Waru laut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Waru Laut
Indian Tulip tree (Thespesia populnea) flowers W IMG 6871.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Rosids
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Thespesia
Spesies: T. populnea
Nama binomial
Thespesia populnea
(L.) Sol. ex Corrêa, 1807[1]
Thespesia populnea - MHNT

Waru laut atau baru laut (Thespesia populnea), adalah sejenis pohon tepi pantai anggota suku kapas-kapasan atau Malvaceae. Perdu atau pohon kecil ini menyebar luas di pantai-pantai tropis di seluruh dunia, meski diyakini memiliki asal usul dari Dunia Lama,[2] dengan kemungkinan dari India.[3]

Disebut dengan nama Portia Tree dalam bahasa Inggris, pohon ini dikenal sebagai baru laut (Simeulue), waru laut, waru lot (Jw., Sd.), baru lot, beru lot (Md.), dan lain-lain.[4]

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Pohon waru laut

Pohon kecil, tinggi 2–10 m. Tumbuh di pantai berpasir atau di bagian belakang dari hutan pasang yang tidak berawa. Daun bertangkai panjang, bundar telur bentuk jantung dengan tepi rata, 7–24 × 5–16 cm; seperti kulit; bertulang daun menjari, dengan kelenjar kulit kecil di antara pangkal tulang daun utama di sisi bawah daun. Daun muda bersisik coklat rapat.[5]

Bunga berdiri sendiri, di ketiak daun, naik dahulu kemudian tunduk, bertangkai panjang dan bersisik. Daun kelopak tambahan 3, amat kecil dan lekas rontok. Kelopak seperti cawan, panjang 12–14 mm, dengan gigi yang sangat kecil. Mahkota bentuk lonceng, 6–7 cm, kuning muda dan akhirnya merah, dengan noda (bercak) ungu pada pangkalnya. Bergetah kuning. Buah kotak bentuk bola pipih sampai bentuk telur lebar, diameter 2,5–4,5 cm, tidak membuka atau membuka lambat. Bijinya berambut.[5]

Jenis yang serupa[sunting | sunting sumber]

  • Hibiscus tiliaceus L. juga dinamai waru laut karena habitat alaminya memang di pantai. Kadang-kadang H. tiliaceus ditemukan bersama Thespesia populnea. Hibiscus similis Bl. (waru gunung atau waru gombong), yang lebih sering ditanam, memiliki bentuk pohon, daun, bunga dan buah yang serupa dengan H. tiliaceus, dengan hanya sedikit perbedaan. Kedua jenis Hibiscus dibedakan dari T populnea karena memiliki daun yang berbulu halus, dengan kelenjar minyak di sisi bawah di pangkal tulang daun. Bentuk dan warna bunganya serupa, namun tangkai putiknya berbagi di ujungnya.[6]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Buah waru laut

Kayu terasnya berwarna coklat bergaris-garis hitam, indah warnanya, ringan, dan tak begitu keras. Kayu ini baik digunakan sebagai bahan pembuat kereta atau pedati di masa lalu, gagang (popor) bedil, kotak-kotak, dan sebagainya. Kayu teras ini pun baik sebagai obat; di antaranya sebagai obat demam, radang selaput dada (pleuritis), kolera, dan sakit mulas karena kolik. Dari kulit batangnya juga dapat diperoleh serat untuk tali, meski jarang digunakan.[4]

Daun-daunnya dimanfaatkan dalam masakan untuk menerbitkan rasa masam. Buahnya yang masak, ditumbuk dan dimasak dengan minyak, digunakan untuk membunuh kutu kepala.[4]

Di India selatan, kayu teras waru laut digunakan untuk membuat thavil, sejenis alat musik. Disukai karena warnanya yang kecoklatan, kekuningan atau kemerahan, kayu ini di Hawaii dimanfaatkan dalam pelbagai kerajinan. Kayu teras waru laut memiliki BJ yang bervariasi antara 0,55 – 0,89[2].

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Thespesia populnea (L.) Sol. ex Corrêa". Germplasm Resources Information Network. United States Department of Agriculture. 2009-05-05. Diakses 2009-11-17. 
  2. ^ a b Francis, John K. (2003-01-01). "Thespesia populnea (L.) Sol. ex Corrêa" (PDF). Tropical Tree Seed Manual. Reforestation, Nurseries & Genetics Resources. Diakses 2009-02-20. 
  3. ^ Nelson, Gil (1994). The Trees of Florida: a Reference and Field Guide. Pineapple Press Inc. hlm. 45. ISBN 9781561640553. 
  4. ^ a b c Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3:1317. Terj. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta
  5. ^ a b Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 288-289
  6. ^ Steenis, CGGJ van. op. cit.. Hal. 287 dan 291

Pranala luar[sunting | sunting sumber]