Situraja, Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Situraja
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Sumedang
Pemerintahan
 • Camat Entis Sutisna, S.Pd
Luas 54,03 km²
Jumlah penduduk 38.056 jiwa
Kepadatan 704 jiwa/km²
Desa/kelurahan 15 desa

Situraja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Pusat Kecamatan Situraja terletak 14 kilometer ke arah timur dari ibu kota Kabupaten Sumedang. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Ganeas dan Kecamatan Cisarua di Barat, Kecamatan Paseh di Utara, Kecamatan Cisitu dan Kecamatan Tomo di Timur, Kecamatan Sumedang Selatan di Barat Daya, serta Kecamatan Cibugel di Selatan. Jalan utama yang melewati Kecamatan Situraja adalah Jln. Rd. Umar Wirahadikusumah, mulai dari KM 10 sampai dengan KM 18.

Yang menarik adalah terdapat beberapa tokoh penting yang merupakan asli keturunan Situraja, diantaranya adalah Rd. Umar Wirahadikusumah (mantan Wapres RI Ke-4), RHA Wiriadinata (mantan Wagub DKI Jakarta 1967-1977), Popong Otje Djundjunan (anggota DPR RI), serta Dra. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes (anggota DPD RI).

Untuk potensi ekonomi, Kecamatan Situraja mempunyai beberapa hal yang bisa diandalkan. Beberapa diantaranya adalah Desa Sukatali sebagai sentra produksi buah sawo di Sumedang, Desa Situraja Utara dan Desa Ambit sebagai lahan penanaman kacang tanah Situraja DM1, yang merupakan varietas unggul, terbukti dengan adanya kerja sama dengan PT. Garuda Food, Desa Cijati dan Desa Bangbayang sebagai penghasil sapu ijuk dan sapu uyun , Desa Bangbayang sebagai penghasil gula aren, serta Desa Cikadu dengan potensi perikanannya dan industri rumahan berupa pembuatan makanan ringan opak dan kolontong.

Dalam hal seni budaya, Kecamatan Situraja memiliki kesenian khas, yaitu seni umbul, seni reak, bangreng, dan yang lainnya. Untuk mendukung program "Sumedang Puseur Budaya Sunda" (Sumedang Pusat Budaya Sunda), beberapa seniman bersama warga Kecamatan Situraja berhasil memecahkan rekor MURI untuk peserta tari umbul terbanyak, yaitu sebanyak 2012 orang pada tanggal 20 Mei 2012, yang diklaim sebagai "Hari Kebangkitan Umbul Situraja", yang tentunya bertepatan juga dengan "Hari Kebangkitan Nasional". Di Desa Situraja juga terdapat Padepokan Sunda Mekar, yang mempunyai kegiatan rutin dalam melestarikan budaya Sunda.

Atas segala potensi yang dimilikinya, Kecamatan Situraja termasuk Kecamatan Tipe A di Kabupaten Sumedang. Kecamatan Situraja saat ini tengah berbenah untuk menjadikan Kecamatan Situraja sebagai kecamatan terbaik di Kabupaten Sumedang. Hal ini bukannya tidak mungkin, karena wilayah Situraja merupakan wilayah penyangga Waduk Jatigede. Seiring dengan visi "Situraja Raharja", semakin banyak kemajuan yang dirasakan oleh warganya. Di Kecamatan Situraja menurut data BPS di tahun 2010 terdapat lima desa dengan kategori Desa Perkotaan yang memungkinkan statusnya berubah dari desa menjadi kelurahan, diantaranya Desa Situraja, Desa Situraja Utara, Desa Mekarmulya, Desa Malaka, dan Desa Jatimekar. Pada tahun 2014 ini Kecamatan Situraja merayakan hari jadinya yang ke-104.

Rd. Umar Wirahadikusumah (Wapres RI Ke-4) 1983-1988

Desa[sunting | sunting sumber]

Ambit[sunting | sunting sumber]

Ambit adalah salah satu desa di Situraja yang terdiri dari empat dusun, yaitu Dusun Sukamanah, Dusun Cipeuteuy, Dusun Ambit Tengah, dan Dusun Ambit Kidul.

Bangbayang[sunting | sunting sumber]

Bangbayang adalah sebuah desa yang terletak di gunung sekitar lebih dari 10 KM dari kota Kecamatan. Desa kecil yang terbagi menjadi enam dusun yakni Dusun Sadarayna, Dusun Sindangsari, Dusun Cikepuh, Dusun Sukarasa, Dusun Sukarenah dan Dusun Bangbayang itu sendiri. Mayoritas penduduknya bertani dan buruh. Kini, Desa Bangbayang sudah mengalami banyak kemajuan, bahkan akses jalan sudah bisa menggunakan kendaraan bermotor. Ciri khas oleh-oleh dari Desa Bangbayang yaitu gula aren dan sapu uyun.

Cicarimanah[sunting | sunting sumber]

Cicarimanah sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Tomo, namun karena alasan kemudahan akses, maka Desa Cicarimanah memutuskan untuk bergabung dengan Kecamatan Situraja.

Cijati[sunting | sunting sumber]

Cijati adalah nama sebuah kampung sekaligus nama desa. Desa Cijati meliputi kampung Cijati Girang, Cigangsa, Bunut, Cilengkong dan Warung Limus.

Desa Cijati berbatasan dengan kampung Cigangsa di sebelah Selatan, serta Desa Cikopo dan Cijambe di sebelah Barat. Sebelah Utara dan Timur dibatasi pesawahan. Desa Cijati dikelilingi pesawahan yang dapat ditanami padi dan palawija. Sebagian besar penduduk desa Cijati mencari nafkah dengan cara bercocok tanam atau petani. Beberapa diantaranya menjadi pegawai negeri dan juga pengrajin.

Pengrajin di kampung Cijati banyak menggeluti pembuatan sapu ijuk yakni sapu yang berbahan baku ijuk, sejenis bahan yang didapat dari pohon enau. Dengan gagang yang terbuat dari bambu atau rotan dan ijuknya dijahit memakai "benang" yang juga dipintal dari ijuk. Sapu buatan Cijati ini sangat kuat dan awet. Dibanding dengan sapu buatan pabrik yang kerap kali copot gagangnya, sapu ijuk buatan kampung Cijati bisa diandalkan. Karena terkenal, pemasaran sapu ijuk ini bisa sampai ke Bandung dan Jakarta

Bila ingin mengunjungi kampung Cijati, dari Sumedang bisa memakai angkutan umum dari eks terminal Tegal Kalong. Umumnya angkutan umum itu jurusan Corenda, Darmaraja atau Wado. Kemudian bisa turun di Warung Ketan atau Situ Asem untuk kemudian naik ojek yang banyak tersedia di sana. Hanya dengan menyebutkan Cijati atau nama orang yang akan dituju, maka pengendara ojek akan mengantarkan ke pemilik rumah yang disebutkan. Di antara Cigangsa dan Bunut terdapat dusun Warung Limus, dusun ini terbilang kecil dan hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga saja. Letak dusun ini persis di sepanjang jalan raya Situraja. Di Warung Limus terdapat sebuah masjid yang bernama masjid Al-Ikhlas.

Cijeler[sunting | sunting sumber]

Cijeler memiliki kisah asal usul terbentuknya desa Cijeler yaitu: pada suatu hari ada sebuah desa yang belum memiliki nama, kemudian para warga memikirkan nama apa yang pantas untuk desa tersebut. Karena di desa itu banyak sekali terdapat ikan mujair, maka warga menamakannya Cijeler, yang berasal dari kata "ci" yang artinya air dan "jeler" artinya ikan mujair, yaitu ikan kecil bertubuh panjang yang hidup di air bening yang deras mengalir.

Cikadu[sunting | sunting sumber]

Desa Cikadu merupakan salah satu desa yang terkenal akan pertanian dan perikanan.

Jatimekar[sunting | sunting sumber]

Desa Jatimekar terdiri dari Kampung Warungketan, Cikopo, Cijambe, dan Cijati.

Kaduwulung[sunting | sunting sumber]

Karangheuleut[sunting | sunting sumber]

Malaka[sunting | sunting sumber]

Mekarmulya[sunting | sunting sumber]

Mekarmulya adalah pemekaran dari Desa Cikadu. Terdiri dari Kampung Cigodeg, Tarikolot, Cilimus, Cimuruy. Penduduk di sini sebagian besar adalah petani. Di desa ini pula tinggal seorang seniwati yang cukup terkenal dengan lagu-lagu hits-nya di wilayah Jawa Barat, yaitu Bungsu Bandung.

Situraja Utara[sunting | sunting sumber]

Bersama Desa Situraja, Desa Situraja Utara merupakan ibu kota Kecamatan Situraja. Di desa ini terdapat Kantor Polsek, Puskesmas, PDAM, Bank BRI Cabang Pembantu Situraja, Waroeng BJB, BMT Al-Amanah, beberapa unit ATM (BRI, BJB, dan BNI), Perum Pegadaian, dealer Sepeda Motor, Apotik, beberapa toko dan minimarket, serta sekolah SMK Perbankan Syariah.

Situraja[sunting | sunting sumber]

Desa Situraja merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Situraja dan pusat perdagangan, dimana pasar kecamatan terletak di kawasan ini. Secara geografis berbatasaan dengan Desa Mekarmulya di sebelah Selatan, Desa Situraja Utara di sebelah Utara, Desa Sukatali di sebelah Barat, dan Desa Jatimekar di sebelah Timur. Mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah sebagai petani dan wiraswasta. Di Desa Situraja terdapat pusat pemerintahan Kecamatan Situraja yaitu Kantor Kecamatan Situraja, alun-alun Situraja, dan Mesjid Agung. Selain itu, Desa Situraja merupakan pusat pendidikan dengan adanya SMA Negeri Situraja dan SMP Negeri 1 Situraja.

Sukatali[sunting | sunting sumber]

Desa Sukatali berada di perbatasan Kecamatan Ganeas dan Kecamatan Situraja, yaitu jalan antara Sumedang-Wado, atau dikenal juga dengan nama Jl. Rd. Umar Wirahadikusumah. Kepala Desanya saat ini adalah Ade Ratna Wulan.

Mengenal Desa Sukatali

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh kebun sawo. Ada banyak kios-kios penjual sawo di sepanjang jalan desa ini. Toko-toko semakin banyak bermunculan, mulai dari toko sparepart motor, sparepart sepeda, alat listrik, perkakas, alat pertanian, bahan bangunan, furnitur, handphone, alat tulis, sembako, air minum isi ulang, agen gas LPG, tempat pembayaran listrik, telepon dan PAM, toko serba ada, koperasi, rental PS, dan lain-lain. Terdapat pula bengkel sepeda motor, bengkel mobil, dan bengkel las. Desa ini berkembang sangat pesat, bahkan kabel optik pun telah ditanam. Prasarana sekolah telah lengkap dibangun, mulai dari Playgroup, TK, SD, SMP, hingga SMK dan pesantren. Sukatali pernah mendapat predikat desa terbaik se-Kecamatan versi PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat).

Di desa ini juga telah dibentuk radio komunitas yang diberi nama e-channel, dengan motto "Sinergi anak bangsa, berkarya tanpa narkoba". Beberapa penyiarnya adalah Teh Riri, Bunda Zalfa, Mas Arjuno, Cute Boy, Ayah Boboko, Kang Doyok, Kang Deden, Haji Dahlia, Kang Arai, Melon, dll.

Desa Sukatali juga dikenal sebagai tempat garasi angkot (angkutan kota) jurusan Sumedang-Cileunyi, yaitu garasi Dahlia dan Garuda Jaya; serta angkot jurusan Sumedang-Situraja, yaitu garasi Dahlia, Mawar dan Mawar Putra.

Sawo Sukatali

Sukatali terkenal sebagai daerah penghasil buah sawo unggul, karena selain rasanya yang manis, ukurannya juga cukup besar. Namun pembeli sering terkecoh mengira buah sawo yang dijual masih mentah, karena daging buah yang matang memang mengkal. Bibit sawo Sukatali berupa cangkokan banyak diminati, sehingga telah dikirim ke berbagai daerah.

Sawo sukatali jenis apel kapas merupakan primadona dari sekian jenis sawo yang rasa manisnya khas. Buah ini terakhir kali diubah namanya menjadi sawo sukatali ST1 oleh Dinas Pertanian Sumedang setelahu penyerahan sertifikat oleh Menteri Pertanian era Bungaran Saragih pada tahun 2002. Sawo sukatali ST1 berhasil mengharumkan nama Desa Sukatali di berbagai daerah serta mengangkat nama daerah tersebut sehingga menjadi tak asing lagi di kawasan Sumedang.

Konon menurut salah satu sesepuh Sukatali, pertama kali pohon sawo ditanam di wilayah Sukatali oleh orang yang bernama Satir, seorang warga Sukatali yang menjadi abdi dalem pada waktu zaman Pangeran Mekah (Pangeran Suriatmadja). Satir, seperti yang dituturkan oleh Kepala Desa Sukatali Ny. Ade Ratna Wulan adalah warga Sukatali yang disuruh oleh Pangeran Mekah untuk menanam sawo di depan halaman rumahnya.

Eta sawo saurna sawo ti Belanda, tah ku Kanjeng Dalem (Pangeran Mekah) dipasihkeun ka Satir kanggo dipelak di payuneun bumina. Malah Kanjeng Dalem teh nyarios yen engke mun eta sawo tos dipelak, Sukatali bisa terkenal. (Sawo tersebut katanya berasal dari Belanda, oleh Kanjeng Dalem (Pangeran Mekah) diberikan kepada Satir untuk ditanam di (halaman) depan rumahnya. Malah Kanjeng Dalem berkata bahwa nanti kalau sawo itu sudah ditanam, Sukatali bisa terkenal),” tutur Ade Ratna Wulan mengutip cerita sepuh Sukatali terdahulu.

Terlepas dari adanya kepercayaan terhadap “saciduh metu saucap nyata”-nya Kanjeng Dalem, pada dasarnya, kata Ade, menurut penelitian memang tanah di Sukatali sangatlah subur, sehingga apapun pohon yang ditanam di wilayahnya akan tumbuh dengan baik.

“Banyak yang melakukan kajian baik itu dari instansi sampai mahasiswa yang meneliti sawo di wilayah kami. Mereka umumnya mengatakan tanah di Sukatali sangat subur,” ujarnya.

Namun begitu, kata Ade, khusus untuk pohon sawo memang benar-benar tumbuh dengan baik dan sampai sekarang warganya sebagian besar mempunyai pohon sawo, baik itu di kebun maupun di halaman rumah.

“Ini sudah semacam sugesti warga, bahwa pohon sawo tak bisa dilepaskan dari kami. Dan sawolah yang sampai saat ini menjadi sarana meningkatkan ekonomi,” ungkap Ade.

Ade percaya, terkenalnya sawo Sukatali karena sejumlah keistimewaannya yang tidak bisa didapat dari sawo yang tumbuh di daerah lain.

“Banyak sawo dari daerah lain, tapi bisa dibedakan dengan sawo Sukatali yang mempunyai kelebihan dari rasa dan dagingnya. Hal itu menandakan sawo kami tak akan ada yang menyaingi dan tidak akan ada yang sama,” tegasnya.

Ke depan, Ade dan warga Sukatali berharap pada pemerintah agar dibuatkan sentral sawo berupa “outlet” atau sejenisnya untuk tempat promosi sekaligus menampung warganya yang berdagang di kios-kios pinggir jalan. Hal itu untuk mengundang pembeli yang lewat melintasi Jalan Raya Sumedang-Wado yang juga merupakan akses alternatif jalan tengah provinsi.

“Ya, harapan itu harus ada, termasuk bagaimana kami mengemas cara penyajian dan memperlakukan sawo sebagai aset yang harus dibanggakan dan menjadi buah yang enak dikonsumsi pembeli,” ujar salah seorang warga Sukatali.

Para pedagang di jalur Wado mengaku sampai saat ini merasa tertolong dengan adanya buah sawo yang menjadi komoditas dagangannya. Sudah seharusnya semua elemen untuk menjaga keaslian dan kualitas sawo Sukatali agar komoditas unggulan Sumedang tersebut abadi, terlebih lagi buah ini sudah mendapat sertifikasi dari pemerintah.

Wanakerta[sunting | sunting sumber]