Royal Brunei Airlines

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Royal Brunei Airlines
Royal Brunei logo.svg
IATA ICAO Kode panggil
BI RBA BRUNEI
Didirikan 18 November 1974 (1974-11-18) (39 tahun lalu)
Mulai beroperasi 14 Mei 1975 (1975-5-14)
Hub Bandar Udara Internasional Brunei
Program penumpang setia Royal Skies
Lounge penumpang Sky Lounge
Ukuran armada 10 (+6 dalam pemesanan)
Kota tujuan 14
Perusahaan induk Pemerintah Brunei
Kantor pusat Bandar Seri Begawan, Brunei
Orang penting
Situs web www.bruneiair.com
Boeing 767 milik Royal Brunei mendarat di bandara Heathrow, London.

Royal Brunei Airlines (Melayu: Penerbangan DiRaja Brunei, Jawi: ﻓﻧﺭﺑﺎڠن ﺩﻴﺮﺍﺝ ﺑﺮﻮﻧﻲ), atau RBA, merupakan maskapai penerbangan internasional di Kesultanan Brunei. Maskapai ini dimiliki oleh pemerintah Brunei dan merupakan flag carrier dari Kesultanan Brunei Darussalam. Basisnya adalah di Bandara Internasional Brunei di Berakas, utara ibukota Brunei, Bandar Seri Begawan. Kode IATA dari Royal Brunei adalah BI.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum merdeka[sunting | sunting sumber]

Royal Brunei Airlines didirikan pada tanggal 18 November 1974 dengan armada 2 Boeing 737. Penerbangan perdana dilakukan pada tanggal 14 April 1975 dengan rute Bandara Internasional Brunei ke Singapura. Kemudian diadakan penerbangan menuju Hong Kong, Kota Kinabalu dan Kuching di Malaysia Timur yang dilakukan pada hari yang sama. Pengembangan rute dilakukan ke Manila, Filipina pada tahun 1976 dan Bangkok, Thailand pada tahun 1977.

Royal Brunei menerima 737 ketiga pada 1980, dan menyebabkan ekspansi rute ke Kuala Lumpur, Malaysia dan Darwin, Australia pada 1983.

Setelah merdeka[sunting | sunting sumber]

Setelah merdeka dari Inggris pada 1 Januari 1984, rute ditambah menuju Jakarta, Indonesia pada 3 Januari sehingga menghubungkan 5 ibukota negara ASEAN dengan Brunei.

Pesawat Boeing 757 dibeli pada pertengahan 1980 untuk memenuhi kemampuan pesawat untuk menjangkau rute menuju Taipei pada tahun 1986, dan Dubai, Uni Emirat Arab pada tahun 1988. Tahun 1990 Royal Brunei mulai menerbangi Eropa dengan rute ke Frankfurt, Jerman, melalui Bangkok dan Dubai. Kemudian diikuti penerbangan menuju London, Inggris melalui Singapura dan Dubai. Tahun 1991 dilakukan ekspansi ke Perth, Australia dan Jeddah, Arab Saudi melalui Dubai.

Ekspansi besar[sunting | sunting sumber]

Boeing 767 milik Royal Brunei mendarat.

Perkembangan rute yang besar menyebabkan dijualnya seluruh armada 737 diganti dengan Boeing 767. Penyerahan pertama Boeing 767 memecahkan rekor penerbangan non-stop terlama saat terbang selama 17 jam 55 menit dari markas Boeing di Seattle menuju Nairobi, Kenya, dalam perjalanannya menuju Brunei. Tujuh 767 lagi yang datang membuat armada berkembang menjadi 8 Being 767 dan 2 Boeing 757.

Pada bulan Maret 1993 diadakan penambahan rute menuju Abu Dhabi dan Frankfurt melalui Abu Dhabi. Denpasar, Bali menjadi kota kedua di Indonesia yang masuk dalam rute. Rute penerbangan menuju Eropa juga ditambah dengan tujuan Zürich melalui Kuala Lumpur dan juga tujuan baru ke Bahrain. Sebelum akhir tahun, ditambahkan rute menuju Beijing, Republik Rakyat Tiongkok pada bulan Oktober dan Kairo, Mesir melalui Kuala Lumpur dan Bahrain pada bulan November.

Pertumbuhan dilanjutkan pada tahun 1994. Pengiriman 2 pesawat Fokker F-50 digunakan untuk melayani rute menuju Miri dan Labuan di Malaysia Timur pada tahun yang sama. Penerbangan menuju Brisbane, Australia dan Osaka, Jepang dibuka pada bulan Juni dan Desember. Ambisi untuk menyatukan semua kota minyak menyebabkan pertambahan rute menuju Balikpapan pada bulan Desember.

Pada tahun 1995 dimulai rute menuju Kolkata/Kalkuta, India melalui Singapura dan menuju Dubai. Dua Dornier 228 dibeli pada tahun yang sama dan disewakan ke maskapai regional Malaysia, Hornbill Airways untuk menghubungkan Brunei dengan Mulu. Layanan menuju Kairo dibatalkan pada pertengahan 1995 karena kurangnya penumpang.

F-50 kemudian digantikan dengan pesawat jet Fokker F-100 yang lebih besar dan nyaman pada tahun 1996 dan menambah ekspansi ke Bintulu. Penerbangan menuju Zurich dihentikan pada september 1996 untuk menunjang penerbangan harian menuju London. Selain itu juga dibuka penerbangan menuju London melalui Yangon, Myanmar. Jalur ini kemudian ditutup pada tahun berikutnya karena tidak ekonomis.

Konsolidasi[sunting | sunting sumber]

Pada Agustus 1997, Dornier 228 yang dioperasikan oleh Hornbill Airways, jatuh di dekat Bandara Miri dan menewaskan seluruh penumpang sebanyak 19 orang dan 2 orang awak. Penyebab kecelakaan masih belum jelas. Seluruh Dornier 228 dijual pada tahun 1997 dan rute menuju Miri, Labuan, Mulu dan Bintulu dihentikan. Kemudian Surabaya ditambahkan menjadi kota tujan keempat di Indonesia.

Rute menuju Beijing dan Osaka yang tidak menguntungkan dihentikan pada tahun 1998 dan semua F-100 juga dijual ke Alpi Eagles Airlines pada tahun yang sama.

Kuwait ditambahkan pada rute pada tahun 2001 dan dilayani dengan transit di Singapura, Kalkuta, dan Dubai. Rute ini ditutup pada tahun berikutnya. Penambahan rute juga mencapai kota Shanghai. Pada tahun yang sama, Royal Brunei memulai sistem pemesanan tiket online.

Restrukturisasi[sunting | sunting sumber]

Airbus A320
Airbus A30

Setelah mengalami tahun tahun tanpa keuntungan, Royal Brunei memulai restrukturisasi besar-besaran pada tahun 2003. Rencana strategis 2003 antara lain memasukkan rencana untuk menambah jumlah armada yang sebelumnya 9 pesawat menjadi 24 pesawat pada tahun 2013. Armada 6 Boeing 767 akan diubah menjadi 15 pesawat berbadan sempit dan 8 pesawat berbadan lebar. Rencananya setengah dari jumlah pesawat akan diperoleh secara leasing dan sisanya dibeli secara langsung. Perencanaan yang lain termasuk penambahan kota Auckland, Tokyo, Sydney, Seoul dan Kota Ho Chi Minh serta meningkatkan frekuensi penerbangan.

PAda tahun 2004 hingga 2008, ROyal Bronei akan menginvestasikan dana sebesar USD 400 juta untuk pesawat berbadan sempit. Untuk tahun 2008 hingga 2013 akan diadakan investasi sebesar USD 800 juta intik membeli pesawat berbadan lebar sebagai pengganti dari armada 767. Kemungkinan besar pesawat badan lebar yang masuk adalah Airbus A340, A330 dan Boeing 777.

31 Oktober 2003, Royal Brunei mendarat di Auckland dan menjadi kota pertama di Selandia Baru juga menjadi awal dari program restrukturisasi Royal Brunei.

Destinasi[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar kota yang dilayani oleh Royal Brunei Airlines

Asia[sunting | sunting sumber]

Asia Timur[sunting | sunting sumber]

Asia Tenggara[sunting | sunting sumber]

Timur Tengah[sunting | sunting sumber]

Asia Selatan[sunting | sunting sumber]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Oseania[sunting | sunting sumber]

Armada[sunting | sunting sumber]

Armada Royal Brunei pada Agustus 2006

Jumlah Tipe Registrations/Configuration
2 Airbus A319-132 (V8-RBP,V8-RBR) (8J/114Y)
2 Airbus A320-232 (V8-RBS,V8-RBT) (12J/132Y)
4 Boeing 767-33AER (V8-RBF,V8-RBG,V8-RBH,V8-RBJ) (23J/182Y)
1 Boeing 767-33AER (V8-RBL) (13J/185Y)
1 Boeing 767-33AER (V8-RBK) (18J/231Y)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Management". Royal Brunei Airlines. Diakses 7 December 2010. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]