Telkom Group

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari TELKOM Group)
Langsung ke: navigasi, cari
Telkom Indonesia
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Jenis

Publik (IDX: TLKM

, LSE: TKID, NYSE: TLK)
Industri/jasa Informasi & Komunikasi
Didirikan 23 Oktober 1856
Kantor pusat Kantor Pusat di Bandung, Jawa Barat Indonesia
Tokoh penting Arief Yahya, CEO
Produk Telepon tetap
Telepon seluler
Multimedia
Investasi
Asuransi
Konstruksi
Properti
Pendapatan Green up.png IDR 64,597 miliar (2009)
Situs web www.telkom-indonesia.com

Telkom Group adalah gabungan dari seluruh anak perusahaan yang dimiliki oleh Telkom Indonesia.[1]

Anak perusahaan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini daftar anak perusahan Telkom Group:

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)[sunting | sunting sumber]

Saham Telkom 65% dimiliki oleh PT Telkom dan sisanya dimiliki oleh Singapore Telecommunications. Telkomsel merupakan anak perusahaan PT Telkom sebagai operator telekomunikasi seluler pertama di Indonesia yang berbasis teknologi jaringan GSM Dual Band (900 & 1800), GPRS, WiFi, EDGE, 3G, HSDPA dan HSPA di seluruh Indonesia. Untuk jaringan internasional, Telkomsel telah berkolaborasi dengan 362 roaming partners di 196 negara.[2]

Telkomsel Finance B.V (TFBV)[sunting | sunting sumber]

TFBV merupakan anak perusahaan dari Telkomsel yang berada di Amsterdam, Belanda. Perusahaan ini didirikan dengan tujuan peminjaman dan pengumpulan dana, termasuk penerbitan obligasi, surat kesanggupan bayar dan surat berharga lainnya. Telkom memiliki saham TFBV melalui Telkomsel sebesar 65%.

Telekomunikasi Selular Finance Limited (TSFL)[sunting | sunting sumber]

TSFL merupakan anak perusahaan Telkomsel yang didirikan pada tanggal 22 April 2002 dan bergerak di bidang investasi dan keuangan. Telkom menguasai 65% saham TSFL melalui Telkomsel.

PT Multimedia Nusantara[sunting | sunting sumber]

100% saham Multimedia Nusantara dimiliki oleh Telkom. Multimedia Nusantarabergerak di bidang multimedia. Multimedia Nusantara diarahkan sebagai pelaksana amanat strategis Telkom dalam menjalankan bisnis di bidang telco adjacent industries dengan visi sebagai pemimpin masa depan dalam industri. TelkomMetra menargetkan pendapatan usaha senilai Rp10 triliyun pada tahun 2015.[3]

Mojopia[sunting | sunting sumber]

100% saham Mojopia dimiliki oleh Multimedia Nusantara. MetraNet adalah nama lain dari Mojopia.[4] Mojopia bergerak dalam membina dan membantu memasarkan produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia secara perdagangan elektronik.[5]

PT Sigma Cipta Caraka (TelkomSigma)[sunting | sunting sumber]

100% saham TelkomSigma dimiliki oleh Multimedia Nusantara. TelkomSigma juga merupakan perusahaan penyedia layanan pendukung bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi selama lebih dari 20 tahun di Indonesia.[6].

PT Sigma Cipta Caraka memiliki kepemilikan mayoritas pada perusahaan sebagai berikut:

  • PT Sigma Solusi Integrasi
  • PT Sigma Karya Sempurna
  • PT Signet Pratama
  • Sigma AIT Sdn., Bhd.
  • PT Sigma Tata Sadaya
  • PT Sigma Metrasys Solution
  • PT Graha Telkomsigma (dahulu PT German Centre Indonesia)

PT Administrasi Medika (AdMedika)[sunting | sunting sumber]

AdMedika didirikan pada tahun 2002 dan merupakan perusahaan third party administrator (TPA) pertama di Indonesia yang mengombinasikan aplikasi proses klaim kesehatan secara daring dengan layanan administrasi asuransi/jaminan kesehatan. Sejak tahun 2010, AdMedika resmi bergabung di Telkom Group dengan akuisisi melalui anak perusahaan Telkom yang bernama PT Multimedia Nusantara (Metra) dengan kepemilikan saham mayoritas 75%.

PT Finnet Indonesia (Finnet)[sunting | sunting sumber]

PT Finnet Indonesia adalah anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang sistem pembayaran elektronik. Finnet didirikan oleh Telkom dalam bentuk joint venture company antara anak perusahaan Telkom yaitu Multimedia Nusantara dengan PT Mekar Prana Indah (MPI) yang sahamnya dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKBI). Adapun komposisi kepemilikan antara Metra dan MPI adalah masing-masing 60% dan 40%. Pendirian Finnet adalah langkah nyata Telkom dalam rangka menangkap peluang pasar dalam menyediakan Layanan sistem pembayaran secara elektronik dengan menyediakan layanan solusi terpadu sistem pembayaran elektronik untuk perbankan atau semua sektor yang berkaitan dengan transaksi finansial elektronik.[7]

PT Melon Indonesia (Melon)[sunting | sunting sumber]

Melon merupakan perusahaan joint venture didirikan pada tanggal 16 Agustus 2010 oleh Multimedia Nusantara dan South Korea Telecom dengan komposisi saham 51% dan 49%. Perusahaan yang merupakan realisasi ekspansi di bisnis media pedidikan yang berfokus pada bisnis layanan musik digital dan konten lain untuk telepon seluler, komputer pribadi, kanal elektronik konsumen dan media digital lainnya.[8].

PT Telekomunikasi Indonesia International (TII/Telin)[sunting | sunting sumber]

Sebelumnya bernama PT Aria West International Finance. 100% sahamnya dimiliki oleh Telkom. Telin bertanggungjawab mengelola telekomunikasi internasional serta mengelola bisnis Telkom di luar negeri.[9]

PT Telekomunikasi Indonesia International (Hong Kong) Ltd. (Telin Hong Kong)[sunting | sunting sumber]

Telin Hong Kong didirikan di Hong Kong pada tanggal 8 Desember 2010 dan telah memperoleh unified carrier license ("UCL") pada tanggal 1 Maret 2011 untuk membangun, memberikan dan memelihara pelayanan jaringan telekomunikasi publik dengan menggunakan instalasi radio komunikasi. Telkom memiliki 100% saham Telin Hong Kong melalui Telin.

PT Telekomunikasi Indonesia International Pte., Ltd. (Telin Singapore)[sunting | sunting sumber]

Telin Singapore yang 100% sahamnya dimiliki Telin didirikan pada tanggal 6 Desember 2007 berdasarkan hukum di Singapura. Ragam layanan yang dimiliki adalah jasa telekomunikasi termasuk data berbasis Internet, layanan data, callback/call-reorigination, jasa kartu telpon prabaya, dan jasa sewa sirkuit.

Telekomunikasi Indonesia Internasional, S.A. (Telin Timor Leste)[sunting | sunting sumber]

Telekomunikasi Indonesia Internasional, S.A. merupakan anak perusahan Telin yang menjadi operator seluler berbasis teknologi GSM di Timor Leste dengan merek dagang Telkomcel.

Telekomunikasi Indonesia International Australia Pty., Ltd. (Telkom Australia)[sunting | sunting sumber]

Telkom Australia didirikan pada 14 Januari 2013. Saham dari perusahaan ini 100% dimiliki oleh Telin. Perusahaan ini didirikan berdasarkan hukum Australia. Usaha yang dilakukan oleh Telkom Australia adalah Business Process Outsourcing (BPO), Information Technology Outsourcing (ITO), dan juga layanan telekomunikasi.

Scicom (MSC) Bhd. (Scicom)[sunting | sunting sumber]

Scicom didirikan pada tahun 1997, merupakan perusahaan penyedia jasa contact centre yang berbasis di Malaysia. Kepemilikan saham Telkom di Scicom melalui Telin adalah sebesar 29,71% yang memposisikannya sebagai pemegang saham mayoritas.

PT PINS Indonesia (PINS/Pramindo)[sunting | sunting sumber]

100% saham Pramindo dimiliki oleh Telkom. Pramindo didirikan dengan Akte Notaris Benny Kristianto, S.H., No. 135 tanggal 17 Oktober 1995, berkedudukan di Jakarta. Akte ini disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan Menteri No. C2-13.200.HT.01.01.TH.95 tanggal 18 Oktober 1995 dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara No. 101 tanggal 19 Desember 1995. Pramindo didirikan dengan tujuan menyelenggarakan Kerja Sama Operasi (KSO) telekomunikasi di wilayah Sumatera dengan Telkom untuk membangun jaringan baru sebanyak 516.487 sst.

Namun, krisis ekonomi melanda Indonesia pada sekitar 1997-1998. Akibatnya, dibuatlah revisi perjanjian KSO antara Pramindo dan Telkom yang dituangkan dalam memorandum of understanding dengan menyebutkan jumlah jaringan baru yang dibangun menjadi 290.000 sst. Kewajiban membangun tersebut telah dirampungkan seluruhnya oleh Pramindo pada 31 Maret 1999.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 19 April 2002, Telkom mengakuisisi seluruh saham Pramindo. Berada sepenuhnya dalam kendali Telkom, pengelolaan Pramindodapat dilakukan lebih terpadu sesuai rencana strategis Telkom.

Di bawah payung Telkom, Pramindo berkembang menjadi penyedia jaringan dan jasa telekomunikasi & informatika yang dapat diandalkan. Tonggak-tonggak prestasi terpancang melalui berbagai keberhasilan pelaksanaan pembangunan antara lain penyediaan dan pemasangan Fastel USO/KPU berbasis teknologi radio di 386 desa di Sumatera (2004), penyediaan dan pemasangan Fastel di Pulau Rondo- pulau terluar Provinsi Aceh (2008), penyediaan dan pendistribusian terminal telepon Flexi ULCH se-Indonesia (2010-2011), distribusi modem ADSL ke Telkom di seluruh Indonesia (2010-2011), serta penyediaan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK)/USO di 1.396 Kecamatan di seluruh Indonesia (2010-2014).

Pada 20 Desember 2012, PT Pramindo Ikat Nusantara secara resmi berganti nama menjadi PT PINS Indonesia.

PT Infomedia Nusantara (Infomedia)[sunting | sunting sumber]

Infomedia merupakan sebuah perusahaan pada Telkom Group yang mengkhususkan diri di bidang media penerbitan dan iklan sebagai jembatan komunikasi antar pelaku bisnis dan juga saluran informasi bagi pelanggan telepon Telkom. 51% sahamnya dimiliki langsung oleh Telkom, dan 49% sisanya dimiliki oleh anak perusahaan Telkom yang lain, yaitu Metra.

PT Balebat Dedikasi Prima (Balebat)[sunting | sunting sumber]

Balebat yang diakuisisi pada tanggal 1 Oktober 2003, melayani jasa percetakan. Telkom memiliki 65% saham di Balebat melalui Infomedia.

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel/Dayamitra)[sunting | sunting sumber]

Mitratel/Dayamitra didirikan pada tahun 1995. Berawal dari perusahaan mitra KSO di wilayah Kalimantan dengan nama PT Dayamitra Malindo yang pada awalnya sahamnya dimiliki oleh beberapa perusahaan swasta nasional dan swasta asing. Namun dalam perjalanannya kepemilikan saham telah mengalami beberapa kali perubahan dan akhirnya pada tanggal 3 Desember 2004 saham Mitratel 100% dimiliki Telkom.

Sejak penghujung tahun 2007 Mitratel mengalami transformasi bisnis dengan mulai memasuki bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi yang salah satu diantaranya berupa penyediaan menara telekomunikasi (tower provider) untuk memenuhi kebutuhan penempatan BTS bagi para operator telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini perusahaan telah menyediakan penyewaan tower untuk beberapa operator teiekomunikasi antara lain : PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT XL Axiata Tbk, PT Indosat Tbk, PT Axis Telekom Indonesia, PT Hutchison CP Telecommunications, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Smartfren Telecom Tbk, Divisi TelkomFlexi (DTF) yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, Maluku hingga ke Papua

Dengan memperhatikan perkembangan teknologi dan dinamika industri telekomunikasi, Mitratel akan terus mengembangkan layanannya bukan hanya pada penyediaan tower macro namun sudah mulai dijajaki penyediaan microcell serta multi operator in-building solution (indoor antenna-pico). Saat ini Mitratel telah memasuki bisnis penyediaan BTS, Power Solutions serta Manage Service sebagai solusi alternatif yang tepat bagi setiap operator telekomunikasi di Indonesia.

Dalam upaya mempercepat tercapainya sasaran perusahaan untuk menjadi leader dan provider terbesar di bisnis penyediaan menara telekomunikasi dan infrastrukturnya, maka Mitratel terus melakukan proses pembangunan yang berkesinambungan serta melakukan berbagai macam proses akuisisi, baik akuisisi asset ataupun akuisisi atas perusahaan yang sejenis.[10]

PT Indonusa Telemedia (TelkomVision)[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 7 Mei 1997, 4 (empat) perusahaan yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (35%), PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) (25%), PT Megacell Media (20%) dan PT Datakom Asia (20%) sepakat mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa Televisi berbayar dan Internet dengan nama PT Indonusa Telemedia (TelkomVision).

Perseroan dalam perjalannya mengalami perubahan kepemilikan saham dan terakhir pada bulan Juni 2008 terjadi perubahan kepemilikan saham dari Datakom Asia kepada PT Multimedia Nusantara (Metra), sehingga Perseroan dimiliki 99,54% oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan 0,46% dimiliki oleh PT Multimedia Nusantara (Metra). Langkah strategis ini selaras dengan tujuan Telkom Group dalam mengembangkan lini bisnisnya dengan konsep TIME “Telekomunikasi, Informasi, Media dan Edutainment”.

Sesuai tag line Perseroan “ ini baru beda”, dalam pengelolaan bisnisnya Telkomvision merupakan operator Pay TV pertama di Indonesia yang meluncurkan produk DTH Prepaid (Pay TV Satellite Prepaid), dimana pelanggan dapat melakukan pembelian voucher sesuai dengan pilihan content dengan harga yang sangat terjangkau dan bebas mengisi voucher apa saja dan kapan saja. Kemudian pada awal tahun 2009 perseroan mengembangkan DTH Postpaid (Pay TV Satellite Postpaid) untuk mendukung strategi penetrasi masuk ke kota setelah terlebih dahulu dipersiapkan model bisnis dan perangkat mini-dish yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan, dimana model bisnis yang telah dijalankan beberapa competitor di kota adalah dengan pola pinjam pakai perangkat kepada pelanggan. Pada tahun 2013, 80% saham TelkomVision resmi dibeli oleh CT Corp.[11]

PT Graha Sarana Duta (TelkomProperty/GSD)[sunting | sunting sumber]

GSD merupakan sebuah perusahaan properti terpadu yang dimiliki oleh Telkom pada tahun 2001, dengan porsi kepemilikan saham Telkom sebesar 99,99%.

GSD didirikan pada tanggal 30 September 1981 sebagai Graha Sarana Duta untuk menyediakan Office Building, Jasa Pemeliharaan dan Perawatan Gedung Bank Duta (pada saat itu). Sejalan dengan perkembangan bisnis perusahaan, Perseroan kemudian mengembangkan portofolio ke bidang Jasa Konstruksi dan dipercaya untuk membangun beberapa kantor cabang Bank Duta dan Bank Bukopin serta sebuah Gedung Kampus YAI di Jalan Salemba, Jakarta.

Pada tanggal 25 April 2001, kepemilikan Graha Sarana Duta diambil alih sepenuhnya oleh Telkom untuk mengelola gedung-gedung kantor dan asset properti Telkom, yang sebelumnya dikelola oleh Divisi Properti Telkom. Di bawah kendali Telkom, GSD terus berkembang menjadi perusahaan properti yang terpadu (integrated property development) dan kini memiliki tiga portofolio bisnis yaitu :

  • Property Services antara lain Building Management, Partial Property Services, Office Space Leasing, Security Management dan Space & Occupancy Management.
  • Project Management seperti Office Fit Out & Interior, Building Renovation dan Construction
  • Property Development & Investment untuk Office Buildings, Residential Estates dan Technical Building

Selama tiga puluh tahun sejak didirikan oleh PT Bank Duta pada tahun 1981, Perseroan menggunakan nama belakang ‘Duta’ yang diadopsi dari nama PT Bank Duta dan menggunakan logo Perseroan yang diciptakan oleh PT Bank Duta. Pada tahun 2011, manajemen Perseroan memutuskan untuk melakukan pencitraan kembali perusahaan (corporate rebranding) dilatar belakangi oleh alasan – alasan sebagai berikut :

  • Perubahan Visi dan Misi Perseroan pada tahun 2010;
  • Perubahan Portofolio Perseroan menjadi Perusahaan Properti Terpadu (Integrated Property Development);
  • Pencitraan yang Ingin Dibangun Perseroan; bahwa manajemen Perseroan berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis perusahaan dalam aspek kinerja, kultur, dan kompetensi internal perusahaan, untuk dapat bersaing dengan pelaku bisnis lainnya di industri properti Indonesia
  • Tanggal atau Momen Tertentu; pada tahun 2011, Perseroan merayakan ulang tahun ke-30 (ke tiga puluh) sejak tanggal pendirian perusahaan pada 30 September 1981 dan 10 (sepuluh) tahun kepemilikan GSD oleh Telkom sejak tanggal 25 April 2001.

Saat ini, GSD memiliki cakupan wilayah kerja di seluruh Indonesia dan melakukan pengelolaan terhadap gedung-gedung perusahaan Telkom Group seperti gedung PT Telekomunikasi Indonesia, PT Telkomsel, PT Infomedia Nusantara dan PT Multimedia Nusantara. Selain itu, GSD juga mengelola 106 lokasi gedung lain yang dimiliki oleh berbagai bidang usaha di luar Telkom Group seperti perkantoran, apartemen, mall, dan bandara baik secara keseluruhan maupun secara parsial.

Sejak tahun 2012, Telkom mengubah nama Graha Sarana Duta menjadi TelkomProperty sebagai nama anak perusahaan baru Telkom bidang Properti.[12]

PT Napsindo Primatel Internasional (Napsindo)[sunting | sunting sumber]

Napsindo yang 60% saham dimiliki oleh Telkom dan lebihnya dimiliki oleh PT Infoasia Teknologi Global Tbk (IATG) merupakan perusahaan milik Telkom Group yang bergerak pada bidang Bisnis dan Pemasaran [13]

PT Telkom Akses[sunting | sunting sumber]

Telkom Akses merupakan salah satu anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang konstruksi pembangunan dan manage service infrastruktur jaringan. PT Telkom Akses didirikan pada tanggal 12 Desember 2012.

PT Telkom Akses (PTTA) merupakan anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) yang sahamnya dimiliki sepenuhnya oleh Telkom. PTTA bergerak dalam bisnis penyediaan layanan konstruksi dan pengelolaan infrastruktur jaringan. Pendirian PTTA merupakan bagian dari komitmen Telkom untuk terus melakukan pengembangan jaringan broadband untuk menghadirkan akses informasi dan komunikasi tanpa batas bagi seluruh masyarakat indonesia. Telkom berupaya menghadirkan koneksi internet berkualitas dan terjangkau untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga mampu bersaing di level dunia. Saat ini Telkom tengah membangun jaringan backbone berbasis Serat Optik maupun Internet Protocol (IP) dengan menggelar 30 node terra router dan sekitar 75.000 Km kabel Serat Optik. Pembangunan kabel serat optik merupakan bagian dari program Indonesia Digital Network (IDN) 2015. Sebagai bagian dari strategi untuk mengoptimalkan layanan nya, Telkom mendirikan PT. Telkom Akses. Kehadiran PTTA diharapkan akan mendorong pertumbuhan jaringan akses broadband di indonesia. Selain Instalasi jaringan akses broadband, layanan lain yang diberikan oleh PT Telkom Akses adalah Network Terminal Equipment (NTE), serta Jasa Pengelolaan Operasi dan Pemeliharaan (O&M – Operation & Maintenance) jaringan akses pita lebar.[14]

Anak perusahaan patungan (minoritas)[sunting | sunting sumber]

  • PT Citra Sari Makmur (CSM): Perusahaan jaringan satelit dan terestrial - Saham 25% [15]
  • PT Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom): Strategis TI dan solusi telekomunikasi - Saham 40% [16]
  • PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN): Perusahaan Telekomunikasi Satelit - Saham 22,38% [17]
  • PT Batam Bintan Telekomunikasi (BBT): Telekomunikasi sambungan kabel tidak bergerak di Kawasan Industri Batamindo, Batam dan Bintan Beach International Resort serta Kawasan Industri Bintan di Pulau Bintan - Saham 5%.
  • PT Pembangunan Telekomunikasi Indonesia (Bangtelindo): Perencanaan Telekomunikasi, konstruksi, instalasi dan Perusahaan perawatan.
    • Saham terbagi [18]:
      • Dana Pensiun Telkom - 54.23%
      • Koperasi Telkom - 2.65%
      • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk - 2.11%

Anak perusahaan yang dilepas[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa anak Perusahaan PT Telkom Indonesia Tbk diantaranya:

  • PT Telekomindo Selular Raya (Telesera)
  • PT Metro Selular Nusantara (Metrosel)
  • PT Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo)
  • PT Menara Jakarta

Keempat anak perusahaan di atas pernah menjadi bagian dari PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dan PT Global Mediacom Tbk (dulu Bimantara Citra) yang dileburkan bersama PT Mobile-8 Telecom Tbk dan selanjutnya diakuisisi oleh PT Smart Telecom Tbk menjadi PT Smartfren Telecom Tbk. [19][20][21]

[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]