Raghuwangsa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Dalam mitologi Hindu, Raghuwangsa dipercaya sebagai garis keturunan/ras para raja-kesatria yang diturunkan oleh Wiwaswat (Surya). Karya Kalidasa yang terkenal yang bernama Raghuvamsha menceritakan kisah keagungan ras tersebut. Dalam ras ini lahir raja-raja besar seperti Harishchandra, Dilipa, Raghu, Aja, Dasarata dan Rama. Ayah Rama adalah Dasarata, putera Aja. Ayah Aja adalah Raja Agung Raghu, dan karenanya dinasti ini dikenal sebagai Raghuwangsa, atau "ras keturunan Raghu". Ayah Raghu adalah Maharaja Dilipa.

Raja Dilipa[sunting | sunting sumber]

Raja Dilipa adalah putera Duliduh. Ia dikutuk oleh sapi Kamadhenu agar tidak bisa memiliki keturunan. Untuk menghilangkan kutukan tersebut, Resi Waista menganjurkan agar Dilipa merawat sapi Nandini dengan penuh kasih sayang. Selama dua puluh satu hari, Dilipa merawat sapi Nandini dengan setia. Pada hari yang kedua puluh dua, munculah seekor singa yang hendak memakan sapi Nandini yang sedang makan rumput. Dilipa yang melihat kejadian itu segera tanggap dan hendak membunuh sang singa. Namun sang singa merapalkan mantra sehingga Dilipa tidak bisa bergerak, namun hanya bisa berkata-kata saja.

Dengan hati yang tulus, Dilipa menawarkan dirinya sendiri untuk dimakan sang singa sebagai pengganti sapi Nandini. Melihat ketulusan hati Dilipa, perasaan Nandini menjadi tersentuh. Akhirnya Nandini menjelaskan bahwa peristiwa tersebut hanyalah rekaan semata untuk menguji kesetiaan Dilipa. Sesuai dengan permohonan Dilipa, Nandini menghilangkan kutukan yang menimpanya sehingga ia mampu memiliki keturunan. Kemudian Dilipa memiliki putera bernama Raghu, yang akan mendirikan Dinasti Raghu atau Raghuwangsa.

Raja Raghu[sunting | sunting sumber]

Raja Raghu merupakan putera Raja Dilipa. Ia merupakan seorang raja yang gagah berani. Menurut legenda, ia melakukan ekspedisi ke wilayah Asia Tengah dan menaklukkan setiap suku yang ia lalui. Karena jasanya yang terkenal, Dinastinya sendiri bernama Raghuwangsa atau Dinasti Raja Raghu. Raghu memiliki putera bernama Aja yang akan menggantikan pemerintahannya.

Raja Aja[sunting | sunting sumber]

Raja Aja adalah putera Raja Raghu. Aja juga merupakan raja yang gagah berani dan sayang disayangi Raghu. Ia adalah seorang raja besar seperti para raja pendauhulunya. Aja menikahi Indumati, adik Raja Bhoja. Saat menyelamatkan seorang Gandharwa, Aja diberikan senjata tombak yang dapat membuat musuh menjadi tertidur. Ia menggunakan tombak tersebut dalam pertempuran, saat melindungi Indumati.

Aja memiliki putera bernama Dasarata. Setelah Aja mangkat, Dasarata melanjutkan pemerintahannya.

Raja Dasarata[sunting | sunting sumber]

Raja Dasarata merupakan putera Aja, keturunan Manu. Ia memerintah Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhya. Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja yang penuh wibawa bagai Manu, sangat kaya bagaikan Kubera, dan sangat kuat bagaikan Indra. Pada masa kejayaannya, Kerajaan Kosala yang diperintahnya sangat disegani oleh lawan.

Pada masa mudanya, Raja Dasarata dikutuk oleh orang tua yang buta bahwa ia akan wafat dalam keadaan sakit hati karena ditinggalkan oleh putera harapannya dan yang sangat dicintainya. Kutukan tersebut diberikan kepadanya sebab ia telah membunuh anak orang tua tersebut dalam kelalaian.

Dasarata memiliki tiga permaisuri utama bernama Kosalya, Sumitra, dan Kekayi. Menurut Ramayana Walmiki, Dasarata memiliki 700 selir. Saat menikahi Kekayi, ia berjanji bahwa putera yang dilahirkan oleh permaisurinya tersebut akan segera dinobatkan sebagai putera mahkota. Namun tak satu pun di antara ketiga permaisurinya yang melahirkan putera. Akhirnya Dasarata menyelenggarakan suatu yadnya (upacara) untuk memohon keturunan. Setelah upacara dilangsungkan, Dasarata menerima air suci. Air tersebut kemudian diberikan kepada tiga permaisurinya untuk diminum. Beberapa bulan kemudian, ketiga permaisuri Raja Dasarata melahirkan putera. Kosalya melahirkan Rama, Kekayi melahirkan Bharata, dan Sumitra melahirkan Laksmana dan Satrugna.

Pada saat Dasarata hendak menobatkan Rama sebagai raja, permaisuri Kekayi menuntut agar Bharata yang berhak mewarisi tahta. Sesuai dengan janji yang pernah diucapkannya, Dasarata memenuhi permohonan Kekayi. Tak lama kemudian, Dasarata wafat karena sakit hati. Oleh keputusan para menterinya, Bharata diangkat menjadi raja sedangkan Rama dibuang ke tengah hutan selama 14 tahun.

Raja Rama[sunting | sunting sumber]

Rama adalah putera sulung Raja Dasarata. Dalam pandangan Hindu, ia dianggap sebagai awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu yang turun pada zaman Treta Yuga. Ia menikah dengan Sita, puteri Raja Janaka dari Mithila. Kisah perjalanannya yang terkenal terangkum dalam sebuah kitab yang bernama Ramayana.

Atas tuntutan ibu tirinya yang bernama Kekayi, Rama hidup di hutan selama 14 tahun dengan ditemani oleh Sita dan adiknya yang bernama Laksmana. Selama ia di dalam hutan, pemerintahan Ayodhya diwakili oleh Bharata. Dalam petualangannya di dalam hutan, Rama bersahabat dengan ras manusia-kera yang disebut wanara untuk mendapat bantuan demi mengalahkan raja raksasa bernama Rahwana.

Setelah menjalani masa pembuangan selama 14 tahun, Rama memerintah sebagai Raja Ayodhya. Ia memiliki dua orang putera bernama Kusa dan Lawa.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]