Tanjung Curonian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gurun Pasir Tanjung Curonian

Tanjung Curonian (bahasa Lituania: Kuršių nerija, bahasa Rusia: Куршская коса (Kurshskaya kosa), bahasa Jerman: Kurische Nehrung, bahasa Latvia: Kuršu kāpas) iadalah sebuah bukit pasir panjang, kurus, dan berliku sepanjang 98 km yang memisahkan Laguna Curonian dari Laut Baltik.

Pada penghujung abad ke-18, penduduk di sebuah desa nelayan merasakan bahwa desa mereka di ambang kehancuran. Selama bertahun-tahun , sebuah bukit pasir raksasa telah merayap menuju desa mereka. Dengan sia-sia mereka mencoba mengalihkan jalur bukit pasir itu dengan membangun perintang kayu berbentuk segitiga. Akan tetapi, pada tahun 1797, bukit pasir itu benar-benar menelan desa mereka.

Itulah salah satu babak dari drama 80 tahun sewaktu bukit-bukit pasir menelan lebih dari selusin desa dan mengubah tanjung Curonian menjadi gurun, sebidang kawasan sepanjang 100 kilometer yang menjorok dari pesisir Baltik di tempat yang sekarang adalah Rusia dan Lituania.

Akibat pengelolaan buruk dan penaklukan[sunting | sunting sumber]

Selama berabad-abad pasir Tanjung Curonian dilapisi tumbuh-tumbuhan yang sangat subur. Hutannya menyediakan banyak binatang buruan bagi penduduk setempat. Pada awal abad ke-18, wilayah itu menjadi bagian dari jalur pos yang penting antara Eropa Barat dan Imeprium Rusia. Sewaktu populasinya meningkat pada masa damai, kawanan ternak memakan habis lapisan hijaunya yang ringkih dan orang-orang membabati hutan untuk mendapatkan kayunya. Penduduk setempat tidak menyadari betapa ringkihnya tumbuh-tumbuhan penutup yang selama itu mereka andalkan.

Hutan itu mendapat kerusakan yang lebih berat ketika pasukan Rusia menyerbu pada tahun 1757 dan menebangi pohon-pohonnya guna membuat perahu perairan dangkal untuk mengepung Kõningsberg (Kaliningrad), sebuah kota penting di Prusia pada saat itu (Sekarang menjadi daerah enklave Rusia). Selama puluhan tahun berikutnya, angin membentuk bukit-bukit pasir dan mengakibatkan bencana yang disebutkan di awal.

Adalah George David Kuwert, seorang petugas pos yang gigih, dan ayahnya Gottlieb, pada tahun 1825 mulai menghijaukan kembali kawasan itu. Selama lebih dari satu abad, ratusan orang bekerja keras dalam proyek itu. Pertama-tama mereka harus menstabilkan tanah dengan rumput jenis khusus yang berakar dalam dan tumbuh subur di pasir. Kemudian mereka menanami ratusan hektar tanah dengan berbagai jenis pohon pinus dan betula yang tangguh. Akhirnya sekitar 70 persen dari tanah gersang itu telah hijau kembali.

Tujuan wisata[sunting | sunting sumber]

Dewasa ini, Tanjung Curonian dikunjungi sampai 8000 turis setiap hari. Hutan-hutannya dihuni dengan berbagai satwa seperti rusa, rubah dan babi hutan. Kira-kira seratus jenis burung bersarang di sini dan lebih dari sejuta burung bermigrasi melewati tanjung ini setiap tahun. Ada 900 jenis tumbuhan dan masih ada banyak bukit pasir, meskipun kini hanya menempati 12 persen dari wilayah itu. Bahkan beberapa bukit pasir menjulang sampai ketinggian 50 meter yang dipahat oleh angin. Dari atas bukit pasir yang bergerak maju terbentang hamparan desa-desa kecil , hutan, tanah lapang dan mercusuar serta dua sisi pantai dimana sisi yang satu adalah Laut Baltik dan di sisi lainnya adalah Laguna Curonian. Para wisatawan juga dapat mengunjungi museum yang memamerkan batu ambar yang potongan-potongannya dapat ditemukan terdampar di pantai. Ada batu ambar yanbg di dalamnya terdapat fosil tanaman atau serangga.

Permukiman[sunting | sunting sumber]

Permukiman di Tanjung Curonian (dari utara ke selatan) adalah:

Pranala luar[sunting | sunting sumber]