Sejarah Chechnya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Konflik yang terjadi di Chechnya sangat berpengaruh terhadap hubungan antara orang Rusia dan orang Chechen (penduduk Chechnya). Krisis Beslan pada tahun 2004 lalu merupakan puncak ketegangan antara bangsa Rusia dan bangsa Chechen. Berikut tahapan-tahapan dalam sejarah perlawanan bangsa Chechen terhadap Rusia:

Periode Pertama

Dimulai pada pertengahan abad 16 dan berakhir pada akhir abad 17, ditandai dengan kolonisasi yang damai di daerah tersebut. Ciri khas daerah ini pada masa itu adalah hubungan sekutu antar vassal (daerah kekuasaan dengan raja-raja kecil yang berkumpul menjadi satu kesatuan di bawah penguasa yang lebih besar) yang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin bangsa Chechen dengan keluarga Tsar di Moscow. Moskow sudah mulai bermaksud meluaskan pengaruhnya di bidang politik dan ekonomi. Pada masa itulah banyak penduduk dan pemimpin Chechen yang tertarik dengan pendekatan-pendekatan Moskow, dan mulai mengakui (dengan sukarela) kekuasaan Moskow di daerah mereka.

Periode Kedua

Masa ini terjadi selama abad ke 18, ditandai dengan ekspansi militer pertama Rusia ke wilayah Utara pegunungan Kaukasus. Di bawah pimpinan Peter I, dan kemudian Catherine II, Rusia mulai berhasil mengkolonisasi daerah pegunungan itu.

Walaupun perlawanan rakyat Chechnya telah dimulai pada tahun 1781, namun baru pada tahun 1785 perlawanan Chechnya terhadap terjangan Rusia mulai terasa ketika berada di bawah pimpinan Sheikh Mansur. Pada masa itulah bangsa Chechen mulai membangkitkan perlawanan bersenjata mereka guna memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan mereka. Sheikh Mansur-lah yang dikenal pernah mencoba untuk menyatukan daerah Utara Kaukasus menjadi satu negara Islam yang merdeka dari Rusia, namun tidak berhasil,namun namanya masih tetap dikenal hingga sekarang.

Gerakan anti kolonial Chechnya ini dimulai oleh orang-orang dataran tinggi, yang kemudian dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lain. Perlawanan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang dari golongan bawah yang merasakan ketidakadilan dalam pemerintahan. Pada awalnya kaum usahawan dan bangsawan setempat juga ikut menyumbangkan andil mereka lewat bantuan logistik dan sumbangan orang-orang pekeja mereka dalam peperangan, namun sejak mulai dicanangkannya gerakan anti-feodal oleh Sheikh Mansur, mereka mulai bergabung ke dalam faksi-faksi yang pro-Moskow. Imam pertama ini berjuang hanya sekitar 6 tahun saja, dan meninggal ketika tentaranya kalah di benteng Schulsselburg pada tahun 1791.

Periode Ketiga

Hubungan antara bangsa Rusia dan Chechen bertambah retak pada awal abad ke-19, ketika Jenderal A.P. Yermolov menjadi pemimpin pasukan Rusia di wilayah Kaukasus itu, dimana tentara Tsar mulai masuk ke daerah-daerah terkecil Chechnya sekalipun. Pasukan perlawanan Chechnya saat itu dipimpin oleh Beibulat Taimiev, yang sudah berkuasa selama 30 tahun, dimana ia dinilai sangat berhasil mempersatukan sebagian besar bangsa Chechen ke dalam satu kesatuan perlawanan. Ia juga mempunyai impian dengan menyatukan gerakan perlawanan Chechnya-nya dengan pemimpin-pemimpin feodal dari Utara Kaukasus yang sudah retak. Ia kemudian diajak berunding, dengan tujuan menghindari perang besar yang berkelanjutan dengan Rusia, tanpa mengesampingkan keinginan Chechnya untuk merdeka, demi kebebasan bangsanya. Namun ajakan damai itu ternyata merupakan muslihat pihak Rusia, dan diakhri dengan pembunuhan yang semakin menyulut perlawanan Chechnya yang lebih besar.

Tahun 1828 menjadi titik tolak dari perang Kaukasia. Perlawanan kaum pro-kemerdekaan dari daerah dataran tinggi Chechnya dan Daghestan mulai dipengaruhi “muridisme” yang membuat pemimpin-pemimpin gerakan perlawanan semacam Imam Gazi-Magomed, Gamzat-Bek, Shamil, dan Tashov-Khadzi mulai mengobarkan ‘gazavat’, semacam perang jihad. Tahun 1834 Imam Shamil berhasil mewujudkan impian Sheik Mansur dengan menyatukan bagian-bagian dari orang-orang gunung Kaukasus Utara dalam satu perlawanan melawan kekuasaan Rusia dan mendirikan pemerintahan teokratis Sharia, yang dikenal dengan nama imamat selama 27 tahun.

Pada tahun 1859 Shamil mengalami kekalahan dan menjadi tahanan istimewa dari Tsar Alexander II. Rakyat Chechnya kemudian berada di bawah kekuasaan administrasi militer Moskow, namun mendapatkan otonomi dalam permasalahan regional mereka seperti yang dijanjikan oleh Tsar kepada Shamil. Ketika Perang Dunia I pecah, Rusia membuat perjanjian dengan Turki Ottoman, dimana mereka akan mendapatkan bantuan dari penduduk setempat, yang kemudian dikirimkan sebagai bala tentara yang kuat, dan Rusia mendapat keuntungan dengan berkurangnya risiko perlawanan dengan berkurangnya bangsa Chechen yang gampang bergolak.

Menyadari akal Rusia, bangsa Chechen mulai bergolak lagi, dan ditanggapi secara preventif oleh pasukan Tsar dengan menghilangkan, mengasingkan, maupun mengusir para pemimpin perlawanan. Pada kenyataannya hal ini tidak berpengaruh, karena rakyat Chechnya mulai berkaca dan menyadari bahwa hukum kebebasan yang berlaku pada rakyat Kekaisaran Rusia tidak berlaku terhadap mereka. Chechnya diperintah oleh kekuasaan militer yang sangat tidak adil dan manusiawi.

Mengamati penyebab dari Perang Kaukasia ini, dapat dilihat ini akibat dari ekspansi tentara rezim tsar, dan tidak lepas dari konflik internal antar pemimpin Chechnya yang menginginkan kekuasaan dan pengaruh di antara rakyat dataran tinggi/gunung. Perlawanan kaun separatis Chechnya (yang biasanya berasal dari etnis-etnis keras dan golongan Islam garis keras) selama berusaha memisahkan diri dari Rusia selalu mendapat perlawanan dari saudara mereka sendiri yang lebih pro-Rusia (biasanya berasal dari pemimpin-pemimpin yang sekuler maupun kaum agamis yang tradisional). Perlawanan ini juga tidak erlepas dari keadaan Chechnya yang sedari dulu diliputi kemiskinan, padahal daerah mereka kaya akan hasil-hasil tambang dan pertanian, yang hasilnya tidak pernah mereka nikmati sendiri. Hal ni menunjukkan sistem pemerintahan kolonial yang tidak baik dan campur tangan dari penguasa-penguasa setempat.

Peperangan antara bangsa Rusia-Chechen ini membuat kita menyadari bahwa telah terjadi ketidaksamaan tujuan dari pemimpin-pemimpin setiap pihak tentang bagaimana bentuk daerah Chechnya semestinya. Terlebih sentimen yang muncul disebabkan oleh perbedaan religiusitas. Gangguan dan kekerasan yang banyak terjadi sejak pertama kalinya pendudukan Rusia mengusik pola kehidupan tradisional bangsa Chechen yang sangat dipengaruhi agama mereka, Islam, sebagai agama minoritas di Rusia. Maka tidak heranlah perlawanan dengan gampangnya bergolak karena didasari oleh semangat anti kafir yang diteriakkan lewat jihad yang mereka namakan gazavat.

Seperti yang terjadi di saat Rusia mengerahkan kekuatan penuh untuk membungkam kekuatan nasionalis Chechnya di mana memang hanya sedikit yang berpatisipasi langsung dalam peperangan itu, namun mereka semua (bangsa Chechen) merasa berperang melawan Rusia. Bahkan karena terjadi konflik kepentingan internal, terjadi juga perang saudara, atau bahkan tidak memilih, yang berarti melawan kedua kekuatan, Rusia dan Chechen.

Periode Keempat

Dimulai pada akhir abad ke-19, dimana secara konstitusional Chechnya merupakan bagian dari Rusia, pada masa ini rezim tsar di Chechnya banyak melakukan penipuan dan perampokan semena-mena. Hal ini dengan cepat ditanggapi oleh pemerintahan tsar yang mulai berpikir bahwa kekerasan tidak akan berhasil mengatasi masalah orang-orang gunung ini. Yang diperlukan adalah kebudayaan dan modernisasi, yang dituangkan dengan jalan membentuk kesatuan polisi daerah dari orang-orang Chechen yang tunduk kepada Rusia, dan mendirikan sekolah Rusia di sana, yang secara tidak langsung mengajak orang-orang gunung untuk lebih memfokuskan diri kepada perekonomian, bukan lagi perang semata. Di Grozny minyak bumi mulai disedot dan disuling, jalur kereta api dibuat. Pada masa ini pulalah kekuatan Chechnya dikomandoi oleh Kunta-Khadzhi, Solet-Khadzhi, Deni-Sheikh Arsanov, Bammat-Girei Mitaev, Ali Mitaev, Sugaip-Mulla, dan penganut agama Islam tradisional mereka saja. Masa ini juga dikenal sebagai masa damai yang dikarenakan kondisi pemerintahan yang mulai melonggarkan peraturan pendudukan etnis yang menandakan gerakan liberasisasi sistem sosial Rusia menuju monarki konstitusional.

Para pemuka Chechnya saat ini mencoba berkompromi dengan membiarkan pembangunan berjalan terus di daerahnya, dan mengikutsertakan pejuang-pejuang tangguhnya dalam hampir semua perang Rusia, walau dengan perlakuan diskriminatif terhadap etnis mereka yang terus berlangsung. Dalam peperangan ini, khususnya melawan Turki, Jepang, dan Jerman, resimen Chechnya dan Ingush merupakan pasukan elite yang bahkan mendapatkan pujian dari Tsar Nicholas II sendiri.

Di tempat kelahiran mereka, awal abad ke-20 ditandai dengan tekanan-tekanan terhadap perlawanan orang-orang gunung yang tidak habis-habis, yang tentu saja dibalas dengan sikap berani mati oleh sebagian besar bangsa Chechen. Pada masa ini pula mulai berkembang pengaruh Partai Sosial Demokrat yang menyaingi ideologi Islam.

Periode Kelima

Ketika terjadi revolusi dan Perang Saudara (dari 1917 sampai 1925) Chechnya semakin panas, karena rakyatnya terbagi lagi menjadi tiga kubu:

1. Nasionalis yang menginginkan bergabungnya Chechnya ke dalam Soviet (Komunis).

2. Nasionalis Demokrat yang menginginkan bergabungnya orang-orang gunung dan tetangga Barat mereka ke dalam sebuah kesatuan negara.

3. Nasionalis radikal yang berorientasi hanya kepada Islam dan bersemangat menggabungkan Chechnya ke dalam Turki.

Perjuangan rakyat Chechnya banyak bermunculan, contohnya dengan usaha membentuk sebuah negara teokratik merdeka buatan Sheikh Uzunkhadzhi, juga pembuatan sebuah negara yang lebih sekuler (Repulik Mountaineers pada tahun 1918). Kedua-duanya memang gagal, namun pihak Chechnya lain yang tidak sependapat akhirnya memutuskan umtuk mengabdikan diri mereka kepada Sovyet yang menjanjikan kebebasan, persamaan, tanah, dan kekuasaan. Pada kenyataannya, slogan Sovyet pada masa revolusi “masa depan yang lebih baik” tidak pernah terwujud juga di Chechnya. Bangsa Chechen akhirnya angkat senjata juga pada masa razim Stalin. Kekacauan dan kerusuhan semakin berubah menjadi perang gerilya. Pada masa ini banyak terjadi genocide (pemusnahan banyak orang dalam satu waktu) dan pengusiran kepada beberapa petinggi Chechnya. Hampir 40% orang Chechnya yang hilang atau tidak jelas keberadaannya.

Setelah masa Stalin, muncul pemikiran untuk membangkitkan lagi Republik Mandiri Sosialis Sovyet Chechnya-Ingush, sebagai salah satu negara satelit Sovyet. Pejuang-pejuang lama yang dulu dibuang dan diasingkan semacam Vainakhs, kembali lagi. Yang patut disayangkan, betapa rehabilitasi wilayah dan politik bangsa Chechen dan Ingush tidak pernah diwujudkan.

Bangsa Chechen merasa bahwa mereka menjadi warga kelas dua di tanah leluhur mereka sendiri. Budaya tradisional Chechen dan Ingush dilarang penggunaan dan pengetahuannya, karen amenginginkan satu budaya yang sama, Rusia. Mengajar di sekolah ataupun instansi-instansi resmi harus menggunakan bahasa Rusia. Bahasa mereka pun secara langsung hanya digunakan di dalam rumah saja. Pembudayaan Rusia ini akhirnya menghanguskan budaya tradisional mereka.

Pada tahun 1960-an, muncul keberanian dari sebagian warga Chechnya untuk mengirim surat/petisi kolektif kepada Central Committee Partai Komunis di Moskow yang mengkritik sikap pemerintah daerah mereka terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbudaya mereka. Tapi reaksinya sangat negatif, bahkan terkesan menutup mata atas apa yang terjadi di sana. Kejadian ethnocide ini akhirnya berlangsung selama 30 tahun, dan mematikan unsur-unsur dasar kehidupan suku bangsa Chechen dan Ingush, serta menimbulkan trama yang tidak gampang dilupakan bagi korban pemaksaan itu. Ketika kehormatan sosial sebagai bangsa mereka dicabut, kehormatan sebagai sutau bangsa diinjak-injak dan digantikan oleh ‘nasionalisme’ Rusia yang berusaha memasuki kehidupan mereka dengan cepat dan memaksa laksana kanker. Proses ini terus berlangsung, dan memuncak ketika disintegrasi Uni Sovyet terjadi tahun 1991, dan etnonasonalisme baru muncul.

Periode Keenam

Masa Gorbachev dengan perestroika, Uni Sovyet yang hancur memancing perang kemerdekaan baru bagi bangsa Chechen. Dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, ibukota Grozny direbut pada tahun 1991. Proklamasi mereka diumumkan, namun tetap tidak diakui presiden Rusia terpilih, Boris Yeltsin. Keadaan memanas ketika sebelum Sovyet runtuh, Amerika Serikat ikur melatih laskar-laskar jihad melalui CIA untuk membangkitkan perlawanan di daerah-daerah Rusia, bahkan Osama bin Laden merupakan produk CIA. Dudayev yang meninggal akibat serangan roket tahun 1995, digantikan oleh Aslan Mashkadov yang terpilih pada 1997. Pada awal tahun 1999, ia menjadikan Syariah Islam sebagai hukum negara, yang memicu perpecahan di dalam gerakan perlawanan Chechnya sendiri.

Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Chechen membantu gerakan perlawanan Islam di Dagestan, yang walaupun tanpa bukti yang kuat membuat Rusia melakukan serangan besar-besaran kembali. Bantuan ini diperkirakan memang pantas dilakukan mengingat keadaan geografis dan ikatan kultur-religius sesama Islam yang sedang tertindas Rusia. Perlawanan Chechnya ini diikuti juga serangkaian bom bunuh diri di kota-kota besar Rusia, yang sempat membuat ketakutan atas keberadaan etnis Kaukasus bagi orang awam. Respon pemerintah Rusia yang dipimpin Vladimir Putin sangat brutal, is memerintahkan perang skala besar dan pembumi hangusan daerah pertikaian, yang memaksa terjadinya pengungsian dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Tercatat 1,3 juta orang Chechen meninggalkan Chechnya yang sudah luluh lantah. Hal ini diperkirakan merupakan cara Rusia supaya lebih gampang menggempur Chechnya dengan anggapan bahwa yang tidak mengungsi adalah lawan mereka dan tidak perlu berpikir lagi. Bumi hangus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pasukan perlawanan gerilya. April tanggal 20 tahun 2000 ada tawaran gencatan senjata oleh Mashkadov, yang ditolak Rusia dengan alasan perlawanan mereka lebih kepada melindungi para kriminal dan penguasa setempat yang mangkir kepada pemerintahan Rusia. Dan pada bulan Juni pada tahun yang sama, terjadi lebih banyak kontak senjata, serangan bom bunuh diri, dan gempuran dari pasukan gerilya Chechnya yang menunjukkan perjuangan mereka masih panjang.

Maret 2003 disetujui diadakan referendum untuk menentukan bagaimana Chechnya merdeka sebagai sebuah negara bagian dan akan bergabung ke dalam Federasi Rusia (sebenarnya masih merupakan kontradiksi dimana hasilnya sangat tidak populer dan masih dianggap sebagai sebuah kecurangan politik Rusia oleh dunia luar), yang akhirnya menyetujui konstitusi baru bagi rakyat Chechnya. Bulan Oktober pada tahun yang sama Ahmad Kadirov, seorang kunci bagi Rusia untuk tetap berkuasa di Chechnya, terpilih menjadi presiden. 9 Mei 2004 saat Rusia merayakan hari kemenangan atas Jerman di Perang Dunia II, Kadirov dan beberapa orang terdekatnya terbunuh dalam serangan bom di stadion tempat ia menonton pertunjukan. Hal ini sangat mematahkan harapan Rusia. Kemudian serangan teror kembali berkecamuk di Rusia, yang dianggap berkaitan dengan masa pemilihan presiden baru bagi Chechnya.

Tapi kasus yang paling penting adalah di mana Rusia berusaha membebaskan sandera ratusan anak-anak yang berakhir dengan serangan ke dalam sekolah tanpa memedulikan hidup dari anak-anak tadi. Kontak senjata terjadi selama 10 jam yang mengakibatkan banyak bom terpicu dan meledakkan bebearapa bagian sekolah, dan menewaskan puluhan sandera. Hal ini mendapat kecaman betapa menunjukkan kekuatan Rusia yang kurang mahir dalam mengatasi negosiasi dengan teroris, yang mana ada indikasi no-compromice pemerintah Rusia dengan perlawanan Chechnya. Hal ini memancing kritik dari banyak negara yang justru mengecam Rusia akan geraka gegabahnya.

Kesimpulan

Chechnya03.png

Melihat pergerakan rakyat Chechnya yang memang sudah membudaya untuk segera merdeka sangatlah menunjukkan bahwa masih terjadi sejarah kejadian kelam yang belum selesai hingga sekarang. Masalah utamanya adalah hubungan antara satu bangsa yang bertetangga, namun sangat memaksa (Rusia dan Chechnya). Terjadi konfrontasi permanen antara keduanya sejak abad 18 sekalipun belum selesai hingga sekarang, yang ditunjukkan dengan pergolakan yang terus tumbuh (degenerasi) dan muncul hampir setiap 40 tahunan sekali. Operasi militer yang terjadi di daerah itu hanya menambah urutan warga negara yang meninggal, tapi tidak menyelesaikan masalah.

Etnonasionalisme dianggap sebagai cara terbaik mengatasi semua masalah Chechnya ini. Kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi bangsa ini telah terpuruk sebegitu dalamnya. Perjuangan mereka ini selalu menemui hambatan oleh kekerasan yang dilakukan Rusia yang tidak rela melepas negara ini sejak berabad-abad yang lalu, yang sebagian besar disebabkan oleh letaknya yang strategis sebagai daerah benteng (Pegunungan Kaukasus) alami yang susah ditembus dari luar, sebagai daerah jalur pipa minyak Rusia, serta daerahnya yang cukup subur akan hasil-hasil alam, khususnya minyak tadi.