Sejarah Azerbaijan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sejarah Azerbaijan adalah sejarah negara ini. Sejarah awal penduduk daerah yang kini dikenal sebagai Azerbaijan ialah bangsa Albania Kaukasia, bangsa penutur bahasa-bahasa Kaukasus yang muncul di daerah ini sebelum rombongan besar orang yang akhirnya menyerang Kaukasus. Secara historis Azerbaijan telah dilindungi berbagai bangsa, termasuk bangsa Persia, Yunani, Romawi, Armenia, Arab, Turki, Mongol dan Rusia.

Sebuah batu prasasti dalam bahasa Albania kuno, ditemukan di kota Mingachevir, Azerbaijan.

Kerajaan pertama yang muncul di Republik Azerbaijan masa kini ialah Mannae pada abad ke-9 M, berlangsung hingga 616 SM saat menjadi bagian Kekaisaran Media, yang kemudian menjadi bagian Kekaisaran Persia pada 549 M. Satrapi Atropatene dan Albania Kaukasia didirikan pada abad ke-4 SM dan termasuk kurang lebih wilayah negara kebangsaan Azerbaijan dan bagian selatan Dagestan masa kini.

Zaman pertengahan[sunting | sunting sumber]

Penaklukan Islam[sunting | sunting sumber]

Ekspansi kekhalifahan.
  Nabi Muhammad, 622–632
  Kekhalifahan Rasyidin, 632–661
  Kekhalifahan Umayyah, 661–750

Muslim Arab mengalahkan Sassaniyah dan Bizantium saat melakukan gerakan penaklukan ke wilayah Kaukasus. Khalifah menjadikan Albania Kaukasia sebagai negara vasal setelah perlawan Kristen, yang dipimpin Pangeran Javanshir, ia menyerah pada tahun 687.[1] Antara abad ke-9 dan ke-10, penulis Arab mulai mengacu pada wilayah antara Kura dan Aras sebagai Arran.[1] Selama waktu itu, orang Arab dari Basra dan Kufah datang ke Azerbaijan dan menguasai wilayah tersebut bahwa masyarakat adat sudah meninggalkannya.

Seljuk dan Mongol[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-11, Turki Seljuk yang menaklukkan menjadi kekuatan dominan di Azerbaijan dan meletakkan dasar etnis Azerbaijan masa kini. Pada abad ke-1314, negeri ini diserang bangsa Mongol-Tatar.

Safawiyah[sunting | sunting sumber]

Azerbaijan ialah bagian Kesultanan Persia Safavid selama abad ke-1518. Juga mengalami masa singkat perpecahan bangsawan pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19, dan terdiri atas kekhanan-kekhanan yang merdeka. Menyusul Perang Persia-Rusia antara Kesultanan Persia Qajar, seperti Ganja, Quba, Baku dan kekhanan-kekhanan merdeka lainnya, dan Kekaisaran Rusia, Azerbaijan direbut Rusia melalui Perjanjian Gulistan pada 1813, dan Perjanjian Turkmenchay pada 1828, dan beberapa perjanjian yang lebih awal antara tsar Rusia dan para khan berakhir pada dasawarsa pertama abad ke-19. Pada 1873, minyak ("emas hitam") ditemukan di kota Baku, ibukota Azerbaijan nantinya. Dari awal abad ke-20 hampir separuh cadangan minyak dunia disuling di Baku.

Sejarah Modern Azerbaijan[sunting | sunting sumber]

Setelah jatuhnya Kekaisaran Rusia selama Perang Dunia I, Azerbaijan bersama Armenia dan Georgia menjadi bagian Republik Federatif Demokratik Transkaukasus (RFDT) yang berumur pendek. Saat republik itu bubar pada Mei 1918, Azerbaijan menyatakan kemerdekaan sebagai Republik Demokrasi Azerbaijan (RDA). RDA ialah negara republik berpenduduk mayoritas Muslim pertama di dunia dan hanya berlangsung 2 tahun, dari 1918 hingga 1920, sebelum Tentara Merah menyerang Azerbaijan. Pada Maret 1922, Azerbaijan, bersama dengan Armenia dan Georgia, menjadi bagian Republik Sosialis Federasi Soviet Transkaukasia (RSFST) dalam Uni Soviet yang baru terbentuk. Pada 1936, RSFST bubar dan Azerbaijan menjadi republik bagian RSUS sebagai Republik Sosialis Soviet Azerbaijan (RSSA).

Selama Perang Dunia II, Jerman Nazi menyerang Uni Soviet. Tujuan utama serangan Operasi Edelweiss Adolf Hitler ialah mencaplok ibukota kaya minyak Azerbaijan, Baku. Karena alasan perang, pekerja minyak Soviet diwajibkan bekerja tanpa henti dan warganegaranya menggali parit dan rintangan antitank untuk menghalau kemungkinan serangan musuh. Namun, Operasi Edelweiss gagal. Pasukan Jerman pertama kali gagal di pegunungan Kaukasus, mereka kalah telak dalam Pertempuran Stalingrad.

Pada 1990, orang Azeri berkumpul untuk memprotes kekuasaan Soviet dan menuntut kemerdekaan. Secara brutal demonstrasi itu ditindas oleh campur tangan Soviet dalam peristiwa yang kini disebut orang Azeri sebagai Januari Hitam. Namun pada 1991, Azerbaijan memproklamasikan kemerdekaannya saat jatuhnya Uni Soviet. Sayangnya, tahun-tahun awal kemerdekaannya teralihkan dengan perang terhadap Armenia dan gerakan separatis Armenia atas kawasan Nagorno-Karabakh. Meski ada gencatan senjata di tempat sejak 1994, Azerbaijan belum memecahkan konflik dengan Armenia atas wilayah yang dominannya orang Armenia. Sejak akhir perang, Azerbaijan kehilangan kendali 14 - 16% wilayahnya termasuk Nagorno-Karabakh sendiri.[2][3] Sebagai akibat konflik, kedua negara menghadapi masalah pengungsi dan orang terlantar seperti kesulitan ekonomi.

Namun, mantan pemimpin Azeri Soviet Heydər Əliyev mengubah pola ini di Azerbaijan dan mulai mengeksploitasi cadangan minyaknya yang kaya di Baku, sesuatu yang membuat Azerbaijan terkenal. Heydər Əliyev juga membersihkan perjudian dan bisa menekan tingkat pengangguran di negara itu. Ia juga mencari hubungan lebih dekat dengan Turki saat secara serentak membuat usaha memecahkan konflik Karabakh secara damai dengan Armenia. Namun, keadaan politik di Azerbaijan tetap tegang khususnya setelah Heydar Əliyev, saat kematiannya, memilih putranya Ilham menyandang jabatan presiden. Kekuatan oposisi Azeri tak puas dengan pergantian dinasti ini dan menuntut pemerintahan demokratis.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b p. 71
  2. ^ (Inggris) Thomas De Waal. Black Garden: Armenia And Azerbaijan Through Peace and War. New York: New York University Press, h. 240. ISBN 0-8147-1945-7
  3. ^ (Inggris) CIA — The World Factbook. Azerbaijan.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Altstadt, Audrey. The Azerbaijani Turks: Power and Identity Under Russian Rule (Azerbaijan: Hoover Institution Press, 1992).
  • Ashurbeyli, S. "History of Shirvanshahs" Elm 1983, 408 (in Azeri)
  • Goltz, Thomas. "Azerbaijan Diary: A Rogue Reporter`s Adventures in an Oil-Rich, War-Torn, Post-Soviet Republic".M.E. Sharpe (1998). ISBN 0-7656-0244-X
  • Gasimov, Zaur: The Caucasus, European History Online, Mainz: Institute of European History, 2011, retrieved: November 18, 2011.
  • Kalankatu, Moisey (Movses). The History of Caucasian Albanians. transl by C. Dowsett. London oriental series, vol 8, 1961 (School of Oriental and African Studies, Univ of London)
  • At Tabari, Ibn al-Asir (trans by Z. Bunyadov), Baku, Elm, 1983?
  • Jamil Hasanli. At the Dawn of the Cold War: The Soviet-American Crisis Over Iranian Azerbaijan, 1941–1946, (Rowman & Littlefield; 409 pages; $75). Discusses the Soviet-backed independence movement in the region and argues that the crisis in 1945–46 was the first event to bring the Soviet Union in conflict with the United States and Britain after the alliance of World War II
  • Momen, M. An Introduction to Shii Islam, 1985, Yale University Press 400 p
  • Shaffer, B. Borders and Brethren: Iran and the Challenge of Azerbaijani Identity (Cambridge: MIT Press, 2002).
  • Swietochowski, Tadeusz. Russia and Azerbaijan: Borderland in Transition (New York: Columbia University Press, 1995).
  • Van der Leew, Ch. Azerbaijan: A Quest for Identity: A Short History (New York: St. Martin's Press, 2000).
  • History of Azerbajan Vol I-III, 1960 Baku (in Russian)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]