Singapore Girl

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang Singapore Girl.

Singapore Girl (bahasa Inggris; 'gadis Singapura') adalah sebutan bagi pramugari Singapore Airlines, maskapai penerbangan nasional Singapura, di dalam iklan maskapai tersebut. Diciptakan pada awal tahun 1970-an oleh Ian Batey, sosok ini telah menjadi salah satu ikon periklanan paling terkenal pada akhir abad ke-21 dan merupakan citra pemasaran bagi Singapore Airlines.[1][2] Maskapai ini menyatakan bahwa Singapore Girl adalah personifikasi layanan berkualitas yang mereka berikan. Oleh karena itu, para pramugari ini direkrut dan dilatih sedemikian sehingga mempertahankan citra tersebut.[1][3] Walaupun demikian, tema Singapore Girl juga menjadi sasaran kritik karena dianggap seksis dan melecehkan.[4][5]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Singapore Airlines berdiri pada tahun 1972, setelah sebelumnya merupakan bagian dari Malaysia-Singapore Airlines. Iklan pertama maskapai ini menggambarkan seorang pramugarinya dengan tulisan, This girl's in love with you ('Gadis ini jatuh cinta kepada Anda'). Pada tahun 1974, pramugari Singapore Airlines mulai mengenakan seragam sarong kebaya biru bermotif batik (dimodifikasi dari rancangannya sendiri tahun 1968 untuk pramugari Malaysia-Singapore Airlines oleh desainer Perancis, Pierre Balmain)[6] dan maskapai ini menggunakan slogan baru: Singapore Girl, you're a great way to fly ('Gadis Singapura, Anda adalah cara hebat untuk terbang'). Sejak saat itu, seragam pramugari maupun slogan tersebut hampir tidak berubah sama sekali. Iklan Singapore Girl adalah ciptaan Ian Batey, seorang Inggris yang pindah ke Sydney, Australia, pada tahun 1948 dan kemudian ke Singapura pada tahun 1969, pemilik Batey Ads Ltd., agen periklanan terbesar di Singapura.[7] Sebelumnya, maskapai penerbangan lain biasanya menitikberatkan promosinya pada keselamatan, desain kabin, makanan, kenyamanan, dan harga.[8] Iklan yang melibatkan Singapore Girl ini dianggap memperkenalkan perubahan dengan berfokus seluruhnya pada pengalaman emosional bepergian di udara.[9]

Singapore Girl selalu menjadi bagian dari iklan Singapore Airlines yang menggunakan bermacam-macam tema dan setting di berbagai lokasi di seluruh dunia.[3] Wanita-wanita yang digunakan sebagai model pramugari di dalam iklan-iklan itu pun semuanya adalah benar-benar pramugari Singapore Airlines.[2][1][7] Strategi ini terbukti berhasil dan Singapore Girl telah menjadi ikon brand Singapore Airlines. Singapore Girl dianggap sebagai personifikasi komitmen maskapai ini akan layanan dan kualitas tinggi dengan menggambarkan nilai-nilai dan keramahan Asia.[3]

Pada tahun 1993, Singapore Girl menjadi figur komersial pertama yang dijadikan patung lilin di Museum Madame Tussauds, London.[4] Selain itu, Singapore Girl juga telah dibuat dalam bentuk boneka Barbie setelah Mattel memproduksi "Singapore Airlines Barbie" berkostum batik untuk maskapai ini.[10]

Pada tahun 2007, Singapore Airlines mengganti perusahaan pembuat iklannya, namun iklan-iklan yang dibuat masih tetap menampilkan Singapore Girl di samping pesawat ultra-modern, kursi kabin baru, atau makanan di pesawat.[11] Akan tetapi, Singapore Girl kembali menjadi tema utama iklan-iklan maskapai ini pada tahun 2011.[12]

Rekrutmen[sunting | sunting sumber]

Singapore Airlines beroperasi dengan rasio satu pramugari atau pramugara tiap 22 penumpang, rasio yang tertinggi di dunia dan jauh di atas rata-rata maskapai lain.[8] Untuk menjaga citra brand-nya, maskapai ini menetapkan kriteria ketat untuk seleksi pramugari dan melaksanakan program pelatihan komprehensif dan keras bagi awak pesawatnya.[3] Pramugari Singapore Airlines harus berusia di bawah 26 tahun[9] dan bertubuh "proporsional". Pada saat rekrutmen, para calon pramugari diwajibkan mengikuti tes renang yang, selain bertujuan untuk menguji kemampuan berenangnya, juga dimaksudkan untuk menunjukkan penampilan fisik mereka.[1]

Singapore Girl direkrut terutama dari Singapura dan Malaysia (sekitar 85 persen), sementara sisanya, yang sebagian besar direkrut karena kemampuan bahasanya, berasal dari Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, Korea, dan Taiwan.[13] Setiap rekrutmen yang dilakukan di Singapura biasanya menghasilkan 1000 pelamar, namun maskapai ini tidak memiliki kuota tertentu untuk setiap rekrutmen dan menerima awak kabin berdasarkan kelayakannya.[12]

Singapore Airlines memiliki sebuah akademi pelatihan internal di Singapura, tempat semua tingkatan stafnya dilatih, dilatih ulang, dan dievaluasi secara teratur.[3] Pramugari dan pramugaranya mendapatkan pelatihan selama empat bulan.[14] Di dalam pelatihan tersebut, Singapore Girl dididik mengenai, antara lain, cara berbicara kepada penumpang, cara bergerak di dalam kabin, cara menyajikan makanan, cara berpakaian, dan cara merawat diri.[1][9][12]

Pramugari Singapore Airlines menandatangani kontrak lima tahun yang dapat diperpanjang maksimum dua[1] sampai empat[12] kali (sementara pramugaranya, yang mencakup sekitar 40 persen awak kabin, mendapatkan kontrak permanen sampai usia pensiun). Selama periode itu, Singapore Girl dilarang hamil dan diwajibkan menjaga penampilannya. Pramugari yang hamil dapat diberhentikan atau dilarang terbang sampai minimal dua tahun setelah melahirkan.[1][15] Setiap tahunnya, pramugari dan pramugara dievaluasi setidaknya empat kali.[3] Dan, walaupun mendapatkan gaji besar dan biaya pelatihannya tinggi, seorang Singapore Girl rata-rata bertahan hanya selama empat setengah tahun. Hal ini dimaklumi oleh maskapainya yang menganggap bahwa dengan demikian, para penumpang dapat selalu melihat pramugari muda; hal ini dianggap mendukung citra penerbangan mereka.[1]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Tema Singapore Girl telah mendapatkan berbagai kritik. Hal tersebut dianggap, di antaranya, seksis, rasis,[16] melecehkan,[5] seksual,[17] dan ketinggalan zaman.[2] Pada tahun 1997, misalnya, Federasi Pekerja Transportasi Internasional menyatakan bahwa Singapore Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan yang materi iklannya melecehkan pramugari.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h Whitelegg, D. (2007). Working the Skies: The Fast-paced, Disorienting World of the Flight Attendant. New York: New York University Press. hlm. 135–139. 
  2. ^ a b c Davidson, J.; Fang, C. (12 Januari 2011). "Is it time to give the Singapore Girl a makeover?". CNN Travel. Diakses 21 Mei 2013. 
  3. ^ a b c d e f Roll, M. (2006). Asian Brand Strategy: How Asia Builds Strong Brands. Basingstoke: Palgrave Macmillan. hlm. 134–135. 
  4. ^ a b Richardson, Michael (8 Juni 1993). "The Singapore Girl". International Herald Tribune. Diarsipkan dari aslinya tanggal 13 September 2007. Diakses 21 Mei 2013. 
  5. ^ a b c Clement, B. (26 Mei 1997). "Sexism row clouds blue skies". The Independent. Diakses 23 Mei 2013. 
  6. ^ "Singapore Airlines uniform". Wallpaper*. 10 Agustus 2007. Diakses 21 Mei 2013. 
  7. ^ a b Arnold, W. (31 Desember 1999). "For the Singapore Girl, It's Her Time to Shine". The New York Times. Diakses 21 Mei 2013. 
  8. ^ a b Baker, S. (2003). New Consumer Marketing: Managing a Living Demand System. Chichester: John Wiley & Sons. hlm. 118. 
  9. ^ a b c Lindstrom, M. (2005). Brand Sense: How to Build Powerful Brands Through Touch, Taste, Smell, Sight & Sound. London: Kogan Page Limited. hlm. 14–15. 
  10. ^ Saunders, K.J. (2005). "Creating and Recreating Heritage in Singapore". In Harrison, D.; Hitchcock, M. The Politics Of World Heritage: Negotiating Tourism And Conservation. Clevedon: Channel View Publications. hlm. 164–165. 
  11. ^ "No change for Singapore Girl". The Sydney Morning Herald. 12 Maret 2007. Diakses 23 Mei 2013. 
  12. ^ a b c d "'Singapore Girl' makes a comeback as airline banks on superior service". The Canberra Times. 1 Agustus 2011. Diakses 23 Mei 2013. 
  13. ^ Lovegrove, K. (2000). Airline: Identity, Design and Culture. London: Laurence King Publishing. 
  14. ^ Wilson, S. (2005). Human Resource Management in the Airline Industry - The Example of Star Alliance (Master Thesis at Friedrich-Alexander-Universität Erlangen-Nürnberg). Munich: GRIN Verlag. hlm. 43. 
  15. ^ Rappa, A.L. (2011). Globalization: Power, Authority, and Legitimacy in Late Modernity (ed. 2). Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 80. 
  16. ^ West, C.; Fenstermaker, S. (2002). "Power, Inequality, and the Accomplishment of Gender: An Ethnomethodological View". In Fenstermaker, S.; West, C. Doing Gender, Doing Difference: Inequality, Power, and Institutional Change. New York: Routledge. hlm. 49. 
  17. ^ Heng, G. (1997). ""A Great Way to Fly": Nationalism, the State, and the Varieties of Third Word Feminism". In Alexander, M.J.; Mohanty, C.T. Feminist Genealogies, Colonial Legacies, Democratic Futures. New York: Routledge. hlm. 38. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]