test driver di Williams sejak 2006, menjadi pembalap kedua tim untuk menggantikan Mark Webber yang keluar dan pindah ke Red Bull Racing. Pembalap Jepang Kazuki Nakajima yang merupakan putra dari pembalap F1 Jepang di era 1980-an, Satoru Nakajima, masuk ke tim menggantikan Wurz sebagai tes driver bersama pembalap India Narain Karthikeyan. Sponsorship Williams juga berubah untuk 2007, dimana AT&T masuk sebagai sponsor utama.[44] AT&T sendiri sebelumnya terlibat sebagai sponsor kecil dengan tim Jaguar dan tim McLaren, tapi pindah ke Williams karena McLaren telah menjalin kontrak sponsorship dengan Vodafone.[45] Pada tanggal 2 Februari 2007, mobil FW29 yang baru diluncurkan dengan disaksikan media massa di Inggris. Tak lama kemudian tim juga mendapatkan kesepakatan sponsorship dengan pabrikan komputer asal China, Lenovo yang membangun superkomputer baru tim.

Rosberg dan Wurz memberikan Williams hasil lebih produktif ketimbang musim sebelumnya. Wurz finish podium di Kanada 2007 yang merupakan podium pertama Williams sejak GP Eropa 2005. Wurz kemudian mengumumkan akan mengundurkan diri sebelum musim usai[46], dan posisinya digantikan Kazuki Nakajima yang membalap hanya untuk satu kali balapan saja di Brazil. Williams kembali naik dalam klasemen konstruktor dengan berada di P4.

Untuk musim 2008, Williams mengumumkan bahwa Nico Rosberg dan Kazuki Nakajima masih tetap dipertahankan tim. Rosberg berhasil bertahan di Williams setelah sebelumnya ia digoda untuk pindah ke McLaren untuk mengisi kursi kosong yang ditinggalkan Fernando Alonso.[47] Musim 2008 merupakan campuran dari keberhasilan dan kekecewaan untuk tim Williams. Nico Rosberg berhasil memperoleh dua kali podium di Australia dan Singapura, sementara Kazuki Nakajima masih berkutat di barisan tengah dan selalu gagal untuk meraih angka.

Frank Williams mengakui bahwa ia menyesal berpisah dengan BMW, tapi ia sendiri cukup senang dengan Toyota yang ia klaim memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadi pemasok mesin papan atas. Spekulasi mulai berkembang seputar masa depan tim pabrikan Toyota di F1, dimana muncul kemungkinan Toyota akan menutup tim mereka dan beralih menjadi pemasok mesin eksklusif bagi Williams. Pada bulan Desember 2008 Williams menegaskan komitmen mereka untuk bertahan di F1 setelah pengumuman pengunduran diri dari Honda.[48] Menjelang akhir tahun 2009 tepatnya di Grand Prix Brasil, Williams mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri kontrak tiga tahun bersama Toyota dan akan mencari pemasok mesin baru untuk 2010.

2010-an[sunting | sunting sumber]

Nico Hülkenberg membalap untuk Williams di GP Bahrain 2010.

Memakai mesin Cosworth (lagi)[sunting | sunting sumber]

Setelah pemutusan kontrak mereka bersama Toyota, Williams mengumumkan bahwa untuk Formula Satu musim 2010 mereka akan kembali ke dalam kemitraan "jangka panjang" dengan pabrikan mesin independen Cosworth, dan akan menggunakan versi terbaru dari mesin CA V8 yang pernah dipakai mobil mereka pada tahun 2006. Williams juga mengumumkan perubahan pembalap untuk musim 2010. Rubens Barrichello bergabung ke tim setelah di musim 2009 ia memperkuat tim Brawn GP, sedangkan juara GP2 Nico Hülkenberg dinaikkan pangkatnya dari kursi test driver. Pengganti Hülkenberg di kursi test driver adalah pembalap Finlandia Valtteri Bottas, yang berada di posisi ketiga klasemen F3 Euroseries 2009. Sampai musim 2010 berakhir, Williams menjadi satu-satunya tim yang mampu meraih angka bersama mesin Cosworth, dengan hasil terbaik finish P4 di Valencia yang diperoleh Rubens Barrichello. Rekan setimnya yaitu Nico Hulkenberg berhasil meraih pole position di Brasil, namun di akhir musim ia akhirnya dipecat oleh tim, sementara posisi Barrichello tetap dipertahankan untuk musim 2011. Awal 2011, Williams kemudian mengontrak Pastor Maldonado asal Venezuela untuk menemani Barrichello, dan dengan kedatangan Maldonado, maka tim Williams akan mengisi duet pembalapnya dengan orang non-Eropa, yang pertama kalinya sejak tahun 1982 ketika saat itu mereka diperkuat Carlos Reutemann dan Alan Jones.

Kembali memakai Renault[sunting | sunting sumber]

Pada 4 Juli 2011 tim Williams resmi mengumumkan bahwa mereka akan kembali memakai mesin Renault untuk 2012 dan 2013 dengan opsi perpanjangan kontrak sampai 2014.[49] Williams optimis mereka bisa bangkit kembali menuju baris depan grid berbekal mesin bagus dan manajemen tim yang sudah dibenahi besar-besaran. Hasilnya langsung terlihat di GP Spanyol 2012 saat Pastor Maldonado memenangi balapan. Untuk musim 2013, Bruno Senna digantikan oleh Valtteri Bottas.[50] Tim mencatat prestasi buruk sepanjang musim tersebut dengan hanya mencatat 5 poin saja.[51]

Penyegaran tim bersama Mercedes-Benz[sunting | sunting sumber]

Pada akhir Mei 2013, Williams mengumumkan kontrak kerjasama pasokan mesin dengan Mercedes-Benz yang akan dimulai pada musim 2014.[52] Pada bulan November Williams umumkan duet pembalap Felipe Massa (mantan pembalap Ferrari) dan Valtteri Bottas untuk musim 2014. Selanjutnya pada bulan Maret 2014, Williams umumkan kontrak sponsorship dengan perusahaan minuman Martini yang kemudian membuat Williams berubah menjadi Williams Martini Racing.[53]

Struktur tim[sunting | sunting sumber]

Mark Webber, salah satu pembalap tim Williams musim 2005-2006.

Susunan tim saat ini[sunting | sunting sumber]

Nama Posisi dalam tim
Bendera Inggris Sir Frank Williams Pendiri tim
Bendera Inggris Mike Coughlan Direktur teknik
Bendera Inggris Adam Parr CEO, Williams Group
Bendera Venezuela Pastor Maldonado Pembalap
Bendera Finlandia Valtteri Bottas Pembalap

Daftar pembalap[sunting | sunting sumber]

Nama Tahun Bergabung Keterangan
Bendera Australia Alan Jones 1978-1981 Pembalap dan juara dunia pertama Willams di 1980
Bendera Swiss Clay Regazzoni 1979
Bendera Argentina Carlos Reutemann 1980-1982
Bendera Finlandia Keke Rosberg 1982-1985 Juara dunia 1982 dengan hanya memenangi satu balapan saja
Bendera Republik Irlandia Derek Daly 1982
Bendera Perancis Jacques Laffite 1983-1984
Bendera Inggris Jonathon Palmer 1983
Bendera Inggris Nigel Mansell 1985-1988; 1991-1992; 1994 Juara dunia 1992 dengan sembilan kemenangan balapan
Bendera Brasil Nelson Piquet 1986-1987 Juara dunia 1987
Bendera Italia Riccardo Patrese 1987; 1989-1992
Bendera Inggris Martin Brundle 1988
Bendera Perancis Jean-Louis Schlesser 1988 Menggantikan Nigel Mansell di GP Italia 1988
Bendera Belgia Thierry Boutsen 1989-1990
Bendera Inggris Damon Hill 1993-1996 Juara dunia 1996
Bendera Perancis Alain Prost 1993 Juara dunia 1993
Bendera Brasil Ayrton Senna 1994 Tewas saat balapan di GP San Marino 1994
Bendera Skotlandia David Coulthard 1994-1996 Masuk ke tim mulai GP Spanyol 1994
Bendera Kanada Jacques Villeneuve 1996-1998 Juara dunia 1997 setelah mengalahkan Schumi di GP Eropa 1997
Bendera Jerman Heinz-Harald Frentzen 1997-1998 Hanya menang satu balapan di GP San Marino 1997
Bendera Kolombia Juan Pablo Montoya 1998-2004 Dipinjamkan ke ajang Champ Car di 1999-2000
Bendera Jerman Ralf Schumacher 1999-2004
Bendera Italia Alessandro Zanardi 1999
Bendera Inggris Jenson Button 2000 Salah satu rookie tersukses Williams
Bendera Spanyol Marc Gené 2003 Menggantikan Ralf Schumacher yang cedera di 2003
Bendera Brasil Antonio Pizzonia 2005 Menggantikan Nick Heidfeld yang diambil oleh BMW
Bendera Australia Mark Webber 2005-2006 Pembalap Australia pertama sejak Alan Jones
Bendera Jerman Nick Heidfeld 2005
Bendera Jerman Nico Rosberg 2006-2008 Putra dari juara dunia Williams 1982, Keke Rosberg
Bendera Austria Alexander Wurz 2007
Bendera Jepang Kazuki Nakajima 2007-2009 Pinjaman dari Toyota F1
Bendera Jerman Nico Hulkenberg 2010
Bendera Brasil Rubens Barrichello 2010-2011
Bendera Venezuela Pastor Maldonado 2011-sekarang
Bendera Brasil Bruno Senna 2012-sekarang

Williams dalam balapan lain[sunting | sunting sumber]

Formula 2[sunting | sunting sumber]

Mobil WRC Rover Metro yang dibangun Williams untuk WRC musim 1986.
Renault Laguna yang dimodifikasi oleh tim Williams untuk turun di ajang BTCC.
Mobil BMW V12 LMR Le Mans 24 Hours, yang dibangun Williams bersama BMW dan berhasil memenangi ajang balap ketahanan Le Mans tahun 1999.

Williams telah mengembangkan mobil Formula 2 yang diturunkan dalam kejuaraan F2 yang dimulai pada tahun 2009.[54] Desain awal dari sasis F2 ini diciptakan sedikit berbeda dengan sasis yang diturunkan dalam seri Formula Palmer Audi. Namun Williams gagal menurunkan mobil karya mereka di ajang F2 setelah kalah tender melawan grup MotorSport Vision milik Jonathan Palmer yang kemudian mendapat hak penuh untuk memasok sasis di ajang F2. Sebagai tanda penghormatan, Williams akhirnya kemudian diajak bermitra oleh Jonathan Palmer sebagai konsultan untuk pengembangan sasis F2[55], dengan Patrick Head sebagai direktur teknik pelaksana.[56][57]

Balap turing dan reli WRC[sunting | sunting sumber]

Mobil reli Metro 6R4 dikembangkan oleh Williams pada tahun 1984 dengan persetujuan dari Rover Company. Mobil ini adalah mobil jenis Metro Rover dengan mesin V6 yang sama sekali baru (mesin berada di tengah) dan sistem four-wheel drive yang dikembangkan untuk reli WRC kategori Group B. Williams mengembangkan mobil hanya dalam waktu enam bulan.

Williams juga turun di ajang balap turing. Melalui anak perusahaannya, Williams Touring Car Engineering, yang kemudian menjadi mitra resmi dari pabrikan Renault dalam ajang British Touring Car Championship antara tahun 1995 sampai 1999. Mobil yang digunakan adalah jenis Renault Laguna yang diproduksi di pabrik lama Williams di Didcot (Saat itu tim Williams F1 baru saja berpindah markas ke Grove). Kerjasama Williams dan Renault dalam ajang BTCC terbilang cukup sukses dengan memenangkan gelar juara pabrikan tahun 1995 dan 1997 dan gelar juara pembalap dengan pembalap Swiss Alain Menu pada tahun 1997.

Le Mans 24 Hours[sunting | sunting sumber]

Sebelum mengumumkan secara resmi kemitraan F1 mereka, Williams Motorsport membangun sebuah mobil prototipe Le Mans untuk BMW, yang dikenal dengan nama LM V12 dan V12 LMR. Mobil V12 LMR memenangkan ajang 24 Hours of Le Mans pada tahun 1999. Mobil itu dikemudikan oleh Pierluigi Martini, Yannick Dalmas, dan Joachim Winkelhock.[58] Mobil tersebut dioperasikan oleh Schnitzer Motorsport di bawah nama BMW Motorsport.

Williams Hybrid Power[sunting | sunting sumber]

Sukses di dunia motorsport tidak membuat lupa Williams akan kontribusi untuk kehidupan masyarakat luas. Di awal 2008, seiring akan adanya peraturan baru FIA tentang KERS di musim 2009, Williams mendirikan sebuah anak perusahaan baru bernama Williams Hybrid Power, yang bertujuan untuk mengembangkan sistem penyimpanan tenaga kinetik dari hasil pengereman lewat sistem flywheel. Sistem ini kemudian sukses diujicobakan di kereta trem dan bus kota di London, Inggris.

Sekalipun mobil F1 tidak memakai flywheel, Williams masih mencoba untuk menintregrasikan sistem flywheel dengan KERS, yang ironisnya mereka batalkan penggunaannya untuk musim 2009, namun mereka masih menyimpan konsep tersebut untuk musim F1 2011 yang kemungkinan besar akan kembali mewajibkan tim untuk memakai sistem KERS.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.williamsf1.com/team/profiles/
  2. ^ About team Williams, diakses 21 Juli 2010 - 23.24 WIB
  3. ^ Williams Grand Prix Engineering – 1977 results www.f1db.com. Akses data: 22-08-2006.
  4. ^ "Grand Prix Results: United States GP, 1978". GrandPrix.com. Diakses 2006-11-13. 
  5. ^ Hamilton, Maurice. Frank Williams. Macmillan. hlm. 80. ISBN 0-333-71716-3. 
  6. ^ Lintas sejarah: GP Inggris 1979 - Kemenangan pertama tim Williams
  7. ^ WILLIAMS-JUDD - 1988 Williams Team Result - Formula1.com
  8. ^ "The Official Formula 1 website". Diakses 2007-07-12. 
  9. ^ WILLIAMS-RENAULT - 1989 Williams Team Result - Formula1.com
  10. ^ The changing face of F1 . Akses: 12 Juli 2006.
  11. ^ Unless otherwise indicated, all race results are taken from "The Official Formula 1 website". Diakses 2007-08-08. 
  12. ^ Interview – Frank Williams (1 Juli 1993) [1]. Diakses pada 14 Juli 2006.
  13. ^ "The Official Formula 1 website". Diakses 2007-09-01. 
  14. ^ 1999 – Color In Sport ssur.org. Diakses pada 14 Juli 2006.
  15. ^ BBC ON THIS DAY | 1 | 1994: Race ace Senna killed in car crash
  16. ^ Majalah F1 Racing Indonesia Mei 2001, artikel: Mengenang Ayrton Senna, halaman 86-91
  17. ^ ''WilliamsF1.com > Seasons > 1994 [pranala nonaktif]. Diakses pada 14 Juli 2006.
  18. ^ Senna 'S' Senna 'S' Diakses pada 1 Mei 2009
  19. ^ Senna case is over..., grandprix.com
  20. ^ Top designers acquitted on Senna. Diakses pada 13 Juli 2006.
  21. ^ Hamilton, Maurice Frank Williams page 244 Macmillan ISBN 0-333-71716-3
  22. ^ Reflections on a Racing Rivalry
  23. ^ Kopu, Ville; Nottmeier, Jan. "Schumacher 500: Has the King Lost His Crown?". AutoSport. Diakses 2006-10-24. 
  24. ^ 'Ruthless' Schumi blasted. Diakses pada 2 Agustus 2006.
  25. ^ Encyclopedia race result from Brazilian GP 1995, grandprix.com
  26. ^ GRAND PRIX RESULTS: PORTUGUESE GP, 1995, grandprix.com
  27. ^ GP.Com > Features > News Feature > Review of 1996
  28. ^ "1997 San Marino GP Race". Chicane F1. Diakses 2007-08-08. 
  29. ^ Review of 1997 . Diakses pada 14 Juli 2006.
  30. ^ News Feature > Mecachrome. Diakses pda 14 Juli 2006.
  31. ^ Technical > FW20. Diakses pada 14 Juli 2006.
  32. ^ Schumacher paints F1 red . Akses 13 Juli 2006.
  33. ^ Williams launch new car . Akses: 13 Juli 2006.
  34. ^ Webber signs to BMW WilliamsF1 . Akses: 13 Juli 2006.
  35. ^ BMW sign Heidfeld for new F1 team . Akses 13 Juli 2006.
  36. ^ Williams firm on Button [2]. Akses: 13 Juli 2006.
  37. ^ Williams: BAR can have Button but... . Akses: 13 Juli 2006.
  38. ^ Williams give Heidfeld more time . Akses: 13 Juli 2006.
  39. ^ BMW: Williams must improve . Akses: 13 Juli 2006.
  40. ^ Williams criticises partner BMW . Akses: 27 Juli 2006.
  41. ^ BMW buys Sauber to form own team . Akses: 13 Juli 2006.
  42. ^ Williams turn to Cosworth engines . Akses: 13 Juli 2006
  43. ^ Williams sign Toyota engine deal . Akses: 27 Juli 2006.
  44. ^ AT&T Title Sponsor for WilliamsF1. Diakses pada 20 Oktober 2006.
  45. ^ Vodafone will be McLaren’s Title Sponsor 20 Oktober 2006.
  46. ^ "Wurz confirms immediate retirement from F1". autosport.com. 2007-10-08. Diakses 2007-10-08. 
  47. ^ "Rosberg agrees new Williams deal". BBC News Online. British Broadcasting Corporation. 2007-12-09. Diakses 2007-12-09. 
  48. ^ "Commitment to remain in F1". BBC News Online. British Broadcasting Corporation. 2008-12-08. Diakses 2008-12-08. 
  49. ^ Williams reunite with Renault - WilliamsF1
  50. ^ Elizalde, Pablo (28 November 2012). "Williams confirms Valtteri Bottas and Pastor Maldonado for 2013". Autosport (Haymarket Publications). Diakses 28 November 2012. 
  51. ^ http://www.formula1.com/teams_and_drivers/teams/4/
  52. ^ http://www.formula1.com/news/headlines/2013/5/14622.html
  53. ^ "Williams unveil Martini as their new sponsor as they head into new season full of hope". Daily Mail. 6 March 2014. Diakses 7 March 2014. 
  54. ^ "FIA Formula 2 Website : The F2 Car". Diakses 2009-02-19. 
  55. ^ "Palmer's MSV wins F2 contract". ITV-F1.com (ITV Sport). 2008-09-15. Diakses 2010-01-06. 
  56. ^ "Jonathan Palmer unveils Formula Two plans". FormulaTwo.com (MotorSport Vision). 2010-01-07. 
  57. ^ "Patrick Head relishes the 'engineering challenge' of F2". FormulaTwo.com (MotorSport Vision). 2010-01-07. 
  58. ^ "BMW wins at Le Mans". Autosport. 1999-06-13. Diakses 2006-11-14. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]