Suku Laut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Desa Orang Laut di Kepulauan Riau.

Suku Laut atau sering juga disebut Orang Laut adalah suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup "berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan."[1]

Sebutan lain untuk Orang Laut adalah Orang Selat. Orang Laut kadang-kadang dirancukan dengan suku bangsa maritim lainnya, Orang Lanun.

Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut.[2]

Bahasa Orang Laut[sunting | sunting sumber]

Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu dan digolongkan sebagai Bahasa Melayu Lokal. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut kadang-kadang dijuluki sebagai "kelana laut", karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Orang Laut memegang peranan penting dalam mendukung kejayaan kerajaan-kerajaan di Selat Malaka. Pada zaman Sriwijaya mereka berperan sebagai pendukung imperium tersebut[3]. Dengan klaim sebagai keturunan raja-raja Sriwijaya sultan Malaka berhasil mendapatkan dukungan dan kesetiaan Orang Laut.[4]Sewaktu Malaka jatuh mereka meneruskan kesetiaan mereka kepada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan Kesultanan Johor. Saat Belanda bermaksud menyerang Johor yang mulai bangkit menyaingi Malaka--yang pada abad ke-17 direbut Belanda atas --Sultan Johor mengancam untuk memerintahkan Orang Laut untuk menghentikan perlindungan Orang Laut pada kapal-kapal Belanda.[5]

Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang putra sultan malaka yang masih hidup yang diselamatkan ketika keluarganya dibunuh, anak sultan ini diselamatkan oleh datuk lima puluh sri bijawangsa (orang laut) yang menyelamatkan putra mahkota tersebut dan melarikannya sampai diminang kabau sehingga selalu disebut berasal dari minang kabau, ia kembali menuntut hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut yang pernah bernama duanu sampai tahun 2013 beserta (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil dan Datuk Lima Puluh Sri Bijawangsa (orang Laut) mendirikan Kesultanan Siak, dan langsung mengangkat Orang Laut Menjadi Perdana Mentri Kerajaan Pertama setelah mereka terusir dari Johor.

Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis.

Menurut penelitian haryono seorang keturunan sri bijawangsa yang saat ini bergelar Panglima Raja Haryono Sri Bijawangsa, akibat isu sara, para keturunan orang laut diawali tahun 1992 merubah nama mereka menjadi duanu yang saat ini berada di riau kabupaten indragiri hilir, dan istilah duanu ini dikukuhkan oleh KKBMDR pada tahun 2004, namun berdasarkan bukti sejarah dan penelitian yang dilakukan haryono yang saat ini berstatus sebagai dosen universitas riau di pekanbaru menyatakan bahwa berdasarkan SK sultan indragiri no 224 tahun1936 bahwa kita adalah orang laut, oleh karena itu pada 28 november 2013 kami telah merubah nama duanu menjadi suku laut dan disyahkan oleh pemerintah setempat dan saksi dari suku-suku lain yang berdomisili disana, dalam kajian jelas yang tertera di www.haryono.yolasite.com

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The Malay Peninsula and Archipelago 1511–1722" The Encyclopedia of World History 2001;
  2. ^ Mary Somers Heidhues. Southeast Asia: A Concise History. London: Hudson and Thames, 2000. Halaman 27
  3. ^ Kee Long, So (September 1998). "Dissolving Hegemony or Changing Trade Pattern? Images of Srivijaya in the Chinese Sources of the Twelfth and Thirteenth Centuries". Journal of Southeastasian Studies. Diakses 6 Juli 2013.  – via Questia (perlu langganan)
  4. ^ Virginia Matheson Hooker (2003). "A Short History of Malaysia: Linking East and West". Allen & Unwin.  – via Questia (perlu langganan)
  5. ^ Pirates of the East (pranala ke Webcitation)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]