Sejarah pertanian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pada awal abad ke-20 didatangkan sapi penghasil susu Fries-Holland ke Jawa.

Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian.

Kawasan Hilal Subur di Asia Barat, serta Mesir dan India merupakan lokasi awal pembudidayaan tanaman untuk mendapatkan hasilnya. Sebelum aktivitas ini dimulai, manusia terbiasa mencari sumber makanan di alam liar. Pertanian berkembang secara independen di berbagai tempat di dunia, yaitu di China, Afrika, Papua, India, dan Amerika.[1]

Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, pertanian telah membawa revolusi yang besar dalam kehidupan manusia sebelum revolusi industri. Bahkan dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi kebudayaan pertama yang dialami manusia.

Setiap bagian di dunia memiliki perkembangan penguasaan teknologi pertanian yang berbeda-beda, sehingga garis waktu perkembangan pertanian bervariasi di setiap tempat. Di beberapa bagian di Afrika dan Asia Tengah masih dijumpai masyarakat yang semi-nomaden (setengah pengembara), yang telah mampu melakukan kegiatan peternakan atau bercocok tanam, namun tetap berpindah-pindah demi menjaga pasokan pangan. Sementara itu, di Amerika Utara dan Eropa traktor-traktor besar yang ditangani oleh satu orang telah mampu mendukung penyediaan pangan ratusan orang.

Asal-mula pertanian[sunting | sunting sumber]

Berakhirnya zaman es sekitar 11.000 tahun sebelum Masehi (SM) menjadikan bumi lebih hangat dan mengalami musim kering yang lebih panjang.[2] Kondisi ini menguntungkan bagi perkembangan tanaman semusim, yang dalam waktu relatif singkat memberikan hasil dan biji atau umbinya dapat disimpan. Ketersediaan biji-bijian dan polong-polongan dalam jumlah memadai memunculkan perkampungan untuk pertama kalinya, karena kegiatan perburuan dan peramuan tidak perlu dilakukan setiap saat.

Berbagai teori dan hipotesis mengemuka mengenai bagaimana manusia berpindah dari budaya berburu ke budaya bercocok tanam.

Hipotesis Oasis dikemukakan oleh Raphael Pumpelly pada tahun 1908 dan dipopulerkan oleh Vere Gordon Childe yang merangkum hipotesis tersebut ke dalam buku Man Makes Himself.[3] Hipotesis ini menyatakan bahwa ketika iklim menjadi lebih kering, komunitas populasi manusia mengerucut ke oasis dan sumber air lainnya bersama dengan hewan lain. Domestikasi hewan berlangsung bersamaan dengan penanaman benih tanaman.

Hipotesis Lereng Berbukit (Hilly Flanks) dikemukakan oleh Robert Braidwood pada tahun 1948 yang memperkirakan bahwa pertanian dimulai di lereng berbukit pegunungan Taurus dan Zagros, yang berkembang dari aktivitas pengumpulan biji-bijian di kawasan tersebut.[4]

Hipotesis Perjamuan dikemukakan oleh Brian Hayden yang memperkirakan bahwa pertanian digerakkan oleh keinginan untuk berkuasa dan dibutuhkan sebuah perjamuan besar untuk menarik perhatian dan rasa hormat dari komunitas. Hal ini membutuhkan sejumlah besar makanan.[5]

Teori Demografik diusulkan oleh Carl Sauer pada tahun 1952, yang diadaptasikan oleh Lewis Binford dan Kent Flannery. Mereka menjelaskan bahwa peningkatan populasi akan semakin mendekati kapasitas penyediaan oleh lingkungan sehingga akan membutuhkan makanan lebih banyak dari yang bisa dikumpulkan. Berbagai faktor sosial dan ekonomi juga mendorong keinginan untuk mendapatkan makanan lebih banyak.[6][7]

Hipotesis Evolusioner oleh David Rindos mengusulkan bahwa pertanian merupakan adaptasi evolusi bersama antara tumbuhan dan manusia. Diawali dengan perlindungan terhadap spesies liar, manusia lalu menginovasikan praktek budi daya berdasarkan lokasi sehingga domestikasi terjadi.[8]

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Penggambaran pertian pada zaman Mesir Kuno

Berdasarkan bukti-bukti peninggalan artefak, para ahli prasejarah saat ini bersepakat bahwa praktik pertanian pertama kali berawal di daerah "bulan sabit yang subur" di Mesopotamia sekitar 8000 SM. Pada waktu itu daerah ini masih lebih hijau daripada keadaan sekarang. Berdasarkan suatu kajian, 32 dari 56 spesies biji-bijian budidaya berasal dari daerah ini. Daerah ini juga menjadi satu dari pusat keanekaragaman tanaman budidaya (center of origin) menurut Nikolai Vavilov. Jenis-jenis tanaman yang pertama kali dibudidayakan di sini adalah gandum, jelai (barley), buncis (pea), kacang arab (chickpea), dan flax (Linum usitatissimum).

Di daerah lain yang berjauhan lokasinya dikembangkan jenis tanaman lain sesuai keadaan topografi dan iklim. Di Tiongkok, padi (Oryza sativa) dan jewawut (dalam pengertian umum sebagai padanan millet) mulai didomestikasi sejak 7500 SM dan diikuti dengan kedelai, kacang hijau, dan kacang azuki. Padi (Oryza glaberrima) dan sorgum dikembangkan di daerah Sahel, Afrika 5000 SM. Tanaman lokal yang berbeda mungkin telah dibudidayakan juga secara tersendiri di Afrika Barat, Ethiopia, dan Papua. Tiga daerah yang terpisah di Amerika (yaitu Amerika Tengah, daerah Peru-Bolivia, dan hulu Amazon) secara terpisah mulai membudidayakan jagung, labu, kentang, dan bunga matahari.

Kondisi tropika di Afrika dan Asia Tropik, termasuk Indonesia, cenderung mengembangkan masyarakat yang tetap mempertahankan perburuan dan peramuan karena relatif mudahnya memperoleh bahan pangan. Migrasi masyarakat Austronesia yang telah mengenal pertanian ke wilayah kepulauan Indonesia membawa serta teknologi budi daya padi sawah serta perladangan.

Sejarah berdasarkan lokasi[sunting | sunting sumber]

Mesin pemanen bangsa Romawi yang ditarik oleh hewan
Mural pada Dinasti Han mural, menggambarkan aktivitas pembajakan di Shennong
Petani Inca menggunakan chaki taklla, sebuah alat pembajak tanah

Kerajaan Romawi[sunting | sunting sumber]

Pertanian pada zaman Romawi berkembang dengan berdasarkan praktek pertanian yang telah ditemukan oleh bangsa Sumeria yang ditransfer melalui runtunan kebudayaan. Pertanian bangsa Romawi memiliki fokus utama sebagai perdagangan dan ekspor. Bangsa Romawi meletakkan dasar sistem ekonomi yang menjadi pondasi Abad Pertengahan. Ukuran lahan usaha tani dapat dibagi menadi tiga kategori, yaitu lahan usaha tani ukuran kecil (berukuran 18-88 iugera), ukuran menengah (80-500 iugera), dan ukuran besar (disebut latifunda, berukuran lebih dari 500 iugera). Ukuran satu iugera sekitar 0.65 acre.[9]

Bangsa romawi memiliki empat sistem manajemen pertanian, yaitu diatur langsung oleh pemilik lahan dan keluarganya; memanfaatkan budak pekerja dengan diawasi oleh pengawas budak; sistem bagi hasil (sharecropping) antara pemilik lahan dan penyewa lahan; dan disewakan.[9] Setiap provinsi memiliki spesialisasi tersendiri dan saling mensuplai hasil pertanian satu sama lain. Beberapa memproduksi serealia, lainnya memproduksi minuman anggur, dan yang lainnya memproduksi zaitun, tergantung jenis lahan yang terdapat diprovinsi tersebut.

China[sunting | sunting sumber]

Catatan sejarah yang ada sejak tahun 481 SM hingga 220 M menggambarkan perkembangan pertanian di China yang mencakup sistem lumbung nasional dan praktek serikultur atau budi daya ulat sutra. Perdagangan dan pemanfaatan secara kuliner juga tercatat.[10]

China telah mengembangkan mesin tumbuk bertenaga air pada abad ke 1 SM khusus digunakan untuk pertanian.[11] Pompa rantai telah ditemukan pada abad ke 1 M bertenaga air maupun hewan, yang menggerakan sistem roda mekanik.[12] Pompa ini terutama digunakan untuk mengairi saluran irigasi, namun juga bisa digunakan untuk menyediakan air bagi masyarakat.[13][14]

Indus[sunting | sunting sumber]

Kapas dibudidayakan pertama kali pada milenium ke 5 SM di India.[15] Sedangkan gandum dan barley didomestikasikan sejak tahun 9000 SM. Domestikasi domba, kambing, dan sapi terjadi beberapa lama setelah itu.[16][17][18] Sekitar tahun 8000 SM- hingga 6000 SM, domestikasi gajah juga terjadi.[16] Praktek pertanian yang paling mencolok mencakup perontokan, penanaman dengan sistem baris, dan sistem lumbung.[18][19] Pada milenium ke 5 SM, peradaban pertanian menjadi umum di Kashmir.[18] Padi telah menjadi bahan baku makanan utama masyarakat India sejak tahun 8000 SM.[20][21] Perkembangan kebudayaan lainnya pada bidang pertanian lalu muncul dan mengembangkan budi daya padi di Asia Tenggara.

Irigasi berkembang di peradaban lembah sungai Indus sekitar 4500 SM.[22] Ukuran peradaban dan kesejahteraan tumbuh sehingga membutuhkan perencanaan sipil seperti drainase dan selokan.[22] Bajak yang ditarik oleh hewan dimulai pada tahun 2500 SM di tempat tersebut.[23]

Amerika Tengah[sunting | sunting sumber]

Di Amerika Tengah, teosinte liar didomestikasikan melalui seleksi sehingga memunculkan jagung, lebih dari 6000 tahun yang lalu. Jagung lalu tersebar di Amerika Utara dan menjadi tanaman pertanian utama masyarakat pribumi di sana hingga kehadiran bangsa penjelajah dari Eropa.[24] Tanaman pertanian utama lainnya meliputi labu, kacang-kacangan, dan kakao. Kalkun juga didomestikasikan pertama kali di Meksiko atau selatan Amerika Serikat.

Di Amerika Tengah, bangsa Aztec merupakan masyarakat yang aktif bercocok tanam dan memiliki ekonomi berbasis pertanian. Lahan di sekitar danau Texcoco ketika itu merupakan lahan yang subur dan cukup untuk memproduksi pangan bagi kerajaan yang sedang berkembang. Bangsa Aztec juga mengembangkan irigasi, teras di lereng gunung, dan pemupukan. Chinampa merupakan salah satu temuan terbesar mereka, yang disebut juga dengan "kebun terapung".

Amerika Selatan[sunting | sunting sumber]

Di sekitar kawasan Andes, Amerika Selatan, kentang menjadi tanaman domestikasi utama yang terjadi sejak 5000 tahun yang lalu. Sejumlah besar kacang-kacangan juga didomestikasikan. Llama, alpaca, dan guinea pig menjadi hewan yang didomestikasikan. Tumbuhan koka masih menjadi tanaman pertanian utama sampai sekarang.

Peradaban Andes didominasi oleh masyarakat pertanian. Bangsa Inca telah memahami peran cuaca dan tanah bagi pertanian. Adaptasi teknologi pertanian telah digunakan secara terencana dan memungkinkan produksi berbagai jenis hasil pertanian di berbagai tempat seperti pinggir pantai, gunung, dan hutan.

Amerika Utara[sunting | sunting sumber]

Masyarakat pribumi di kawasan timur Amerika Serikat telah membudidayakan berbagai jenis tanaman seperti bunga matahari, tembakau, berbagai jenis labu dan Chenopodium, juga tanaman yang tidak lagi dibudidayakan seperti marshelder dan jelai kecil.[25][26][27] Padi liar dan maple juga telah dibudidayakan. Strawberry dibudidayakan pertama kali di Amerika bagian timur laut.[28] Pecan dan anggur Concord, pernah dibudidayakan, namun sempat menghilang hingga kembali dibudidayakan pada abad ke 19.[29][30]

Masyarakat pribumi di kawasan yang saat ini California dan Pasifik melakukan berbagai jenis usaha kebun hutan dan pertanian tongkat api (fire-stick farming) di kawasan padang rumput, hutan, dan rawa. Mereka mampu memanfaatkan ekologi api sehingga tidak menyebabkan kebakaran hutan dan mampu menunjang usaha pertanian berkelanjutan secara berpindah (permakultur alam liar").[31][32][33][34]

Australia[sunting | sunting sumber]

Hingga dimulainya kolonisasi Inggris di Australia pada tahun 1788, masyarakat pribumi Australia dicirikan sebagai masyarakat pemburu dan pengumpul yang tidak melakukan aktivitas pertanian atau bentuk produksi pangan lainnya. Namun Rhys Jones mengemukakan pada tahun 1969 bahwa masyarakat pribumi Australia mungkin melakukan pembakaran padang rumput dan hutan secara sistematis untuk mempertahankan tanaman tertentu dan menghilangkan tanaman yang tidak dibutuhkannya.[35] Pada tahun 1970an dan 1980an, sebuah penelitian arkeologi yang dilakukan di Victoria menemukan bahwa pemeliharaan belut dan sistem penjebakan ikan telah ada sejak 5000 tahun yang lalu.[36]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ the history of maize cultivation in southern Mexico dates back 9000 years. New York Times, accessdate=2010-5-4
  2. ^ john, doe. "Climate". National Climate Data Center. National Climate Data Center. Diakses 1 December 2013. 
  3. ^ Childe, Gordon. (1936) Man Makes Himself (Oxford University Press).
  4. ^ Charles L. Redman (1978). Rise of Civilization: From Early Hunters to Urban Society in the Ancient Near East. San Francisco, Freeman.
  5. ^ Hayden, Brian (1992). "Models of Domestication". In Anne Birgitte Gebauer and T. Douglas Price. Transitions to Agriculture in Prehistory. Madison: Prehistory Press. hlm. 11–18. 
  6. ^ Sauer, Carl, O (1952). Agricultural origins and dispersals. Cambridge, MA: MIT Press. 
  7. ^ Binford, Lewis R. (1968). "Post-Pleistocene Adaptations". In Sally R. Binford and Lewis R. Binford. New Perspectives in Archaeology. Chicago: Aldine Publishing Company. hlm. 313–342. ISBN 0-202-33022-2. 
  8. ^ Rindos, David (December 1987). The Origins of Agriculture: An Evolutionary Perspective. Academic Press. ISBN 978-0-12-589281-0. 
  9. ^ a b White, K. D. (1970), Roman Farming (Cornell University Press)
  10. ^ Needham, Volume 6, Part 2, 57.
  11. ^ Needham, Joseph (1986). Science and Civilization in China: Volume 4, Physics and Physical Technology, Part 2, Mechanical Engineering. Taipei: Caves Books, Ltd. p184
  12. ^ Needham, Volume 4, Part 2, 89, 110.
  13. ^ Needham, Volume 4, Part 2, 33.
  14. ^ Needham, Volume 4, Part 2, 110.
  15. ^ Stein, Burton (1998). A History of India. Blackwell Publishing. 47. ISBN 0-631-20546-2.
  16. ^ a b Gupta, Anil K. in Origin of agriculture and domestication of plants and animals linked to early Holocene climate amelioration, Current Science, Vol. 87, No. 1, 10 July 2004 59. Indian Academy of Sciences.
  17. ^ Baber, Zaheer (1996). The Science of Empire: Scientific Knowledge, Civilization, and Colonial Rule in India. State University of New York Press. 19. ISBN 0-7914-2919-9.
  18. ^ a b c Harris, David R. and Gosden, C. (1996). The Origins and Spread of Agriculture and Pastoralism in Eurasia: Crops, Fields, Flocks And Herds. Routledge. p.385. ISBN 1-85728-538-7.
  19. ^ Possehl, Gregory L. (1996). Mehrgarh in Oxford Companion to Archaeology, edited by Brian Fagan. Oxford University Press.
  20. ^ Nene, Y. L., Rice Research in South Asia through Ages, Asian Agri-History Vol. 9, No. 2, 2005 (85–106)
  21. ^ "rice". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica. 2008. 
  22. ^ a b Rodda & Ubertini (2004). The Basis of Civilization--water Science?. International Association of Hydrological Science. 279. ISBN 1-901502-57-0.
  23. ^ Lal, R. (August 2001). "Thematic evolution of ISTRO: transition in scientific issues and research focus from 1955 to 2000". Soil and Tillage Research 61 (1–2): 3–12 [3]. doi:10.1016/S0167-1987(01)00184-2 
  24. ^ S. Johannessen and C. A. Hastorf (eds.) Corn and Culture in the Prehistoric New World, Westview Press, Boulder, Colorado.
  25. ^ Heiser, Carl B., Jr. (1992) On possible sources of the tobacco of prehistoric Eastern North America. Current Anthropology 33:54-56.
  26. ^ Prehistoric Food Production in North America, edited by Richard I. Ford. Museum of Anthropology, University of Michigan, Anthropological Papers 75.
  27. ^ Adair, Mary J. (1988) Prehistoric Agriculture in the Central Plains. Publications in Anthropology 16. University of Kansas, Lawrence.
  28. ^ Paul E. Minnis (editor) (2003) People and Plants in Ancient Eastern North America. Smithsonian Institution Press, Washington, D.C.
  29. ^ "Pecans at Texas A&M University". Pecankernel.tamu.edu. 2006-08-18. Diakses 2010-06-03. 
  30. ^ The History of Concord Grapes, http://www.concordgrape.org/bodyhistory.html
  31. ^ Neil G. Sugihara, Jan W. Van Wagtendonk, Kevin E. Shaffer, Joann Fites-Kaufman, Andrea E. Thode, ed. (2006). "17". Fire in California's Ecosystems. University of California Press. hlm. 417. ISBN 978-0-520-24605-8. 
  32. ^ Blackburn, Thomas C. and Kat Anderson, ed. (1993). Before the Wilderness: Environmental Management by Native Californians. Menlo Park, California: Ballena Press. ISBN 0879191260. 
  33. ^ Cunningham, Laura (2010). State of Change: Forgotten Landscapes of California. Berkeley, California: Heyday. hlm. 135, 173–202. ISBN 1597141364. 
  34. ^ Anderson, M. Kat (2006). Tending the Wild: Native American Knowledge And the Management of California's Natural Resources. University of California Press. ISBN 0520248511. 
  35. ^ Jones, R. (1969) Fire-stick Farming. Australian Natural History, 16:224
  36. ^ Williams, E. (1988) Complex Hunter-Gatherers: A Late Holocene Example from Temperate Australia. British Archaeological Reports, Oxford

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

  • Bar-Yosef, O. and Meadows, R. H. The origins of agriculture in the Near East. In T. D. Price and A. Gebauer (eds) Last Hunters – First Farmers: New Perspectives on the Prehistoric Transition to Agriculture, pp. 39–94 (1995).
  • Bowman, Alan K. and Rogan, Eugene, eds. Agriculture in Egypt: From Pharaonic to Modern Times (1999). 427 pp.
  • Cohen, M.N. The Food Crisis in Prehistory: Overpopulation and the Origins of Agriculture (1977)
  • Collingham, E. M. The Taste of War: World War Two and the Battle for Food (2011)
  • Crummey, Donald and Stewart, C. C., eds. Modes of Production in Africa: The Precolonial Era (1981). 256 pp.
  • Jared Diamond, Guns, germs and steel. A short history of everybody for the last 13'000 years, 1997.
  • Federico, Giovanni, Feeding the World: An Economic History of Agriculture 1800-2000 (2005) 416pp. highly quantitative
  • Rupert Gerritsen, Australia and the Origins of Agriculture (2008) (online Google Books preview)
  • Grew, Raymond. Food in Global History (1999) online edition
  • Habib, Irfan. Agrarian System of Mughal India (2nd ed. 1999).
  • Heiser, Charles B. Seed to Civilization: The Story of Food (1990).
  • Hillman, G. C. Late Pleistocene changes in wild plant-foods available to hunter-gatherers of the northern Fertile Crescent: Possible preludes to cereal cultivation. In D. R. Harris (ed.) The Origins and Spread of Agriculture and Pastoralism in Eurasia, pp. 159–203. (1996).
  • Kerridge, Erik. "The Agricultural Revolution Reconsidered." Agricultural History, 1969 43:4, 463-75. in JSTOR in Britain, 1750–1850
  • Ludden, David, ed. New Cambridge History of India: An Agrarian History of South Asia (1999). excerpt and online search from Amazon.com; also online edition
  • McNeill, William H. "How the Potato Changed the World's History." Social Research 1999 66(1): 67–83. Issn: 0037-783x Fulltext: Ebsco, by a leading historian
  • Mazoyer, Marcel, and Laurence Roudart' A History of World Agriculture: From the Neolithic Age to the Current Crisis, New York: Monthly Review Press, 2006, ISBN 1-58367-121-8, Marxist perspective
  • Mintz, Sidney. Sweetness and Power: The Place of Sugar in Modern History (1982)
  • Prentice, E. Parmalee. Hunger and history: the influence of hunger on human history (1939). online edition
  • Reader, John. Propitious Esculent: The Potato in World History (2008), 315pp a standard scholarly history
  • Salaman, Redcliffe N. The History and Social Influence of the Potato, (1949)
  • Sato, Y. 2003 Origin of rice cultivation in the Yangtze River basin. In Y. Yasuda (ed.) The Origins of Pottery and Agriculture, pp. 143–150. (2003)
  • Tauger, Mark. Agriculture in World History (2008)
Eropa
  • Ambrosoli, Mauro. The Wild and the Sown: Botany and Agriculture in Western Europe, 1350-1850 (1997). 460 pp.
  • Bakels, C. C. The Western European Loess Belt: Agrarian History, 5300 BC - AD 1000 (2009)
  • Brown, Jonathan. Agriculture in England: A Survey of Farming, 1870-1947 (1987)
  • Dovring, Folke, ed. Land and labor in Europe in the twentieth century: a comparative survey of recent agrarian history . 1965. 511 pp
  • Gras, Norman. A history of agriculture in Europe and America, (1925). free online edition
  • Harvey, Nigel. The Industrial Archaeology of Farming in England and Wales (1980). 232 pp.
  • Herr, Richard, ed. Themes in Rural History of the Western World (1993). 277 pp.
  • Hoffman, Philip T. Growth in a Traditional Society: The French Countryside, 1450-1815 (1996). 361 pp.
  • Isager, Signe and Jens Erik Skydsgaard. Ancient Greek Agriculture: An Introduction (Routledge, 1995)
  • Kussmaul, Ann. A General View of the Rural Economy of England, 1538-1840 (1990). 216 pp.
  • Langdon, John. Horses, Oxen and Technological Innovation: The Use of Draught Animals in English Farming from 1066 to 1500 (1986). 331 pp.
  • McNeill, William H. "The Introduction of the Potato into Ireland," Journal of Modern History 21 (1948): 218–21. in JSTOR
  • Murray, Jacqueline. The First European Agriculture (1970)
  • Slicher van Bath, B. H. The agrarian history of Western Europe, AD 500-1850
  • Thirsk, Joan, et al. The Agrarian History of England and Wales (8 vol 1978)
  • Williamson, Tom. Transformation Of Rural England: Farming and the Landscape 1700-1870 (2002)
Amerika Serikat
  • Cochrane, Willard W. The Development of American Agriculture: A Historical Analysis (1993)
  • Fite, Gilbert C. American Farmers: The New Minority (1981)
  • Gras, Norman. A history of agriculture in Europe and America, (1925). online edition
  • Gray, L.C. History of agriculture in the southern United States to 1860 (1933) Volume I online; Volume 2 online
  • Hart, John Fraser. The Changing Scale of American Agriculture. U. of Virginia Press, 2004. 320 pp.
  • Hurt, R. Douglas. American Agriculture: A Brief History (2002)
  • Mundlak, Yair. "Economic Growth: Lessons from Two Centuries of American Agriculture." Journal of Economic Literature 2005 43(4): 989-1024. Issn: 0022-0515 Fulltext: in Ebsco
  • Robert, Joseph C. The story of tobacco in America (1949) online edition
  • Russell, Howard. A Long Deep Furrow: Three Centuries of Farming In New England (1981)
  • Schafer, Joseph. The social history of American agriculture (1936) online edition
  • Schlebecker John T. Whereby we thrive: A history of American farming, 1607-1972 (1972)
  • Weeden, William Babcock. Economic and Social History of New England, 1620-1789 (1891) 964 pages; online edition
  • Yeargin, Billy. North Carolina Tobacco: A History (2008)
Australia
  • Bill Gammage, The Biggest Estate on Earth: How Aborigines Made Australia (2011).
  • Rupert Gerritsen, Australia and the Origins of Agriculture (2008).
  • Jones, R. Fire-stick Farming. Australian Natural History, 16(1969): 224.
  • Lourandos, H. Continent of Hunter-Gatherers: New Perspectives in Australian Prehistory (1997)
  • Williams, E. Complex Hunter-Gatherers: A Late Holocene Example from Temperate Australia (1988).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]