Uwi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Uwi
Dioscorea alata.jpg
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Filum: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Dioscoreales
Famili: Dioscoreaceae
Genus: Dioscorea
Spesies: D. alata
Nama binomial
Dioscorea alata
L.
Sinonim

Referensi:[1][2][3]

  • Dioscorea atropurpurea Roxb.
  • D. globosa Roxb.
  • D. purpurea Roxb.
  • D. sativa Del.
  • D. vulgaris Miquel

Uwi (Dioscorea alata), atau dikenal dengan sebutan ubi saja, uwi legi,[4] uwi manis, uwi kelapa,[5] uwi ungu,[6] ubi kelapa,[7] huwi,[2] lame (Sulawesi), ubi (Bali), lutu (Banda), same (Makassar dan Bugis),[1] palulu luwangu (Sumba)[8] adalah suatu ubi-ubian yang bisa dimakan dan paling digemari daripada spesies lainnya dari genus Dioscorea.[7] Uwi, ubi pasir (Dioscorea pentaphylla), dan gembili (D. aculeata) lebih aman dimakan ketimbang ubi singapur (D. bulbifera) dan gadung (D. hispida).[4]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Uwi merupakan perdu yang memanjat dan dapat mencapai ketinggian 3-10 m.[7] Tumbuhan ini semusim. berumah 2, memanjat, sistem perakarannya berserabut.[2] Umbinya beragam, bulat, pipih panjang, bercabang, atau menjari. Uwi dinamai berdasarkan bentuk umbinya. Kulit umbi berwarna coklat hingga coklat-kehitaman. Kulit umbi beralur kasar. Daging umbinya ada yang putih ungu atau warna gading. Daging umbinya berlendir.[6] Bunganya berwarna dua macam, yang jantan berwarna kuning/kuning kehijauan, sementara yang betina berwarna kuning saja. Perbungaannya majemuk, terletak di ketiak daun, bulir jantan tersusun rapat dengan ukuran 1-3 cm, sementara betina tidak. Panjangnya 12-50 cm, mahkotanya hijau, panjangnya ± 2 mm.[1] Batangnya bersayap 4,[7] memanjat ke kanan, tidak berduri tetapi kadangkala kasar atau berbintik di bagian dasar, bersudut 4 dan berwarna hijau sampai keunguan. Daunnya berbentuk bulat telur, tunggal, berseling di bagian dasar, berhadapan dibagian atas, agak seperti anak panah atau melonjong seperti tombak, hijau terang atau seringkali agak keunguan.[2] Berukuran 15-20 cm × 10-15 cm. Bentuk pertulangannya melengkung, dan licin.[1]

Bisa dibedakan dengan gembili. Yang mana, umbi gembili lebih kecil dengan daun yang berselang-seling. Juga bisa dibedakan dengan Dioscorea floridana Bartl. dan D. quaternata (Walt.) Gmel., yang tumbuh di dataran banjir (floodplain) dengan daun yang berbentuk perisai dengan panjang setidaknya 15 cm.[3]

Persebaran & ekologi[sunting | sunting sumber]

Aslinya berasal dari Asia Tenggara.[3] Lalu tersebar ke India, Semenanjung Malaya, dan Pasifik.[7] Lagi, oleh orang Portugis dan Spanyol ke Amerika pada tahun 1500-an. Catatan terbaru menunjukkan, ia tersebar pula ke Florida dibawa oleh tukang bunga. Ia juga dinaturalisasikan ke utara Florida dalam jumlah banyak. Juga, di selatan Florida bisa didapati di wilayah pesisir.[3] Di Karibia, ditanam sebagai spesies yang penting.

Di wilayah Purwodadi, sebagaimana yang dikutip dari website Kebun Raya Purwodadi, bahwasanya di Purwodadi uwi yang tumbuh di sana ada yang memang dibudidayakan, ada juga yang tumbuh liar.[6]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam dan juga Papua Nugini dianggap sangat penting sebagai makanan. Di Kepulauan Banggai, uwi merupakan makanan pokok masyarakat, selain itu juga huwi masih digunakan dalam barter barang dengan masyarakat luar. Umbi dan kuncup daunnya setelah dimasak dengan berbagai cara dikonsumsi sebagai bahan makanan tambahan. Umbinya dapat diproses sebagai tepung atau serpihan/potongan-potongan tipis; merupakan sumber tepung minor. Kultivarnya dengan umbi yang berwarna ungu digunakan dalam pembuatan es kream dan permen.Di Papua Nuigini, digunakan juga dalam upacara adat.[2] Umbi memiliki rasa yang hambar dengan tekstur umbi pulen. Dibudidayakan untuk bahan pangan.[6]

Di Afrika Barat dan Filipina, umbi uwi dipergunakan untuk industri pembuatan pati dan alkohol. Salah satu kultivarnya digunakan untuk membuat es krim. Di musim kemarau, ia disimpan di tempat kering, di atas perapian dekat dapur, ataupun disimpan dengan abu.[7]

Dalam pengobatan tradisional Sumba, akar uwi dengan kepleng [Sumba:rau kabungggulu] (Stephania japonica), bawang putih, umbi jeringau [Sumba:hikiluare] (Acorus calamus) direbus dalam air bersih hingga mendidih dan diminum 2-3 kali sehari, sebanyak segelas.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Dioscorea alata L.". Departemen Kesehatan. 14 November 2001. Diakses 20 April 2013. 
  2. ^ a b c d e "Dioscorea alata L.". Prohati. Diakses 20 April 2013. 
  3. ^ a b c d "Dioscorea alata L.", (dalam bahasa Inggris), FLEPPC, hlm. 29–30 
  4. ^ a b Soeseno, Slamet (1985). Sayur-Mayur untuk Karang Gizi. hal.107-108. Jakarta:Penebar Swadaya.
  5. ^ "Ubi kelapa (Dioscorea)". Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian. Diakses 22 April 2013. 
  6. ^ a b c d "Uwi Ungu (Dioscorea alata L.)". Kebun Raya Purwodadi - LIPI. 16 June 2013. Diakses 22 April 2013. 
  7. ^ a b c d e f Sastrapradja, Setijati; Soetjipto, Niniek Woelijarni; Danimihardja, Sarkat; Soejono, Rukmini (1981). Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi:Ubi-Ubian 7:103. Jakarta:LBN - LIPI bekerja sama dengan Balai Pustaka.
  8. ^ a b Hidayat, Syamsul (2005). Ramuan Tradisional ala 12 Etnis Indonesia. hal.183 & 318. Jakarta:Penebar Swadaya. ISBN 978-489-944-5.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]