Ular-sendok jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ular sendok jawa)
Langsung ke: navigasi, cari
?Ular-sendok Jawa
Ular sendok jawa, Naja sputatrixRawagembol, Prembun, Tambak, Banyumas
Ular sendok jawa, Naja sputatrix
Rawagembol, Prembun, Tambak, Banyumas
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Famili: Elapidae
Genus: Naja
Spesies: N. sputatrix
Nama binomial
Naja sputatrix
(F. Boie, 1827)[2]
Agihan Naja sputatrix
Agihan Naja sputatrix
Sinonim
  • Naja leptocoryphaea Berthold 1842
  • Naia tripudians var. sputatrix Boulenger 1896
  • Naja naja sputatrix Stejneger 1907
  • Naja tripudians sputatrix de Rooij 1917
  • Naja kaouthia sputatrix Deraniyagala 1960 (part)

Sumber: The Reptile Database.[3]


Ular sendok jawa atau kobra jawa (Naja sputatrix) adalah sejenis ular berbisa anggota suku Elapidae. Ular ini menyebar terbatas di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai Javan Spitting Cobra, Indonesian Cobra, atau Equatorial Spitting Cobra.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Naja sputatrix pertama kali dipertelakan secara ilmiah pada tahun 1827 oleh Friedrich Boie, seorang ahli hewan bangsa Jerman. Nama marganya, Naja, merupakan Latinisasi dari perkataan Sanskerta nāgá (नाग), yang berarti naga atau ular. Sementara epitet spesifiknya, sputatrix, adalah bentuk feminin dari sputator, bahasa Latin yang berarti 'peludah' atau 'penyembur'.

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Spesimen dari Darmaga, Bogor
Bentuk kepala. Spesimen yang mati terbunuh
Sisi bawah tubuh
Dengan leher mengembang

Ular bertubuh sedang hingga agak besar, kekar, dapat mencapai panjang 1,85 m (6.1 kaki), namun kebanyakan hanya sekitar 1,3 m (4.3 kaki) saja. Tubuhnya hampir bulat torak, namun acap memipih datar di bagian muka; bagian di sekitar leher dapat dilebarkan serupa tudung apabila merasa terancam. Bentuk kepalanya agak jorong, sedikit lebih besar dari lehernya; dengan moncong tumpul membulat dan lubang hidung besar. Matanya berukuran sedang, dengan orang-orangan mata (pupil) bundar. Sisik-sisik dorsal (punggung) halus tak berlunas, biasanya dalam 25 - 19(21) - 15 deret.[4]

Pola-pola warnanya sangat bervariasi. Spesimen dari Jawa berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kekuningan; dengan ular muda (yuwana) kerap kali dengan pita dan bercak-bercak lateral di sekitar tenggorokan. Biasanya tidak ada pola gambar di belakang tudungnya, namun jika ada, pola itu sedikit banyak menyerupai bentuk-V.[5][6]

Agihan[sunting | sunting sumber]

Ular-sendok jawa tercatat menyebar di pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores, Lomblen, dan Alor. Kemungkinan juga di pulau-pulau sekitarnya. Catatan dari Timor dan Sulawesi masih perlu diverifikasi. Meskipun terdapat satu spesimen Naja sputatrix dari Sulawesi, spesimen tersebut diduga ular lepasan yang berasal dari Jawa, karena tidak terbedakan dari spesimen asal Jawa.[7][8]

Di Jawa, kelimpahan ular ini bervariasi dari satu tempat ke tempat lain.[8]

Habitat dan ekologi[sunting | sunting sumber]

Kobra jawa umumnya dijumpai di lingkungan hutan hujan tropika, namun ular ini mampu beradaptasi dengan sangat baik pada pelbagai variasi habitat, termasuk pada wilayah-wilayah yang lebih kering[4], hutan tanah kering dan lahan-lahan pertanian[7]. Di Pulau Komodo, ular sendok ini hidup di sabana yang kering dan hutan gugur daun tropika[8].

Naja sputatrix bersifat sangat defensif dan lekas menyemburkan bisanya apabila merasa terganggu. Ular ini hidup di atas tanah (terestrial) dan aktif di malam hari (nokturnal). Mangsa utamanya adalah mamalia kecil seperti tikus, namun ia pun tak keberatan untuk menangkap kodok, ular lain[4], dan juga kadal untuk makanannya.

Musim kawin berlangsung di saat kemarau, antara Agustus hingga Oktober. Ular betina bertelur di sekitar November hingga awal musim hujan, meletakkan sebanyak 13-19 butir telur.[7] Menurut Kopstein, telur-telur ini akan menetas setelah 88 hari.[8] Anak-anak ular hidup mandiri sejak menetas dari telur.

Konservasi[sunting | sunting sumber]

Naja sputatrix tercantum dalam Apendiks II CITES; yang berarti bahwa spesies ini saat ini belum terancam kepunahan, namun akan terbahayakan populasinya apabila perdagangannya tidak dikendalikan dengan ketat. Ular ini memang banyak ditangkap dan diperdagangkan untuk kulitnya, dan kadang-kadang juga untuk dijadikan hewan timangan (pet).[9] Di beberapa kota di Jawa, ular ini juga dijual untuk darahnya (dan dagingnya) yang dimanfaatkan sebagai obat.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ D. Iskandar, M. Auliya, R. F. Inger & R. Lilley (2012). "Naja sputatrix". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.1. International Union for Conservation of Nature. Diakses July 5, 2013. 
  2. ^ Boie, F.. 1827. Bemerkungen über Merrem's Versuch eines Systems der Amphibien. Isis von Oken 20: 557. Jena.
  3. ^ The Reptile Database: Naja sputatrix BOIE, 1827; diakses 29/06/2014
  4. ^ a b c "Naja sputatrix: General Details, Taxonomy and Biology, Venom, Clinical Effects, Treatment, First Aid, Antivenoms". WCH Clinical Toxinology Resource. University of Adelaide. Diakses 22 December 2011. 
  5. ^ Wüster, Wolfgang (1992). "A century of confusion: Asiatic cobras revisited". The Vivarium 4 (1): 14–18. 
  6. ^ Wüster, Wolfgang. "The Asiatic Cobra Systematics Page". Asiatic Cobras. Bangor University. Diakses 22 December 2011. 
  7. ^ a b c O'Shea, Mark (2005). Venomous Snakes of the World. United Kingdom: New Holland Publishers. hlm. 94. ISBN 0-691-12436-1. 
  8. ^ a b c d "Naja species". Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. http://www.cites.org. Diakses 28 December 2011. 
  9. ^ "CITES species database". CITES. http://www.unep-wcmc-apps.org. Diakses 28 December 2011.