Sedadi, Penawangan, Grobogan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sedadi adalah desa di kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia. Sedadi subur dan makmur dengan komoditi andalan adalah padi, jagung, kedelai, semangka dan melon (pada orde baru desa ini adalah penghasil utama Tembakau di Kabupaten Grobogan). Kondisi geografi desa ini yang terletak di Selaan kecamatan Penawangan menyebabkan desa ini menjadi pusat dari lalu lintas di kecamatan Penawangan. Sedadi disebelah Utara berbatasan dengan Desa Lajer, Toko,Bolo garang sebelah Timur dengan Sungai Serang dan desa Toko, sedang disebelah selatan dengan Desa Toko, Karangwader, Pengkol, Leyangan dan Watupawon. Masyarakat desa ini umumnya mata pencaharian utamanya adalah petani, dengan pendidikan rata-rata adalah lulusan SLTA. Desa ini termasuk desa mandiri dengan percontohan berbagai bidang, seperti Desa Swasembada pangan, Desa Pelopor P4, B3B, olahraga dan sebagainya. pada dekade 90 an desa ini adalah juara bola volley se kecamatan penawangan dengan bintangnya, Gunawan, Budi Imam dardiri, "REVOS" sedang di sepakbola beberapa kali menjuarai Bancar Cup, dengan bintangnya PUPUT. Desa Sedadi memiliki 2 dusun dengan dusun yang padat pendudukknya adalah Krajan dan Sedadi, sedangkan dusun yang lainya jumlah penduduknya hampir merata atau seimbang.,Kr, Asem ,Kr Ploso, mbojong, mijen, lor pasar juga padat nyyet pada dasarnya Sedadi desa yang agamis dengan tokoh mistis yang legendaris yaitu Mbah Jo Gongso (Punden dekat taman kanak kanak 2 Desa Sedadi), serta pamong desa yang kharismatik Ki Sukarjo (seorang bayan jagabaya), Tokoh-tokohnya: 1. alm. mbah carik (eks. Carik Desa Sedadi) Sedadi adalah desa di kecamatan Penawangan, Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia. Terletak di antara 07°09’16” LS dan 110°51’00” BT, desa Sedadi dibagi menjadi 44 RT, 7 RW, 6 dusun (dusun Kedung Gedang, Krajan, Karang Asem, Karang Ploso, Mijen, dan Sidorejo).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama Sedadi berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, 'set' yang artinya sangat cepat, dan 'dadi' yang artinya jadi. Konon pada masa Kesultanan Demak, wilayah ini masih berupa hutan belantara. Suatu ketika datang seorang ulama beserta rombongan santri dari Demak untuk menyebarkan ajaran agama Islam, kemudian mereka membuka hutan belantara tersebut untuk dijadikan daerah pemukiman. Dalam waktu singkat, hutan tersebut telah berubah menjadi daerah pemukiman. Karena cepatnya pekerjaan mereka, sejak peristiwa itu, daerah tersebut dinamakan Sedadi sampai sekarang.

Referensi[sunting | sunting sumber]