Satori

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bagian dari serial
Agama Buddha

Lotus75.png

Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis

Konsep ajaran agama Buddha
Empat Kesunyataan Mulia
Delapan Jalan Utama
Pancasila · Tuhan
Nirvana · Tri Ratna

Ajaran inti
Tiga Corak Umum
Samsara · Kelahiran kembali · Sunyata
Paticcasamuppada · Karma

Tokoh penting
Siddharta Gautama
Siswa utama · Keluarga

Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha · Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi

Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara · Asia Timur
Tibet · India dan Asia Tengah
Indonesia · Barat

Sekte-sekte agama Buddha
Theravada · Mahayana
Vajrayana · Sekte Awal

Kitab Suci
Sutta · Vinaya · Abdhidahamma

Dharma wheel 1.png

Satori (悟り?) (Cina: 悟; pinyin: wù; Korea: 오) adalah istilah dalam Buddhisme di Jepang yang berarti pencerahan. Kata itu sendiri secara harafiah berarti “pengertian”. Satori diterjemahkan sebagai lintasan kesadaran yang seketika, atau Pencerahan individual, dan seraya Satori berasal dari tradisi buddhis zen, Pencerahan dapat secara bersamaan dianggap “langkah awal” atau titik keberangkatan menuju Nirwana Satori seringkali dipadankan dengan Kensho, yang secara harafiah berarti "melihat asal usul diri" atau "diri yang hakiki". Pengalaman yang diraih pada pelaksanaan Kensho lebih bersifat sekilas, sedangkan satori lebih memberikan pengalaman spiritual yang mendalam. Satori juga merupakan pengalaman yang bersifat intuisi dan dapat dianggap sama pada saat kita bangun suatu hari dengan sepasang tangan tambahan, dan pada saat kemudian kita belajar untuk menggunakannya.

Pencapaian Satori[sunting | sunting sumber]

Praktisi Buddisme Zen mencapai satori melalui pengalaman pribadi. Cara tradisionil untuk mencapai satori, dan merupakan cara yang khas yang diajarkan kepada murid-murid Zen di dunia barat, adalah melalui penggunaan koan seperti yang didapati pada sebuah kumpulan naskah yang dikenal sebagai “Gerbang tak berpintu” (GatelessGate), yang juga dikenal dengan sebutan Mumonkan. Koan merupakan tebakan indah menyerupai teka-teki yang digunakan oleh para murid untuk membantu perwujudan satori; kata-kata dan kalimat tersebut juga digunakan oleh guru-guru Zen terdahulu.

Gerbang tak berpintu (Gateless Gate) dikumpulkan pada awal abad ke 13 oleh seorang guru Zen dari China Wumen Hui-k’ai (無門慧開). Guru Zen Yuelin Shiguan (月林師觀; Romaji Jepang: Gatsurin Shikan) (1143-1217) memberikan Wumen sebuah koan “Anjing Zhaozhou”, yang dengannya Wumen berjuang selama enam tahun sebelum mendapatkan kesadaran. Setelah pengertiannya disetujui oleh Yuelin, Wumen menuliskan puisi pencerahan berikut:

Petir pada cuaca cerah
Seluruh mahluk hidup di bumi membuka mata mereka;
Semua dibawah langit merunduk bersama;
Gunung Sumeru melompat dan menari.

Sangatlah berharga untuk mempertimbangkan bahwa apapun kata yang digunakan untuk menjelaskan pencerahan, hal tersebut mengacu pada pengalaman mula-mula dengan kata-kata berbeda untuk menggambarkan pengalaman semudah “mengalihkan perhatian” dari perjalanan yang mengarah pada kemungkinan menjadi avatar dimana terdapat satu lintasan dan tidak untuk dibedakan atau dipisahkan dari ia yang melakukan perjalanan. Para ahli akan menyamakan pencerahan, satori, nirwana atau kesadaran kosmik sebagai “Ledakan Besar” yang mana kebanyakan dari peneliti tidak menduga bahwa cahaya dari bintang-bintang tidaklah dikenali melalui kesadaran mereka bahwa hal tersebut berasal dari tempat yang sama.

Satori dan Kensho[sunting | sunting sumber]

Simbol dalam bahasa Jepang untuk Satori

Satori seringkali digunakan secara tidak langsung menggantikan kata Kensho, tetapi Kensho menunjuk pada persepsi pertama akan Sifat-Buddha atau Sifat-Alam, seringkali mengacu pada “penyadaran”. Makna terpisah dari Kensho, yang bukan merupakan keadaan tetap dari pencerahan tetapi pandangan sekilas yang jelas akan asal usul keberadaan, Satori digunakan untuk mengacu pada suatu keadaan pencerahan yang "dalam" atau bertahan.

Sator dalam tradisi Zen tidak secara acak terjadi pada setiap individu, praktisi Buddisme Zen berupaya untuk mencapat kondisi tercerahkan.

Oleh karena itu penggunaan kata satori sangat beragam, bila dibandingkan dengan Kensho, ketika mengacu pada keadaan Pencerahan Buddha dan Para Pemimpin (Patriarchs) dengan Bodhisattva yang mengenali "semua mahluk memiliki benih Buddha" (All things are Buddha things) and oleh karena itu, perpisahan antara diri dan alam semesta adalah merupakan ilusi.

D. T. Suzuki menyatakan,

Satori adalah segala sesuatu-nya dari Zen, yang tanpa-nya tidak ada Zen. Oleh karena itu setiap rekaan, tata-tertib dan azas, diarahkan kepada Satori.[1]

D. T. Suzuki

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Suzuki, Daisetz Teitaro: An Introduction to Zen Buddhism, Rider & Co., 1948