SMA Negeri 1 Medan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
SMA Negeri 1 Medan
Informasi
Didirikan 1950
Jenis Sekolah Negeri
Nomor Statistik Sekolah 301076004001
Kepala Sekolah Drs. H. Ahmad Siregar, MM
Jumlah kelas X, XI, XII. (IPA, IPS)
Program/jurusan/
peminatan
IPA dan IPS
Rentang kelas X - MIA, X - IS, XI IPA, XI IPS, XII IPA, XII IPS
Kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Kurikulum 2013
Jumlah siswa 1200-an
Nilai masuk terendah 34,55 (Jalur Nilai UN) 2013 [1]
Alamat
Lokasi Jl. Teuku Cik Di Tiro No.1, Medan, Sumatera Utara, Bendera Indonesia Indonesia
Situs web [2]

SMA Negeri (SMAN) 1 Medan, atau Smansa Medan, terletak di Jalan Teuku Cik Dik Tiro No. 1, Medan, Sumatera Utara. Smansa Medan melahirkan banyak pemimpin dan tokoh publik di tingkat regional maupun nasional. Mulai dari gubernur, pangdam, rektor, pemimpin partai politik, menteri, senator, anggota parlemen, hingga ketua lembaga tinggi negara. Mulai dari sutradara film, fotografer, aktor, penyanyi, hingga musisi.

Smansa Medan berdiri sejak tahun 1950. Berdiri di jantung pusat kota yang kosmopolitan, Smansa Medan adalah sekolah bersejarah yang paling dinamis di pulau Sumatera. Smansa Medan dikenal sebagai salah satu sekolah menengah atas negeri terbaik di Indonesia.

Sekolah ini memiliki tradisi panjang dalam menghasilkan prestasi akademik yang unggul. Sekolah ini banyak memenangi berbagai olimpiade atau kejuaraan di bidang sains dan bahasa serta olahraga. Smansa Medan juga dikenal memiliki jejak unik dalam melahirkan siswa-siswi kreatif yang berbakat di bidang kesenian, khususnya musik. Banyak murid Smansa Medan yang meraih prestasi tinggi ketika masih menempuh studinya. Contohnya Rini Wulandari (penyanyi pemenang pertama Indonesian Idol musim ke-4 tahun 2007 di RCTI) hingga Uma Tobing (penyanyi pemenang pertama Indonesia Mencari Bakat musim ke-2 tahun 2010-2011 di TransTV).

Sejarah Sekolah[sunting | sunting sumber]

Pendirian SMA Negeri 1 Medan dirintis pada tanggal 18 Agustus - 1 September tahun 1950, pada mulanya berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 1, Medan. Sebelum menempati lokasi Jalan Teuku Cik Dik Tiro No. 1 Medan, Smansa pernah berubah menjadi SMA darurat yang berlokasi di Jalan Seram Biru pada masa agresi Belanda yang kerap melakukan aksi polisionil.

Sejak berdiri, Smansa Medan menerapkan disiplin yang tegas dalam menjalankan pendidikan. Tradisi ini dijalankan semenjak Rondang M. Simanjuntak menjabat sebagai Direktur Sekolah sejak tahun 1950 hingga 1960. Sosok kepala sekolah pertama Smansa Medan ini digambarkan oleh salah seorang mantan siswanya, Derom Bangun, sebagai berikut, "Pak Rondang memang terkenal sebagai orang yang aktif sekali. Perawakannya tidak begitu tinggi dan berwajah halus. Tapi soal ketegasan, tidak ada orang yang bisa mematahkannya. Kemampuannya menguasai bahasa luar biasa hebatnya. Pernah suatu kali saya mendengar dia menerima telepon di kantornya. Rupanya telepon itu dari seorang guru bahasa Jerman. Mereka pun terlibat dalam percakapan bahasa Jerman."[2]])

Sejak berdiri, sekolah ini memelihara tradisi panjang dalam merawat pembauran yang inklusif. Sekolah ini menerima murid, guru, dan kepala sekolah dengan beragam etnik, agama, dan latar belakang. Siswa-siswi Smansa Medan berasal dari komposisi etnik yang unik, yaitu: Aceh, Batak, India, Jawa, Minang, Melayu, Nias, Tionghoa, dan lain sebagainya. Guru dan kepala sekolah yang mengabdi di Smansa juga berasal dari berbagai etnik dan agama. Semua saling berbaur di dalam interaksi yang inklusif dan toleran. Di Smansa Medan, semangat keindonesiaan sangat kuat menonjol. Penggunaan Bahasa Indonesia menjadi utama, terbuka, dan meluas.

Walau bersifat inklusif dalam pembauran, seleksi penerimaan siswa Smansa Medan bersifat eksklusif berdasarkan tolok ukur nilai akademik. Didorong animo para pendaftar yang pada umumnya memiliki nilai akademik tinggi, Smansa Medan dituntut untuk menyeleksi hanya yang terbaik dari yang terbaik. Dengan komposisi siswa pilihan terbaik, Smansa Medan dikenal dengan tradisi menghasilkan lulusan yang diterima di berbagai kampus terbaik di Indonesia (UI, ITB, ITS, UGM, IPB, UNPAD, USU, UNDIP, dll) dan berbagai perguruan tinggi terbaik luar negeri. Selain itu, lulusan Smansa Medan juga banyak berhasil melanjutkan sekolah di jenjang pendidikan militer (Akmil, AAU, AAL, Akpol).

Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia, masa pendidikan sekolah di SMAN 1 Medan ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Sejak tahun 2013, sekolah ini memakai Kurikulum 2013 untuk kelas X dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk kelas XI dan XII. Sejak tahun 2000-an, Smansa Medan dikenal keberhasilannya dalam penyelarasan disiplin pendidikan yang ketat serta kelonggaran memacu kreativitas di bidang kesenian.

[sunting | sunting sumber]

Logo Smansa Medan berbentuk Perisai Hati dengan dasar Merah Putih dan tulisan SMA 1 Medan. Logo tersebut diciptakan pada tahun 1965 oleh Johannes Kakiailatu, siswa Smansa Medan keturunan Ambon (alumnus 1967), pada masa peralihan dari masa peralihan pemerintahan Presiden Soekarno-Presiden Soeharto. Johannes Kakiailatu menciptakan logo ini untuk keperluan mengikuti perlombaan antar kelompok musik drum.

Makna logo tersebut ialah semangat kebangsaan yang lahir dari jiwa kepemimpinan, kecintaan dan kesetiaan untuk mengabdi pada Tuhan dan tanah air. Semangat ini diharapkan senantiasa menghidupi pribadi siswa, alumni, dan guru Smansa Medan sepanjang masa. [3]])

Sejarah Motto[sunting | sunting sumber]

Motto Smansa Medan berbunyi: Jangan Tanya Sejuta Kebenaran yang Pernah Kau Ucapkan, Tetapi Tanyakan Tindakan Kebenaran Sekecil Apa yang Pernah Kau Berikan Kepada Bangsamu dan Negaramu. Motto tersebut diciptakan oleh Jasmen Maruli Tua Sinaga, seorang guru seni rupa.

Selama puluhan tahun Pak JMT, begitu ia biasa disebut, mewajibkan siswa-siswi baru untuk menyalinnya di masa pembelajaran awal tahun akademik baru. Walau pada mulanya dianggap sebagai motto yang tidak resmi, belakangan siswa-siswi Smansa Medan menjadikannya sebagai motto resmi sebagai bentuk penghargaan atas jasa guru tersebut. Melalui motto tersebut, siswa-siswi Smansa Medan dididik untuk menjadi manusia yang berani bertindak untuk menegakkan kebenaran dalam hidupnya, apapun profesi yang dipilihnya kelak.

Sejarah Kepala Sekolah[sunting | sunting sumber]

  • R. M. Simanjuntak, M.Sc (1950-1960)
  • C. M. Simorangkir (1960-1965)
  • Drs. A. Sinaga (1965-1982)
  • A. Sinaga (1982-1989)
  • Drs. H. M. Syarif Nasution (1989-1993)
  • Drs. Bahiman Rambe (1993-2000)
  • Drs. Tukino (2000-2003)
  • Dra. Yustini Manah Lubis (2003-2006)
  • Dra. Hj. Rebekka Girsang (2006-2012)
  • Dra. Hj. Safrimi, Mpd (2012-2013)
  • Drs. H. Ahmad Siregar, MM (2013)

Alumni[sunting | sunting sumber]

Smansa Medan melahirkan banyak pemimpin di tingkat regional maupun nasional. Alumni Smansa Medan dikenal banyak berkarya di berbagai bidang, mulai dari bidang pendidikan, politik dan pemerintahan, militer, bisnis, sains, hingga kesenian. Mulai dari gubernur, pangdam, rektor, menteri, senator, legislator, hingga ketua lembaga tinggi negara. Mulai dari sutradara film, fotografer, aktor, penyanyi, hingga musisi.

Beberapa di antaranya adalah:

Seluruh angkatan alumni Smansa Medan tergabung dalam sebuah wadah organisasi yang bernama Alumni SMA N 1 Medan (Ikal Smansa). Ikatan ini memiliki motto: Semua untuk SMA 1, SMA 1 untuk Semua. Kata Semua untuk SMA 1 bermakna ajakan inklusif bahwa Ikatan Alumni SMA N 1 Medan terbuka bagi siapa saja yang pernah menempuh studi di dalam Smansa Medan. Kata SMA 1 untuk Semua bermakna seruan positif bahwa alumni Smansa Medan harus dapat berguna dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negaranya, bahkan dunia.

Dalam tradisinya, mereka yang disebut sebagai alumni Smansa ialah semua pihak yang pernah menempuh studi di Smansa Medan, termasuk mereka yang tidak menyelesaikan studi hingga lulus dikarenakan pindah, putus sekolah, atau meninggal dunia. Sesuai tradisi ini, maka sosok seperti Kristiani Herrawati Yudhoyono (Ibu Negara Republik Indonesia, menjadi siswi Smansa Medan semasa ayahnya, Sarwo Edhi Wibowo, menjabat Pangdam Bukit Barisan di Medan, lalu pindah ke SMA 24 Jakarta,), atau Andi Rianto (komposer dan pemimpin Magenta Orchestra, dari Smansa Medan pindah ke Bandung dan Amerika Serikat) dapat disebut sebagai alumni Smansa.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Berbagai fasilitas dimiliki SMAN 1 Medan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Fasilitas tersebut antara lain:

Ekstrakurikuler/Organisasi[sunting | sunting sumber]

Sebagai pelengkap pembelajaran di dalam kelas, Smansa Medan juga dikenal memiliki sejarah panjang dalam memelihara iklim positif untuk membebaskan siswa-siswinya terlibat penuh dalam kegiatan ekskul.

Paduan Suara Sola Gratia Smansa dikenal sebagai ekskul yang selalu mengikuti kompetisi paduan suara tingkat nasional dan internasional dan telah mempersembahkan berderet gelar juara.

Melalui ekskul Paskhaskibra yang selektif dalam menerima anggotanya, tiap tahun Smansa Medan juga dikenal memiliki tradisi mengirim seorang siswanya menjadi bagian dari Paskibraka pada peringatan upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus di Istana Negara, Jakarta.

Ekskul Cinematography of Smansa (Citos) dikenal sering menghasilkan karya perfilman yang meraih prestasi dalam berbagai perlombaan. Selain itu, ekskul Social Study Club (S2C) sering mengadakan kajian permasalahan aktual secara kritis, baik melalui diskusi di dalam sekolah maupun seminar di luar sekolah dengan pembicara-pembicara yang handal.

SMA Negeri 1 memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler maupun organisasi, diantaranya:

  • OSIS
  • ICT - One Community
  • Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)
  • Badan Kenaziran Masjid Ibnu Sina Smansa (BAKMISS)
  • PA Bukit Sion (PABS)
  • KSSK St.Aloysius Gonzaga
  • Bahana Swara Smansa (Marching Band/Drum Band)
  • Palang Merah Remaja (PMR)
  • Pramuka
  • Paskhaskibra
  • Sola Gratia (Paduan Suara)
  • Teater Rawit Smansa
  • Karate Dojo SMANSA
  • Sanggar Seni Smansa (SSS)
  • Olahraga Prestasi (OP)
  • Olimpiade
  • English Club
  • Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Sastra (EJS)
  • Cinematography of Smansa (Citos)
  • Social Study Club (S2C)
  • Radio Sekolah (RaSe)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]
  2. ^ Derom Bangun: Memoar Duta Besar Sawit Indonesia, ditulis oleh Derom Bangun dan Bonnie Triyana, Penerbit Buku Kompas, 2010, hal. 385
  3. ^ Johannes Kakialilatu si pencipta Logo SMAN 1 Medan, www.waspadamedan.com. 20 November 2011