Weling

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Weling
Ular weling, Bungarus candidusdari Tamanmekar, Pangkalan, Karawang
Ular weling, Bungarus candidus
dari Tamanmekar, Pangkalan, Karawang
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Upafilum: Vertebrata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Upaordo: Serpentes
Famili: Elapidae
Genus: Bungarus
Spesies: B. candidus
Nama binomial
Bungarus candidus
(Linnaeus, 1758)
Sinonim

Coluber candidus Linnaeus, 1758[2]
Bungarus javanicus Kopstein, 1932[3]

Weling atau ular weling (Bungarus candidus) adalah sejenis ular berbisa dari suku Elapidae; menyebar di Asia Tenggara hingga ke Jawa dan Bali. Di beberapa tempat dikenal sebagai ular belang, nama yang juga disematkan bagi ular welang (B. fasciatus). Ular warakas dari daerah Cirebon-Indramayu dan sekitarnya adalah bentuk hitam (melanistik) dari weling. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Blue krait atau Malayan krait.

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Close up kepala

Ular yang ramping dan tidak seberapa panjang; dari kepala hingga ekor sekitar 100 cm, dengan panjang maksimal sekitar 155 cm[4] Ekornya sekitar 15% panjang total.

Sisi dorsal (punggung) berbelang hitam dan putih, terdapat sekitar 30-an belang hitam dari kepala hingga ke ekor. Biasanya terdapat noktah-noktah kehitaman atau kecoklatan pada bagian putihnya. Belang yang pertama paling lebar, mencakup pula kepalanya yang berwarna hitam, dan lebih lebar daripada belang putihnya. Semakin ke belakang, belang hitamnya semakin sempit dan semakin seimbang, sebanding atau lebih sempit dari putihnya.[5] Warna hitamnya terkadang agak kecoklatan atau kebiruan, dan putihnya terkadang agak kekuningan. Sisi ventral (perut) berwarna putih seluruhnya atau sedikit kekuningan.

Ular yang masih kecil tanpa noktah-noktah kehitaman di bagian putihnya, dan memiliki corak lekukan putih di sekitar leher dan tengkuknya.[5]

Ventralnya putih polos, sisik vertebralnya membesar

Sisik ventral 209-219, anal tunggal (tak berbagi), subkaudal 40-50, semua tunggal. Sisik dorsal dalam 15 deret, sisik-sisik vertebral berukuran lebih besar; perisai labial atas 7 buah, yang ke-3 dan ke-4 menyentuh mata. Ekornya mengecil normal, hingga ke ujungnya yang meruncing.[5]

Agihan[sunting | sunting sumber]

Weling diketahui menyebar di Thailand, Kamboja, Vietnam, Semenanjung Malaya, Singapura, Sumatera, Jawa, Bali dan Sulawesi[4][6].

Ekologi dan kebiasaan[sunting | sunting sumber]

Foto tempoh doeloe

Ular ini ditemukan di dataran rendah hingga wilayah berbukit dan bergunung hingga elevasi 1.200 m dpl. Weling hidup di hutan-hutan dataran rendah yang lembab atau kering, hutan pegunungan, hutan mangrove, semak belukar, perkebunan, lahan pertanian, dan di sekitar permukiman. Umumnya jenis ini didapati di tempat yang relatif terbuka, seringkali di dekat air, namun juga di bagian yang kering.[4]

Ular weling bersifat terestrial, hidup di atas tanah, dan umumnya nokturnal, baru keluar setelah gelap dari lubang-lubang persembunyiannya, atau dari bawah tumpukan kayu, batu, atau vegetasi yang rapat. Di siang hari ular ini cenderung lamban dan penakut.[4] Bila diganggu, weling acap berupaya menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badannya.

Mangsa utamanya adalah jenis ular lainnya; di samping itu juga memburu kadal dan katak. Weling bersifat ovipar, bertelur sekitar 10 butir setiap kalinya.[4]

Bisa[sunting | sunting sumber]

Bisa ular weling bersifat mematikan dan menimbulkan gejala sebagaimana bisa ular Elapidae pada umumnya, kecuali kobra. Sifat utamanya adalah racun saraf (neurotoxic), yang dapat berakibat rusaknya jaringan saraf dan membawa kelumpuhan. Gigitan kobra yang mengandung bisa, akan menimbulkan rasa sakit yang sangat dan pembengkakan di sekitar luka, meskipun kadang-kadang gejala ini tidak muncul. Di pihak lain gigitan weling tidak demikian, yakni cenderung tidak menimbulkan sakit berlebihan atau bengkak di lokasi luka, namun dapat berakibat fatal.[7]

Bila bisa –melalui gigitan ular– masuk dalam jumlah cukup besar ke dalam tubuh, beberapa waktu kemudian akan timbul gejala-gejala keracunan yang khas. Untuk ular-ular Elapidae, gejala ini misalnya adalah kelopak mata yang memberat, kesulitan menelan, dan belakangan, kesulitan untuk bernafas; serta pada akhirnya kegagalan kerja jantung. Rata-rata selang waktu antara masuknya bisa melalui luka hingga tibanya kematian, untuk kasus gigitan Elapidae, berkisar antara 5 hingga 20 jam.[7]

Jenis serupa[sunting | sunting sumber]

Ular welang (Bungarus fasciatus) memiliki belang yang cenderung kuning-hitam, belang hitamnya hingga ke sisi bawah tubuh, tanpa noktah-noktah gelap di belang kuningnya, ekornya menumpul di ujung, dan umumnya tubuhnya lebih besar dan panjang, dapat mencapai lebih dari 2 meter. [8]

Ular serigala (Lycodon subcinctus) yang masih kecil memiliki corak warna yang mirip, berbelang hitam dan putih, namun dengan lebar pita putih sekira setengah atau kurang daripada lebar pita hitam. Perisai subkaudalnya semuanya berpasangan.[5]

Ada banyak jenis ular laut yang memiliki pola warna serupa weling, khususnya dari marga Laticauda dan Hydrophis. Akan tetapi ular-ular laut jelas terbedakan apabila melihat ekornya yang pipih seperti dayung.

Catatan taksonomis[sunting | sunting sumber]

Pada 1932, Felix Kopstein mendeskripsi Bungarus javanicus dari spesimen tunggal, yang memiliki semua ciri-ciri ular weling kecuali bahwa warnanya hitam seluruhnya dengan sisi perut putih kekuningan[3]. Ular yang secara lokal disebut ular warakas ini didapati orang di daerah Matanghaji, Kecamatan Sumber, Cirebon.

Namun, setelah memperoleh tambahan dua spesimen lagi, salah satunya dengan corak belang samar-samar pada latar belakang kehitaman, pada 1938 Kopstein mulai meragukan identitas spesies baru tersebut. Akan tetapi masyarakat ilmiah telah telanjur mencatat bahwa ular warakas ini adalah sejenis ular baru yang endemik Jawa, dengan lokasi sebaran yang terbatas di sekitar Cirebon. Pemahaman ini terus berlangsung sampai lebih dari setengah abad kemudian, ketika tulisan Joseph B. Slowinski pada tahun 1994 memunculkan lagi keragu-raguan semula dan secara ringkas memaparkan argumen bahwa B. javanicus adalah bentuk gelap (melanisme) dari corak warna B. candidus yang umumnya belang hitam dan putih[9].

Analisis morfologis dan genetik yang dilakukan Ulrich Kuch dan Dietrich Mebs pada tahun 2007 memperkuat kesimpulan bahwa B. javanicus adalah sinonim (tepatnya junior subjective synonym) dari B. candidus. Kajian ini juga mendapatkan bahwa ditemukan pula ular-ular weling dengan corak warna yang cenderung dominan putih, serta pola-pola warna di antaranya. Diketahui pula bahwa variasi melanisme ini ditemukan pada wilayah yang lebih luas, mulai dari Indramayu di tepi pantai utara Jawa, ke arah tenggara ke Cirebon, Cilimus, Purwokerto, hingga sekitar Cilacap[10]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wogan, G., G. Vogel, L. Grismer, T. Chan-Ard, & T.Q. Nguyen (2012). "Bungarus candidus". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.1. International Union for Conservation of Nature. Diakses 27 September 2012. 
  2. ^ Linne, C. 1758. Systema Naturae, 10th Ed., 1: 223
  3. ^ a b Kopstein, F. 1932. Herpetologische Notizen V. Bungarus javanicus, eine neue Giftschlange von Java. Treubia, 14: 73–77.
  4. ^ a b c d e David, P. & G. Vogel. 1997. The Snakes of Sumatra: an annotated checklist and key with natural history notes. Edition Chimaira, Frankfurt am Main. Pp. 142-143. ISBN 3-930612-08-9
  5. ^ a b c d Tweedie, M.W.F. 1983. The Snakes of Malaya. 3rd Ed. Singapore Nat. Printers. Pp. 108-109.
  6. ^ Manthey, U. & W. Grossmann. 1997. Amphibien & Reptilien Südostasiens. Natur und Tier – Verlag, Münster. Pp. 416-417. ISBN 3-931587-12-6
  7. ^ a b Reid, H.A. Snakebite, a chapter in Tweedie, M.W.F. op cit. Pp. 142-149.
  8. ^ Tweedie, M.W.F. op cit. Pp. 107-108.
  9. ^ Slowinski, J.B. 1994. A phylogenetic analysis of Bungarus (Elapidae) based on morphological characters. Journal of Herpetology, 28: 440–446.
  10. ^ Kuch, U. & D. Mebs. 2007. The identity of the Javan Krait, Bungarus javanicus Kopstein, 1932 (Squamata: Elapidae): evidence from mitochondrial and nuclear DNA sequence analyses and morphology. Zootaxa, 1426: 1–26.

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]