Taejong dari Joseon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
sign of Taejong of Joseon

Taejong Yi Bang-won (1367 – 1422, bertahta pada tahun 1400-1418) adalah raja ketiga Dinasti Joseon di Korea. Ia adalah ayah dari Raja Sejong yang Agung.

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Mendirikan Joseon[sunting | sunting sumber]

Ia dilahirkan sebagai Yi Bangwon pada tahun 1367 sebagai putra kelima Raja Taejo, dan memenuhi syarat sebagai seorang pejabat di Dinasti Goryeo pada tahun 1382. Dalam kehidupan awalnya, ia membantu ayahnya mengembangkan dukungannya dengan rakyat dan banyak figur yang berpengaruh di pemerintahan. Ia dikirim ke Dinasti Ming Cina pada tahun 1388. Taejong menolong ayahnya mendirikan dinasti yang baru dengan membunuh para pejabat Konfusian yang berkuasa seperti Jeong Mong-ju, yang tetap setia kepada Dinasti Goryeo.

Pertikaian Para Pangeran[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1392, ia membantu ayahnya untuk menggulingkan Goryeo dan mendirikan sebuah dinasti yang baru, Joseon. Ia mengharapkan ditunjuk sebagai pewaris tahta karena ialah yang paling banyak berkontribusi atas pendirian Joseon, namun ayahnya Taejo dan Perdana Menteri Jeong Do-jeon menyayangi putra kedelapan Taejo dan saudara tiri Yi Bangwon (putra kedua Ratu Sindeok) Yi Bangseok sebagai putra mahkota pada tahun 1392. Konflik ini meningkat karena Jeong Dojeon, yang meruncingkan dan meletakkan ideologikal, institusional, dan legal fondasi atas dinasti baru lebih daripada yang lainnya, melihat Joseon sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh para menteri yang ditunjuk oleh raja ketika Yi Bangwon ingin mendirikan monarki yang mutlak dipimpin langsung oleh raja. Masing-masing pihak sadar akan kebencian masing-masing dan siap untuk menjadi yang menyerang duluan. Setelah kematian mendadak Ratu Sindeok, dan ketika Raja Taejo masih dalam suasana berkabung atas kematian istri keduanya, Yi Bangwon menyerang duluan dengan merampok istana dan membunuh Jeong Do-jeon dan para pendukungnya juga kedua putra Ratu Sindeok termasuk putra mahkota pada tahun 1398. Peristiwa ini dikenal dengan nama Pertikaian Pertama Para Pangeran.

Terperanjat dengan kenyataan bahwa putra-putranya saling bunuh demi mendapatkan mahkota, dan kelelahan fisik dari kematian istri keduanya, Raja Taejo berabdikasi dan segera memahkotai putra keduanya Yi Bang-gwa, atau Raja Jeongjong, sebagai pemimpin yang baru. Satu dari tindakan pertama Raja Jeongjong sebagai monarki adalah mengembalikan ibukota ke Gaeseong, dimana ia percaya lebih nyaman disana. Namun Yi Bangwon mempertahankan kekuasaan sebenarnya dan segera terlibat di dalam konflik dengan abangnya yang tidak puas dengannya, Yi Bang-gan, yang juga haus akan kekuasaan. Pada tahun 1400, Jenderal Bak Po, yang kecewa oleh Yi Bangwon karena tidak memberinya cukup penghargaan atas jasanya di dalam Pertikaian Pertama Para Pangeran, berkomplot dengan abang Bangwon Yi Bang-gan (Pangeran Hoean) dan memberontak melawannya yang dikenal dengan nama Pertikaian Kedua Para Pangeran. Yi Bangwon berhasil mengalahkan pasukan abangnya, kemudian mengeksekusi Bak Po dan membuang Bang-gan ke pengasingan. Raja Jeongjong, yang cemas akan kekuasaan saudaranya, Yi Bangwon kemudian mengangkatnya sebagai putra mahkota dan mengabdikasikan dirinya pada tahun yang sama. Yi Bangwon naik tahta sebagai Raja Taejong, raja ketiga di Kerajaan Joseon.

Konsolidasi Kekuasaan Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Pada awal pemerintahan Taejong, bekas raja, Taejo, menolak untuk menyerahkan stempel kerajaan yang menandakan kesahan dari pemerintahan raja manapun. Taejong mulai untuk menjalankan kebijakan-kebijakannya yang ia percayai akan membuktikan kualifikasinya sebagai pemimpin. Salah satu tindakan pertamanya sebagai raja adalah menghapus hak-hak istimewa yang dinikmati oleh eselon atas pemerintah dan aristokrasi yang mempertahankan tentara swasta. Pencabutan hak di dalam bidang kekuatan independen secara efektif memutuskan kemampuan mereka untuk mengumpulkan pemberontakan besar-besaran, dan secara drastis meningkatkan jumlah orang yang dipekerjakan di dalam militer nasional. Tindakan Taejong selanjutnya adalah merevisi undang-undang yang ada mengenai pajak kepemilikan tanah dan pencatatan subyek yang ada. Dengan adanya penemuan tanah yang disembunyikan sebelumnya, pendapatan nasional menjadi meningkat dua kali lipat.

Ia juga memulai sistem hopae, bentuk awal catatan identifikasi nama dan tempat tinggal orang, yang digunakan untuk mengontrol gerakan seseorang. Ia juga menyediakan sebuah genderang besar di depan istananya, agar rakyat biasa, ketika mereka memiliki masalah, dapat datang ke istana dan berkonsultasi dengan raja.

Monarki Mutlak[sunting | sunting sumber]

Selain itu, ia menciptakan sebuah pemerintahan pusat yang kuat dan sebuah monarki mutlak. Pada tahun 1399, Taejong telah memainkan peranan yang berpengaruh di dalam pertarungan Majelis Dopyeong, dewan administratif yang lama yang memegang monopoli di dalam kekuasaan istana selama tahun menurunnya Dinasti Goryeo, mendukung Dewan Negara Joseon (의정부), cabang baru dari pemerintah pusat yang berputar mengelilingi raja dan fatwanya. Setelah melewati dokumentasi subjek dan undang-undang perpajakan, Raja Taejong mengeluarkan dekrit baru dimana bahwa semua keputusan yang disahkan oleh Dewan Negara hanya bisa terwujud dengan persetujuan raja. Ini mengakhiri praktik di istana dan penasihat menteri membuat keputusan melalui debat dan negosiasi di antara mereka sendiri, dan dengan demikian hal tersebut dapat membawa kekuasaan kerajaan ke tingkat baru. Tak lama kemudian, Taejong mendirikan sebuah kantor, yang dikenal sebagai Kantor Sinmun, untuk mendengar kasus-kasus di mana subyek yang dirugikan merasa bahwa mereka telah dieksploitasi atau diperlakukan secara tidak adil oleh para pejabat pemerintah atau oleh aristokrat.

Namun, Taejong menyimpan reformasi Jeong Dojeondengan utuh hampir diseluruh bagian. Ia mempromosikan Konfusianisme, yang tak lebih daripada filosofi politik daripada sebuah agama; kemudian mengabaikan Buddhisme, yang jauh dari kehidupan sehari-hari dan membusuk dari kekuasaan yang diberikan oleh raj-raja Goryeo beberapa waktu yang lalu. Ia menutup banyak kuil yang didirikan oleh raja-raja Goryeo, dan menyita harta besar mereka dan menambahkannya ke harta nasional. Dan lagi, ia menganugerahi Jeong Mong-ju dengan gelar Anumerta Konselir Kepala Negara (setara dengan Perdana Menteri) meskipun ialah yang membunuh Jeong - membuat ironi di dalam sejarah, dimana Jeong Dojeon difitnah selama Dinasti Joseon sewaktu Jeong Mong-ju merasa sangat terhormat meskipun oposisi atas kelahirannya.

Dalam kebijakan luar negeri, ia secara lurus menyerang Jurchen di batas utara dan bajak laut Jepang di pantai selatan. Taejong juga dikenal sebagai penanggung jawab atas Invasi Oei Pulau Tsushima pada tahun 1419. Ia juga mempromosikan publikasi, perniagaan dan pendidikan. Ia juga mendirikan dan mendukung Uigeumbu, penjaga kerajaan dan polisi rahasia pada waktu yang sama. Pada tahun 1418, ia mengabdikasikan diri dan memberikan tahtanya kepada Sejong yang Agung Joseon tapi terus memimpin dengan tangan besi, memutuskan hal-hal yang penting dan mengeksekusi ayah mertua Sejong Shim On dan saudara laki-laki Shim.

Taejong mengeksekusi atau mengasingkan banyak pendukungnya yang membantunya naik ke atas tahta dengan upaya untuk mengkukuhkan otoritas kerajaan. Untuk membatasi pengaruh dari para iparnya, ia juga membunuh seluruh keempat saudara laki-laki Ratunya Won-gyeong, serta ipar putranya, Sejong. Taejong tinggal sebagai seorang figur kontroversial yang membunuh banyak saingannya (termasuk Jeong Mong-ju dan Jeong Do-jeon) dan kerabat yang lainnya untuk mendapatkan kekuasaan dan memerintah secara efektif untuk meningkatkan kehidupan rakyat, menguatkan pertahanan nasional, dan meletakkan fondasi yang kuat untuk ahli warisnya, Sejong. Taejong dikenal atas gila berburu, yang dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas sebagai seorang pemimpin.

Keluarga[sunting | sunting sumber]

  • Ayah : Raja Taejo (태조)
  • Ibu : Ratu Sin-ui dari klan Anbyeon Han (신의왕후 한씨)
  • Selir-selir :
  1. Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min (원경왕후 민씨)
  2. Permaisuri Kerajaan Nobel Hyo dari klan Cheongpung Kim (효빈 김씨)
  3. Permaisuri Kerajaan Nobel Myeong dari klan Andong Kim (명빈 김씨)
  4. Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Yeongwol Sin (신빈 신씨)
  5. Permaisuri Kerajaan Nobel Seon dari klan An (선빈 안씨)
  6. Permaisuri Kerajaan Nobel Ui dari klan Gwon (의빈 권씨)
  7. Permaisuri Kerajaan Nobel So dari klan No (소빈 노씨)
  8. Choi Suk-ui (숙의 최씨)
  9. Puteri Deoksun dari klan Lee (덕순옹주 이씨)
  10. Puteri Soonhye dari klan Jang (순혜옹주 장씨)
  11. Selir Go (후궁 고씨)
  • Keturunan :
  1. Pangeran Besar Yangnyeong (양녕대군), Putra Pertama Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  2. Pangeran Besar Hyoryeong (효령대군), Putra Kedua Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  3. Pangeran Besar Chungnyeong (충녕대군), Putra Ketiga Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  4. Pangeran Besar Seongnyeong (성녕대군), Putra Keempat Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  5. Pangeran Gyeongnyeong (경녕군), Putra Tunggal Permaisuri Kerajaan Hyo dari klan Kim.
  6. Pangeran Hamnyeong (함녕군), Putra Pertama Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  7. Pangeran Onnyeong (온녕군), Putra Kedua Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  8. Pangeran Geunnyeong (근녕군), Putra Ketiga Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  9. Pangeran Iknyeong (익녕군), Putra Tunggal Permaisuri Kerajaan Nobel Seon dari klan An.
  10. Pangeran Huiryeong (희령군), Putra Tunggal Choi Suk-ui.
  11. Pangeran Huryeong (후령군), Putra Tunggal Puteri Deoksun dari klan Lee.
  12. Pangeran Hyeryeong (혜령군), Putra Tunggal Selir Go.
  13. Puteri Jeongsoon (정순공주), Puteri Pertama Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  14. Puteri Gyeongjeong (경정공주), Putri Kedua Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  15. Puteri Gyeongan (경안공주), Putri Ketiga Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  16. Puteri Jeongseon (정선공주), Putri Keempat Ratu Wongyeong dari klan Yeoheung Min.
  17. Puteri Sukan (숙안옹주), Putri Tunggal Permaisuri Kerajaan Nobel Myeong dari klan Kim.
  18. Puteri Jeongshin (정신옹주), Putri Pertama Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  19. Puteri Jeongjeong (정정옹주), Putri Kedua Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  20. Puteri Sukjeong (숙정옹주), Putri Ketiga Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  21. Puteri Soshin (소신옹주), Putri Keempat Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  22. Puteri Sooknyeong (숙녕옹주), Putri Kelima Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  23. Puteri Sookgyeong (숙경옹주), Putri Keenam Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  24. Puteri Sookgeun (숙근옹주), Putri Ketujuh Permaisuri Kerajaan Nobel Sin dari klan Sin.
  25. Puteri Sosook (소숙옹주), Putri Pertama Permaisuri Kerajaan Nobel Seon dari klan An.
  26. Puteri Gyeongshin (경신옹주), Putri Kedua Permaisuri Kerajaan Nobel Seon dari klan An.
  27. Puteri Jeonghye (정혜옹주), Putri Tunggal Permaisuri Kerajaan Nobel Ui dari klan Gwon.
  28. Puteri Sookhye (숙혜옹주), Putri Tunggal Permaisuri Kerajaan Nobel So dari klan No.
  29. Puteri Sooksoon (숙순옹주), Putri Tunggal Puteri Deoksun dari klan Lee.

Nama Lengkap Anumertanya[sunting | sunting sumber]

  • Raja Taejong Gongjeong Seongdeok Sin-gong Geoncheon Chegeuk Daejeong Gye-u Munmu Yecheol Seongnyeol Gwanghyo yang Agung
  • 태종공정성덕신공건천체극대정계우문무예철성렬광효대왕
  • 太宗恭定聖德神功建天體極大正啓佑文武叡哲成烈光孝大王

Penggambaran Modern[sunting | sunting sumber]

"Tears of the Dragon," sebuah drama sejarah TV KBS yang ditayangkan dari tahun 1996-8, menggambarkan kehidupan Taejong. Drama ini menggambarkannya sebagai komitmen terhadap stabilitas kerajaan, yang diterjemahkan ke dalam komitmen cinta dan pengabdian kepada ayahnya dan ahli warisnya, (aslinya putra sulung Taejong), meskipun perasaan ini tidak terbalas karena kemarahan atas pembunuhan yang terjadi pada tahun 1398. Kemarahan itu memuncak dalam upaya Taejo untuk menghapus Taejong dengan mendukung pemberontakan Jo Sawi dan secara pribadi menembakkan panah ke arahnya selama pertemuan rekonsiliasi. Menurut seri itu, Taejong tumbuh menjadi sosok yang selalu was-was terhadap orang-orang disekitarnya (khususnya para iparnya), menyebabkan pembersihan, sebuah contoh eksekusinya saudara-saudara ratu yang berpengaruh namun setia dan naifnya adik-adik lelakinya yang tidak bersalah. Di dalam jawabannya yang penuh kemuakan, Putra Mahkotanya menolak tahta dan menjadi seorang playboy dan putra keduanya menjadi seorang biarawan, menunda posisi untuk putra ketiga yang lahir.

Raja Taejong juga digambarkan pada tahun 2008 KBS di dalam drama sejarah Raja Sejong yang Agung tentang putra ketiga dan ahli warisnya, Raja Sejong.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Jeongjong
Penguasa Korea
(Dinasti Joseon)
1400–1418
Diteruskan oleh:
Sejong