Sjam Kamaruzaman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Syamsul Qamar Mubaidah (lahir di Tuban, Jawa Timur, 30 April 1924 – meninggal di Kepulauan Seribu, Jakarta, 30 September 1986 pada umur 62 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Syam Kamaruzzaman merupakan tokoh kunci G30S dan orang nomor satu di Biro Khusus PKI yang bertugas membina simpatisan PKI dari kalangan TNI dan PNS.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Pendidikannya hanya sampai kelas tiga Land dan Tunbow School dan Suiker-School, Surabaya. Karena Jepang keburu masuk Indonesia, Syam tidak menamatkan sekolahnya dan pada 1943 dia masuk sekolah dagang di Yogyakarta tapi itupun hanya sampai kelas dua.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Syam ikut berjuang memanggul senjata dalam pertempuran di Magelang tahun 1945-1946, Ambarawa dan Front Mranggen, Semarang. Dia sempat memimpin laskar di Front Semarang Barat. Sekembalinya dari Front tersebut, ia menjadi anggota Pemuda Tani dan menjadi pemimpin Laskar Tani di Yogyakarta.

Tahun 1947, menjelang Agresi Militer Belanda I, ia membentuk Serikat Buruh Mobil, sebuah organisasi buruh yang berhaluan kiri. Pada akhir 1947, ketika Serikat Buruh Kapal dan Pelabuhan didirikan, Syam juga menjadi pimpinan bakhan kemudian menjadi ketua. Ia banyak mempelajari teori Marxis pada periode tersebut.

Pada tahun 1950, dia menjadi Wakil Ketua Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Tahun 1951 sampai 1957, dia menjadi staf anggota Dewan Nasional SOBSI. Dan barulah semenjak 1957 dia menjadi pembantu pribadi D.N. Aidit. Mulai tahun 1960, Syam ditetapkan menjadi anggota Departemen Organisasi PKI. Empat tahun setelah itu, dia memperkenalkan bentuk pengorganisasian anggota-anggota PKI yang berasal dari TNI. Lahirlah apa yang disebut Biro Khusus Sentral pada tahun 1964.

Ketika mulai dekat dengan Aidit, Syam menjalin hubungan dengan anggota TNI. Channelnya sangatlah mengagumkan. Ia pernah menjadi informan Moedigdo, seorang komisaris polisi, yang kelak salah satu anak Mudigdo diperistri oleh Aidit. Syam juga disebut-sebut pernah menjadi intelnya Kolonel Soewarto, direktur seskoad pada 1958. Melalui cabang-cabang di daerah, Syam berhasil mengadakan kontak-kontak tetap dengan kira-kira 250 perwira di Jawa Tengah, 200 di Jawa Timur, 80 sampai 100 di Jawa Barat, 40 hingga 50 di Jakarta, 30-40 di Sumatera Utara, 30 di Sumatera Barat dan 30 di Bali.

Syam Kamaruzzaman ibarat hantu yang bisa menyusup ke mana saja ia mau. Sehingga banyak orang yang yakin bahwa ia sebenarnya agen ganda. Dia tidak hanya bekerja untuk kepentingan PKI, tapi juga bertugas sebagai spionase untuk kepentingan-kepentingan lain. Ada yang meyakini bahwa Syam adalah agen ganda untuk KGB dan CIA. Lalu ada juga yang bilang bahwa Syam itu adalah orang sipil yang menjadi informan tentara.[butuh rujukan]

Syam Kamaruzzaman dinyatakan dieksekusi mati pada tanggal 30 September 1986 di Kepulauan Seribu, setelah dinyatakan bersalah dalam pengadilan atas peristiwa G30S pada tahun 1968.

Peristiwa G30S[sunting | sunting sumber]

Syam Kamaruzzaman dianggap sebagai tokoh terpenting dalam peristiwa G30S ini yang membuat tidak hanya PKI, tetapi juga kekuatan-kekuatan politik nasionalis runtuh dalam beberapa hari. Dan setelah G30S meletus dan kemudian gagal (atau didesain untuk gagal), Syam pun menghilang. Menurut Mayjen Tahir, perwira pelaksana Team Pemeriksa Pusat, Syam ditangkap di daerah Jawa Barat sekitar akhir tahun 1965 atau awal 1966.

Syam Kamaruzzaman diyakini sebagai tokoh kunci dalam peristiwa G30S. Saat Presiden Soekarno sakit, Syam dipanggil Aidit ke rumahnya pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, Aidit mengemukakan suatu hal yaitu “Seriusnya sakit Presiden dan kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan segera apabila beliau meninggal”.

Kemudian Aidit meminta Syam untuk “meninjau kekuatan kita” dan “mempersiapkan suatu gerakan”. Atas dasar instruksi tersebut maka Syam dan rekan-rekannya dari biro khusus membicarakan ikut serta dalam “suatu gerakan”, dan memutuskan untuk mendekati Kolonel Latief, Komandan Brigade Infantry I Kodam Jaya, Letkol Untung Syamsuri, Komandan salah satu dari tiga batalyon pasukan pengawal istana Tjakrabirawa di Jakarta dan Soejono dari AU, komandan pertahanan pangkalan Halim Perdanakusumah. Petunjuk inilah yang menunjukkan bahwa Syam adalah inisiator dari gerakan yang kemudian gagal.

Sementara itu, eksekusi terhadap para jenderal, bukan atas inisiatif Syam. Gathut Soekresno yang dihadapkan sebagai saksi atas perkara Untung tahun 1966 memberi petunjuk bahwa Doel Latief lebih berperan, kendati sebetulnya Mayor Udara Soejono adalah yang bertanggung jawab terhadap nasib para jenderal tersebut.

Di pengadilan Syam memang divonis mati. Tetapi banyak mantan tahanan politik di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Mulia meragukan apakah Syam betul-betul dieksekusi. Bahkan lebih banyak yang menganggap bahwa Syam dilepas, berganti identitas dan hidup sebagaimana orang biasa atau bahkan sudah kabur ke luar negeri. Semua itu tidak lepas dari jasanya terhadap berdirinya Orde Baru di bawah Soeharto.

Memang tidak banyak informasi tentang Syam Kamaruzzaman. Namun dari informasi yang sedikit ini bisa dikaitkan bahwa Syam dengan Soeharto merupakan agen ganda untuk PKI, CIA, KGB dan TNI.[butuh rujukan] Tidak tertutup kemungkinan Syam diperintahkan CIA mencari “orang dalam” melalui Biro Khusus PKI yang bertugas mencari simpatisan dari kalangan AD. Kebetulan Soeharto (kemungkinan Syam juga merupakan agen untuknya) yang sedang sakit hati ingin melenyapkan para petinggi AD. Lalu Syam merencanakan “suatu gerakan” yang semula diperintahkan oleh Aidit untuk melindungi Soekarno dari kudeta “Dewan Jenderal” dan malah dibelokkan untuk kepentingan Soeharto. Gerakan tersebut memang terlaksana dan sekalian menghabisi para petinggi AD yang merupakan musuh-musuh Soeharto.[butuh rujukan] Lalu keesokan harinya Soeharto langsung menghabisi PKI (yang mungkin sudah disabotase oleh Syam) dan melambungkan nama Soeharto yang kemudian mengangkatnya menjadi Presiden RI yang kedua setelah mengintimidasi Soekarno. T