Liga Super Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Super Liga (Indonesia))
Langsung ke: navigasi, cari
Liga Super Indonesia
Indonesia Super League.png
Negara  Indonesia
Konfederasi AFC
Dibentuk 2008
Musim pertama 2008
Jumlah tim 18
Tingkatan 1
Degradasi ke Divisi Utama
Kejuaraan domestik Piala Indonesia
Kejuaraan internasional Liga Champions AFC
Piala AFC
Juara bertahan Persipura Jayapura (2013)
Klub tersukses Persipura Jayapura (3 gelar)
Stasiun televisi
penyiar
RCTI
MNCTV
Global TV
Kompas TV
K-vision
BeritaSatu Sports
Situs web http://www.ligaindonesia.co.id
Soccerball current event.svg Liga Super Indonesia 2014

Liga Super Indonesia (disingkat LSI, bahasa Inggris: Indonesia Super League (ISL)) adalah kompetisi sepak bola antar klub profesional level tertinggi di Liga Indonesia pada tahun 2008 hingga 2011. LSI diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia (dahulu BLI) yang dimiliki oleh PSSI. LSI dikuti 18 tim terbaik yang akan saling bertanding satu putaran penuh kompetisi 34 pertandingan, kandang dan tandang. Sistem operasi untuk setiap klub peserta dengan promosi dari dan degradasi ke Divisi Utama. Musim kompetisi tidak menentu dan disesuaikan dengan kondisi atau suasana yang terjadi di Indonesia. Sponsor utama LSI adalah perusahaan rokok Djarum, oleh karena itu LSI secara resmi dikenal sebagai Djarum Indonesia Super League. Pada musim 2009–10 AFC menobatkan Liga Super Indonesia adalah liga terbaik peringkat ke-8 se-Asia, dan liga terbaik se-Asia Tenggara. Pada tahun 2011, setelah serangkaian kisruh dan kontroversi penyelenggaraan Liga Primer Indonesia, PSSI kemudian menggantikan LSI dengan Liga Prima Indonesia (IPL). Sebagian klub LSI yang tidak setuju dengan penyelenggaraan IPL kemudian tetap menyelenggarakan Liga Super Indonesia 2011–12.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal[sunting | sunting sumber]

Ide dari pelaksanaan sistem liga ini telah dikemukakan sejak tahun 2007 sebagai upaya mewujudkan profesionalisme dalam persepak-bolaan nasional. Alasan lainnya adalah karena format Liga Indonesia pada tahun 2007 yang kurang adil, berlangsung secara sistem setengah kompetisi. Sistem ini menyebabkan tingginya tingkat ketegangan pertandingan dan sangat berpotensi memicu kerusuhan. Alasan terakhir adalah karena terlalu banyak tim peserta (36 tim).

Pembentukan[sunting | sunting sumber]

LSI pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008. Kompetisi ini dilaksanakan untuk mengikuti persyaratan FIFA yang menyatakan bahwa liga teratas dari suatu negara harus diikuti oleh paling sedikit 18 klub dan setiap klub diharapkan merupakan klub profesional tanpa dibantu dana subsidi Pemerintah APBD.

18 klub perdana[sunting | sunting sumber]

Pada awal LSI 2008 diadakan dengan menyeleksi sembilan tim teratas dari Divisi Utama Liga Indonesia 2007. Tim-tim tersebut adalah:


Wilayah Barat:

  1. Sriwijaya FC Palembang
  2. Persija Jakarta
  3. PSMS Medan
  4. Deltras Sidoarjo
  5. Persib Bandung
  6. Persela Lamongan
  7. Semen Padang
  8. Pelita Jaya Jawa Barat


Wilayah Timur:

  1. Persipura Jayapura
  2. Persiwa Wamena
  3. Persela Lamongan
  4. Persisam Samarinda
  5. Arema Indonesia
  6. PSM Makassar
  7. Persiba Balikpapan
  8. Bontang FC
  9. Persijap Jepara
  10. Persema Malang
  11. Persibo Bojonegoro

Tetapi setelah diverifikasi, beberapa klub mengundurkan diri dengan alasan kekurangan dana. Sebagai penggantinya dipilihlah klub Divisi Utama Liga Indonesia 2007 dengan syarat menempati posisi kalsemen tepat dibawah klub yang digantikan kemudian diverikasi kembali. Tim yang lolos verifikasi adalah:

  1. Arema Indonesia
  2. Persipura Jayapura
  3. Persiba Balikpapan
  4. Persib Bandung
  5. Sriwijaya FC Palembang
  6. Persija Jakarta
  7. Persiwa Wamena
  8. Persema Malang
  9. Persela Lamongan
  10. PSMS Medan
  11. PSM Makassar
  12. Persijap Jepara
  13. Bontang FC
  14. Persebaya Surabaya
  15. Persisam Samarinda
  16. Persik Kediri
  17. Pelita Jaya Jawa Barat
  18. Persitara Jakarta Utara

Format kompetisi[sunting | sunting sumber]

Format kompetisi memakai satu wilayah dan tidak ada lagi format dua wilayah. Pemenang akan ditentukan dari jumlah poin paling banyak selama 34 pertandingan. Juara akan mewakili Indonesia di Liga Champions AFC. Runner-up akan mewakili Indonesia di Piala AFC dan Liga Champions AFC dengan play-off. Tiga tim penghuni terbawah klasemen akan langsung terdegradasi. Sementara satu tim (peringkat ke-15) akan melakukan play-off melawan peringkat ke-4 Divisi Utama.

[sunting | sunting sumber]

Sejak musim perdananya hingga musim 2011–12, LSI disponsori oleh Djarum yang merupakan sponsor titel. Sebelumnya, Djarum sendiri sudah 3 tahun berturut-turut mensponsori Divisi Utama sejak 2005.

Televisi penyiar[sunting | sunting sumber]

Sejak musim perdananya, LSI disiarkan oleh stasiun televisi nasional antv dan tvOne. Pada musim 2014, LSI disiarkan oleh RCTI, MNCTV, Global TV, Kompas TV, K-vision, dan BeritaSatu Sports.

Klub[sunting | sunting sumber]

Total jumlah seluruh klub yang pernah merumput di LSI sejak 2008 adalah 21 klub.

Klub 2009–10[sunting | sunting sumber]

Berikut 18 klub akan bersaing di Liga Super Indonesia selama musim 2009–10.

Klub
Posisi
pada 2008
Musim pertama di
divisi teratas
Jumlah musim di
divisi teratas
Jumlah musim di
Liga Super
Musim pertama
menggantikan di
divisi teratas
Jumlah juara di
divisi teratas
Juara terakhir divisi utama
Arema 01010 1987-88 2 1 1992-93
Bontang FC 01313 1988-89 2 0 n/a
Pelita Jaya 0099 1986-87 2 3 1993-94
Persebaya YYYPlayoff:
Divisi Utama
1930-31 1 8 2004
Persela 0066 2007 2 0 n/a
Persema YYY2: Divisi Utama 1994-95 1 0 n/a
Persib 0033 1930-31 2 6 1994-95
Persiba 0055 1994-95 2 0 n/a
Persija 0077 1930-31 2 9 2001
Persijap 01111 2001 2 0 n/a
Persik 0044 2003 2 2 2006
Persipura 0011 1994-95 2 2 2009
Persisam YYY1: Divisi Utama 1994-95 1 0 Divisi Utama Liga Indonesia 2008
Persitara 01414 2006 2 0 n/a
Persiwa 0022 2006 2 0 n/a
PSM 0088 1957 2 5 1999-00
PSMS YYY3: Divisi Utama 2003 1 0 n/a
Sriwijaya FC 0055 1994-95 2 1 2007

Stadion[sunting | sunting sumber]

Stadion 2009–10[sunting | sunting sumber]

Klub Stadion Kapasitas
Arema Kanjuruhan 40.000
Bontang FC Mulawarman 15.000.
Pelita Jaya Singaperbangsa 10.000
Persebaya Gelora 10 November 30.000
Persela Surajaya 12.500
Persema Gajayana 30.000
Persib Si Jalak Harupat 40.000
Persiba Stadion Persiba 13.000
Persija S.U Gelora Bung Karno 80.000
Persijap Gelora Bumi Kartini 20.000
Persik Brawijaya 20.000
Persipura Mandala 30.000
Persisam Stadion Segiri 20.000
Persitara Soemantri Brodjonegoro 1.000
Persiwa Pendidikan 20.000
PSM Andi Mattalatta 30.000
PSMS Teladan 25.000
Sriwijaya FC Jakabaring 40.000

Kelangsungan[sunting | sunting sumber]

Klub peserta Superliga harus merupakan klub profesional sesuai ketentuan FIFA dan AFC. Konsekuensinya, klub peserta tidak boleh bergantung pada sumbangan pihak ketiga, termasuk APBD daerah. Hal ini menjadi masalah besar bagi sebagian besar klub karena saat itu hanya Arema Malang, Semen Padang dan Bontang PKT yang merupakan klub profesional penuh dan merupakan klub yang dibiayai tanpa menggunakan APBD. Selain itu ada masalah lain yang mengancam kelangsungan Superliga seperti standardisasi stadion sesuai standar yang diberikan Badan Liga Indonesia (BLI). BLI juga sempat mengharuskan pelatih yang menangani tim-tim peserta Superliga harus berlisensi A. Meski demikian akhirnya BLI memberi toleransi yang memperbolehkan pelatih berlisensi B boleh membesut tim Superliga dengan durasi masa kepelatihan hanya semusim.[1]

Dari 18 klub yang diverifikasi oleh BLI, ada dua tim yang dipastikan tidak bisa mengikuti Superliga karena tidak bisa memenuhi lima aspek verifikasi BLI, yaitu Persiter dan Persmin. Untuk mengisi dua tim yang tidak lolos verifikasi itu ada tujuh tim dari Divisi Utama yang akan bersaing untuk memperebutkan jatah Persiter dan Persmin. Ketujuh tim tersebut adalah, Bontang PKT, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, PSS Sleman, Persikabo Bogor, Semen Padang dan Persis Solo.[2]

Setelah melalui proses verifikasi terhadap tujuh tim dari Divisi Utama ini, akhirnya dua tim yang berhak menggantikan posisi Persiter dan Persmin ini diumumkan pada tanggal 16 Juni 2008, yaitu Bontang PKT dan PSIS Semarang. Kedua tim ini memiliki poin tertinggi dari lima aspek verifikasi BLI. Selain itu berdasarkan rapat pada tanggal 13 Juni lalu menghasilkan keputusan bahwa Liga Super Indonesia 2008 tetap diikuti oleh 18 tim meski sempat ada perdebatan mengenai pelangsungan LSI 2008 meski dengan 16 tim.[3]

PSMS Medan sempat terancam dibatalkan dari keikutsertaannya di LSI 2008 karena masalah internal klub yang cukup pelik. Perwakilan dari BLI membenarkan berita tersebut, dan menyebutkan bahwa LSI 2008 tetap akan dimulai pada hari Sabtu, 12 Juli 2008 tanpa menyebutkan konsekuensinya, bila BLI memutuskan untuk menggagalkan keikutsertaan PSMS di LSI 2008. Namun pada akhirnya PSMS tidak jadi mengundurkan diri dari LSI 2008. [4]

Statistik[sunting | sunting sumber]

Pemain terbaik[sunting | sunting sumber]

Pencetak gol terbanyak[sunting | sunting sumber]

Pemain fair play[sunting | sunting sumber]

Tim fair play[sunting | sunting sumber]

Pelatih fair play[sunting | sunting sumber]

Wasit terbaik[sunting | sunting sumber]

Suporter terbaik[sunting | sunting sumber]

Panpel terbaik[sunting | sunting sumber]

Klasemen akhir[sunting | sunting sumber]

2008-09[sunting | sunting sumber]

  1. Persipura Jayapura
  2. Persiwa Wamena
  3. Persib Bandung
  4. Persik Kediri
  5. Sriwijaya FC

2009–10[sunting | sunting sumber]

  1. Arema Indonesia
  2. Persipura Jayapura
  3. Persiba Balikpapan
  4. Persib Bandung
  5. Persija Jakarta

2010–11[sunting | sunting sumber]

  1. Persipura Jayapura
  2. Arema Indonesia
  3. Persija Jakarta
  4. Semen Padang
  5. Sriwijaya FC

2011–12[sunting | sunting sumber]

  1. Sriwijaya FC
  2. Persipura Jayapura
  3. Persiwa Wamena
  4. Persela Lamongan
  5. Persija Jakarta

2012–13[sunting | sunting sumber]

  1. Persipura Jayapura
  2. Arema Indonesia
  3. Persib Bandung
  4. Mitra Kukar
  5. Sriwijaya FC

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]