Sindrom Asperger

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sindrom Asperger
Klasifikasi dan rujukan eksternal
Seated boy facing 3/4 away from camera, looking at a ball-and-stick model of a molecular structure. The model is made of colored magnets and steel balls.
Penyandang Sindrom Asperger seringkali menunjukkan minat yang mendalam terhadap sesuatu, seperti anak ini yang menyukai struktur molekuler.
ICD-10 F84.5
ICD-9 299.80
OMIM 608638
DiseasesDB 31268
MedlinePlus 001549
eMedicine ped/147 
MeSH F03.550.325.100

Sindrom Asperger (bahasa Inggris: Asperger syndrome, Asperger's syndrome, Asperger's disorder, Asperger's atau AS) adalah salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima. Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger, seorang dokter anak asal Austria pada tahun 1944, meskipun baru diteliti dan diakui secara luas oleh para ahli pada dekade 1980-an. Sindrom Asperger dibedakan dengan gejala autisme lainnya dilihat dari kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata (ini berarti sebagian besar penderita sindrom Asperger bisa hidup secara mandiri, tidak seperti autisme lainnya). Sindrom Asperger juga bukanlah sebuah penyakit mental.

Ketika orang berbicara, umumnya mereka menggunakan bahasa tubuh seperti senyuman dan komunikasi nonverbal lainnya, dan juga kata-kata yang dikeluarkan oleh mereka cenderung memiliki lebih dari satu buah makna. Seorang penderita sindrom Asperger umumnya tidak memiliki kesulitan dalam perkembangan bahasa/linguistik, namun mereka cenderung memiliki kesulitan untuk memahami bentuk-bentuk komunikasi non-verbal serta kata-kata yang memiliki banyak arti seperti itu, dan mereka hanya memahami apa arti kata tersebut, seperti yang ia pahami di dalam kamus. Namun, kebanyakan penderita memiliki perbendaharaan kata dan wawasan yang melebihi anak-anak seusianya dan kerap dijuluki "profesor kecil". Para penderita sindrom Asperger sering kesulitan memahami ironi, sarkasme, dan penggunaan bahasa slang, apalagi memahami mimik muka/ekspresi orang lain, dan cenderung berbahasa dengan gaya formal. Mereka juga tergolong sulit bersosialisasi dengan orang lain dan cenderung menjadi pemalu, tergantung tingkat keparahan penyakit atau perkembangan si penderita sendiri. Penderita sindrom ini kerap menjadi sasaran bullying, terutama pada usia anak dan remaja. Penemu sindrom ini juga menunjukkan gejala serupa ketika masa kanak-kanaknya.

Para dokter melihat sindrom Asperger sebagai sebuah bentuk autisme. Seringnya, disebut sebagai "autisme yang memiliki banyak fungsi/high-functioning autism". Hal ini berarti setiap penderita sindrom Asperger terlihat seperti halnya bukan seorang autis, tetapi ketika dilihat, otak mereka bekerja secara berbeda dari orang lain. Para dokter juga sering mengambil kesimpulan yang salah mengenai sindrom Asperger setelah mendiagnosis penderitanya, dan memvonisnya sebagai pengidap skizofrenia, ADHD, sindrom Tourette atau kelainan mental lainnya.

Bagian otak yang memiliki kaitan untuk melakukan hubungan sosial dengan orang lain juga sebenarnya mengontrol bagaimana tubuh bergerak dan juga keseimbangan tubuh. Karena itu, seorang penderita sindrom Asperger terkadang mengalami masalah yang melibatkan pergerakan tubuh, seperti halnya olah raga, atau bahkan jalan kaki, yang kadang-kadang sering terpeleset, tergantung tingkat keparahannya. Mereka juga memiliki kebiasaan grogi/nervous.

Para penderita sindrom Asperger memiliki kecenderungan lebih baik dibandingkan orang-orang lain dalam beberapa hal seperti tulisan dan literatur, pengetahuan umum, ilmu alam serta pemrograman komputer. Banyak penderita sindrom Asperger memiliki cara penulisan yang lebih baik dibandingkan dengan cara mereka berbicara dengan orang lain. Mereka juga memiliki sebuah minat yang khusus yang mereka tekuni dan bahkan mereka menekuninya sangat detail, serta mereka justru menemukan hal-hal kecil yang orang lain sering dilewatkan atau diremehkan.

Penyebab-penyebabnya[sunting | sunting sumber]

Hans Asperger menguraikan gejala-gejala umum di antara keluarga pasien, terutama ayahnya, dan riset mendukung obsevasi dan kemungkinan besar adanya kontribusi genetik pada Sindrom Asperger (SA). Meskipun hingga saat ini belum ditemukan genetik tertentu yang dapat diidentifikasi, banyak faktor diyakini memainkan peran seolah-olah autis, memberikan unjukan phenotype yang bervariasi pada anak-anak dengan SA.McPartland J, Klin A (2006). "Asperger's syndrome". Adolesc Med Clin 17 (3): 771–88. doi:10.1016/j.admecli.2006.06.010. PMID 17030291. </ref>[1] Bukti adanya hubungan genetik dari SA pada keluarga menunjukkan perilaku yang lebih banyak pada keluarga yang mirip dengan SA, tetapi dalam bentuk yang lebih sedikit (sebagai contoh, sedikit mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, bahasa, atau membaca).[2] Kebanyakan riset menyatakan bahwa SA bergantung pada keturunan, tetapi SA mungkin memiliki komponen yang lebih kuat daripada autis.[3] Kemungkinan adanya kelompok umum dari faktor genetik alela yang membuat seseorang lebih riskan terhadap berkembangnya SA; jika hal ini benar, kombinasi alela tertentu akan menentukan tingkat berat dan gejala-gejala untuk tiap individu dengan SA.[2]

Sedikit dari kasus SA dihubungkan dengan terpaparnya janin hingga berusia 8 minggu oleh teratogens (zat yang menyebabkan kecacatan lahir). Meskipun hal ini tidak boleh mengenyampingkan bahwa SA dapat terjadi sesudahnya, tetapi bukti yang kuat menunjukkan bahwa SA terjadi pada saat yang sangat dini pada pertumbuhan janin.[4] Banyak faktor-faktor lingkungan dijadikan hipotesa setelah kelahiran bayi, tetapi semua ini belum terbukti secara ilmiah.[5]

Diagnosis awal[sunting | sunting sumber]

Orangtua dari anak-anak dengan SA dapat menelusuri perbedaan-perbedaan perkembangan anak-anaknya sejak usia 30 bulan, meskipun diagnosis baru ditegakkan pada usia rata-rata 11 tahun.[1] Didefinisikan, bahwa anak-anak dengan SA yang perkembangan bahasa dan kemampuan menolong dirinya sendiri sesuai dengan jadwal (normal), maka gejala-gejala awalnya tak akan muncul (kabur) dan kondisi ini mungkin tidak akan terdiagnosa hingga usia akhir anak-anak atau bahkan lebih tua. Ketidakmampuan dalam interaksi sosial kadang-kadang bukan bukti hingga sang anak mencapai usia dimana sifat-sifat ini menjadi penting; ketidakmampuann bersosialisasi seringkali menjadi pertanda awal, ketika anak-anak berjumpa dengan teman-temanya di daycare atau preschool.[3] Diagnosa umumnya terjadi pada usia 4 hingga 11 tahun, dan sebuah studi menganjurkan agar diagnosa tidak dilakukan sebelum usia 4 tahun.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Foster B, King BH (2003). "Asperger syndrome: to be or not to be?". Current Opinion in Pediatrics 15 (5): 491–4. doi:10.1097/00008480-200310000-00008. PMID 14508298. 
  2. ^ a b National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) (31 July 2007). "Asperger syndrome fact sheet". Diarsipkan dari aslinya pada tanggal 21 August 2007. Diakses 24 August 2007.  NIH Publication No. 05-5624.
  3. ^ a b c McPartland J, Klin A (2006). "Asperger's syndrome". Adolesc Med Clin 17 (3): 771–88. doi:10.1016/j.admecli.2006.06.010 (tidak aktif 2015-01-01). PMID 17030291. 
  4. ^ Arndt TL, Stodgell CJ, Rodier PM (2005). "The teratology of autism". Int J Dev Neurosci 23 (2–3): 189–99. doi:10.1016/j.ijdevneu.2004.11.001. PMID 15749245. 
  5. ^ Rutter M (2005). "Incidence of autism spectrum disorders: changes over time and their meaning". Acta Paediatr 94 (1): 2–15. doi:10.1111/j.1651-2227.2005.tb01779.x. PMID 15858952.