Sapta Dharma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sapta Darma adalah satu-satunya kerohanian di Indonesia, yang mewajibkan warganya menyembah Hyang Maha Kuasa dan menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma). Wahyu Sapta Darma diterima oleh Bapak Hardjosapoero di Pare, Kediri Jawa Timur pada jam 01.WIB tgl. 27 Desember 1952 (malam Jumat Wage)

Sapta Darma adalah sebuah aliran kerohanian yang berarti tujuh kewajiban suci. Penerima ajaran Sapta Darma adalah Hardjosapoero, nama aslinya Arjo Sopuro lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare kabupaten Kediri. Bersekolah hanya sampai klas 3 Sekolah Dasar karena orang tuanya tak mampu membeayai. Pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang cukur. Tidak pernah berguru atau mencari ilmu pada kiyai atau ulama lain, seperti yang umumnya dilakukan oleh para mitranya.

Yang perlu di garis bawahi:[sunting | sunting sumber]

1. Bapak Ardjo Sopuro sebagai Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo, sebagai penerima wahyu, sebelum menerima wahyu bukan ahli mengobati dengan magnetisme, bukan dukun, pekerjaan Pak Arjo Sopuro sebagai tukang cukur. Berpendirian keras dan jujur serta dapat dipercaya. Karena sifatnya ini, beliau dipercaya para pedagang berlian untuk memnyimpan dagangannya jika mereka kemalaman dijalan. Informasi ini saya dapatkan dari Ibu Arjo Sopuro, isteri Bapak Arjo Sopuro pada tahun 1973. Justru setelah menerima wahyu, beliau mempunyai kemampuan untuk pengobatan dan banyak lagi kemampuan yang lain, begitu pula kejadiannya dengan warga Kerohanian Sapta Darma yang tekun ibadahnya, mereka akan mendapat anugrah berupa kemampuan lebih dari manusia umumnya bila mana sujudnya dijalankan dengan tekun.

2. Kerohanian Sapta Darma berdasar dari perijinan bukan kebatinan, melainkan Kerohanian bahkan ketika wahyu di terima Bapa Harjo Sapura atau Bapa Panuntun Agung Sri Gutomo berbunyi Agama Sapta Darma. Sewaktu Juru Bicara Panuntun Agung (Ibu Suwartini Martodiharjo SH., anggota MPR fraksi Utusan Daerah) bertemu Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tentang masalah perijinan, menyatakan bahwa beliau (Bopo Panuntun Agung Sri Gutomo) tidak pernah menyatakan diri sebagai nabi, sedang agama harus ada nabinya, maka jadilah Kerohanian Sapta Dharma. Kata 'Agama' yang tertulis pada "Agama Sapta Darma" tidak diartikan sebagai kata 'agama' pada umumnya, tetapi singkatan dari A= Asal mula kehidupan manusia dan gama = kama = bibit manusia yang suci.

3. Kerohanian Sapta Darma bukan pecahan dari agama manapun. Oleh karena itu Allah di dalam Kerohanian Sapta Darma bukanlah Hyang Widhi, karena Hyang Widhi adalah Allah pada Agama Hindu, dan tidak didirikan oleh bapa Hardjo Sapuro, melainkan datang dengan sendirinya kepada beliau. [1]

Ajaran[sunting | sunting sumber]

Ajaran Sapta Darma sekilas pandang memiliki makna yang sederhana, namun memiliki korelasi yang sangat luas dalam kehidupan, dan tidak akan ada selesainya jika ingin dijadikan bahan perbincangan. Karena pada akhirnya akan meliputi segala aspek kehidupan, baik dunia manusia, dunia roh dan jin serta setan.

Intisari dari ajaran ini bersumber pada:

1. Sujud

2. Wewarah Tujuh

3. Sesanti



Allah

Allah di dalam ajaran Sapta Darma adalah Zat yang Mutlak, dalam arti yang mendasar Allah Hyang Maha Kuasa adalah Zat yang bebas dari segala hubungan sebab akibat. Dia adalah Mutlak, sumber segala sebab - akibat. Sumber dari alam semesta beserta isinya. Ditambah lagi dengan sifat-sifat keluhuran, Yang Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng. Kelima sifat Allah tersebut disebut Pancasila Allah (sesuai dengan WAHYU yang diterima) dalam Kerohanian Sapta Darma ini.

Manusia

Ajaran Sapta Darma mengenai manusia mengajarkan nilai bahwa manusia adalah kombinasi dari roh dan benda. Roh itu adalah sinar cahaya Allah sehingga manusia dapat berhubungan (berkomunikasi) dengan Allah, sedangkan benda adalah tubuh manusia itu sendiri. Kombinasi antara roh dan benda ini ada karena perantaraan orang tua manusia yaitu bapak dan ibu. Manusia menurut Sapta Darma ialah makhluk yang tertinggi di atas hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu menurut aliran ini di dalam tubuh manusia terdapat radar, yang apabila dipelihara dengan baik dapat memberikan kewaspadaan (ke-aware-an) di dalam menjalani hidup ini. Keadaan manusia pada umumnya mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan, sehingga dari makanan tersebut timbullah efek samping baik itu yang baik atau yang jahat. Hal ini berarti bahwa manusia itu menurut Sapta Darma adalah menaklukan diri sendiri dari permainan hawa nafsunya sendiri.



Cita-Cita Ajaran[sunting | sunting sumber]

Kerohanian Sapta Darma bertujuan untuk kebahagiaan pengikut-pengikutnya baik di dunia maupun di akhirat. Intisari dari ajaran adalah untuk membentuk pribadi manusia yang asli berdasarkan keluhuran budi, serta menjadikan penghayatnya memiliki sikap satria utama, dalam bahasa jawanya Manghayu-hayu bagya buana.

Wewarah Tujuh[sunting | sunting sumber]

Wewarah tujuh merupakan pedoman hidup yang harus dijalankan warga Sapta Darma. Isi dari Wewarah Tujuh adalah : Dalam bahasa Jawa :

Wewarah Pitu

Wajibing Warga Sapta Darma saben warga kudu netepi wajib:

1. Setya tuhu marang Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa lan Maha Langgeng. 2. Kanthi jujur lan sucining ati kudu setya nindakake angger-anggering negarane. 3. Melu cawe-cawe acancut taliwanda njaga adeging Nusa lan Bangsane. 4. Tetulung marang sapa bae yen perlu, kanthi ora nduweni pamrih apa bae, kejaba mung rasa welas lan asih. 5. Wani urip kanthi kapitayan saka kekuwatane dhewe. 6. Tanduke Marang warga bebrayan kudu susila kanthi alusing budi pakarti, tansah agawe pepadhang lan mareming liyan. 7. Yakin yen kahanan donya iku ora langgeng tansah owah gingsir (anyakra manggilingan)

Dalam Bahasa Indonesia:

  • Setia kepada Allah Hyang ; Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng
  • Dengan jujur dan suci hati melaksanakan perundang-undangan negaranya
  • Turut serta menyingsingkan lengan baju demi mempertahankan nusa dan bangsanya
  • Bersikap suka menolong kepada siapa saja tanpa mengharapkan balasan apapun, melainkan hanya berdasarkan pada rasa cinta dan kasih
  • Berani hidup berdasarkan pada kepercayaan atas kekuatan diri sendiri
  • Sikap dalam hidup bermasyarakat selalu bersikap kekeluargaan yang senantiasa memperhatikan kesusilaan serta halusnya budi pekerti, selalu menjadi penunjuk jalan yang mengandung jasa serta mamuaskan
  • Meyakini bahwa keadaan dunia itu tidak abadi dan selalu berubah-ubah (anyakra manggilingan - Jawa), sehingga sikap warga dalam hidup bermasyarakat tidak boleh bersifat statis dogmatis, tetapi harus selalu penuh dinamika.

Ritus[sunting | sunting sumber]

Ritus merupakan cara yang dilakukan dalam sebuah agama atau kepercayaan. Dan dalam Sapta Darma, ritus yang digunakan oleh umatnya untuk mencapai kelepasan ialah dengan Sujud dan mengamalkan Wewarah pitu (tujuh petuah).

Sikap yang harus diperhatikan dalam sujud antara lain:

Orang harus duduk bersila, dan menghadap ke timur, sedangkan tangan harus bersedekap sedemikian rupa, hingga tangan kanan terletak pada tangan kiri. Mata diarahkan ke bawah, memandang tajam ke satu titik di hadapannya pada jarak satu meter. Duduknya harus tegak lurus, bersikap tenang, dan tidak memikirkan apa-apa. Kepala tidak boleh menggeleng ke kiri atau ke kanan, juga tidak menengadah ke atas atau menunduk ke bawah.

Dalam ritus sujud ini, sikap tunduk dan tubuh yang tegak harus dilakukan minimal tiga kali, pada tundukan yang pertama mengucapkan dalam hati, "Hyang Maha Suci Sujud kepada Hyang Maha kuasa" (tiga kali) dan setelah menunduk kedua kalinya, umat harus mengucapkan dalam hati: “Kesalahan Hyang Maha Suci mohon ampun kepada Hyang Mahakuasa”(tiga kali). Berikutnya setelah menunduk ketiga kalinya, umat harus mengucapkan: “Hyang Mahasuci bertobat kepada Hyang Mahakuasa” “(tiga kali). Tiga tundukan ini disebut Sujud Wajib boleh dan disarankan menambah tundukan, untuk permohonan sesuai keinginan yang melakukan ibadah.

Yang harus dilakukan dalam sujud menurut Wewarah demikian:

Air sari atau air putih/suci berasal dari sari-sari bumi yang akhirnya menjadi bahan makanan yang dimakan manusia. Sari-sari makanan tersebut mewujudkan air sari yang tempatnya di ekor (Jawa = Cetik/silit kodok/brutu). Bila bersatu padunya getaran sinar cahaya dengan getaran air sari yang merambat berjalan halus sekali di seluruh tubuh, menimbulkan daya kekuatan yang besar sekali, kekuatan ini disebut Atom Berjiwa yang ada pada pribadi manusia.

Wewarah pitu (tujuh petuah) terdiri dari:

1. Setia dan tawakal pada Panca Sila Allah, yaitu bahwa Tuhan menpunyai lima sifat keluhuran yang mutlak 2. Dengan jujur dan suci hati harus bersedia menjalankan undang-undang negaranya 3. Turut serta menyingsingkan lengan baju untuk menegakkan berdirinya nusa dan bangsa 4. Menolong siapa saja tanpa mengharapkan pamrih 5. Berani hidup berdasarkan kekuatan dan kepercayaan diri sendiri 6. Sikapnya kepada keluarga/masyarakat harus susila dengan halusnya budi pekerti 7. Yakin bahwa di dunia tidak abadi, tetapi serba berubah.

Sesanti[sunting | sunting sumber]

Sesanti atau semboyan warga sapta darma berbunyi "Ing ngendi bae, marang sapa bae warga sapta darma kudu suminar pindha baskara"(bahasa jawa).Dalam bahasa Indonesia berarti ; di mana saja dan kepada siapa saja (baik seluruh maklhuk hidup atau mati) warga Sapta Darma haruslah senantiasa bersinar laksana surya Semboyan. Makna dari semboyan ini adalah kewajiban bagi warganya untuk selalu bersikap tolong-menolong kepada semua manusia.

Kehidupan Setelah Kematian[sunting | sunting sumber]

Warga Sapta Darma tidak membicarakan surga dan neraka, tetapi mempersilahkan warga Sapta Darma untuk melihat sendiri adanya surga dan neraka tersebut dengan cara racut (mati sakjroning urip). Kejahatan, kesemena-menaan, dan sebagainya mencerminkan neraka dengan segenap reaksi yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan seperti bersedekah, mengajarkan ilmu berbudi yang luhur, menolong sesama mencerminkan surga.

Toleransi Antar Umat Beragama[sunting | sunting sumber]

Toleransi antara umat beragama merupakan salah satu aspek yang sudah diajarkan dalam Sapta Darma. Hal ini mengacu pada nasihat Tuntunan Agung Sapta Darma, Ibu Sri Pawenang yang menyatakan bahwa warga Sapta Darma dilarang keras memaksakan orang lain dalam hal melaksanakan sujud maupun untuk menjadi warga Sapta Darma

Ibadah[sunting | sunting sumber]

Pemeluk Sapta Darma mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dsb. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah Sujud, Racut, Ening dan Olah Rasa.

  • Sujud, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari jika tdk melaksanakan maka terhitung mundur 40 hari hidupmu.
  • Racut, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal perjalanan Roh setelah kematian.
  • Ening, adalah semadi, atau mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada Sang Pencipta
  • Olah Rasa, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga

Sanggar[sunting | sunting sumber]

Tempat ibadah warga Sapta Darma disebut "Sanggar" dengan seorang Tuntunan yang ditunjuk sebagai pemimpin dan bertanggungjawab dalam membina spiritual warga di sanggar tersebut. Warga Sapta Darma mengenal dua nama sanggar yaitu "Sanggar Candi Sapto Renggo" dan "Sanggar Candi Busono". Sanggar Candi Sapto Renggo hanya ada satu di Jogjakarta, adalah pusat kegiatan kerohanian Sapta Darma. Sanggar Candi Busono adalah sanggar yang tersebar didaerah-daerah

Perkembangan Saat Ini

Pada tahun 1961, Sapta Darma telah mempunyai cabang di Jawa Timur, Tengah, Samarinda, Ciamis dan Lematang (Palembang).Pada tahun ini, pengikut Sapta Darma terbanyak di kota Semarang, junlahnya tidak kurang dari 1000 orang dan jumlah seluruhnya meliputi puluhan ribu orang. Dalam salah satu situs resmi sapta darma (terakhir diupdate oleh pemilik situs Yogyakarta, 10 Nopember 1985) dikatakan bahwa menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia bahkan ke luar negeri.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Daftar Pustaka

Hadiwijono, Harun. Kebatinan dan Injil. Jakarta: BPK GM, 2006

Kartapradja,Kamil. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia. Jakarta: CV. Haji Masagung,1990