Suriansyah dari Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sultan Suryanullah bin Raden Mantri Alu[1]
Masa kekuasaan 1520-1550
Nama asli Raga Samudera[2]
Gelar

1. Sunan Batu Abang[3]
2. Sulthan Soerian Shah[4]
3. Sulthan Soerian Sjach[5]
4. Sultan Suryanullah
5. Surian Allah[6]
6. Panembahan Batoe Abang[3]
7. Panembahan Batu Habang[6]
8. Mata Habang
9. Soeria Angsa[3]
10. Pangeran Surya Angsa[7]
11. Pangeran Samudera[1]
12. Raden Samudera[1]

13. Pangeran Djaija Samoedra[8]
Pemakaman Komplek Makam Sultan Suriansyah
Pasangan

1. Ratu Suriansyah

2. Noorhayati binti Labai Lamiah
Anak

1. ♂ Pangeran Tuha/Sultan Rahmatullah

2. ♂ Pangeran Anom/Pangeran Di Hangsana
Wangsa Dinasti Banjarmasin
Ayah Raden Mantri Alu bin Raden Bangawan[1]
Ibu Putri Galuh Baranakan binti Maharaja Sukarama[1]
Agama Islam Sunni
Makam Sultan Suriansyah.
Balai Pertemuan yang dinamakan Gedung Sultan Suriansyah di Banjarmasin.

Sultan Suryanullah[1][9] atau Sultan Suriansyah[10][11] atau Sultan Suria Angsa[12][13] adalah Raja Banjarmasin pertama yang memeluk Islam. Ia memerintah tahun 1520-1540[14]. Pangeran Samudera merupakan raja Banjar pertama sekaligus raja Kalimantan pertama yang bergelar Sultan yaitu Sultan Suryanullah. Gelar Sultan Suryanullah tersebut diberikan oleh seorang Arab yang pertama datang di Banjarmasin, beberapa waktu setelah Pangeran Samudera diislamkan oleh utusan Kesultanan Demak.[1] Setelah mangkat Sultan ini mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Habang atau Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan warna merah (habang) pada batu bata yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Nama lahirnya adalah Raden Samudera kemudian ketika diangkat menjadi raja di Banjarmasin oleh para patih (kepala kampung) di hilir sungai Barito, kemudian ia memakai gelar yang lebih tinggi yaitu Pangeran Samudera atau Pangeran Jaya Samudera. Ia lebih terkenal dengan gelar Sultan Suriansyah, dari kata surya (matahari) dan syah (raja) yang disesuaikan dengan gelar dari Raden Putra (Rahadyan Putra) yaitu Suryanata (nata = raja) seorang pendiri dinasti pada zaman kerajaan Hindu sebelumnya.

Menurut naskah Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin alias Hikayat Banjar resensi I, Sultan Suryanullah merupakan keturunan ke-6 dari Lambung Mangkurat dan juga keturunan ke-6 dari pasangan Puteri Junjung Buih dan Maharaja Suryanata. Maharaja Suryanata dijemput dari Majapahit sebagai jodoh Puteri Junjung Buih (saudara angkat Lambung Mangkurat). Sultan Suryanullah juga merupakan keturunan ke- dari Raden Sekar Sungsang.

Selain itu gelar lainnya yang dipakai adalah Suryanullah (= matahari Allah), selanjutnya sultan-sultan Banjar berikutnya memakai kata Allah pada nama belakangnya, sedangkan nama belakang syah tidak pernah digunakan lagi oleh penerusnya.

Pada 24 September 1526 bertepatan 6 Zulhijjah 932 H, Pangeran Samudera memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah. Tanggal ini dijadikan Hari Jadi Kota Banjarmasin, sekarang 483 tahun.

Raden Samudera adalah putera dari Puteri Galuh Beranakan (Ratu Intan Sari) yaitu puteri dari Maharaja Sukarama dari Kerajaan Negara Daha. Dan nama bapaknya adalah Raden Mantri Alu, keponakan Maharaja Sukarama.[1] Nama "Suriansyah" sering dipakai sebagai nama anak laki-laki suku Banjar.

Sistem Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Ketika Pangeran Samudera pertama kali mengatur kerajaan terpilih Patih Masih menjabat sebagai mangkubumi yang lebih tinggi tarafnya daripada Menteri Berempat atau dalam bahasa Banjar disebut Mantri Ampat yaitu 4 orang deputi yaitu :

  1. Pangiwa dijabat Patih Balit
  2. Panganan dijabat Patih Balitung
  3. Gampiran (Gumpiran) dijabat Patih Kuin
  4. Panumping dijabat Patih Muhur

Dibawah Gampiran dan Panumping terdapat 30 wilayah Mantri (captain). Keempat deputi ini juga berwenang sebagai hakim.

Sesudah lenyapnya Negara Daha, patih tertua, Aria Taranggana dari Negera Daha diangkat sebagai Mangkubumi dengan wewenang :

  1. menangani masalah administrasi negara dari seluruh wilayah negara
  2. menentukan keputusan terakhir terhadap seseorang yang dijatuhi hukuman mati.
  3. menentukan perihal hak penyitaan segala harta benda yang dijatuhi hukuman.

Keempat deputi berwenang juga sebagai jaksa dan hakim, tetapi segala keputusan mereka berdasarkan sebuah kodifikasi hukum yang disebut Kutara (Kutara Manawa?), yang disusun oleh Aria Taranggana ketika menjabat Mangkubumi Kerajaan Negara Daha.

Kementerian :

  • Mantri Bandar (Kiai Palabuhan) mempunyai anak buah 100 (seratus) orang untuk menjalankan kegiatan pemungutan bea cukai pelabuhan.
  • Mantri Tuhabun, dengan gelar pangkatnya : Andakawan (The Captain of The Tuhabun corps) mempunyai anggota 40 orang. Tugasnya untuk melayani raja, para famili raja seperti antara lain sebagai regu pengayuh perahu ketangkasan raja.
  • Singabana, untuk menjaga keamanan terdapat dua orang kepala :
    • Singantaka
    • Singapati.
  • Mantri Besar bertugas sebagai duta kerajaan di daerah ataupun ke luar daerah kerajaan.

Surat Kepada Sultan Demak (Sultan Trenggono)[sunting | sunting sumber]

Sultan Trenggana pernah mengirim pasukan ke Barunadwipa.[15] Datang Patih Balit itu membawa surat Sultan Demak, maka disuruh baca oleh Mangkubumi. Bunyinya:
Salam sembah putra andika pangeran di Banjarmasih sampai kepada Sultan Demak. Putra andika mencatu nugraha tatulung bantu tatayang sampiyan, karena putra andika barabut karajaan lawan patuha itu namanya Pangeran Tumenggung. Tiada dua-dua putra andika mancatu nugraha tatulung bantu tatayang sampiyan. Adapun lamun manang putra andika mangawula kepada andika. Maka persembahan putra andika: intan sapuluh, pekat saribu gulung, tatudung saribu buah, damar batu saribu kindai, jaranang sapuluh pikul, lilin sapuluh pikul.
Demikianlah bunyinya surat itu. Maka sembah Patih Balit: Tiada dua-dua yang diharap putra andika nugraha sampiyan itu. Banyak tiada tersebut. Maka kata Sultan Demak: Mau aku itu membantu lamun anakku Raja Banjarmasih itu masuk Islam. Lamun tiada masuk Islam tidak mau aku bertulung. Patih Balit kembali dahulu berkata demikian, maka kata Patih Balit: hinggih. [1]

Daerah yang Takluk[sunting | sunting sumber]

Daerah-daerah yang takluk pada masa Sultan Suryanullah - Sultan Banjarmasin I disebutkan dalam Hikayat Banjar.[16]

Hikayat Banjar menyebutkan :

Sudah itu maka orang Sebangau, orang Mendawai, orang Sampit, orang Pembuang, orang Kota Waringin, orang Sukadana, orang Lawai, orang Sambas sekaliannya itu dipersalin sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim barat sekaliannya negeri itu datang mahanjurkan upetinya, musim timur kembali itu. Dan orang Takisung, orang Tambangan Laut, orang Kintap, orang Asam-Asam, orang Laut-Pulau, orang Pamukan, orang Paser, orang Kutai, orang Berau, orang Karasikan, sekaliannya itu dipersalin, sama disuruh kembali. Tiap-tiap musim timur datang sekaliannya negeri itu mahanjurkan upetinya, musim barat kembali.[1]

Rujukan[sunting | sunting sumber]


Didahului oleh:
Pangeran Tumenggung
Sultan Banjar
1520-1550
Diteruskan oleh:
Rahmatullah

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j (Melayu)Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983621240X
  2. ^ (Melayu)Yayasan Perpustakaan Nasional (Indonesia), Yayasan Perpustakaan Nasional (Indonesia) (1976). Bulletin YAPERNA. 14-17. Yayasan Perpustakaan Nasional. 
  3. ^ a b c (Belanda) Noorlander, Johannes Cornelis (1935). Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw. M. Dubbeldeman. hlm. 188. 
  4. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia. Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde 6. Lange & Co., 1857. hlm. 239. 
  5. ^ (Belanda) Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863. D. A. Thieme. hlm. 2. 
  6. ^ a b (Inggris)Basuni, Ahmad (1986). Nur Islam di Kalimantan Selatan: sejarah masuknya Islam di Kalimantan. Penerbit Bina Ilmu. 
  7. ^ Karl Helbig, Eine Durchquerung der Insel Borneo (Kalimantan): nach den Tagebüchern aus dem Jahre 1937, D. Reimer, 1982 ISBN 3496001542, 9783496001546
  8. ^ (Belanda) (1867)De tijdspiegel. Fuhri. hlm. 165. 
  9. ^ (Indonesia) H Purwanta, dkk, Sejarah SMA/MA Kls XI-Bahasa, Grasindo, ISBN 979-759-653-2, 9789797596538
  10. ^ (Indonesia) Mohamad Idwar Saleh; Tutur Candi, sebuah karya sastra sejarah Banjarmasin, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1986
  11. ^ Sejarah daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978
  12. ^ (Belanda) Noorlander, Johannes Cornelis (1935). Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw. M. Dubbeldeman. 
  13. ^ (Inggris) Houtsma, M. Th (1993). First Encyclopaedia of Islam 1913-1936:. E.J.Brill,s,BRILL. hlm. 646. ISBN 9004097961.  ISBN 9789004097964
  14. ^ (Belanda) Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (Geschiedkundige aanteekcningen omtrent zuidelijk Borneo) 23. Ter Lands-drukkerij. hlm. 199. 
  15. ^ (Indonesia) Sunyoto, Agus (2005). Suluk Abdul Jalil: perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar 7. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 599. ISBN 9798451368. ISBN 9789798451362
  16. ^ (Indonesia) Poesponegoro, Marwati Djoened; Nugroho Notosusanto (1992). Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. PT Balai Pustaka. hlm. 86. ISBN 9794074098. ISBN 978-979-407-409-1

Pranala luar[sunting | sunting sumber]