Siti Noerbaja
| Siti Noerbaja | |
|---|---|
Iklan koran, Surabaya |
|
| Sutradara | Lie Tek Swie |
| Produser | Tan Khoen Yauw |
| Berdasarkan | Sitti Nurbaya karya Marah Roesli |
| Pemeran |
|
| Studio | Standard Film |
| Tanggal rilis |
|
| Negara | Hindia Belanda |
| Bahasa | Indonesia |
Siti Noerbaja adalah film Hindia Belanda tahun 1942 yang disutradarai Lie Tek Swie. Ini merupakan film pertama yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Marah Roesli tahun 1922. Film ini dibintangi Asmanah, Momo, dan Soerjono, dan mengisahkan perjalanan hidup sepasang kekasih.
Daftar isi |
Alur [sunting]
Di Padang, sahabat lama Samsoelbahri dan Siti Noerbaja jatuh cinta dan berciuman di teras, namun dipisahkan orang tuanya. Samsoelbahri pergi menuntut ilmu ke Batavia (Jakarta), sedangkan Noerbaja dipaksa menikah dengan Datuk Meringgih agar ia mau menghapus utang ayahnya.
Dalam suratnya kepada Samsoelbahri, Noerbaja memberitahu bahwa mereka takkan bisa bersatu karena ia sudah menikah. Akan tetapi, setelah ia mengetahui sifat Meringgih yang keras, ia kabur ke Batavia untuk hidup bersama Samsoelbahri. Mereka jatuh cinta lagi, namun harus berpisah setelah Noerbaja mendengar kabar kematian ayahnya. Ia buru-buru pulang ke Padang dan dibunuh oleh tangan kanan Meringgih menggunakan makanan beracun. Setelah mengetahui kabar kematian Noerbaja, Samsoe seolah ingin bunuh diri.
Sepuluh tahun kemudian, Meringgih memimpin pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda untuk memprotes kenaikan pajak. Saat pemberontakan berlangsung, Samsoelbahri (sekarang tentara Belanda) bertemu Meringgih dan membunuhnya, namun ia sendiri terluka parah. Setelah Samsoe meninggal, jasadnya dikuburkan di sebelah makam Noerbaja.
Produksi [sunting]
Siti Noerbaja disutradarai Lie Tek Swie dan diproduseri Touw Ting Iem dari Standard Film. Film ini dibintangi Asmanah, Momo, Soerjono, A Thys, dan HA Rasjid. Film hitam putih ini direkam tahun 1941[1] dan diiklankan sebagai film pencak bergaya Padang.[2]
Siti Noerbaja adalah adaptasi pertama dari novel Sitti Nurbaya karya Marah Roesli tahun 1922.[1] Kritikus Indonesia Zuber Usman menulis bahwa buku ini terinspirasi oleh pengalaman patah hati si penulis setelah keluarganya menolak keputusannya untuk menikah dengan istri non-Minangkabau.[3] Buku ini adalah salah satu karya terlaris yang diterbitkan Balai Pustaka dan sebelumnya sempat diangkat ke panggung drama.[4][5] Lie Tek Swie sebelumnya menyutradarai dua film adaptasi, Njai Dasima tahun 1929 dan Melati van Agam tahun 1931.[6][7]
Rilis dan tanggapan [sunting]
Siti Noerbaja dirilis pada akhir 1941[8] dan ditayangkan di Surabaya tanggal 23 JAnuari 1942.[2] Film ini adalah karya terakhir Lie bersama Standard Film. Ia kemudian keluar dari perusahaan. Henry L. Duarte menyutradarai film terakhir studio ini, Selendang Delima.[8]
Ceritanya telah difilmkan dua kali dalam bentuk sinetron. Sinetron pertama, tahun 1991, disutradarai Dedi Setiadi dan dibintangi Novia Kolopaking, Gusti Randa, dan HIM Damsyik.[9] Sinetron kedua, mulai tayang Desember 2004, disutradarai Encep Masduki dan dibintangi Nia Ramadhani, Ser Yozha Reza, dan Anwar Fuady; inilah seri TV yang memperkenalkan tokoh baru yang menjadi pesaing Siti Noerbaja.[10]
Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[11] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[12]
Referensi [sunting]
- ^ Filmindonesia.or.id, Siti Noerbaja.
- ^ Soerabaijasch Handelsblad 1942, (untitled).
- ^ Foulcher 2002, hlm. 101.
- ^ Foulcher 2002, hlm. 88–89.
- ^ Cohen 2003, hlm. 215–216.
- ^ Biran 2009, hlm. 99–100.
- ^ Said 1982, hlm. 142–143.
- ^ Biran 2009, hlm. 238.
- ^ Eneste 2001, hlm. 48.
- ^ KapanLagi 2004, broadcast.
- ^ Heider 1991, hlm. 14.
- ^ Biran 2009, hlm. 351.
Kutipan [sunting]
- Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa [History of Film 1900–1950: Making Films in Java] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2.
- Cohen, Matthew Isaac (August 2003). "Look at the Clouds: Migration and West Sumatran 'Popular' Theatre". In Trussler, Simon; Barker, Clive. New Theatre Quarterly (Cambridge: Cambridge University Press) 19 (3): 214–229. doi:10.1017/s0266464x03000125. ISSN 0266-464X. Diarsipkan dari aslinya tanggal 3 September 2012. Diakses 3 September 2012.
- Eneste, Pamusuk (2001). Bibliografi Sastra Indonesia [Bibliography of Indonesian Literature] (dalam bahasa Indonesian). Magelang, Indonesia: Yayasan Indonesiatera. ISBN 978-979-9375-17-9. Diakses 13 August 2011.
- Foulcher, Keith (2002). "Dissolving into the Elsewhere: Mimicry and ambivalence in Marah Roesli's 'Sitti Noerbaja'". In Foulcher, Keith; Day, Tony. Clearing a Space: Postcolonial Readings of Modern Indonesian Literature. Leiden: KITLV Press. pp. 85–108. ISBN 978-90-6718-189-1. OCLC 51857766. Diakses 11 August 2011.
- Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.
- Said, Salim (1982). Profil Dunia Film Indonesia [Profile of Indonesian Cinema] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Grafiti Pers. OCLC 9507803.
- "Siti Noerbaja". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari aslinya tanggal 26 July 2012. Diakses 26 July 2012.
- "Sitti Nurbaya Versi Baru akan di Tayangkan di Trans TV" [The New Version of Sitti Nurbaya will be Broadcast on Trans TV]. KapanLagi.com (dalam bahasa Indonesian). 2004. Diakses 14 August 2011.
- "(untitled)". Soerabaijasch Handelsblad (dalam bahasa Dutch) (Kolff & Co). 23 January 1942. p. 7.
|
||||||||
