Sapi susu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sapi Holstein. Sapi perah dicirikan dengan puting susu yang terlihat jelas dan otot daging yang lebih sedikit dibandingkan sapi pedaging

Sapi susu atau sapi perah adalah sapi yang dikembangbiakan secara khusus karena kemampuannya dalam menghasilkan susu dalam jumlah besar. Sapi susu adalah varietas dari spesies Bos taurus.[1]

Dalam sejarahnya, sapi penghasil susu dan sapi pedaging tidak memiliki perbedaan mencolok, dengan induk yang sama dapat digunakan untuk menghasilkan sapi yang menghasilkan susu (sapi betina) maupun daging (umumnya sapi jantan). Saat ini, pengembang biakan sapi lebih terspesialisasi dengan seleksi buatan untuk mendapatkan sapi varietas khusus yang mampu menghasilkan susu dalam jumlah besar.

Pengelolaan[sunting | sunting sumber]

Sapi di Maryland, Amerika Serikat, yang dipelihara dengan jelajah bebas

Sapi susu dapat digembalakan oleh petani maupun dipelihara di dalam kandang secara komersial, dalam usaha peternakan susu. Ukuran peternakan dan jumlah sapi susu dapat bervariasi tergantung luas kepemilikan lahan dan struktur sosial. Di Selandia Baru, jumlah kepemilikan sapi susu rata-rata 375 ekor per peternak.[2] Di Australia, jumlah kepemilikan sapi susu rata-rata adalah 220 ekor per peternak.[3] Di Inggris, terdapat dua juta ekor sapi susu dengan rata-rata kepemilikan 100 ekor.[4] Di Amerika Serikat, jumlah kepemilikan sapi bervariasi antara selusin hingga 15000 ekor.[5] Sedangkan di Indonesia, kepemilikan sapi susu rata-rata hanya 4 ekor per peternak.[6]

Untuk mempertahankan periode laktasi, sapi susu harus beranak. Tergantung kondisi pasar, sapi susu dapat dikawinkan dengan pejantan dari ras yang sama dengan sapi susu dengan harapan untuk mendapatkan betina penghasil susu, atau dengan pejantan sapi pedaging. Jika didapatkan sapi betina penghasil susu yang produktif, dapat dipertahankan untuk dijadikan generasi pengganti sapi susu yang telah tua. Jika didapatkan sapi betina non-produktif atau sapi jantan, maka dapat dijadikan sapi pedaging. Peternak dapat memilih untuk membesarkannya sendiri, atau dijual ke penggemukan sapi. Sapi muda juga dapat disembelih untuk mendapatkan daging sapi muda. Peternak sapi susu umumnya mulai melakukan inseminasi buatan pada sapi betina di usia 13 bulan[7] dengan masa kehamilan sekitar sembilan bulan.[8] Anak sapi yang baru lahir dipisahkan segera dari induknya, umumnya setelah tiga hari karena hubungan antara anak sapi dan induknya dapat bertambah intens seiring dengan berjalannya waktu sehingga pemisahaannya dapat menyebabkan stress bagi induk sapi.[9]

Sapi dapat hidup hingga usia 20 tahun, namun sapi yang dibesarkan untuk diperah jarang sekali dipertahankan hingga usia tersebut, karena ketika sapi perah tidak produktif, akan disembelih.[10][11] Pada tahun 2009, setidaknya 19% stok daging yang disuplai oleh Amerika Serikat berasal dari sapi susu yang tidak produktif.[12] Selain karena tidak lagi produktif, sapi susu yang sudah tua rentan terhadap penyakit seperti mastitis yang dapat mempengaruhi kualitas susu yang dihasilkan.[11]

Di India dan Nepal, masyarakat penganut agama Hindu memuja sapi sehingga menyembelihnya dapat dikategorikan sebagai sebuah dosa. Penyembelihan sapi dilarang di sebagian besar India dan menjadi masalah yang dipertentangkan di wilayah yang diizinkan.[13] Sapi susu yang tidak produktif dapat terlihat berkeliaran di jalanan kota dan dibiarkan begitu saja karena mereka akan meninggal karena sakit atau usia lanjut. Beberapa organisasi hindu membangun rumah singgah khusus sapi yang disebut dengan Goshala untuk tempat peristirahatan terakhir.[14]

Tingkat produksi susu[sunting | sunting sumber]

Sapi susu menghasilkan sejumlah besar susu sepanjang hidupnya, yaitu berkisar 6800 sampai 17000 kg per masa laktasi. Sapi ras tertentu menghasilkan susu lebih dari yang lain. Rata-rata susu yang dihasilkan di Amerika Serikat adalah 9164.4 kg per ekor per tahun, tidak termasuk susu yang dikonsumsi anaknya.[15] Sedangkan di Israel mencapai 12240 kg berdasarkan data tahun 2009.[16] Usaha peternakan sapi perah di daerah tropis memiliki hambatan lebih, terutama pada tingginya temperatur dan kelembaban yang tidak disukai oleh sapi perah. Di Cirebon, Jawa Barat, satu ekor sapi hanya menghasilkan maksimal sekitar 4500 liter susu per ekor per masa laktasi. Turunan dari sapi yang dikembangbiakan di daerah tropis, meski dari ras yang sama, menghasilkan susu yang lebih rendah dari induknya.[17] Temperatur udara yang tinggi diketahui mengurangi penyerapan nutrisi pakan oleh sapi[18] sehingga berpotensi mengurangi produksi susu.

Usia harapan hidup sapi susu sangat terkait dengan tingkat produksi susu.[19] Sapi dengan tingkat produksi susu yang rendah dapat hidup lebih lama dibandingkan sapi dengan tingkat produksi susu yang tinggi, namun hal ini tidak menunjukkan seberapa menguntungkan sapi jenis tertentu. Sapi yang tidak lagi memproduksi susu dengan jumlah yang menguntungkan akan disembelih. Daging dari sapi susu tersebut biasanya berkualitas rendah sehingga hanya dijadikan daging terproses (sosis, dan sebagainya).

Tingkat produksi susu umumnya dipengaruhi oleh tingkat stress dari sapi. Pakar psikologi dari Universitas Leicester, Inggris, menemukan bahwa musik tertentu disukai oleh sapi susu dan mempengaruhi masa laktasi dan produksi susu. [20]

Nutrisi[sunting | sunting sumber]

Sapi perah di dalam kandang

Nutrisi berperan penting dalam menjaga kesehatan sapi. Pemberian nutrisi yang tepat dapat meningkatkan produksi dan performa reproduksi sapi.[21] Nutrisi yang dibutuhkan dapat berbeda-beda tergantung pada usia dan tahap pertumbuhan sapi.

Hijauan, terutama rerumputan dan jerami merupakan jenis pakan yang paling banyak digunakan. Serealia seperti barley banyak digunakan sebagai pakan tambahan di berbagai negara beriklim sedang karena merupakan sumber protein, energi, dan serat yang baik.[22]

Pemenuhan kadar lemak pada tumbuh sapi penting dalam menjaga produktivitas susu. Sapi yang terlalu gemuk atau terlalu kurus dapat menimbulkan masalah pada kesehatannya maupun sistem reproduksinya.[23] Pemberian suplemen lemak diketahui dapat menguntungkan masa laktasi sapi. Suplemen lemak yang dimaksud terutama asam oleat yang ditemukan pada minyak kanola, asam palmitat yang ditemukan pada minyak sawit, dan asam linoleat yang ditemukan pada biji kapas, bunga matahari, dan kedelai.[24] Pemberian suplemen lemak yang tepat juga dapat meningkatkan usia harapan hidup sapi.

Pemanfaatan produk samping suatu usaha budi daya tanaman merupakan salah satu cara dalam mengurangi biaya pemberian pakan. Namun jenis pakan yang diberikan tidak bisa sembarangan karena dapat menyebabkan penyakit.[25] Daun jagung, daun kedelai, dan daun singkong dapat dijadikan pakan tambahan bagi sapi, di mana kesemuanya merupakan produk samping pembudidayaan tanaman pertanian. Daun singkong memiliki kandungan protein kasar sebanyak 28.66 persen, lebih tinggi dibandingkan kadar protein rumput gajah yang hanya 13.13 persen.[26]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www4.uwsp.edu/biology/facilities/vertebrates/Mammals%20of%20Wisconsin/Bos%20taurus/Bos%20taurus%20page.htm
  2. ^ "New Zealand Dairy Statistics 2009-2010," Dairy NZ 2010.
  3. ^ "Industry Statistics," Dairy Australia. Diakses 5 Januari 2011.
  4. ^ "Milk and Milk Products, UK Dairy Industry," Department for Environment Food and Rural Affairs 3 Sept 2010.
  5. ^ James M. McDonald et al., "Changes in the Size and Location of U.S. Dairy Farms," Profits, Costs and the Changing Structure of Dairy Farming, ERR-47 Sept. 2007.
  6. ^ http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53136/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf
  7. ^ Department of Animal Science," Cattle Teaching and Research Center," Michigan State University 4 Nov. 2010.
  8. ^ Dewey, T. and J. Ng., "Bos taurus," Animal Diversity Web, 2001. Diakses 13 Januari 2011.
  9. ^ Dale More et al., "Calf Housing and Environments Series," Veterinary Medicine Extension Dec. 2010.
  10. ^ Dewey, T. and J. Ng., "Bos taurus," Animal Diversity Web, 2001. Diakses 13 Januari 2011.
  11. ^ a b Wallace, Richard L. (2002-03-13). "Market Cows: A Potential Profit Center". University of Illinois Extension. Diakses 2011-01-30. 
  12. ^ Economics Research Service, "U.S. Beef and Cattle Industry: Background Statistics and Information," USDA 10 July 2010.
  13. ^ Rupam Jain Nair, "India's Holy cow: Still a Political Hot Potato," The Sunday Times 25 Sept. 2010.
  14. ^ Dinesh Kumar Yadav, "Ethno-veterinary Practices: A Boon for Improving Indigenous Cattle Productivity in Gaushalas," Livestock Research for Rural Development 19(2007) #75.
  15. ^ U.S. Department of Agriculture, National Agriculture Statistics Service (March 2009). "Milk Cows and Production Estimates 2003-2007". Diakses 2011-01-30. .
  16. ^ 12,000 liters milk per cow!, 2009
  17. ^ Siregar, S. B.; Kusnadi, U. (2004). "Peluang Pengembangan Usaha Sapi Perah di Daerah Dataran Rendah Kabupaten Cirebon". Media Peternakan (IPB). 
  18. ^ Yani, A.; Suhardiyanto, H.; Hasbullah, R.; Purwanto, B. P. (2007). "Analisis dan simulasi distribusi suhu udara pada kandang sapi perah menggunakan computational fluid dynamic (CFD)". Media Peternakan (IPB). 
  19. ^ Knaus. Dairy cows trapped between performance demands and adaptability. Journal of the Science of Food and Agriculture Volume 89, Issue 7, pages 1107–1114, May 2009. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/jsfa.3575/abstract
  20. ^ Relaxing music stimulates a cow's lactation http://uselessk.com/knowledge/relaxing-music-stimulates-a-cow-39-s-lactation/42
  21. ^ "Dairy cattle". Diakses 2010-06-02. 
  22. ^ "Feeding Barley to Dairy Cattle". Diakses 2010-06-02. 
  23. ^ "Feeding Dairy Cattle for Proper Body Condition Score". Diakses 2010-06-02. 
  24. ^ "Fats Defined". Diakses 2010-06-02. 
  25. ^ "By-Products and Regionally Available Alternative Feedstuffs for Dairy Cattle". Diakses 2010-06-02. 
  26. ^ Martindah, Eny; Diwyanto, Kusuma. "Pengembangan Peternakan Sapi Perah Terintegrasi dengan Industri Bioetanol Berbahan Baku Singkong". repository IPB.