Tokek berbintik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Tokek Berbintik
Gekko monarchusdari Seruyan Hulu, Kalteng
Gekko monarchus
dari Seruyan Hulu, Kalteng
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Upaordo: Sauria
Famili: Gekkonidae
Genus: Gekko
Spesies: G. monarchus
Nama binomial
Gekko monarchus
(Schlegel, 1836)
Sinonim

Platydactylus monarchus Schlegel in DUMÉRIL & BIBRON, 1836[1]

Tokek berbintik (Gekko monarchus) adalah sejenis tokek yang kerap ditemukan di sekitar rumah, anggota dari suku Gekkonidae. Tokek yang bentuknya menyerupai cecak yang besar ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Spotted House Gecko atau Warty House Gecko. Tokek berbintik menyebar mulai dari Thailand selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Simeulue dan Kepulauan Mentawai), Kalimantan (termasuk Brunei, Serawak dan Sabah), Jawa, Maluku, dan Filipina.[2]

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Tokek berbintik; betina, SVL 81 mm
Lihat pada Sisik ular untuk istilah-istilah yang digunakan di sini.

Tokek yang tidak seberapa besar, panjang tubuh maksimal 102 mm SVL (snout-vent length, ujung moncong hingga anus), panjang ekor maksimal 125 mm. Berkulit kasar, dengan 16-17 deretan longitudinal bintil-bintil di bagian punggung; sisik di tenggorokan granular; 30-38 deret sisik ventral di bagian tengah, di antara lipatan ventrolateral.[2][3]

Kepala bentuk jorong hingga bundar telur. Sisik rostral melekuk di tengah, dan menyusun tepi lubang hidung (nostril)[4]. Sisik supralabial (bibir atas) 10-11 buah, infralabial 9-12. Sisik mental (dagu) menyegitiga, dengan 1 atau 2 pasang sisik submaksilar berukuran besar.[3]

Sisi bawah tubuh

Ujung-ujung jari melebar, pangkalnya berselaput (sedikit saja di antara jari IV dan V[2]). Jari kaki (belakang) ke-IV dengan 16-17 lamella atau scansor (lembar pelekat), 4-5 yang di pangkal terbagi.[3]

Pori-pori preano-femoral (berderet di muka anus dan paha) pada hewan jantan berjumlah 23-42 buah. Bintil post-anal 2, kadang-kadang 3 pada yang jantan. Ekor dengan deretan bintil serupa duri yang membentuk cincin-cincin beraturan. Perisai subkaudal (di bawah ekor) membesar di tengah.[3]

Kaki, dengan banyak lamella

Punggung (dorsal) berwarna kelabu kecoklatan atau agak krem, dengan 7-9 pasang bintik hitam sepanjang tulang punggung dari tengkuk hingga ke pinggul; di antara pasangan bintik hitam itu terdapat warna keputih-putihan. Sebagian bintil-bintil besar juga berwarna putih atau keputihan. Di kepala bagian belakang, terdapat pola mirip huruf-W hitam. Iris mata berwarna keemasan hingga kekuningan. Sisi bawah tubuh (ventral) keputih-putihan, agak transparan. Tokek yang baru menetas berwarna cokelat gelap berbintik-bintik.[3]

Kebiasaan dan perkembang biakan[sunting | sunting sumber]

Tersamar di pepagan pohon

Tokek yang umumnya ditemukan di rumah-rumah dan pepohonan di tepi hutan atau kebun dan pekarangan, hingga ketinggian 1.500 m dpl. Biasanya hidup berpasangan, dan jarang berkelompok. Aktif di malam hari (nokturnal) atau di remang subuh dan senja (krepuskular), tokek ini bersifat sangat pemalu.[3] Hewan ini memangsa aneka jenis serangga dan invertebrata lain[2].

Tokek berbintik mengeluarkan 2 butir setiap kali bertelur, berukuran 9,3-13,6 × 9,5-11,4 mm; yang dilekatkan di dinding lubang atau rekahan. Terkadang dijumpai pula ‘sarang’ bersama, dengan banyak telur hingga lebih dari 50 butir. Telur akan menetas setelah 120 hari, anaknya yang keluar berukuran antara 25-30 mm SVL.[2]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Duméril, A.M.C. and G. Bibron. 1836. Erpetologie Générale ou Histoire Naturelle Complete des Reptiles. Vol.3: 335. Libr. Encyclopédique Roret, Paris.
  2. ^ a b c d e Das, I. 2011. A Photographic Guide to Snakes and Other Reptiles of Borneo. 2nd Ed. New Holland Publisher Ltd. p. 99
  3. ^ a b c d e f Malkmus, R., U. Manthey, G. Vogel, P. Hoffmann, & J. Kosuch. 2002. Amphibians and Reptiles of Mount Kinabalu (North Borneo). A.R.G. Gantner Verlag Kommanditgesselschaft, Ruggell. p. 261.
  4. ^ Das, I. & G. Ismail. 2001. A Guide to the Lizards of Borneo. Online reference: Genus Gekko Laurenti. ASEAN Review on Biodiversity and Environmental Conservation (ARBEC).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]