Ronggeng Dukuh Paruk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini mengenai novel tahun 1982. Untuk filmnya, lihat Sang Penari.
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
Ronggeng Dukuh Paruk.jpg
Sampul buku terbitan Gramedia Pustaka Utama
Penulis Ahmad Tohari
Judul asli Ronggeng Dukuh Paruk
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Bahasa Bahasa Indonesia
Bahasa Banyumasan
Serial Ronggeng Dukuh Paruk
Lintang Kemukus Dini Hari
Jantera Bianglala
Genre Novel, Dewasa
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit 1982
Media sampul lunak
Halaman 174 halaman (buku pertama)
397 halaman (total)
ISBN 9792201963

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang ditulis oleh penulis Indonesia asal Banyumas Ahmad Tohari, diterbitkan tahun 1982. Buku ini bercerita tentang kisah cinta antara Srintil, seorang penari ronggeng muda dan Rasus, temannya sejak kecil yang berprofesi sebagai tentara di desa kecilnya yang dirundung kemiskinan, kelaparan, dan kebodohan di Indonesia tahun 1960-an yang penuh gejolak politik.

Novel ini saat diterbitkan pertama kali terdiri dari tiga buku (trilogi), yaitu Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Ringkasan cerita[sunting | sunting sumber]

Sejak Srintil yang belia dinobatkan menjadi ronggeng baru di Dukuh Paruk untuk menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu, semangat kehidupan di Dukuh Paruk kembali menggeliat. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil namun bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang kehidupan. Tanpa adanya seorang ronggeng, dukuh itu akan kehilangan jati diri. Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi karena cantik dan menggoda. Semua ingin berjoget dan tidur bersama ronggeng itu. Dari kawula biasa hingga pejabat-pejabat desa, bahkan hingga kabupaten.

Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohan mereka tentang politik, mereka terseret arus konflik dan divonis sebagai manusia-manusia pengkhianat negara. Pedukuhan itu dibakar dan ronggeng berserta para penabuh calung ditahan oleh tentara. Hanya karena kecantikannya, Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa penjara tahanan politik.

Pengalaman pahit yang dialaminya sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya dengan tak lagi melayani lelaki manapun dan menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidup Srintil, sepercik harapan pun muncul.

Adaptasi film[sunting | sunting sumber]

Novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi dua kali menjadi sebuah film layar lebar. Film adaptasi pertama adalah Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang disutradarai oleh Yazman Yazid dan dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice. [1]. Film adaptasi kedua adalah Sang Penari (2011) yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan dibintangi Prisia Nasution dan Oka Antara. Film kedua ini kemudian berhasil meraih sepuluh nominasi Festival Film Indonesia 2011, dan berhasil memenangkan empat Piala Citra, semuanya untuk penghargaan utama.

Referensi[sunting | sunting sumber]