Serawak, Malaysia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
سراوق
Sarawak Bumi Kenyalang
Bendera Sarawak.png Coat of arms of Sarawak.svg
Bendera Negeri Lambang
Motto: Bersatu, Berusaha, Berbakti
MalaysiaSarawak.png
Ibu kota Kuching
Tuan Yang Terutama Tun Datuk Patinggi Abang Hj. Muhammad Salahuddin
Menteri Besar Y.A.B. Datuk Patinggi Tan Sri Haji Abdul Taib Bin Mahmud
Wilayah 124.449,51 km2
Penduduk
 - Jumlah
2.376.800 (2005)
Lagu negeri Ibu Pertiwiku
Perjanjian pendirian negara Malaysia dalam bahasa Melayu (documen)

Sarawak (Jawi:سراوق) adalah salah satu negara bagian di Malaysia dan juga merupakan salah satu dari empat negara pendiri federasi Malaysia[1].

Sarawak terletak di barat-laut pulau Kalimantan. Sarawak adalah negara bagian terbesar di Malaysia, diikuti oleh negeri tetangganya, Sabah sebagai negara bagian terbesar kedua.

Ibukotanya ialah Kuching (populasi 458.300 jiwa) yang secara harafiah berarti pelabuhan (Cochin). Menurut sensus 2000, penduduk Sarawak berjumlah 2.809.000 jiwa. Pada 1963 tergabung dalam federasi Malaysia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sarawak dikuasai oleh Kesultanan Brunei pada awal abad ke-19. James Brooke diangkat menjadi gabenor Sarawak pada 24 September 1841 dan diberi gelar Rajah oleh Sultan Brunei pada 18 Ogos 1842. Brooke hanya menguasai wilayah Serawak yang paling barat, di sekitar Kuching. Ia berkuasa hingga kematiannya pada 1868. Pengganti James antara lain sepupunya, Charles Anthony Johnson Brooke, dan anak Anthoni, Charles Vyner Brooke. Wilayah yang dikuasai oleh keluarga Brooke semakin luas, dengan menguasai wilayah yang tadinya milik Brunei. Namun kenyataannya Brunei hanya menguasai sungai strategis dan benteng di kawasan pesisir, sehingga Brookes sebenarnya merampas tanah para pejuang Muslim dan suku lokal.

Dinasti Brooke memerintah Sarawak selama satu abad dan dijuluki "Rajah Putih", selaras dengan status Pangeran India di bawah Kekaisaran Britania. Prinsip keluarga Brooke adalah melindungi penduduk pribumi Sarawak dari kepunahan. Kaum Melayu dan Muslim setempat turut membantu pemerintahan Brookes, sedangkan Brookes mempekerjakan orang Iban dan Dayak sebagai pasukan Sarawak karena kekuatan mereka yang kuat. Mereka juga mendukung kedatangan para pedagang Tionghoa, orang Arab dan orang-orang dari India.

Jepang menyerbu Sarawak pada 1941 dan menguasainya selama Perang Dunia II berlangsung hingga pasukan Australia menguasainya pada 1945. Rajah secara resmi menyerahkan Serawak kepada Britania pada 1946, di bawah tekanan istrinya dan kalangan lain. Namun Anthony tidak mengakui kedaulatan Serawak di bawah Britania. Kaum Melayu sangat menolak upaya kekuasaan Britania terutama dengan membunuh gubernur Britania pertama.

Sarawak menjadi lokasi utama bersama Sabah, Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat saat Konfrontasi berlangsung pada 1962 hingga 1966. Sarawak menjadi sebuah negara bagian berstatus otonomi di bawah federasi Malaysia pada 16 September 1963 walaupun sebelumnya sebagian penduduknya menolak rencana ini.[2][3] [4][5]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Dengan wilayah seluas 124.450 km², Sarawak mencakup 37,5% wilayah Malaysia.

Sarawak terdiri dari sebelas Divisi Administratif, yaitu Kuching,Samarahan, Sri Aman, Betong, Sarikei, Sibu, Mukah, Kapit, Bintulu, Miri dan Limbang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku Bangsa di Sarawak [6]
Suku Peratus
Iban
  
29%
Tionghoa-Malaysia
  
24%
Melayu
  
23%
Bidayuh
  
8%
Melanau
  
6%
Orang Ulu
  
5%
Lain-lain
  
5%

Suku Iban merupakan etnis terbesar di Sarawak. Suku-suku lainnya ialah Tionghoa yang tinggal di perkotaan, Melayu yang menjadi kaum terbesar kedua (tinggal di pesisir), suku Bidayuh, suku Melanau , suku Lun Bawang/Lun Dayeh dipedalaman, India (tinggal di perkotaan) dan suku pribumi lainnya yang terdiri atas berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus suku. Umumnya suku-suku pribumi mendiami Serawak bagian tengah disekitar sungai Rajang dan hutan-hutan dikota Belaga. Suku pendatang yang juga cukup banyak di Sarawak adalah Suku Bugis, Suku Banjar & Jawa yang mendiami sepanjang kawasan pesisir Serawak. Mereka datang dari Indonesia.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Sarawak mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Sumber penghasilan terbesar disumbangkan oleh gas alam, batubara dan minyak bumi yang ditambang di sekitar bandar raya Miri. Hutannya menghasilkan sekitar 9 hingga 10 juta m³ kayu setiap tahun dan diekspor. Sumber alam lain yaitu beragam jenis ikan seperti Arwana dan kelapa sawit serta tanaman seperti karet,kelapa dan vanili. Sarawak juga didukung oleh pariwisata yang berhasil.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "No.10760: Agreement relating to Malaysia" (pdf). United Nations Treaty Collection. United Nations. July 1963. Diakses 2010-07-29. 
  2. ^ namun malaysia memaksakan kehedaknya untuk menjadikan tanah Sarawak bagian dari negaranya, sehingga munculah negara boneka Sarawak, walaupun sesungguhnya orang-orang di serawak tidak mau bergabung kedalam negara Malaysai tetapi dengan politiknya yang didukung Britania akhirnya Sarawak dan Sabah masuk kedalam negara Malaysia. United Nations Treaty No. 8029, Manila Accord between Philippnes, Federation of Malaya and Iindonesia (31 JULY 1963)
  3. ^ United Nations Treaty Series No. 8809, agreement relating to the implementation of the Manila Accord
  4. ^ United Nations list of Non-Self-Governing Territories, North Borneo and Sarawak
  5. ^ United Nations Member States
  6. ^ statistics.gov.my

Pranala luar[sunting | sunting sumber]