Prasasti Amoghapasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tulisan pada bagian belakang Arca Amoghapasa, sedangkan bagian alasnya disebut dengan prasasti Padang Roco.

Prasasti Amoghapasa adalah prasasti yang tertulis pada bagian belakang stela (sandaran) patung batu yang disebut pāduka Amoghapāśa sebagaimana disebutkan dalam prasasti Padang Roco. Pada tahun 1347, Adityawarman menambah pahatan aksara pada bagian belakang patung tersebut untuk menyatakan bahwa patung ini melambangkan dirinya. Prasasti ini kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.198-6469 (bagian arca).

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Patung ini merupakan hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Pada bagian lapik (alas) arca ini terdapat manuskrip yang disebut prasasti Padang Roco yang menyebutkan penghadiahan arca ini.

Terdapat manuskrip yang dipahat kembali pada bagian belakang patung ini, yang dituliskan dalam bahasa Sanskerta. Tata bahasa dari pahatan manuskrip ini tidak terstruktur, sehingga menyulitkan dalam menerjemahkannya secara benar. Sebagian besar isinya merupakan puji-pujian kepada Adityawarman[1].

Penafsiran teks prasasti[sunting | sunting sumber]

Dari beberapa teks yang sudah jelas, dapat membantu untuk memperkirakan maksud dari manuskrip ini. Fokus utama adalah tentang pengukuhan atau pratista, dari patung Amoghapasa oleh Ācārya (Pendeta Guru) Dharmaśekara atas perintah Adityawarman atau nama lainnya Ādityawarmodaya. Disebutkan pula, Adityawarman menyatakan dirinya menjadi Maharajadiraja dengan gelar Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa dengan memulihkan keadaan sebelumnya (Kerajaan Melayu) dan kemudian menamakannya Malayapura pada tahun 1347 Masehi.

Transliterasi teks prasasti[sunting | sunting sumber]

  • Salam sejahtera.
  • Dia, yang memelihara keyakinan dengan benar, Dia, yang memiliki jiwa yang besar, Dia, yang berbudi luhur yang selalu dicintai, Dia, yang mengetahui isi kitab suci, Dia, yang paling unggul, yang sangat taat dan melatih diri, dan Dia yang berkarakter mulia, Dia, yang semua ini karena sandoha Anda dan harapan Anda, Dia yang mengetahui dan mengalahkan musuhnya, Dia yang membenci (kegelapan) perpecahan, Dia yang paling hebat, Dia adalah Ādityavarmodaya.
  • Dia yang diberkahi dengan semua kebajikan, Dia yang sangat berpengalaman dalam perdagangan senjata, dan fasih dalam segala ilmu, Dia bagaikan lautan kebajikan seperti yang diharapkan oleh umat Buddha, Dia yang tahu bagaimana menangani hal-hal dengan bijaksana, Dia yang mengisi tubuh dan nafsunya dengan kemurnian, Dia yang [...][Catatan 1] mencapai apa-apa, Dia yang telah memperoleh kekayaan dan emas, Dia Deva (Kṣatriya) Tuhan, para Patih.
  • Pratista kehormatan Buddha telah dilakukan oleh Acarya (Pendeta guru) Dharmaśekhara, atas nama Gagaṇagañja, Dia yang rendah hati seperti Mañjuśrī, telah ditahbiskan untuk keselamatan (persatuan) dan kebahagiaan dari semua makhluk oleh Devair Amoghapāśa, Dia Raja yang Mulia Ādityawarmman.
  • saat Matahari pada orbitnya pada tahun 1269 Saka[Catatan 2], [...][Catatan 1] saat bulan purnama pada waktu posisi bintang di utara; yoga di Siddhi, dan setengah jam Kāruṇya; muhūrta svarāt; memulihkan keadaan sebelumnya[Catatan 3]; [...][Catatan 1].
  • Salam (untuk anda), dari dukungan seluruh dunia, yang menguasai emas, yang mengetahui segala tingkatan hidup dan sosial.
  • Dia yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Mahayana yang tiada terbatas, Dia yang telah menaklukan bahaya dan mengumpulkan seluruh permata dari jari-jari musuhnya, Dia di antara para penguasa di dunia ini, Dia yang telah mencapai keagungan.
  • Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva, Dia yang berkuasa untuk diketahui semua.
  • di negeri yang memiliki emas, indah dengan kicauan burung dan gajah serta aroma hutan menyenangkan yang dihiasi oleh peri surga dengan kolam yang dikunjungi oleh Mātaṅginiśa dan Asura'.
  • Tuan dari semua Dewa, sandoha yang sangat berlimpah hāhā [...][Catatan 1].
  • hāhāhūhū, yang dinikmati [...][Catatan 1], indah bagaikan bulan purnama saat posisi rasi bintang yang baik, yang dihiasi oleh kebaikan hatinya, dan di bawah nama Udayawarmmagupta, pemimpin dari semua penguasa dunia, yang telah melepas dari bentuk Jina datang ke bumi untuk membantu dunia menghapus perasaan hampa di Mātaṅgini (ratu).
  • Semoga [...][Catatan 1] dari Mātaṅgini yang melindungi bumi ini dari pembusukan, menikmati harta yang telah dikumpulkan karena prestasinya sebagai prajurit, dengan kekuatan kemurahan (pengampunan), Dia yang bersabar, Dia yang menahan diri, Dia yang rendah hati dari keturunan yang sangat baik, Dia, Patih [...][Catatan 1] yang telah menunjukkan keunggulannya dalam menghukum orang jahat.
  • Patung yang berdiri ditempat pemujaan Buddha (Jina) ini adalah Tuan yang Mulia Amoghapasa sebagai sinar Udaya (Matahari terbit) yang indah.
  • Dengan tangan (kekuasaan) [...][Catatan 1] yang setuju dengan kebenaran, mereka yang telah mencapai ketenaran dengan menaklukkan musuh-musuh kerajaan, yang memiliki penampilan bagaikan seperti anak panah Tuhan, demi kemenangan tertinggi untuk Malayapura, yang berpengalaman dalam segala hal, yang unggul dan diberkahi dengan banyak kebajikan, Dia adalah deva-tuhan, para (patih) raja muda.
  • Udaya yang bersinar di atas gunung (Matahari terbit)[Catatan 4], berbakti kepada Udaya [...][Catatan 1] Udaya yang rendah hati, yang ditakuti musuh, yang mulia di bumi ini.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i beberapa kata yang belum dapat dipahami.
  2. ^ pataṅga = 12, caraṇa = 6, nanda = 9.
  3. ^ jīrṇam uddhṛtam = memulihkan keadaan sebelumnya.
  4. ^ tarūpati tidak sama dengan rupati, jadi kemungkinan adalah matahari.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kern, J.H.C., (1907), De wij-inscriptie op het Amoghapāça-beeld van Padang Candi(Batang Hari-districten); 1269 Çaka, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde.