Keuskupan Agung Semarang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Uskup Agung Semarang)
Langsung ke: navigasi, cari
Keuskupan Agung Semarang

Lambang Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta
Informasi
Latin Archidioecesis Semarangensis
Uskup Agung Mgr. Johannes Pujasumarta Pr
Vikjen RD Fransiskus Xaverius Sukendar Wignyosumarta[1]
Sekretaris keuskupan RP Yohanes Rohmadi Mulyono MSF
Ekonom RP Franciscus Assisi Sugiarta SJ
Alamat keuskupan Jl Pandanaran 13 Semarang 50244 Jawa Tengah
Pusat Semarang
Sejarah
Berdiri 3 Januari 1961
Sebelumnya Vikariat Apostolik Semarang
(25 Juni 1940)[2]
Statistik
Luas wilayah 21.200 km²
Jumlah umat 504.000 (2004)
Website http://www.kas.or.id

Keuskupan Agung Semarang merupakan metropolit Provinsi Gerejani dalam kesatuan dengan tiga keuskupan sufragan di dekatnya, yaitu keuskupan Malang, keuskupan Surabaya dan keuskupan Purwokerto.[3] Keuskupan Agung Semarang sendiri meliputi 504.000 umat Katolik yang berada di Jawa Tengah bagian timur dalam suatu wilayah seluas 21.200 km2, selain kabupaten Rembang dan kabupaten Blora.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kontak awal agama Katolik di wilayah ini terjadi pada 1640 ketika dua orang imam Dominikan (OP), yaitu Manuel de St Maria OP dan Pedro de St Joseph OP mendapat sebidang tanah dari Sultan Mataram untuk tempat melayani umat Katolik yang terdiri dari para pedagang Portugis di Jepara. Tetapi komunitas awal itu cerai berai karena ditindas VOC Belanda. Pada tahun 1808 Semarang adalah suatu stasi dari Prefektur Apostolik Batavia (Jakarta) yang dilayani oleh Pastor L. Prinsen Pr. Pada 1818 Pastor L. Prinsep Pr ditarik ke Jakarta dan diangkat menjadi Prefek Apostolik Batavia. Semarang kemudian dilayani oleh dua pastor baru. Pada 1859 Ambarawa menjadi stasi baru dengan datangnya imam-imam Serikat Jesus (SJ). Pada 1865 Jogjakarta menjadi stasi baru, disusul Magelang. Pada 1904 Pastor Fransiskus Georgius J. van Lith SJ mendirikan sekolah guru di Muntilan dan penyebaran para guru selanjutnya menyebabkan Gereja Katolik berkembang lebih pesat di Jawa Tengah khususnya dan hampir secara menyeluruh di Jawa. Seminari Menengah didirikan di Muntilan pada 1911 dan nantinya pindah ke Mertoyudan. Pada 1936 didirikan Seminari Tinggi di Yogyakarta.

Vikariat Apostolik Semarang didirikan pada 1940, dan dengan berdirinya hirarki Gereja Katolik di Indonesia pada 3 Januari 1961 berubah statusnya menjadi Keuskupan Agung Semarang. Umat Katolik bertumbuh jumlahnya dari 47.000 di 23 paroki pada 1950, menjadi 204.000 pada 1970, selanjutnya 302.000 pada 1980, 424.000 di 79 paroki pada 1990 dan 483.000 di 88 paroki pada 2000. Menurut statistik 2005, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang berjumlah 504.000 pada 2004.

Gembala[sunting | sunting sumber]

  • Vikaris Apostolik
  1. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1940-1961)
  • Uskup Agung
  1. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (1961-1963)
  2. Mgr. Yustinus (Kardinal) Darmojuwono (1963-1981)
  3. Mgr. Julius (Kardinal) Darmaatmadja SJ (1983-1996)
  4. Mgr. Ignatius Suharyo (1997-2009)
  5. Mgr. Johanes Maria Trilaksyanta Pujasumarta (2010-sekarang)

Perkembangan jumlah imam praja (diosesan) di Keuskupan Agung Semarang

  • 1950: 15
  • 1970: 42
  • 1980: 62
  • 1990: 76
  • 2000: 124
  • 2004: 142

Imam tarekat religius di Keuskupan Agung Semarang

  • 1950: 65
  • 1970: 167
  • 1980: 164
  • 1990: 191
  • 2000: 192
  • 2004: 202

Paroki[sunting | sunting sumber]

Kevikepan Semarang

  • Paroki St Perawan Maria Rosario (Katederal), Randusari, Semarang (1928)
  • Paroki St Yosef, Gedangan, Semarang (1809)
  • Paroki Keluarga Kudus, Atmodirono, Semarang (1932)
  • Paroki St Maria Fatima, Banyumanik, Semarang
  • Paroki St Theresia, Bongsari, Semarang (1967)
  • Paroki St Athanasius Agung, Karang Panas, Semarang
  • Paroki St Fransiskus Xaverius, Kebondalem, Semarang (1956)
  • Paroki Mater Dei, Lampersari, Semarang
  • Paroki St Paulus, Sendangguwo Semarang (1992)
  • Paroki Hati Yesus yang Mahakudus, Tanah Mas, Semarang (1915)
  • Paroki Kristus Raja, Ungaran (1933)
  • Paroki St Stanislaus Kostka, Girisonta (1931)
  • Paroki St Yusuf, Ambarawa (1896)
  • Paroki Regina Pacis, Bedono (1966)
  • Paroki St Paulus Miki, Salatiga (1928)
  • Paroki St Martinus, Weleri (1954)
  • Paroki Adm. St Antonius Padua, Kendal
  • Paroki St Isidorus, Sukorejo/Weleri (1963)
  • Paroki St Petrus, Gubug
  • Paroki St Mikael, Demak
  • Paroki St Yohanes Penginjil, Kudus (1939)
  • Paroki Hati Yesus Mahakudus, Purwodadi (1952)
  • Paroki St Yosef, Pati (1932)

Kevikepan Kedu

  • Paroki St Ignatius, Magelang (1865)
  • Paroki St Maria Fatima, Magelang (1971)
  • Paroki St Mikael, Panca Arga, Magelang (1965)
  • Paroki St Yosef Pekerja, Mertoyudan (1952)
  • Paroki St Petrus, Borobudur (1968)
  • Paroki St Antonius, Muntilan (1894)
  • Paroki St Theresia, Salam (1965)
  • Paroki St Maria Lourdes, Sumber
  • Paroki St Petrus dan Paulus, Temanggung (1937)
  • Paroki Keluarga Kudus, Parakan (1983)
  • Paroki St Maria dan Yosef, Rowoseneng (1982)
  • Paroki Santo Kristoforus Tumpang

Kevikepan Surakarta

  • Paroki St Perawan Maria Permaisuri, Purbawardayan, Surakarta (1961)
  • Paroki St Yosef, Baturetno (1956)
  • Paroki Hati Kudus Maria yang Tak Bercela, Boyolali (1961)
  • Paroki Hati Kudus Yesus, Simo (1967)
  • Paroki St Ignatius, Danan
  • Paroki St Yohanes Rasul, Delanggu (1959)
  • Paroki St Ignatius Loyola, Dirjodipuran, Surakarta (1972)
  • Paroki St Yosef Pekerja, Gondangwinangun, Surakarta
  • Paroki St Theresia, Jombor
  • Paroki St Pius X, Karanganyar
  • Paroki St Stephanus, Jumapolo
  • Paroki St Maria, Kartasura
  • Paroki Roh Kudus, Kebonarum, Klaten
  • Paroki St Maria Assumpta, Klaten (1923)
  • Paroki St Paulus, Kleco (1980)
  • Paroki St Maria, Palur
  • Paroki St Antonius, Surakarta/Purbayan (1859)
  • Paroki St Petrus Rasul, Surakarta/Purwosari (1940)
  • Paroki St Maria Fatima, Sragen (1961)
  • Paroki Hati Kudus, Sukoharjo
  • Paroki St Perawan Maria Bunda Kristus, Wedi (1948)
  • Paroki St Yohanes Rasul, Wonogiri (1967)

Kevikepan Yogyakarta

  • Paroki St Fransiskus Xaverius, Kidul Loji, Jogja (1812)
  • Paroki Kristus Raja, Baciro, Jogja (1963)
  • Paroki Keluarga Kudus, Banteng (1967)
  • Paroki St Yakobus Rasul, Bantul (1934)
  • Paroki St Yosef, Bintaran, Jogja (1896)
  • Paroki St Teresia Lisieux, Boro (1864)
  • Paroki St Maria Diangkat ke Surga Dengan Mulia, Gamping (1920)
  • Paroki Hati Kudus Yesus, Ganjuran (1930)
  • Paroki St Albertus Magnus, Jetis, Jogja (1965)
  • Paroki St Alfonsus de Liguori, Nandan, Sleman
  • Paroki St Perawan Maria Ibu Rahmat Ilahi, Kalasan (1930)
  • Paroki St Petrus dan Paulus, Babadan (1969)
  • Paroki St Petrus dan Paulus, Klepu (1930)
  • Paroki St Antonius a Padua, Kotabaru, Jogja (1933)
  • Paroki Hati St Perawan Maria yang Tak Bernoda, Kemetiran, Jogja (1945)
  • Paroki St Yosef, Medari (1917)
  • Paroki St Petrus dan Paulus, Minomartani, Yogya
  • Paroki St Aloysius Gonzaga, Mlati (1936)
  • Paroki St Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Noda Asal, Nanggulan (1958)
  • Paroki St Perawan Maria Diangkat ke surga, Pakem (1921)
  • Paroki St Yohanes Rasul, Pringwulung, Sleman
  • Paroki Penampakan Perawan Maria, Promasan (1959)
  • Paroki Hati Yesus yang Mahakudus, Pugeran Jogja (1934)
  • Paroki St Theresia Kanak-kanak Yesus, Sedayu (1930)
  • Paroki Yohanes Penginjil, Somohitan/Turi (1930)
  • Paroki St Perawan Maria Bunda Penasehat, Wates (1930)
  • Paroki St Petrus Kanisius, Wonosari (1920)
  • Paroki Yusuf, Bandung, Gunung Kidul


Referensi[sunting | sunting sumber]

  • KWI, Buku Petunjuk Gereja Katolik
  • Dr. Fl. Hasto Rosariyanto SJ. 2001. Bercermin pada Wajah-wajah Keuskupan Gereja Katolik Indonesia. Kanisius

Pranala luar[sunting | sunting sumber]