Teologi Katolik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Teologi katolik dipahami sebagai refleksi kritis sistematis atas iman Katolik. Maka teologi katolik merenungkan kebenaran pokok-pokok iman katolik dalam terang wahyu ilahi, yaitu Tradisi dan Kitab Suci. Pertama-tama adalah pokok-pokok iman yang diungkapkan dalam syahadat atau pengakuan iman, terutama Syahadat Para Rasul (Puji Syukur 1) dan Syahadat hasil Konsili Nikea-Konstantinopel (Puji Syukur 2). Selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.

Maksud dan Tujuan Teologi[sunting | sunting sumber]

Gereja mengemban amanat Kristus untuk menyampaikan pesan keselamatan kepada semua orang. Penyampaian pesan dan pesan yang disampaikan haruslah benar. Teologi adalah studi tentang kebenaran iman dalam terang wahyu ilahi. Maka hasil teologi sangat bermanfaat menunjang pelaksanaan amanat Kristus dengan menjelaskan kebenaran iman melalui berbagai kegiatan Gereja: katekese, liturgi, diakonia pelayanan sosial dll(Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi no.78)

Serial buku yang ditulis oleh Dr BS Mardiatmadja SJ pada tahun 1986 menunjukkan arah yang dituju umat dengan berteologi, yaitu beriman dengan taqwa, dengan radikal, dengan sadar, dengan tanggap dan dengan bertanggungjawab.

Landasan Teologi[sunting | sunting sumber]

"Teologi suci bertumpu pada sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi suci, sebagai landasan yang tetap. Di situlah teologi amat sangat diteguhkan dan selalu diremajakan, dengan menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Adapun Kitab suci mengemban sabda Allah, dan karena diilhami memang sungguh-sungguh sabda Allah. Maka dari itu pelajaran Kitab suci hendaklah bagaikan jiwa Teologi suci" (Vatikan II, Dei Verbum no 24)

Berbagai bidang Teologi[sunting | sunting sumber]

Teologi Dogmatik[sunting | sunting sumber]

Teologi yang fundamental atau teologi dasar berkaitan dengan dogma atau ajaran Gereja. Di sini teologi adalah usaha untuk memahami kebenaran iman dengan menyelidiki rumusan ajaran Allah yang disampaikan entah melalui sumber-sumber Tradisi, Kitab suci, entah wewenang mengajar Gereja (Magisterium).

Dalam Tradisi terdapat prinsip bahwa penyampaian ajaran Kristus dari zaman ke zaman harus utuh dan lengkap. Sebab ajaran yang utuh dan lengkap itu adalah “wasiat iman” (depositum fidei). Karena itu selalu ada sikap berjaga-jaga konservatif atas kemurnian ajaran di dalam Gereja Katolik. Hal itu terutama ditujukan pada fondasi dan kerangka bangunan iman Gereja yang berasal dari Allah sejauh yang dipahami dalam Tradisi dan dinyatakan dalam Kitab Suci. Hal-hal lain yang bersifat tradisi manusia bisa berubah dalam ajaran Gereja. Maka secara garis besar ajaran Gereja Katolik dari zaman ke zaman bisa terlihat sama saja. Pembaruan hanya terjadi pada cara menerangkan, artikulasi serta penekanan, sesuai dengan bahasa dan kosa kata zaman, serta apa yang perlu dimengerti pada zaman itu, tetapi isi pokoknya adalah tetap tidak berubah.

Pokok-pokok iman diajarkan. Pokok iman yang autentik dirangkum dalam dua macam pengakuan iman. Yang pertama adalah pengakuan iman rasuli yang mengalir dari Tradisi (lihat: Puji Syukur 1). Pengakuan iman ini diajarkan sebelum baptis, dan diucapkan pada waktu baptis. Yang kedua adalah pengakuan iman hasil konsili Nikea-Konstantinopel yang adalah kesimpulan pergumulan teologi yang panjang dari Gereja, maka disebut pengakuan iman Gereja, dan diucapkan Gereja dalam upacara-upacara liturgi yang besar (lihat: Puji Syukur 2).

  • Allah Tritunggal Mahaesa

Pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman Nicea Konstantinopel pada baris-baris awal mengajarkan iman kepada Allah Tritunggal Mahaesa. Mewarisi ajaran iman Israel: “Dengarlah, hai Israel, Allah itu esa”, iman Katolik berdasarkan ajaran rasul-rasul dan Kitab Suci mengenal adanya hubungan (relasi) tiga oknum atau pribadi dalam keesaan Allah. Dari permulaan Kitab Suci, yaitu Kitab Kejadian, sudah ditampilkan gambaran awal mengenai relasi tritunggal, yaitu Allah sebagai sumber semua ciptaan, yang mencipta dengan sabda, dan yang sebagai Roh melayang-layang (Kej 1). Dari peristiwa Yesus Kristus selanjutnya terungkap bahwa sumber semua ciptaan itu adalah Bapa, sabda itu Putera, dan Roh Kudus adalah Roh keduanya. Pemahaman akan Bapa hanya niscaya karena Putera dan Roh Kudus. Putera hanya niscaya karena Bapa dan RohNya. Roh Kudus dikatakan berasal dari Bapa dan adalah Roh Kristus juga. Orang Katolik dibaptis “dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” dan diutus untuk mewartakan iman “dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus”. Maka segala sesuatu dalam hidup orang Katolik, diungkapkan dengan tanda salib, diresapi oleh iman akan kehadiran dan karya Allah Tritunggal yang esa: “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Ajaran Kredo Athanasius menyatakan: “Bapa adalah Allah, Putera adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah, tetapi tidak ada tiga Allah melainkan hanya satu Allah yang esa” (J.N.D. Kelly, 1964, The Athanasian Creed. Harper and Row). Allah Tritunggal Mahaesa ini merupakan misteri terbesar dalam iman Katolik yang diusahakan direnungkan dan dijelaskan dengan teologi. (Lihat Katekismus Gereja Katolik no.238-267).

Pengakuan iman menyatakan “Percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi” – “yang kelihatan maupun tidak kelihatan”. Teologi berusaha menjelaskan pokok iman itu baik melalui teologi kodrati yang menekankan peran akal budi, maupun teologi adikodrati yang menekankan peran wahyu ilahi dengan bukti-bukti alkitabiah (lih Katekismus Gereja Katolik no. 198-421). Sepanjang tahun 1999 Paus Yohanes Paulus mengajak umat merenungkan Allah Bapa melalui acara audiensi umum yang dilakukannya setiap hari Rabu dalam rangka menyambut milenium baru.

Selanjutnya pengakuan iman menyatakan semua fakta yang terdapat dalam kitab suci Perjanjian Baru: “Percaya akan Yesus Kristus, PuteraNya yang Tunggal Tuhan kita,” – “Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar, Ia dilahirkan, bukan dijadikan. Sehakikat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan olehNya. Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria, dan menjadi manusia”, “Dikandung dari Roh Kudus dilahirkan oleh Perawan Maria”—“Menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus” – “Iapun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan” – “Disalibkan, wafat dan dimakamkan, turun ke tempat penantian” – “Pada hari ketiga Ia bangkit” – “dari antara orang mati” – “menurut Kitab Suci” – “Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa” – “Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa” – Dari situ Ia akan datang” – “Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati”. Teologi menjelaskan pokok-pokok iman itu dalam kajian Kristologi. (Lihat juga Katekismus Gereja Katolik no. 422-682).

Pokok iman berikutnya adalah: “Percaya akan Roh Kudus” – “Dia Tuhan yang menghidupkan. Ia berasal dari Bapa dan Putera. Yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.” Teologi merenungkan dan menjelaskan Roh Kudus dalam kajian Pneumatologi. (Lihat juga Katekismus Gereja Katolik no. 683-747).


  • Penciptaan

Terutama Teologi Manusia. Berbicara tentang kesejatian manusia sebagaimana dimaksudkan oleh Allah pencipta dalam martabatnya sebagai "gambar" atau citra dan keserupaan dengan Allah (Kej 1:26), panggilan hidup dan situasi hidup asalinya yang serba selaras, kejatuhan dalam dosa dan konsekuensinya (Kej (Kej 3:1-20) dan janji penebusan sebagai proto-Injil (Kej 3:15). Melalui karya keselamatan Allah manusia lama akan mengalami penciptaan baru dalam Yesus Kristus dalam kebangkitan-Nya dari mati. Terkait dengan Teologi Manusia adalah Teologi tentang Dunia, termasuk lingkungan hidup, yang dipercayakan Allah kepada manusia agar dipelihara dan diusahakan (Kej 2:15).

  • Penebusan

Sesudah manusia berdosa, hanya Allah sajalah yang dapat menyelamatkan umat manusia dan menariknya kembali ke dalam hubungan yang benar dengan Dia. Kasih dan kerahiman Allah menunjukkan kehendak-Nya untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya – menyelamatkan manusia dari dosa-dosa dan semua akibatnya. Keselamatan ini dianugerahkan sepenuhnya cuma-cuma – suatu anugerah luar biasa. Untuk itu Allah mempunyai rencana keselamatan bagi manusia, yang akan memuncak pada penebusan manusia dari dosa dan pelanggarannya.

  • Teologi keselamatan (soteriologi)

Allah tidak melaksanakan rencana itu dalam sekali gebrak; Ia menyiapkan umat manusia selama berabad-abad untuk menggenapkan karya keselamatan-Nya. Persiapan yang panjang ini sangat penting, baik karena besarnya karya yang direncanakan Allah, maupun karena ketegaran manusia dalam menolak karya Allah itu. Proses usaha Allah Bapa memanggil manusia agar kembali kepada diri-Nya sering disebut sejarah keselamatan. Sejarah ini terbeber sebagai rangkaian perjanjian antara Allah dengan umat manusia. Perjanjian demi perjanjian semakin luas cakupannya, mulai dari Adam, Nuh, Abraham, Musa dan Daud dan memuncak pada Kristus dalam Perjanjian Baru. Sengsara dan kematian Yesus Kristus adalah demi keselamatan manusia, sebagai kurban tebusan atas dosa dan pelanggaran manusia (Gal 1:4; Rm 5:8; 8:32; 1Kor 15:3-5; Mrk 14:24; 1Ptr 2:21-24).

  • Teologi rahmat

Anugerah Allah berkat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan cuma-cuma kepada manusia untuk penebusan, pembenaran dan pengudusan manusia. Oleh rahmat ilahi kodrat manusia yang dicederai dosa dan pelanggaran disempurnakan. Oleh rahmat itu manusia dibantu mengatasi kelemahan-kelemahannya dan diangkat menjadi anak-anak Allah dan memeroleh hidup kekal.

  • Teologi Sakramen (Sakramentologi)

Uraian tentang tanda dan sarana kasih (rahmat) Allah yang disampaikan melalui Gereja untuk memelihara dan mempertahankan karunia penebusan dan kekudusan selama hidup di dunia. Meliputi baptis, urapan krisma pendewasaan iman, ekaristi, pengampunan dosa dan rekonsiliasi, perkawinan, imamat dan urapan orang sakit. Sebagai pelaksana sakramen-sakramen Gereja sendiri juga merupakan sakramen bagi dunia, yaitu untuk kesatuan dan persatuan mesra antara manusia dengan Allah, dan dengan sesamanya.

  • Teologi Eskatologi

Mengenai Hari Tuhan, yaitu kedatangan kedua Yesus Kristus di akhir zaman, penciptaan langit dan bumi baru, serta penyempurnaan definitif Kerajaan Allah. Untuk itu diperlukan sikap tekun berjaga dan waspada serta upaya agar hidup tidak bercacat hingga sampai kesudahannya.

  • Penyertaan Maria (Mariologi)

Inkarnasi Allah menjadi manusia dalam rangka tata keselamatan ilahi dan penebusan manusia terlaksana melalui peran serta Santa Perawan Maria. Ketaatan Maria kepada kehendak Allah menjadi teladan bagi umat Katolik. Bagaimana ia "terberkati" dalam arti "penuh rahmat", makna sebutan "Bunda Allah" (theotokos), keperawanan atau kemurnian hatinya, serta doa perantaraannya (berdasar Yoh 2:2-5)mempunyai makna khusus bagi umat Katolik. Berkaitan dengan jasa Yesus Kristus Puteranya, menurut tradisi yang berusaha memahami wahyu ilahi, Maria menjadi orang pertama yang menerima buah-buah penebusan (dogma Maria dikandung tanpa noda dosa, dan Maria diangkat ke surga dengan mulia).


Perawan Maria Sebagai Bunda Allah:

Penegasan-penegasan dan kesaksian Alkitabiah yang berbicara secara langsung Maria sebagai Bunda Allah (Theo-tokos) tidak Nampak, hanya secara eksplisit. Namun ungkapan Maria sebagai Bunda Allah dapat dicermati dengan melihat teks-teks Kitab Suci.

1. Kesaksian dalam Kitab Suci

Dalam Injil Mat 1-2; 13:35; Mrk 6:3; Luk 1:2. Pada teks lain dihadirkan seorang wanita tanpa menyebutkan nama wanita itu sebagai ibu Yesus (dalam Mrk 2:31; Luk 8:19; Yoh 2:1 dan Yoh 19:25. Mengenai Mat 1-2 dan Luk 1-2, para ahli berpendapat bahwa kedua bagian tersebut bukanlah laporan histories melainkan pewartaan Injil tentang Yesus Kristus. Dalam kedua teks tersebut, Maria ditampilkan sebagai ibu Yesus dalam kerangka pewartaan. Pernyataan Maria sebagai Ibu Yesus tidak ditampilkan dalam Kitab Suci. Tidak dipergunakan ungkapan itu, tidak berarti bahwa makna ungkapan Bunda Allah tidak terdapat dalam Kitab Suci melainkan ungkapan itu senantisa menunjuk pada pribadi Maria sebagai Ibu Yesus dan Bunda Allah (Lih Kis 1:14; Mrk 3:3 dan Yoh 2:1-5). Sebutan Maria sebagai Bunda allah, hal ini mau mengungkapkan kesatuan yang tak terceraikan antara keilahian dan kemanusian dalam diri Yesus. Tak seorang pun dapat mengerti tentang pribadi Yesus dengan memisahkan kodratNya dari pribadiNya. Malalui misteri cinta yang maha besar, misteri inkarnasi, Allah memberikan tempat istimewa pada Maria. Maria diangkat sebagai Bunda Allah dan tugasnya sebagai Bunda Allah tidak dapat disejajarkan dengan tugas ibu mana pun. Hal ini menunjukkan keistimewaan Maria dan sekaligus menampilkan rahasia rahmat Allah pada diri Maria.
Perjanjian baru menggambarkan Yesus sebagai seorang Yahudi. Dikatakan bahwa Dia berasal dari kalangan orang Nasareth (Mrk 10:47;14:46; Luk 18:37; 24:19; Yoh 18:5; Kis 10:38; 26:9). Ibu Yesus juga seorang keturunan Yahudi yang bertempat tinggal di Nasareth (Mrk 6:3). Fakta yang ditunjukkan oleh PB bahwa Maria adalah ibu Yesus tidak dapat disangkal kebenarannya. Kebenaran ini ada kaitannya dengan paham teologis yang diseruhkan oleh Paulus: Setiap genap waktunya maka Allah mengutus anakNya yang lahir dari seorang wanita (Gal 4:4). Teks ini tidak langsung berbicara tentang ibu Yesus, tetapi berkat ketaatan wanita itulah maka Yesus lahir sebagai seorang manusia. Relasi antara wanita dengan Yesus sungguh unik dan khas. Karena intensitas seperti ini mampu menghubungman atau mampu menjadikan Maria sebagai Ibu Yesus yang penuh iman kepada Allah. Selain itu kerelaan Maria merupakan tanda partisipasi dan penghadiran karya keselamatan Allah. Seluruh PB dengan jelas dan tegas mewartakan iman akan Yesus sebagai Putera Allah. Yesus yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria sungguh benar putera Allah yang kekal, Pribadi kedua dari tritunggal Mahakudus. Yesus adalah Allah yang menginkarnasikan diri lewat kelahiran dari kandungan seorang perawan tak bernoda yang bernama Maria. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perawan maria adalah Bunda Allah. Maria merupakan Bunda Putera Allah yang juga menjadi putri Allah Bapa yang terkasih serta sebagai kenisah Roh Kudus yang menandakan kesucian diri Maria di hadapan Allah (LG No.53).

2. Rumusan Konsili-Konsili tentang Perawan Maria sebagai Bunda Allah

  • Konsili Nikea (325) Menegaskan bahwa Yesus Kristus, Anak Allah adalah Sabda Allah yang kekal, Putera Allah yang sehakekat dengan Allah Bapa. Dalam perumusan ini terkadung konsep Mariologi. Putera Allah yang sungguh-sungguh Allah oleh karena sehakekat dengan Allah Bapa telah menjadi manusia, (daging). Dalam inkarnasi ini, hakekat Allah dan manusia ini menjadi satu kesatuan yang tak terceraikan, [Konsili Efesus 431 dan Khalsedon 451. Yesus benar-benar Allah, sehingga dengan demikian Maria sebagai Ibu Yesus juga menjadi Bunda Allah. Paham tentang Mariasebagai BUNDA ALLAH sejak awal abad IV mulai disebut dan diyakni sebagai theo-tokos, Dei-genetrix, yang berarti yang melahirkan Allah.
  • Konsili Efesus 431 Menyatakan gelar Theo-tokos, Dei Genetrix sebagai Dogma. Alasan yang melatarbelakangi lahirnya pandangan ini adalah penolakan Nestorius terhadap gelar tersebut. Nestorius mengatakan bahwa dalam diri Yesus ada dua subyek, yakni firman Allah dan manusia Yesus. Maria hanyalah ibu dari kemanusian diri Yesus. Gelar yang tepat dikenakan kepada Maria adalah anthropo-tokos, yang melahirkan manusia. Untuk mempertahankan kesatuan subyek pada diri Yesus, maka konsili Efesus menetapkan Maria sebagai Theo-tokos, Dei genetrix, Bunda Allah.
  • Konsili Kalkedon 451 Mermuskan bahwa putra yang suci dan sama, Tuhan kita Yesus Kristus; kesempurnaan yang sama dalam Allah dan di dalam kodrat manusia; Allah yang benar dan manusia yang benar, sungguh berasal dari Bapa dan sebelum segala masa seturut keilahian. Namun dalam masa tertentu lahir dari perawan Mamria, Bunda Allah menurut daging. Dokumen konsili Kalkedon ini sering menyebabkan salah penginterpretasian. Untuk itu maka
  • konsili Konstantinopel (553) berusaha meluruskan rumusan dari konsili Kalkedon tersebut. Perumusan yang dihasilkan oleh konsili konstantinopel adalah bahwa Maria sungguh-sungguh dan nyata-nyata Bunda Allah karena Allah Putera, (sabda) berasal dari Allah Bapa sebelum segala abad. Putera dilahirkan dalam kemanusiaan (daging) Maria. Konsili Konstantinopel III (680-683) kembali menegaskan bahwa Yesus Kristus dikandung dari Roh Kudus dalam diri Perawan Maria yang sungguh-sungguh dan benar-benar Bunda Allah.
  • Paus Pius XIII (dalam ensiklik Octobri Mensi, tgl.28-9-1891. sering mengemukakan keibuan ilahi Maria dengan memandang Maria sebagai sumber segala sumber rahmat yang berasal dari Allah.
  • Konsili Vatikan II: mengemukakan perihal Maria sebagai Bunda Allah dengan sebutan Mater Dei, Dei-genetrix atau Dei Para. Perumusan terhadap Maria sebagai Bunda Allah merupakan pengakuan dan penghormatan gereja yang dikaitkan dengan karya penebusan

Teologi tentang Gereja atau Eklesiologi[sunting | sunting sumber]

Eklesiologi adalah teologi yang berhubungan dengan pokok pengakuan iman katolik yang menyatakan: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” – “Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus.” Jadi eklesiologi adalah teologi tentang Gereja.

  • Eklesiologi umat perdana

Pemahaman umat perdana atas Gereja dapat ditangkap dari Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus, dan tulisan Yohanes. Namun di baliknya terdapat latar belakang dari pengertian mengenai “himpunan kudus” (miqr’a qodesy), “bangsa yang suci” (Ul 7:6) Perjanjian Lama: satu bangsa (dari Abraham (Kej 17:17), satu tanah air (Kej 17:8) , dan satu bahasa (Yes 19:18).

Setelah kebangkitan Kristus, himpunan umat itu mengarah pada pemisahan dari Israel, dan dalam Kristus menjadi Israel baru yang sejati (Gal 3:29; Rm 9:6) dengan dimensi bangsa (komunio, persekutuan para kudus), tanah air (surga) dan bahasa yang baru (kasih). Unsur utama di dalam paham Paulus adalah rahmat panggilan Allah yang terus bekerja dan menghimpun serta mempersatuan Gereja. Dalam Ef dan Kol Paulus mengemukakan pandangan Gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup dari Kristus sebagai kepalanya. Dalam Rm 12 dan 1Kor 12 tubuh Kristus lebih dikaitkan dengan kesatuan dan persatuan.

Pada Kisah Para Rasul ditekankan apa yang dilakukan Gereja dan terutama sifat keakraban dan persaudaraan di dalamnya (Kis 2:42-47; 4:32-35; 5:12-14): “Bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan....memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42), “dengan sehati mereka berkumpul” (2:46), “sehati dan sejiwa” (4:32).

Pandangan Yohanes mengenai Gereja bersifat eskatologis, khususnya dalam Kitab Wahyu. Walaupun di dalam Injilnya Yohanes mengajukan kiasan seperti “kawanan” (Yoh 10), “mempelai” (Yoh 3:29), “pokok dan carang anggur” (Yoh 15:1-8), pada mulanya metafora itu tidak ditujukan untuk Gereja. Namun Yoh 17 secara keseluruhan berbicara tentang kesatuan murid-murid Kristus dan pentingnya kasih persaudaraan (Yoh 13:35). Dalam Wahyu, Gereja adalah umat kudus yang memuliakan Allah di surga, suatu situasi yang masih sangat dirindukan.

  • Eklesiologi para bapa Gereja (patristik)

Setelah Yerusalem dihancurkan Roma pada tahun 70 murid-murid Tuhan terpencar-pencar dalam diaspora. Sebagian hidup dalam himpunan seperti di Antiokhia, di Efesus, di Korintus, bahkan di Aleksandria dan Roma. Sebagian karena melihat penganiayaan di mana-mana “menyendiri” (itulah artinya monistis), baik betul-betul sendirian sebagai pertapa (eremit), maupun berkelompok dalam satu biara (menjadi rahib). Tujuannya adalah kesucian.

Zaman para Bapa Gereja (patristik) kurang lebih terentang antara tahun 150 hingga 800. Paham tentang Gereja bersumber dari tafsir Kitab Suci dan tekanan yang bersifat kristologis. Pada masa ini St Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci Yunani (LXX) ke dalam bahasa Latin. Paham mereka tentang Gereja belum sistematik dan lebih tipologis. Nuansa asketis (mengejar kesucian dengan laku saleh) dan monistis (bersifat kebiaraan) sangat menonjol.

Teologi asketis (mati raga, tapa, berkorban) diutamakan, sehingga himpunan-himpunan awam yang tidak melakukan itu dianggap warga kelas dua. Persekutuan para kudus mendapat penekanan. Santo Agustinus (354-450) menyebut civitas Dei (umat Allah) namun yang diperhatikan di dalamnya bukan persaudaraan, melainkan ibadat. Tokoh lain yang terkenal adalah St Antonius (251-336) yang memberikan peraturan-peraturan awal. Regula kebiaraan selanjutnya bersumber pada St Beneditus (480-543). Maka Gereja bersifat sakramental. Dan tanda sakramental itu mengikuti nasihat Injil untuk hidup miskin di hadapan Allah dan dalam ketaatan kepada Allah seperti yang terdapat dalam Mrk 10:17-22.

Pada zaman patristik inilah Gereja dipahami dengan empat cirinya: satu, kudus, katolik, apostolik. Ciri ini diteguhkan dalam Konsili Nicea (326).

Kesatuan mengalir dari misteri Allah Tritunggal, yang dikehendaki Yesus agar ada pada para muridnya (Yoh 17), dan St Paulus menekankan kesatuan oleh ikatan damai sejahtera (Ef 4:3) dan “sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Flp 2:2). Walaupun ada perbedaan ritus ibadat, namun gereja adalah satu (ritus Roma, ritus Ambrosius, ritus Aleksandria atau Koptis, Ritus Bizantin, Siria, Armenia, Maronit dan Kaldea.

Ciri katolik berarti menyeluruh. St Ignatius dari Antiokia pada tahun 110 menyatakan, “Di mana Kristus berada, di situ ada Gereja Katolik.” Keseluruhan Gereja hadir ketika umat beribadat bersama Kristus pada hari Minggu di Jakarta. Keseluruhan Gereja hadir di mana-mana. Tetapi kekatolikan bukan sesuatu konsep yang melayang-layang, konsep itu dikaitkan dengan sesuatu yang permanen, tetap, dan menunjukkan jati diri. Maka kita mengenal Gereja Katolik Roma, Gereja Katolik di Indonesia. Pada tahun-tahun awal kekristenan, banyak bapa Gereja memandang perlu kesatuan gereja-gereja setempat (Galatia, Tesalonika, Korintus, Efesus dll) dengan Roma, “yang unggul memimpin dalam kasih” (Epistula ad Romanos 1,1), sebagai tanda katolisitas.


  • Eklesiologi Konsili Vatikan I dan Institusionalisme
  • Eklesiologi "Mistici Corporis"
  • Eklesiologi Konsili Vatikan II

Teologi katolik mengenai Gereja terpapar dengan jelas dalam konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium. Dokumen Konsili Vatikan II, yang lain juga menjelaskan berbagai hal mengenai aspek-aspek tertentu dari Gereja misalnya konstitusi pastoral Gaudium et Spes (tentang Gereja di dalam dunia modern); dekrit Ad Gentes (tentang misi Gereja); empat dokumen tentang fungsi dan peran anggota-anggota Gereja yaitu dekrit Christus Dominus (tentang Uskup); dekrit Presbiterorum Ordinis (tentang Imam); dekrit Apostolicam Actuositatem (tentang kerasulan awam) dan Perfectae Caritatis (tentang hidup bakti religius). Kemudian mengenai hubungan-hubungan dengan sesama umat Allah diperikan dalam dekrit Unitate Redintegratio (tentang Ekumenisme); Orientalium Ecclesiae (tentang Gereja-gereja Timur) dan Deklarasi Nostra Aetate (tentang dialog dan kerjasama dengan umat non-kristen). Ajaran mengenai Gereja dan teologinya juga dirangkum dalam Katekismus Gereja Katolik.

Teologi Moral[sunting | sunting sumber]

Membahas isi iman sejauh merupakan kaidah penilaian baik buruk, benar salah, atas perilaku manusia dalam terang wahyu ilahi. Meliputi Moral Dasar dan Moral Sosial.

  • Moralitas Sepuluh Perintah Allah
  • Moralitas Khotbah Dibukit
  • Moral Kerajaan Allah
  • Moral Sosial, Moral Keterlibatan

Teologi Pastoral[sunting | sunting sumber]

Mengenai penerapan isi iman dalam praktek menurut situasi dan kondisi konkret.

Teologi Sosial[sunting | sunting sumber]

  • Teologi Kerja
  • Teologi Pembebasan
  • Teologi Perkembangan
  1. teologi feminis
  2. teology Politik

Apologetika[sunting | sunting sumber]

Pembelaan isi iman terhadap serangan atau penyangkalan. "Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada pada kamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" (1Ptr 3:15)

Metode Teologi[sunting | sunting sumber]

  • Teologi Kodrati
  • Teologi adikodrati
Teologi asketik
  • Teologi sistematik
  • Teologi kontekstual

Teologi dan zamannya[sunting | sunting sumber]

  • Teologi Patristik
  • Teologi Skolastik
  • Teologi Modern
  • Teologi Kontemporer

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. JB Banawiratma, ed. 1986. Kristologi dan Allah Tritunggal. Kanisius.
  2. JB Banawiratma, ed. 1987, Kemiskinan dan Pembebasan. Kanisius.
  3. JB Banawiratma, ed. 1987, Panggilan Gereja Indonesia dan Teologi. Kanisius.
  4. JB Banawiratma, ed. 1990. Aspek-aspek Teologi Sosial. Kanisius.
  5. Dr Bernard Kieser SJ, 1988, Moral Dasar. Kanisius.
  6. Dr Bernard Kieser SJ, 1988, Moral Sosial. Kanisius.
  7. Dr C Goenen OFM, 1988, Sejarah Dogma Kristologi. Kanisius.
  8. Dr C Goenen OFM, 1988, Mariologi. Kanisius.
  9. Dr C Goenen OFM, 1988, Soteriologi Alkitabiah. Kanisius.
  10. Joe Holland – Peter Henriot SJ, 1988, Analisis Sosial dan Refleksi Teologis. Kanisius.
  11. Jon Sobrino - JH Pico, 1989, Teologi Solidaritas. Kanisius.
  12. Katekismus Gereja Katolik.
  13. Dr Georg Kirchberger SVD, 1996, Aliran Teologi Zaman Ini. Risalah Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se Indonesia VI, Klender, Jakarta.
  14. KWI, Dokumen Konsili Vatikan II, terutama Konstitusi Lumen Gentium (tentang Gereja). Gaudium et Spes (tentang Gereja di dalam dunia modern). Ad Gentes (tentang Misi Gereja). Christus Dominus (tentang uskup). Presbiterorum Ordinis (tentang imam). Apostolicam Actuositatem (tentang Kerasulan Awam). Perfectae Caritatis (tentang hidup bakti religius). Unitate Redintegratio (tentang Ekumenisme). Deklarasi Nostra Aetate (tentang dialog dan kerjasama dengan umat non-kristen).
  15. Komisi-Liturgi KWI, Puji Syukur: buku doa dan nyanyian. Obor.
  16. Hans Kung, 1978, Christ Sein, Deutscher Taschenbuch Verlag Gmbh.
  17. Dr. B.S. Mardiatmadja SJ, 1986, Eklesiologi, Makna dan Sejarahnya. Kanisius.
  18. Dr. B.S. Mardiatmadja SJ, 1986, Beriman Dengan Taqwa. Kanisius.
  19. Dr. B.S. Mardiatmadja SJ, 1986, Beriman Dengan Radikal. Kanisius.
  20. Dr. B.S. Mardiatmadja SJ, 1986, Beriman Dengan Tanggap. Kanisius.
  21. Dr. B.S. Mardiatmadja SJ, 1986, Beriman Dengan Bertanggungjawab. Kanisius.
  22. Dr. Nico Syukur Dister OFM, 1988, Kristologi, Sebuah Sketsa. Kanisius.
  23. R. Schnackenburg, 1971, Perdjandjian Baru Sebagai Pembina Achlak Umat Keristen, Nusa Indah.
  24. Dr. Tom Jacobs, 1988, Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Kanisius.
  25. Dr. Tom Jacobs, Dinamika Gereja. Kanisius.