Trần Hưng Đạo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Patung Tran Hung Dao di kota Vung Tao, Vietnam

Tran Hung Dao (Hanzi: 陈兴道, 1228-1300), adalah seorang bangsawan dan jenderal pada masa Dinasti Tran, Dai Viet (nama lama Vietnam). Ia terkenal karena keberhasilannya menghalau invasi Mongol atas negerinya yang menjadikannya salah satu pahlawan nasional Vietnam.

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Tran Hung Dao terlahir dengan nama Tran Quoc Tuan (陈国峻) di Nam Dinh pada tahun 1228. Ayahnya, Tran Lieu, adalah kakak dari raja Tran Thai Tong. Tidak lama sebelum kelahiran Tran, tahun 1225, terjadi kericuhan politik akibat pergantian dinasti dimana penguasa terakhir Dinasti Ly, Ratu Ly Chieu Hoang menyerahkan tahta pada suaminya, Tran Thai Tong. Keluarga Dinasti Ly menunding bahwa keluarga Tran menyabot tahta dan dalang di balik semua ini adalah paman raja yang juga walinya, Tran Thu Do. Tak lama setelah Dinasti Tran berdiri, Tran Thu Do memaksa Tran Lieu membatalkan pernikahannya dengan istrinya, Putri Thuan Thien (ibu Tran Hung Dao) untuk dinikahkan dengan Raja Tran Thai Tong, dengan tujuan mengukuhkan kedudukan keluarga Tran dalam pemerintahan. Ia juga melakukan pembersihan terhadap keluarga kerajaan Dinasti Ly, banyak dari mereka yang dibunuh atau dibuang ke pengasingan. Tran Lieu, yang sakit hati karena dipaksa menceraikan istrinya, sempat melakukan pemberontakan namun gagal. Ia sudah kehilangan kepala kalau saja adiknya, Raja Thai Thong tidak maju membelanya, ketika Tran Thu Do hendak memenggalnya. Tran Lieu maupun raja menyimpan dendam terhadap paman mereka yang gila kuasa itu, namun mereka tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan. Tran Lieu memilihkan guru-guru terbaik untuk mendidik Tran Quoc Tuan dengan harapan satu hari nanti putranya itu akan menjadi orang besar dan mengembalikan kehormatan keluarganya. Tran Quoc Tuan tumbuh sesuai harapan ayahnya. Bukan saja berbakat dalam bidang sastra, ia juga menggemari dunia kemiliteran. Sejak usia muda, ia telah tertarik pada karya-karya klasik Tiongkok dan menguasai Seni Perang Sun Tzu. Ketika menjelang ajal, Tran Lieu berpesan pada putranya itu agar membalaskan dendamnya terhadap sang wali raja, Tran Thu Do.

Invasi Mongol 1285[sunting | sunting sumber]

Sejak awal abad 13, setelah Genghis Khan menyatukan suku-suku di padang rumput Mongolia, bangsa pengembara itu mulai menjadi momok mengerikan bagi dunia. Tahun 1253, cucu Genghis, Kubilai Khan, yang mendirikan Dinasti Yuan di Tiongkok, berhasil menaklukkan Kerajaan Dali (sekarang Yunnan, Tiongkok). Tahun 1257 ia pernah mengirim pasukan menyerang Vietnam, namun karena kurang persiapan dan tidak terbiasa dengan iklim daerah tropis, mereka akhirnya mundur. Saat itu Tran Hung Dao juga turut berperang melawan musuh, namun perannya belum terlalu menonjol. Setelah tercapai kesepakatan damai, kedua negara tidak saling serang hingga tahun 1284. Saat itu Kubilai mengutus putranya, Pangeran Toghan untuk menginvasi Champa. Juni 1285, Toghan dan pasukannya tiba di perbatasan utara Vietnam dan meminta izin untuk melintas. Permintaan ini ditolak raja Vietnam saat itu, Tran Nhan Tong. Pangeran Toghan marah dan menyerang Vietnam. Mereka berhasil merebut ibukota Thang Long (sekarang Hanoi), namun sebelum kota itu jatuh, pasukan Vietnam telah terlebih dahulu membumihanguskannya sehingga pasukan Mongol tidak mendapat makanan maupun tempat untuk berteduh. Tran Hung Dao bersama beberapa jenderal lainnya mengawal keluarga kerajaan melarikan diri dari pengejaran Mongol. Dalam pelarian yang sulit, mantan raja Tran Thanh Tong (ayah raja Nhan Tong yang telah mundur dan menyerahkan tahta pada putranya) bertanya padanya, “Musuh begitu kuatnya, jika kita terus berperang bukankah akan menyengsarakan rakyat? Tidakkah lebih baik kita meletakkan senjata saja demi menyelamatkan rakyat?” Namun jawab Tran padanya, “Hamba sangat mengerti rasa kemanusiaan Yang Mulia, tapi akan jadi apa tanah leluhur kita ini nanti, dan juga kuil-kuil leluhur kita? Bila Yang Mulia sungguh ingin menyerah, maka potonglah dulu kepala hamba ini!” Tergugah oleh tekad Tran, raja pun memutuskan untuk terus berjuang.

Dalam pelarian itu, Tran mengumpulkan kembali pasukan Vietnam yang tercerai-berai. Di hadapan para prajurit dan milisi itulah Tran menyampaikan pidatonya yang terkenal untuk membangkitkan kembali semangat mereka agar terus berjuang mempertahankan tanah air dan mengusir musuh. Pidato ini bertajuk ‘Panggilan Prajurit’. Semangat tempur pasukan Mongol semakin turun dari hari ke hari. Sepanjang jalan yang mereka lalui mereka hanya mendapati kampung dan sawah yang telah dibakar oleh orang-orang Vietnam sehingga persediaan mereka semakin menipis. Situasi ini bertambah parah dengan iklim wilayah tropis yang menyebabkan penyakit mulai berjangkit di antara mereka. Tran merasa saatnya melakukan serangan balasan telah tiba. Sebagian besar pertempuran terjadi di wilayah perairan sehingga pasukan kavaleri Mongol tidak dapat berfungsi efektif. Kemenangan mulai berpihak pada pasukan Vietnam, mereka memenangkan banyak pertempuran bahkan salah satu komandan Mongol, Sogetu, gugur dalam perang di front selatan. Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, Pangeran Toghan terpaksa menarik mundur pasukannya. Dalam perjalanan pulang, pasukan Mongol masih harus menghadapi serangan sporadis dari suku-suku minoritas di utara seperti Hmong dan Yao.

Invasi Mongol 1287[sunting | sunting sumber]

Tahun 1287, Kubilai Khan kembali mengirim Toghan ke Vietnam untuk membalas kekalahannya dulu. Kali ini dengan pasukan yang jauh lebih besar dari sebelumnya yang terdiri atas infanteri, kavaleri, dan angkatan laut (sumber-sumber sejarah Vietnam menyebutkan pasukan itu berkekuatan 500.000, namun beberapa sumber sejarah barat menyebutkan hanya 70.000 hingga 100.000). Dengan pasukan sebesar itu, pasukan Mongol menguasai babak awal invasi kali ini. Mereka mengalahkan pasukan Vietnam di perbatasan dalam waktu singkat. Angkatan laut Mongol berhasil membinasakan hampir seluruh pasukan di bawah jenderal Tran Khanh Du, sementara pasukan kavaleri di bawah pimpinan Pangeran Ariq Qaya berhasil menduduki Phu Luong dan Dai Than, dua kota strategis di perbatasan Vietnam. Pasukan yang melalui jalur darat dan laut ini bertemu di Van Don. Raja memanggil pulang Tran Khanh Du untuk diajukan ke pengadilan militer atas kegagalannya, namun ia menunda kepulangannya dan mengkonsolidasi sisa-sisa pasukannya di Van Don. Kemudian pasukan kecil itu menyergap dan berhasil mengalahkan armada pengangkut perbekalan di bawah pimpinan jenderal Zhang Wenhu (dari etnis Han, Tiongkok), yang telah lebih dulu tiba di kota itu.

Sementara itu Tran Hung Dao juga telah berhasil merebut kembali kota Dai Than. Berita ini membuat pasukan Mongol yang saat itu sedang berbaris menuju Thang Long dilanda kepanikan. Taktik gerilya yang dilancarkan pasukan Vietnam juga sangat membuat mereka kewalahan dan menderita banyak kerusakan. Pasukan Mongol terus maju ke Thang Long menembus segala rintangan itu, namun setibanya di sana sekali lagi kota itu telah ditinggalkan oleh raja. Kedua belah pihak mengalami kalah dan menang silih berganti. Mongol meraih kemenangan di Yen Hung dan Long Hung, sementara Vietnam menang dalam pertempuran laut di Dai Bang. Setelah perang berlarut-larut dan jatuh banyak korban di pihaknya, akhirnya Pangeran Toghan memutuskan untuk mundur. Ia membagi rute lewat jalur darat melalui Noi Bang yang dipimpinnya sendiri sementara angkatan lautnya akan mundur melalui Sungai Bach Dang dipimpin oleh Jenderal Umar (dari kaum Muslim).

Pasukan Mongol tidak pernah menduga bahwa beberapa bulan sebelumnya, Tran Hung Dao telah memerintahkan tentara dan penduduk setempat untuk memasang jebakan di Sungai Bach Dang berupa pancang-pancang kayu raksasa bermata baja yang dipasang di dalam air di beberapa bagian sungai. Ketika melihat kapal-kapal Mongol itu, pasukan Vietnam muncul dengan perahu-perahu kecil memprovokasi mereka hingga mengejar ke daerah jebakan. Ketika gelombang sungai reda, kapal-kapal Mongol pun tersangkut atau bocor tertusuk pancang-pancang besar itu. Tran Hung Dao segera memerintahkan pasukannya menyerbu armada Mongol yang tengah terjebak. Tidak kurang dari 400 kapal berhasil dibakar. Tentara Mongol yang terbunuh dan tenggelam tidak terhitung banyaknya hingga air sungai berubah menjadi merah darah dan dipenuhi mayat. Armada Mongol luluh lantak, komandannya, Jenderal Umar, tertawan. Pasukan darat yang dipimpin Toghan lebih beruntung. Meskipun beberapa kali disergap di Noi Bang, namun mereka dengan susah payah akhirnya berhasil lolos kembali ke Tiongkok dengan memisahkan diri dalam unit-unit kecil.

Pasca perang[sunting | sunting sumber]

Setelah berhasil mengusir Mongol, Kaisar Nhan Tong mengirim utusan ke Tiongkok, untuk membicarakan perundingan damai. Dinasti Tran bersedia mengakui supremasi Mongol dan menjadi salah satu negara protektoratnya. Kubilai dengan berat hati menerima negosiasi itu. Hubungan kedua bangsa itu kembali dipulihkan dengan saling mengirim duta masing-masing dan pertukaran tawanan perang. Namun raja merasa enggan melepaskan Umar yang terkenal akan kebengisannya dan telah membantai banyak rakyat Vietnam di wilayah yang pernah didudukinya. Namun menghukum mati juga dikhawatirkan akan merusak proses perdamaian. Untuk itu, Tran Hung Dao mempunyai akal. Umar bersama beberapa tawanan lain dipulangkan dengan kapal yang telah disabotase sehingga di tengah jalan, kapal itu karam dan menenggelamkan penumpangnya. Maka tamatlah riwayat sang penjahat perang yang dibenci bangsa Vietnam itu. Kubilai pun tidak bisa berbuat apa-apa karena peristiwa itu termasuk kecelakaan. Sementara Pangeran Toghan, yang pulang sebagai pecundang, diasingkan ke Yangzhou hingga akhir hayatnya.

Setelah Mongol terusir dari Vietnam, raja menganugerahi Tran gelar kehormatan Hung Dao Dai Vuong (raja agung Hung Dao) atas jasa-jasanya mempertahankan negara dari serangan musuh. Tahun 1300, Tran jatuh sakit, kondisinya makin menurun dari hari ke hari. Raja Tran Anh Tong membesuknya dan meminta nasihat terakhir mengenai apa yang harus dilakukan bila Mongol menyerang lagi sepeninggal Tran. Pada sang raja, Tran menyampaikan strategi terakhirnya, “Bila musuh menyerang seganas api dan angin, tidak sulit untuk menghadapinya, tapi bila mereka menyerang dengan sabar bagaikan ulat sutra menggerogoti daun murbei, tanpa mencari kemenangan instan dan tanpa menjarah rakyat, selain jenderal yang mampu, juga dibutuhkan strategi yang cermat dan matang seperti bermain catur. Dalam hal ini tentara harus bersatu padu, sehati seperti layaknya ayah dan anak dalam keluarga. Rakyat juga harus diperlakukan dengan baik sehingga perjuangan memiliki dasar yang kokoh hingga lapisan bawah”. Tran Hung Dao, pahlawan besar yang pernah menyelamatkan negerinya dari musuh itu, akhirnya menutup mata dengan tenang pada usia 73 tahun. Ia menolak ketika raja dan rakyat hendak memakamkannya dengan upacara yang megah di mausoleum yang indah. Sesuai wasiatnya, jenazahnya dikremasi lalu abunya ditaburkan di bawah pohon ek yang ditanamnya di kediaman keluarganya di pinggiran kota Thang Long.

Warisan[sunting | sunting sumber]

Tran Hung Dao dengan strateginya yang gemilang berhasil mengalahkan pasukan Mongol yang sangat ditakuti di dunia saat itu, padahal di pihaknya Tran hanya memiliki pasukan Vietnam yang persenjataannya kalah modern dibanding lawan, ditambah dengan para milisi sukarelawan yang bersenjatakan seadanya saja. Tran menutupi segala kekurangan itu dengan taktik serangan kilat serta taktik ‘pukul dan kabur’. Ia juga sangat menguasai geografi setempat sehingga mampu mengambil keuntungan dari kondisi alam Vietnam yang didominasi hutan-hutan lebat dan sungai yang merupakan medan yang tidak cocok bagi pasukan kavaleri. Strategi-strateginya ini dituangkan dalam risalah-risalahnya yang menjadi referensi militer yang berharga hingga masa kini.

Keberhasilan Tran menghalau Mongol menjadikan Vietnam sebagai negara kedua di timur jauh, setelah Jepang, yang sanggup bertahan dari serangan Mongol. Kemenangan itu sekaligus merupakan salah satu prestasi militer terbesar dalam sejarah dunia. Patriotismenya terus menginspirasi bangsa Vietnam dari generasi ke generasi. Hingga kini di Vietnam terdapat banyak kuil dan patung yang didirikan untuk mengenangnya. Hampir semua kota-kota besar di sana memiliki jalan yang memakai namanya. Pada tahun 1960-an, Bank Vietnam menerbitkan uang kertas 500 Dong dengan gambar wajah Tran.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]