Sinematek Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Logo Sinematek Indonesia

Sinematek Indonesia, atau Sinematek saja, adalah arsip film yang terletak di Jakarta. Didirikan tahun 1975 oleh Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani, arsip ini adalah arsip film pertama di Asia Tenggara dan satu-satunya di Indonesia. Sinematek menyimpan sekitar 2.700 film, kebanyakan film Indonesia, dan sejumlah karya referensi. Sejak 2001, institusi ini kekurangan dana.

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Sinemaek terletak di Pusat Haji Usmar Ismail, gedung berlantai lima di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, dan dikelola oleh Yayasan Usmar Ismail[1] pemilik lokasi ini sejak 1977.[2] Kantor Sinematek berada di lantai empat, sedangkan perpustakaan film dan sejarahnya terletak di lantai lima dan tempat penyimpanannya seluas 100- (1,100 ft²) terletak di bawah tanah.[3] Kebanyakan pengunjungnya adalah akademisi atau mahasiswa, meski pusat ini sudah meminjamkan sejumlah koleksinya.[1] Film hanya dapat ditonton di tempat di studio berkapasitas 150 orang atau teater berkapasitas 500 orang.[2]

Pada Maret 2012, Sinematek memiliki 2.700 film di dalam arsipnya, kebanyakan film Indonesia, dan ada pula beberapa dokumenter asing.[3] Arsip Sinematek terdiri dari 84 negatif untuk film hitam putih dan 548 negatif untuk film berwarna.[4] Pusat ini juga menyimpan lebih dari 15.000 karya referensi, kebanyakan sulit ditemukan di tempat lain,[3][5][6] termasuk kliping koran, naskah drama, buku, dan peraturan pemerintah.[4] Kepemilikan lainnya mencakup poster film dan peralatan film.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Arsip ini didirikan oleh Misbach Yusa Biran, sutradara film yang beralih membuat film dokumenter, dan Asrul Sani, seorang penulis naskah, pada tanggal 20 Oktober 1975;[4][7] Biran sebelumnya mendirikan pusat dokumentasi di Institut Kesenian Jakarta pada akhir 1970 setelah mengetahui banyak film Indonesia yang hilang dari peredaran dan tidak adanya dokumentasi sinema dalam negeri.[3][8] Ia membuat Sinematek seperti gedung arsip yang dilihatnya di Belanda.[3] Namanya sendiri diambil dari Cinémathèque Française di Paris.[2]

Proyek ini disambut hangat oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang membantu pusat ini menerima dana dari Kementerian Penerangan. Ini adalah arsip film pertama di Asia Tenggara[3] dan satu-satunya di Indonesia.[5] Sebagian koleksinya adalah hasil sumbangan dan sebagian lagi dibeli, entah langsung dari produsernya atau pemilik teater.[1] Sinematek bergabung dengan Federasi Arsip Film Internasional (Fédération Internationale des Archives du Film, atau FIAF) pada tahun 1977.[6]

Sinematek menjadi bagian dari Yayasan Usmar Ismail pada tahun 1995.[3] Tahun 2001, pemerintah pusat melarang semua organisasi nirlaba, termasuk arsip, menerima dana dari pemerintah;[5] dana dari luar negeri juga distop.[3] Keputusan ini membuat Sinematek kekurangan dana[5] dan keanggotaannya di FIAF terancam. Arsip ini hanya mendapatkan Rp 17 juta setiap bulannya dari Yayasan Pusat Film dan Dewan Film Nasional.[1] Operasi di pusat ini melambat sampai-sampai Biran menyebut Sinematek mengalami koma.[3]

Pada 2012, Sinematek terus kekurangan dana; dari Rp 320 juta yang dibutuhkan untuk mengoperasikan arsip secara efisien, penerimaan per bulannya hanya Rp 48 juta.[9] Ketujuh belas pekerjanya digaji kurang dari Rp 1 juta per bulan. Akibatnya, pengelolaan arsip tidak selesai.[3] Ruang penyimpanan di bawah tanah memiliki penerangan yang tidak layak dan sejumlah tempat di sana sudah berlumut.[5] Pengendalian suhu dan kelembapan udaranya masih bagus.[4] Meski pemerintah Indonesia menganggarkan dana untuk membangun gedung baru, para pekerja arsip yakin usaha itu sia-sia kecuali dana untuk pengelolaannya juga disediakan.[6]

Meski upaya restorasi film Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail tahun 1954 berhasil dilaksanakan – film tersebut bersemut dan warnanya kabur – pendanaan dan pelaksanaannya dilakukan lembaga asing.[5][10] Pusat ini juga menyimpan Tiga Dara karya Ismail tahun 1958 di Belanda.[9] Untuk memperingati peluncuran kembali Lewat Djam Malam di bioskop pada Juni 2012, Sinematek membuat program Sahabat Sinematek untuk mempromosikan dokumentasi dan restorasi karya-karya Indonesia.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki
Daftar pustaka

Pranala luar[sunting | sunting sumber]