Reklamasi Tambang Batu Bara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Batu bara merupakan salah satu sumber energi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan namanya, batu bara adalah batuan yang mudah terbakar. Sudah bukan rahasia, bahwa sebagian besar pembangkit listrik yang beroperasi (di Indonesia) hingga saat ini masih memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakarnya. Tanpa batu bara, bisa dipastikan sebagian wilayah Indonesia tidak berlistrik.[1]

Sedemikian pentingnya batu bara bagi hajat hidup kita, sehingga hampir tiada kawasan (yang diketahui menyimpan kandungan batu bara di muka Bumi ini) yang bebas dari incaran untuk dieksploitasi. Lazimnya batu bara terdapat di lapisan yang tak jauh dari permukaan bumi. Untuk mendapatkannya para penambang harus membongkar lapisan tanah. Alhasil banyak kawasan yang semula adalah hutan, dengan segera berubah menjadi lahan tambang terbuka. Pohon-pohon ditebangi. Hewan-hewan pun kehilangan tempat tinggalnya.[1]

Lapisan tanah di kawasan itu dikeruk atau dibongkar, lalu dibawa ke tempat penimbunan. Akibatnya bisa diduga. Tanah akan kehilangan lapisan yang kaya nutrisi dan berubah menjadi tandus.</ref name=reklamasi>

Setelah batu baranya terkuras habis, tentunya pertambangan akan ditutup. Lahan bekas tambang akan menyisakan kawasan gersang yang merana tanpa guna. Tumbuhan akan sulit tumbuh di tempat seperti itu. Kawasan menjadi sangat tidak produktif.[1]

Ketika hujan, air tak terserap tanah. Akibatnya, air tanah berkurang. Dalam keadaan seperti itu erosi tanah juga akan sangat mudah terjadi. Ancaman banjir dan longsor pun terhampar di depan mata.[1]

Patut disayangkan apabila lahan bekas tambang akhirnya justru mendatangkan bencana bagi manusia. Jadi, kesimpulannya adalah lahan bekas lokasi tambang batu bara tidak boleh ditinggalkan begitu saja setelah batu baranya dikuras. Perlu uasaha serius untuk mengembalikan lahan bekas tambang itu seperti sedia kala. Atau paling tidak mendekati keadaan semula. Upaya pemulihan untuk mengembalikan kondisi bekas lahan tambang seperti semula dikenal dengan sebutan ‘reklamasi’.[1]

Ada beberapa tahapan yang bisa ditempuh, yaitu: penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, revegetasi (penanaman kembali), dan pemeliharaan.[1]

Penataan Lahan[sunting | sunting sumber]

Lahan bekas tambang ditata kembali. Lubang-lubang yang ada ditimbun kembali ditimbun lagi dengan tanah bekas pengerukan. Tanah pun menjadi cukup datar dan tidak berlubang-lubang lagi.[1]

Jika ada beberapa lubang yang tak dapat ditutup, dapat dijadikan kolam. Ikan dapat dibudidayakan di dalam kolam tersebut. Lubang yang tak tertutup juga dapat dijadikan kolam cadangan air atau wahan wisata air.[1]

Pengendalian Erosi dan Sedimentasi[sunting | sunting sumber]

Untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mencegah erosi, tanah yang telah rata dapat ditanami dengan tumbuhan penutup tanah (cover crop) dari jenis kacang-kacangan /polong-polongan. Kacang-kacangan dikenal sebagai ‘pupuk hijau’, karena kemampuannya untuk mengikat dan mengelola mineral dalam tanah seperti nitrogen dan fosfor.[1]

Selain itu, penanaman tumbuhan penutup tanah akan membuat tanah menjadi lebih gembur. Apabila turun hujan, akan lebih banyak air yang terserap. Agar erosi lebih terkendali, bisa dibuat saluran air (drainase) dan bendungan penahan.[1]

Revegetasi[sunting | sunting sumber]

Setelah dilakukan kedua tahap reklamasi tersebut, tanah siap untuk ditanami tumbuhan lain. Pada awalnya, bisa ditanam tumbuhan pionir, yaitu tumbuhan yang dapat tumbuh dengan cepat.[1]

Setelah 2-3 tahun, lahan bekas tambang tersebut sudah dapat ditanami tumbuhan lain. Tumbuhan yang biasa ditanam antara lain sengon, kaliandra, johar, trembesi, ketapang, angsana, mahoni, meranti, gaharu, dan lain-lain.[1]

Pemeliharaan[sunting | sunting sumber]

Terakhir, agar lahan bekas tambang dapat kembali seperti semula, perlu dilakukan pemeliharaan tanaman. Secara berkala dilakukan pemupukan terhadap tanah yang telah direvegetasi. Tanah disekitar pohon juga harus senantiasa dibersihkan agar tetap subur.[1]

Reklamasi yang terencana dan terorganisasi dengan baik akan mengembalikan kondisi lahan bekas tambang menjadi seperti semula.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n "Reklamasi Bekas Tambang Batu Bara". Blog Science. Diakses 2012-06-20.