Serat Kalatidha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom. Kala tidha secara harafiah artinya adalah "zaman gila" atau zaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau "pujangga terakhir". Sebab setelah itu tidak ada "pujangga kerajaan" lagi.

Arti singkat[sunting | sunting sumber]

Syair Kalatidha bisa dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah bait 1 sampai 6, bagian kedua adalah bait 7 dan bagian ketiga adalah bait 8 sampai 12. Bagian pertama adalah tentang keadaan masa Rangga Warsita yang menurut ialah tanpa prinsip. Bagian kedua isinya adalah ketekadan dan sebuah introspeksi diri. Sedangkan bagian ketiga isinya adalah sikap seseorang yang taat dengan agama di dalam masyarakat.

Petikan[sunting | sunting sumber]

Bait Serat Kalatidha yang paling dikenal adalah bait ke-7. Sebab bait ini adalah esensi utama syair ini. Amanat syair ini bisa diringkas dalam satu bait ini.

Bahasa Jawa Alih bahasa
Amenangi zaman édan, Menyaksikan zaman gila,
éwuhaya ing pambudi, serba susah dalam bertindak,
mélu ngédan nora tahan, ikut gila tidak akan tahan,
yén tan mélu anglakoni, tapi kalau tidak mengikuti (gila),
boya kéduman mélik, bagaimana akan mendapatkan bagian,
kaliren wekasanipun, kelaparan pada akhirnya,
ndilalah kersa Allah, namun telah menjadi kehendak Allah,
begja-begjaning kang lali, sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
luwih begja kang éling klawan waspada. akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Serat Kalatidha di Leiden[sunting | sunting sumber]

Ketenaran Serat Kalatidha juga mencapai kota Leiden, negeri Belanda. Di sini petikan dari Serat Kalatidha dilukis di sebuah tembok rumah.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]