TORCH

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
TORCH
Infeksi yang ditularkan vertikal
Vertically transmitted infection
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Mikrograf infeksi cytomegalovirus (CMV) pada plasenta (CMV placentitis), suatu infeksi yang ditularkan vertikal: ciri khas nukleus besar pada sel yang terinfeksi MV dapat dilihat agak di tengah pada bagian bawah kanan gambar, H&E stain.
ICD-10 P35.-P39.
ICD-9 771

TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) pada wanita hamil. TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV) and other diseases. Infeksi TORCH ini sering menimbulkan berbagai masalah kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan ataupun terjadinya keguguguran dini. Infeksi TORCH bersama dengan paparan radiasi dan obat-obatan teratogenik dapat mengakibatkan kerusakan pada embrio. Beberapa kecacatan janin yang bisa timbul akibat TORCH yang menyerang wanita hamil antara lain kelainan pada saraf, mata, kelainan pada otak, paru-paru, mata, telinga, terganggunya fungsi motorik, hidrosepalus, dan lain sebagainya dengan tingkat kecacatan bawaan mencapai 15 persen dari yang terinfeksi. Kekurangan gizi dapat memperberat risiko infeksi perinatal.[1]

TORCH tidak hanya berkaitan dengan masalah kehamilan saja. TORCH juga bisa meyerang orang tua, anak muda, dari berbagai kalangan, usia, dan jenis kelamin. TORCH bisa menyerang otak (timbul gejala sering sakit kepala misalnya), menyebabkan sering timbul radang tenggorokan, flu berkepanjangan, sakit pada otot, persendian, pinggang, sakit pada kaki, lambung, mata, dan sebagainya.

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Penularan dapat disebut "penularan dari ibu ke anak" (mother-to-child transmission). Infeksi yang ditularkan vertikal dapat disebut "infeksi perinatal" (perinatal infection) jika ditularkan pada periode perinatal, yaitu periode yang dimulai pada masa gestasional 22 minggu[2] to 28[3] (dengan variasi regional untuk definisi) dan berakhir tujuh hari penuh setelah kelahiran.[2]

Istilah "infeksi kongenital" (congenital infection) dapat digunakan jika infeksi yang ditularkan vertikal itu masih terus dialami setelah melahirkan.

Contoh[sunting | sunting sumber]

Beberapa infeksi yang ditularkan vertikal dimasukkan ke dalam kompleks TORCH, yang merupakan singkatan dari:

  1. TToxoplasmosis / Toxoplasma gondii
  2. O – Other infections (see below)
  3. RRubella
  4. CCytomegalovirus
  5. HHerpes simplex virus-2 atau neonatal herpes simplex

Huruf "O" merujuk kepada "other agents" (atau "penyebab lain") termasuk:

Hepatitis B juga dapat digolongkan sebagai infeksi yang ditularkan vertikal, tetapi virus hepatitis B berukuran besar dan tidak dapat menembus ke plasenta, sehingga tidak dapat menginfeksi janin kecuali ada kebocoran pada barier ibu-bayi, misalnya pendarahan pada waktu melahirkan atau amniocentesis.[9]

Kompleks TORCH asalnya dianggap terdiri dari empat kondisi yang disebutkan di atas,[10] with the "TO" merujuk kepada Toxoplasma. Format empat istilah ini masih digunakan pada banyak rujukan modern,[11] dan cara penulisan huruf besar/kecil "ToRCH" juga kadang digunakan dalam konteks ini.[12] Akronim ini juga disebut sebagai TORCHES, untuk TOxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, HErpes simplex, and Syphilis.

Perpanjangan dari akronim ini menjadi CHEAPTORCHES diusulkan oleh Ford-Jones dan Kellner pada tahun 1995:[13]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Pencegahan mutlak dilakukan 3-6 bulan sebelum wanita hamil dengan vaksinasi MMR atau Rubella saja, jika ada dan vaksinasi Varicella untuk mengurangi kemungkinan keaktifan Herpes, jika sampai terkena dan sebaiknya diberikan tidak bersamaan, tetapi selang satu bulan. Dilanjutkan dengan pemeriksaan IgM dan IgG satu bulan setelah vaksinasi terakhir, jika hasil IgG positip berarti telah terjadi kekebalan dan jika IgM juga positip berarti positip terjadi infeksi (tetapi bukan karena vaksinasi) dan infeksinya harus diobati dahulu hingga hasil IgM negatip, baru boleh hamil. Jika lebih dahulu hamil, maka IgM dan IgG harus secepatnya diperiksa, jika IgM positip, maka selain harus diobati infeksinya juga dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat kemungkinan terjadinya cacat bawaan, tetapi USG tidak dapat menjamin sepenuhnya bahwa bayi yang akan dilahirkan akan sepenuhnya bebas cacat bawaan, sehingga kadang-kadang perlu dilakukan pengguguran kandungan dimana pilihan tersebut harus dilakukan oleh pasien, setelah dokter memberikan penjelasan yang cukup.

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Diagnosis dilakukan dengan tes ELISA. Ditemukan bahwa antibodi IgM menunjukkan hasil positif 40 (10.52%) untuk toksoplasma, 102 (26.8%) untuk Rubella, 32 (8.42%) untuk CMV dan 14 (3.6%) untuk HSV-II. Antibodi IgG menunjukkan hasil positif 160 (42.10%) untuk Toxoplasma, 233 (61.3%) untuk Rubella, 346 (91.05%) untuk CMV dan 145 (33.58%) untuk HSV-II.

Tambahan gambar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Goldenberg RL (May 2003). "The plausibility of micronutrient deficiency in relationship to perinatal infection". J. Nutr. 133 (5 Suppl 2): 1645S–1648S. PMID 12730479. 
  2. ^ a b Definitions and Indicators in Family Planning. Maternal & Child Health and Reproductive Health. By European Regional Office, World Health Organization. Revised March 1999 & January 2001. In turn citing: WHO Geneva, WHA20.19, WHA43.27, Article 23
  3. ^ Singh, Meharban (2010). Care of the Newborn. p. 7. Edition 7. ISBN 9788170820536
  4. ^ Yu J, Wu S, Li F, Hu L (January 2009). "Vertical transmission of Chlamydia trachomatis in Chongqing China". Curr Microbiol. 58 (4): 315–320. doi:10.1007/s00284-008-9331-5. PMID 19123031. 
  5. ^ K E Ugen, J J Goedert, J Boyer, Y Refaeli, I Frank, W V Williams, A Willoughby, S Landesman, H Mendez, A Rubinstein (June 1992). "Vertical transmission of human immunodeficiency virus (HIV) infection. Reactivity of maternal sera with glycoprotein 120 and 41 peptides from HIV type 1". J Clin Invest 89 (6): 1923–1930. doi:10.1172/JCI115798. PMC 295892. PMID 1601999. 
  6. ^ Fawzi WW, Msamanga G, Hunter D, Urassa E, Renjifo B, Mwakagile D, Hertzmark E, Coley J, Garland M, Kapiga S, Antelman G, Essex M, Spiegelman D (1999). "Randomized trial of vitamin supplements in relation to vertical transmission of HIV-1 in Tanzania". Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes 23 (3): 246–254. PMID 10839660. 
  7. ^ Hisada M, Maloney EM, Sawada T, Miley WJ, Palmer P, Hanchard B, Goedert JJ, Manns A. (2002). "Virus markers associated with vertical transmission of human T lymphotropic virus type 1 in Jamaica". Clin Infect Dis. 34 (12): 1551–1557. doi:10.1086/340537. PMID 12032888. 
  8. ^ Lee MJ, Hallmark RJ, Frenkel LM, Del Priore G (1998). "Maternal syphilis and vertical perinatal transmission of human immunodeficiency virus type-1 infection". International Journal of Gynaecology and Obstetrics: the Official Organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics 63 (3): 246–254. doi:10.1016/S0020-7292(98)00165-9. PMID 9989893. 
  9. ^ Hepatitis B by World Health Organization (WHO), retrieved November, 2011
  10. ^ Kinney JS, Kumar ML (December 1988). "Should we expand the TORCH complex? A description of clinical and diagnostic aspects of selected old and new agents". Clin Perinatol 15 (4): 727–44. PMID 2850128. 
  11. ^ Abdel-Fattah SA, Bhat A, Illanes S, Bartha JL, Carrington D (November 2005). "TORCH test for fetal medicine indications: only CMV is necessary in the United Kingdom". Prenat. Diagn. 25 (11): 1028–31. doi:10.1002/pd.1242. PMID 16231309. 
  12. ^ Li D, Yang H, Zhang WH, et al. (2006). "A simple parallel analytical method of prenatal screening". Gynecol. Obstet. Invest. 62 (4): 220–5. doi:10.1159/000094092. PMID 16791006. 
  13. ^ PMID 7567307 (PubMed)
    Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand

Pranala luar[sunting | sunting sumber]