Suku Dayak Tunjung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Suku Tunjung/Dayak Tunjung
Jumlah populasi

kurang lebih 76.000, .

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur: 76.000
Bahasa
Tunjung ( tjg ), Indonesia
Agama
Kristen Protestan,Katolik,Islam.
Kelompok etnik terdekat
suku Dayak(Rumpun Ot Danum) ,suku kutai)

Suku Tunjung/Dayak Tunjung adalah suku bangsa yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat (24,2%), Kalimantan Timur. [1]

Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan :[2]

  1. Long Iram, Kutai Barat
  2. Tering, Kutai Barat
  3. Linggang Bigung, Kutai Barat
  4. Barong Tongkok, Kutai Barat
  5. Melak, Kutai Barat
  6. Sekolaq Darat, Kutai Barat
  7. Muara Pahu, Kutai Barat
  8. Kecamatan Mook Manor Bulatn, Kutai Barat
  9. Desa Enggelam, Muara Wis, Kutai Kartanegara
  10. Desa Kelekat, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
  11. Desa Bukit Layang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
  12. Desa Pulau Pinang, Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
  13. Desa Lamin Telihan, Kenohan, Kutai Kartanegara
  14. Desa Teluk Bingkai, Kenohan, Kutai Kartanegara
  15. Desa Lamin Pulut, Kenohan, Kutai Kartanegara

Tonyoy-Benuaq merupakan nama lain dari Tunjung-Benuaq. Kedua Suku Dayak ini merasa tidak terpisahkan baik dari segi sosial dan budaya. Namun sering pula disebutkan secara terpisah yaitu Suku Dayak Tunjung dan Suku Dayak Benuaq. Perbandingan hubungan suku Tunjung dengan suku Kutai, seperti hubungan suku Baduy dengan suku Banten. Suku Kutai dan suku Banten merupakan suku yang hampir seluruhnya memeluk Islam, sedangkan suku Tunjung dan suku Baduy merupakan suku yang teguh mempertahankan religi sukunya.

Sejarah dan Asal Usul Nama Dayak Tunjung[sunting | sunting sumber]

Tidak ada data tertulis tentang asal usul Suku Dayak Tunjung ini. Kita dapat mengetahui asal usul mereka hanya dari cerita-cerita rakyat dari orang-orang tua yang didapat secara turun temurun.

Konon menurut cerita Suku Dayak Tunjung ini berasal dari dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia untuk memperbaiki dunia yang sudah rusak yang terkenal dengan sebutan “Jaruk’ng Tempuq”. Jaruk’ng adalah nama dewa yang menjadi manusia dan Nempuuq atau Tempuuq berarti terbang. Nama suku Dayak Tunjung ini menurut mereka adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas Malikng Panguruu Ulak Alas yang artinya Suku Tunjung adalah paahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung.

Nama asli suku Tunjung ini adalah Tonyooi. Sedangkan kata Tunjung sendiri dalam bahasa dayak Tunjung adalah “Mudik” atau menuju arah hulu sungai. Ceritanya demikian. Pada suatu hari Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu dengan orang Haloq (Sebutan Suku Dayak kepada seseorang yang meninggalkan adat dayak) kemudian Haloq tersebut bertanya pada Tonyooi ingin pergi kemna, kemudian si Tonyooi Menjawab “Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung” dan hingga sekarang namanya tersebut masih dipergunakan.

Paguyuban[sunting | sunting sumber]

Dewasa ini terdapat paguyuban/ormas untuk menyatukan kedua sub-etnis ini yaitu Sempekat Tonyoi Benuaq. STB juga merupakan anggota Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT).

STA (Sempekat Tonyoi ASA), gabungan sepuluh kampung dengan nama akhir asa seperti

  1. Balok Asa
  2. Juhan Asa
  3. Ngenyan Asa
  4. Muara Asa
  5. Pepas AsA
  6. Asa
  7. Ombau Asa
  8. Geleo Asa
  9. Gemuhan Asa.


Dialek[sunting | sunting sumber]

Walaupun Dayak Tunjung merupakan sebuah sub dari Dayak, namun di dalam Dayak Tunjung itu sendiri terdapat perbedaan logat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapi tidak begitu mendasar. Akibat penyebaran ini sehingga terjadi berbagai macam jenis yaitu:

  1. Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah Asa, Juhan Asa, baloq Asa, Pepas Asa, Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa, Kelumpang dan sekitarnya
  2. Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru dan Lama)
  3. Tunjung Bahau, Mendiami Barong Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq, Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan sekitarnya.
  4. Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas, Empakuq, Bunyut, Kuangan dan sekitarnya.
  5. Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq, Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya.
  6. Tunjung Linggang, mendiami didaerah dataran Linggang seperti Linggang Bigung, Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun, Muara Leban, Muara Mujan, Tering, Jelemuq, lakan bilem, into lingau, muara batuq dan wilayah sekitarnya.
  7. Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit, Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun, Enggelam, Lamin Telihan, Kemabgn janggut, Kelkat, dan Pulau Pinang.


Sistem Kekerabatan[sunting | sunting sumber]

Prinsif kekerabatan yang dianut oleh suku dayak tunjung ialah prinsif bilateral, yang menghitung system kekerabatan dari pihak pria maupun wanita. Setiap individu termasuk dalam kekerabatan ayah dan ibunya, anak-anaknya mempunya hak dan kewajiban yang sama terhadap keluarga pihak ibu maupun ayah.

Kelompok kekerabatan suku dayak tunjung terikat oleh hubungan kekerabatan yang disebut Purus.. purus dihitung berdasarkan hubungan darah dan hubungan yang timbul melalui perkawinan. Kelompok kekerabatn yang diperhitungkan melalui purus disebut batak. Individu yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dala suatu kelompok disebut sebatak (batak tai) dan yang bukan disebut batak ulunt.

Perkembangan desa yang berasal dari sebuah rumah panjang (Luu) masih tetap mengikat penduduk menjadi suatu komunitas desa. Pada masyrakat dayak Tunjung juga terdapat pelapisan social yang dibedakan dengan tajam sekali ketika susunan pemerintahan desa adat (jaman lamin kuno) masih berlaku. Hilangmya pelapisan social adalah pengaruh masuknya pemerintah belanda kedaerah tempat orang-orang dayak bermukim. System perbudakan yang ada dihapuskan bersamaan dengan pelarangan potong kepala (mengayau) yang dalam bahasa tunjung disebut balaaq.

susunan pelapisan social masyarakat tunjung pada zaman dulu adala:

  1. Hajiiq (Golongan Bangsawan), mereka terdiri dari raja beserta keturunannya, pemengkawaaq (pengawal raja) dan mantik tatau ( bawahan pemengkawaaq yang berhubungan langsung dengan rakyat) dengan semua keturunanya.
  2. Merentikaq merentawi disingkat merentikaq (golongan merdeka atau golongan biasa) mereka tidak termasuk golongan hajiq ataugolongan hamba sahaya. Golongan merentikaaq ini mempunyai hak untuk menarikan Tarian Calant caruuq, karena mereka keturunan asli dari Sengkereaq.
  3. Ripat (hamba sahaya), golongan ini mengabdikan diri pada Golongsn hajiiq.

Organisasi Lain[sunting | sunting sumber]

Di daerah Tunjung Benuaq terdapat beberapa organisasi kepemudaan seperti:

  1. KPADK (Komando Pertahanan Adat Dayak Kalimantan)
  2. LPADKT (Laskar Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Timur)
  3. Punggawa
  4. dll


Tokoh-tokoh Suku Dayak Tunjung[sunting | sunting sumber]

  • Yurnalis Ngayoh, mantan Gubernur Kalimantan Timur.
  • Ismael Thomas Bupati Kabupaten Kutai Barat 2006 - 2011, 2011 - 2016.
  • Y. Dullah, Ketua Presidium Dewan Adat, Kutai Barat.
  • Drs Thomas Edison M.Si Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI jakarta
  • Prof DR Louren Edison Dosen Pasca Sarjana UNAIR Surabaya
  • Kolonel Yohanes Ubad Mantan Mawil hansip Bankalan Madura (almarhum)
  • DR.Elyas Malat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pelita harapan Jakarta
  • Samsudin Saudagar/Pengusaha diJakarta (almarhum)
  • Yahya Ibung SH tokoh dayak tunjung di Balikpapan
  • Drs.Melki Kamuntik MA.Kepala Bimas Kriten Protestan Kaltim
  • DR.Samson Dosen Fakultas Perikanan Unmul Samarinda
  • DR.Theresia Malat Dosen unmul Samarinda
  • Maria Margareta Puspa Rini SE Anggota DPRD Kaltim
  • Drs. Thamus Bodjer MM Wakil Ketua STB Kaltim
  • Drs. Y. Lahajir, M. Hum guru besar antropologi Gajah Mada.

Lagu Dayak Tunjung[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]