Senjata biologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lambang internasional untuk bahaya biologi (biological hazard).

Senjata biologi (bahasa Inggris: biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh.[1] Dalam pengertian yang lebih luas, senjata biologi tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu.[1] Dalam kenyataanya, senjata biologi tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.[1]

Pembuatan dan penyimpanan senjata biologi telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara.[2] Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek yang dihasilkan senjata biologi, yang dapat membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial.[2] Namun, Konvensi Senjata Biologi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologi, tetapi tidak melarang pemakaiannya.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah penggunaan senjata biologi dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk.[3] Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya.[3] Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian.[3] Peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan senjata biologi terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Mati dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes.[3] Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga akhirnya menimbulkan "kematian hitam" (black death) di wilayah Eropa.[3]

Pada tahun 1754-1760, terjadi peperangan antara bangsa Britania Utara dan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan virus cacar. Ketika itu, Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari rumah sakit yang merawat penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut.[3] Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan dua bakteri patogen, yaitu Burkholderia mallei penyebab Glanders dan Bacillus anthracis penyebab Antrax untuk menginfeksi ternak dan kuda tentara Sekutu.[3] Pada tahun 1932-1935, Jepang mengembangkan program pembuatan senjata biologi di Cina yang dinamakan Unit 731. Sebanyak 3.000 ilmuwan Jepang bekerja untuk melakukan penelitian terhadap berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata, misalnya kolera, pes, dan penyakit seksual yang menular.[3] Eksperimen yang dilakukan menggunakan tahanan Cina yang mengakibatkan ± 10.000 tahanan mati pada masa itu.[3] Sejak saat itu, tidak hanya Jepang yang mengembangkan senjata biologi, namun juga diikuti oleh negara-negara lain seperi Amerika Serikat dan Uni Soviet.[3]

Agen Biologi[sunting | sunting sumber]

Bacillus anthracis, salah satu agen biologi penyebab Antrax.

Agen biologi adalah mikroorganisme (atau toksin yang dihasilkannya) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, hewan, atau tumbuhan, atau menyebabkan kerusakan material.[4] Dalam pembuatan senjata biologi, agen biologi merupakan komponen penting yang harus diteliti terlebih dahulu sebelum diaplikasikan.[4] Beberapa agen biologi dan penyakit yang pernah direncanakan untuk dijadikan senjata atau sudah pernah dijadikan senjata biologi di dunia antara lain:

just for widening coloum just for widening coloum

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Karakteristik dari senjata biologi adalah mudah diproduksi dan disebar, aman digunakan oleh pasukan penyerang yang menyebarkannya, serta dapat melumpuhkan atau membunuh individu berulang kali dengan hasil yang sama/konsisten.[5] Hal ini berarti, apabila kita menggunakan senjata biologi yang sama untuk menyerang beberapa daerah berbeda, maka dampak yang terjadi haruslah sama.[5] Agen biologi pada senjata biologi juga harus dapat diproduksi dengan cepat dan murah.[6] Untuk membuat suatu senjata biologi yang berkualitas baik, ada beberapa persyaratan tambahan yang harus dipenuhi, yaitu dapat ditularkan, menimbulkan sakit berkepanjangan yang membutuhkan perawatan intensif, dan gejala yang ditimbulkan bersifat non-spesifik sehingga menyulitkan diagnosis.[7] Umumnya, senjata biologi yang baik juga memiliki waktu inkubasi yang cukup panjang di dalam tubuh penderita sehingga penyakit dapat ditularkan dan menyebar secara luas sebelum dapat terdeteksi.[7]

Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi atau pengelompokkan senjata biologi dapat dilakukan berdasarkan taksonomi, inang, sindrom yang ditimbulkan, efek yang dihasilkan, cara penyebarannya, dan respon praktis atau menurut sifat fungsionalnya.[8] Salah salah klasifikasi yang sering digunakan klasifikasi fungsional yang dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau CDC), meliputi:

  • Kategori A
    • penyebarannya dapat dilakukan dengan mudah dan ditularkan dari manusia yang satu ke yang lain;
    • penyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi memengaruhi kesehatan publik;
    • dapat menyebabkan kepanikan dan gangguan sosial;
    • memerlukan penanganan khusus untuk persiapan kesehatan masyarakat.[8]
    • Contoh kategori A: cacar, antrax, botulisme, dll.[8]
  • Kategori B
    • kemampuan penyebarannya bersifat moderat;
    • menimbulkan tingkat kesakitan yang moderat dan tingkat kematian yang rendah;
    • memerlukan peningkatan kapasitas diagnostik yang spesifik dan peningkatan pengawasan penyakit.[8]
    • Contoh kategori B: brucellosis, demam Q, Glanders, dll.[8]
  • Kategori C, meliputi patogen yang dapat dimodifikasi untuk disebarluaskan di masa depan, karena memiliki karakeristik:
    • ketersediaan memadai;
    • mudah diproduksi dan disebarkan;
    • berpotensi menyebabkan tingkat kematian dan kesakitan yang tinggi, serta mampu memengaruhi kesehatan publik.[8]
    • Contoh kategori C: Virus Hanta, Virus Nipah, demam kuning, dll.[8]

Keuntungan[sunting | sunting sumber]

Penggunaan senjata biologi memiliki beberapa keuntungan dan keunggulan dibandingkan jenis senjata militer lainnya.[9] Beberapa keuntungan pemakaian senjata biologi adalah biaya produksi relatif murah dibandingkan senjata penghancur lainnya, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agen biologi cukup sederhana, dan waktu yang diperlukan dalam pembuatannya relatif lebih pendek.[9] Secara ekonomis, pembuatan senjata biologi juga menguntungkan karena dapat dibuat vaksin atau penawar dari senjata biologi yang telah diciptakan dengan alat yang sama namun vaksin dapat diperdagangkan kembali dengan harga tinggi.[9] Penyerangan dengan senjata biologi disukai oleh banyak negara karena penyebarannya tidak terdeteksi dan musuh tidak menyadari adanya penyerangan dengan senjata biologi.[9] Selain itu, agen biologi yang hidup di dalam tubuh manusia dapat berkembang biak dan menyebar dari individu satu ke individu lain secara alami.[10] Hal ini sangat mungkin terjadi karena agen biologi (terutama virus) yang disebar tidak terlihat oleh mata telanjang, tidak berbau, dan tidak berasa.[9] Dibandingkan dengan senjata nuklir, senjata biologi lebih unggul karena penggunaannya tidak merusak infrastruktur atau fasilitas yang ada dalam daerah yang diserang, sehingga infrastruktur yang tertinggal dapat dimanfaatkan kembali.[11]

Kerugian[sunting | sunting sumber]

Penggunaan senjata biologi juga memiliki kelemahan yang apabila tidak diperhitungkan secara cermat dapat merugikan.[11] Di antaranya adalah perlunya perhitungan cuaca atau kondisi yang tepat untuk melakukan penyebaran senjata tersebut karena sedikit perubahan arah angin dapat mengakibatkan agen biologi berbalik menyerang diri sendiri.[11] Untuk agen biologi yang disebar melalui udara, waktu tinggal atau ketahanan mereka di udara merupakan hal yang penting untuk diketahui agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasukan penyerang ketika mereka memasuki daerah yang telah berhasil dilumpuhkan/diinfeksi.[12] Pasukan yang bertugas menyebarkan senjata biologi juga harus dilengkapi dengan berbagai alat pelindung karena risiko terinfeksi agen biologi yang digunakan sebagai senjata dapat dialami oleh mereka.[11] Beberapa jenis senjata biologi juga diketahui rentan terhadap radiasi matahari maupun perubahan cuaca sehingga agen biologi dapat terinaktivasi dan tidak dapat berfungsi dengan baik.[13] Untuk beberapa jenis senjata biologi seperti itu, biasanya dilakukan penyebaran pada larut malam atau pagi subuh sehingga radiasi matahari tidak akan mengganggu dan agen biologi dapat menyebar pada ketinggian yang rendah dan menyelimuti daerah yang diserang.[13] Kerugian lain dari penggunaan senjata biologi adalah adanya beberapa agen biologi yang dapat bertahan lama di lingkungan (seperti spora Bacillus anthracis) sehingga daerah yang telah diinfeksi tidak dapat dihuni/ditinggali dalam jangka waktu yang cukup lama.[12]

Peran Bioteknologi dalam Pembuatan Senjata Biologi[sunting | sunting sumber]

Bom E120, salah satu senjata biologi yang berisi 0.1 kg agen biologi cair dan dikembangkan pada tahun 1960-an.

Kemajuan ilmu bioteknologi (terutama rekayasa genetika) memiliki dampak negatif dan positif dalam pengembangan senjata biologi. dalam positif yang ditimbulkan adalah munculnya metode dan berbagai cara deteksi, identifikasi, dan neutralisasi agen biologi patogen secara lebih cepat.[14] Berbagai jenis vaksin dan anti-toksin juga telah dikembangkan untuk mengontrol bakteri dan virus patogen yang digunakan sebagai senjata biologi.[14] Modifikasi materi genetik/DNA organisme juga telah diterapkan untuk membuat racun, elemen yang menular, maupun senjata biologi yang mematikan.[14] Data Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) juga telah dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem pertahanan sipil dan nasional suatu negara dalam melawan penggunaan dan pembuatan senjata biologi serta mengembangkan antibiotik dan vaksin baru.

Kemajuan bioteknologi juga dapat disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mengembangkan senjata biologi yang sangat berbahaya, contohnya adalah menghasilkan organisme makroskopis yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk memproduksi toksin atau racun berbahaya.[14] Berbagai agen biologi patogen juga dapat direkayasa secara genetik agar lebih tahan atau stabil pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki resistensi terhadap antibiotik, vaksin, dan terapi yang sudah ada.[14] Selain itu, bioteknologi juga dimanfaatkan untuk pembuatan agen biologi yang tidak dapat dikenali oleh sistem imun atau antibodi tubuh karena profil imunologisnya telah diubah.[14] Apabila senjata biologi yang telah dikembangkan dimanfaatkan untuk bioterorisme atau penyalahgunaan lainnya maka akan timbul kekacauan di dunia.[14]

Daftar Program dan Institusi Senjata Biologi di Berbagai Negara[sunting | sunting sumber]

Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Inggris[sunting | sunting sumber]

Rusia[sunting | sunting sumber]

Jepang[sunting | sunting sumber]

Irak[sunting | sunting sumber]

Pencegahan dan Pengendalian[sunting | sunting sumber]

Negara partisipan Konvensi Senjata Biologi 2008
  Menandatangani dan meratifikasi
  Menyetujui atau berhasil
  Negara yang belum diakui, menaati perjanjian
  Hanya menandatangani
  Tidak menandatangani

Upaya pengendalian senjata biologi telah dilakukan sejak tahun 1925 melalui perjanjian internasional yang disebut Protokol Geneva (Geneva Protocol) yang memuat larangan penggunaan senjata biologi.[17] Namun, perjanjian itu terbukti masih dilanggar oleh beberapa negara.[17] Oleh karena itu, pada tahun 1972, PBB mengadakan Konvensi Senjata Biologi dan Toksin (Biological and Toxin Weapon Convention atau BTWC) yang mempertegas larangan pengembangan, pembuatan, dan penyimpanan segala jenis senjata biologi.[17] Namun perjnajian tersebut juga masih dilanggar oleh beberapa negara, seperti Rusia dan Irak karena BTWC tidak melakukan pengawasan dan pembuktian tidak adanya kegiatan produksi senjata biologi pada setiap negara.[17] Pada tahun 1995, Ad Hoc membentuk protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan yang sayangnya tidak didukung penuh oleh seluruh negara penandatangan perjanjia terdahulu, seperti Amerika Serikat.[17] Pemerintah Amerika memiliki cara sendiri untuk mengendalikan senjata biologi di negaranya, di antaranya melalui produksi vaksin skala besar dan pendistribusiannya serta pengembangan strategi dan taktik untuk mencegah dampak buruk senjata biologi.[5] Melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau CDC), Amerika meningkatkan kemampuan diagnostik dengan membangun jaringan yang menghubungkan berbagai pusat kesehatan regional sehingga penyakit yang diakibatkan senjata biologi atau bioterorisme dapat dideteksi dengan lebih cepat.[5]

Pada tahun 2008, Konvensi Senjata Biologi (Biological Weapons Convention) membahas tentang peningkatan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan keamanan biologi, termasuk di dalam laboratorium yang menggunakan patogen maupun toksin berbahaya.[18] Pada pertemuan tersebut juga dibahas tentang pencegahan penyalahgunaan ilmu biologi dan bioteknologi untuk senjata biologi dengan cara meningkatkan kesadaran akan risiko biologis yang dapat timbul, memperketat pengawasan, serta memberikan pendidikan dan peningkatan bioetika dalam aplikasi ilmu kehidupan.[18] Untuk pengendalian dan pengawasan senjata biologi, telah dilakukan pembuatan data yang berpotensi menjadi senjata biologi. Selain itu, pengembangan molekul anti-bakteri juga telah dilakukan untuk mengeliminasi patogen namun tidak membahayakan manusia dan hewan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Inggris) Federation of American Scientists. Introduction to Biological Weapons. 
  2. ^ a b c (Inggris) Convention on the Prohibition of the Development, Production and Stockpiling of Bacteriological (Biological) and Toxin Weapons and on Their Destruction. 
  3. ^ a b c d e f g h i j (Inggris) Eric Croddy (2001). Chemical and Biological Warfare: A Comprehensive Survey for the Concerned Citizen. Springer. ISBN 978-0-387-95076-1. Page: 219-224
  4. ^ a b (Inggris) D.B. Rao (2001). Biological Warfare. Discovery Publishing House. ISBN 978-81-7141-597-7. Page: 39
  5. ^ a b c d e (Inggris) Madigan MT, Martinko JM, (2000). Brock Biology of Microorganisms. Prentice Hall. ISBN 978-0-13-081922-2.Page: 842-845
  6. ^ (Inggris) Educational Foundation for Nuclear Science, Inc. (Oktober 1964). "Fas statement on biological and chemical warfare". Bulletin of the Atomic Scientists 20 (8): Page: 46. 
  7. ^ a b (Inggris) Charles Edward Stewart (2005). Weapons of mass casualties and terrorism response handbook. Jones and Bartlett Publishers, Inc. ISBN 978-0-7637-2425-2. Page: 84
  8. ^ a b c d e f g (Inggris) Sharad S. Chauhan (2004). Biological Weapons. APH Publishing Corporation. ISBN 978-81-7648-732-0. Page: 8-21
  9. ^ a b c d e (Inggris) Jim A. Davis, Barry R. Schneider (2004). The gathering biological warfare storm. Praeger. ISBN 978-0-275-98314-7. Page: 57-58
  10. ^ (Inggris) Edward M. Eitzen. "Use of Biological Weapons". Medical Aspects of Chemical and Biological Warfare: 437–450. 
  11. ^ a b c d (Inggris) Sharad S. Chauhan (2004). Biological Weapons. APH Publishing Corporation. ISBN 978-81-7648-732-0. Page: 33-35
  12. ^ a b (Inggris) Robert I. Krasner (2009). The Microbial Challenge: Science, Disease, and Public Health. Jones and Bartlett Publishers. ISBN 978-0-7637-5689-5. Page: 35
  13. ^ a b (Inggris) Thomas W. McGovern, George W. Christopher (2001). "Biological Warfare and Its Cutaneous Manifestations". The Internet Dermatology Society, Inc. 
  14. ^ a b c d e f g (Inggris) Edgar J. DaSilva (1999). "Biological warfare, bioterrorism, biodefence and the biological and toxin weapons convention". Electronic Journal of Biotechnology 2 (3). doi:10.4067/S0717-34581999000300001. 
  15. ^ a b c d e (Inggris) Alibek, K. and S. Handelman. Biohazard: The Chilling True Story of the Largest Covert Biological Weapons Program in the World– Told from Inside by the Man Who Ran it. Delta (2000) ISBN 0-385-33496-6
  16. ^ "Biological Weapons and Warfare". Mei 1995. Diakses Mei 2010. 
  17. ^ a b c d e Dr. Arief B. Witarto (Agustus 2002). Bahaya Senjata Biologis. hlm. 1–3. 
  18. ^ a b (Inggris) "Biological Weapons Convention Sees Limited Progress in 2008". Februari 2009. 

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]