Pondok Pesantren La Tansa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pesantren La Tansa
Didirikan 9 Januari 1991
Jenis Pesantren Modern
Afiliasi keagamaan Islam
Pengasuh KH. Adrian Mafatihullah Karim, MA.
KH. Soleh, S.Ag, MM.
Lokasi Banten, Bendera Indonesia
Situs web Website Resmi

Pondok Pesantren La Tansa adalah sebuah pondok pesantren modern yang terletak di daerah Parakansantri, Cipanas, Lebak, Banten. Pesantren ini didirikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa'i Arief (Almarhum) yang bertindak juga sebagai pemimpin pesantren Daar el-Qolam (Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang) saat itu. Kini, setelah pendiri wafat, Pesantren La Tansa dipimpin oleh K.H. Adrian Mafatihullah Karim, MA dan K.H. Sholeh, S.Ag, MM. Lembaga ini bernaung di bawah Yayasan La Tansa Mashiro, yang juga didirikan oleh Drs K.H. Ahmad Rifa'i Arief.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

PONDOK PESANTREN “LA TANSA” berdiri di sebuah lembah seluas ±13 ha. yang sekelilingnya dialiri sungai Ciberang dan dikelilingi oleh gunung-gunung dan bukit yang menghijau, terhindar dari polusi udara bahkan polusi budaya dan pergaulan amoral, merupakan tempat tafaqquh fiddien yang nyaman dan rekreatif. Lembaga ini dilahirkan oleh Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang, sebagai suatu pengembangan wawasan dan pengembangan daya tampung dengan sistem pendidikan serta pengajaran yang lebih variatif dan memenuhi hajat umat. yang memberikan prospek yang sangat baik untuk sebuah sarana pendidikan. Sasaran siswa yang ditargetkan untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren La Tansa bukan hanya warga di wilayah ini, namun lebih jauh lagi adalah seluruh rakyat Indonesia yang ingin memperdalam ilmu umum sekaligus ingin memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam yang baik. Hal ini terbukti dengan kehadiran para santri dari berbagai kota dan propinsi di Indonesia untuk menuntut ilmu pengetahuan di Pondok Pesantren La Tansa setiap tahunnya. Lembaga ini dikelola oleh Yayasan “LA TANSA MASHIRO” yang didirikan oleh Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief (Alm) dengan Akta Notaris No. 4 Tanggal 9 Januari 1991 dan Akta perubahan No. 44 Tanggal 20 April 1998, beralamat di Parakansantri, Cipanas, Lebak, Banten. Lahirnya Pondok Pesantren “LA TANSA” didasarkan atas kesadaran untuk membangun sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, berwawasan luas, berilmu, berakhlakul-karimah (mukminin, muttaqien dan rosikhina fil’ilmi) kelak menjadi generasi penerus bangsa, negara dan agama dalam pelbagai sektor kehidupan.

Landasan[sunting | sunting sumber]

Pondok Pesantren La Tansa terlahir sebagai manisfestasi kebutuhan ummat akan pola dan sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi kekinian, kondisi di mana hajat akan terciptanya sebuah generasi yang tidak hanya mengejar nilai-nilai duniawi tetapi juga tidak menghilangkan nilai-nilai ukhrawi yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

“Dan tuntutlah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berlaku baik kepadamu, dan jangan membuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak” (QS Al-Qashash:77)


Falsafah[sunting | sunting sumber]

Penjabaran Panca Jiwa Pondok

Seluruh pola hidup santri di Pondok Pesantren La Tansa didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana yang dapat dirangkum dalam panca jiwa hidup santri, lima prinsip hidup santri itu adalah :

1. KEIKHLASAN

Kata Keikhlasan memilliki makna yang sangat luas, namun bila diartikan secara verbal keikhlasan berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan atas dasar dorongan nafsu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu, segala perbuatan yang dilakukan semata-mata bernilai ibadah Lillahi ta’ala. Bila dianalogikan secara luas, Kiyai ikhlas mendidik dan para pembantu Kiyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan dan para santri yang ikhlas dididik. Jiwa keikhlasan ini akan melahirkan sebuah iklim yang sangat kondusif, harmonis disemua level, dari level atas sampai level yang paling bawah sekalipun, suasana yang harmonis antara sosok Kiyai yang penuh kharismatik dan disegan,i par asatidz yang tak pernah bosan untuk membimbing dan santri yang penuh cinta, taat dan hormat. Jiwa ini akan melahirkan santri yang militan siap terjun berjuang di jalan Allah kapan dan dimanapun.

2. KESEDERHANAAN

Sederhana bukan berarti melarat dan miskin, tapi sesungguhnya dalam jiwa kesederhanaan ini terdapat kekuatan maha dasyat yaitu nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi semua aral ujian yang menghadang, agar menatap hidup lebih dinamis dan tegar dalam menghadapai ujian perjuangan hidup. Dan dalam kehidupan di pesantren inilah nilai-nilai kesederhanaan itu ditanamkan kepada seluruh santri. Dibalik kesederhanaan itu akan terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala kondisi sesulit apapun, bahkan pada jiwa kesederhanaan inilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat sebagai syarat mutlak untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam semua ruang lingkup kehidupan

3. BERDIKARI

Berdikari atau kesangupan untuk menolong diri sendiri merupakan salah prinsip yang ditanamkan Pondok Pesantren La Tansa dalam pola hidup santri. Jiwa yang berdikari tidak hanya dalam lingkup hidup santri saja tetapi lebih pada tatanan yang lebih luas dan pondok pesantren La Tansa itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari, sehingga tidak menyandarkan kelangsungan hidupnya pada orang lainya atau lembaga lain sehingga tidak akan ada intervensi dari pihak luar terhadap kebijakan-kebijakan pesantren itu sendiri. Pada perjalananya Pondok Pesantren La Tansa tidak kaku dan lebih mengoptimalkan kekuatan di dalam tetapi sikap berdikari juga lebih diartikan sebagai swadaya yaitu sama-sama berpartisipasi dan sama-sama merasakan

4.UKHUWAH ISLAMIYAH

Suasana kehidupan di Pondok Pesantren La Tansa diliputi dengan suasana yang penuh persaudaraan, keakraban dengan saling menghormati satu sama lain, walaupun santri yang datang dan belajar berlatar daerah, suku dan budaya yang berbeda tidak akan mengurangi rasa persaudaraan, justru dengan ukhuwah islamiyyah ini semakin mengeratkan persaudaraan di antara santri dan pada prinsipnya perbedaan tidak dijadikan sebagai faktor perpecahan tetapi perbedaan sebagai keberkahan dari sang maha pencipta Allah SWT. Suasana yang penuh keakraban dan kekeluargaan ini tidak hanya berlangsung tak kala di hidup di pondok pesantren saja, tetapi juga tetap berlangsung sampai para santri terjun dalam masyarakat.

5. KEBEBASAN

Kebebasan dalam berpikir, kebebasan dalam berbuat dan kebebasan dalam menentukan masa depan, bebas memilih jalan hidup dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarkat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja kebebasan ini seringkali disalah artikan yang pada akhirnya akan menghilangkan arti dari kebebasan itu sendiri dan berakibat hilangnya arah dan tujuan bahkan prinsip. Kebebasan harus tetap pada garis yang benar, garis yang benar itu sendiri adalah kebebasan dalam garis-garis positif dengan penuh tanggung jawab baik dalam kehidupan di pondok pesantren itu sendiri maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa-jiwa yang tersebut diatas itulah yang harus harus ditanamkan dalam kehidupan santri di pondok pesantren sebagai bekal kelak nanti terjun kedalam kehidupan masyarakat, jiwa-jiwa ini juga harus terus dijaga dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya

Penjabaran Motto Pondok

Pendidikan Pondok Pesantren La Tansa menekankan pada pembentukan pribadi mukmin, muslim yang berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas, sifat ini adalah motto pendidikan di Pondok Pesantren La Tansa

1. BERBUDI LUHUR

Berbudi Luhur atau yang lazim disebut Al-Akhlakul Karimah adalah landasan yang paling prinsipil yang ditanamkan Pondok Pesantren La Tansa kepada seluruh santri dan semua element yang ada. Penekanan tata krama dan sopan santun dalam berbagai kondisi menjadi kewajiban, ini terefleksi dalam pola hidup dan tingkah laku yang selalu ditekankan dalam pesantren

2. BERBADAN SEHAT

“Al-Aqlu Saliim fii Jismi Saliim” Akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat, tubuh yang sehat adalah sisi lain yang cukup penting dalam pendidikan di Pondok Pesantren La Tansa, dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan aktifitas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukkan dengan melalui berbagai kegiatan olahraga, dan pemeliharaan asrama yang bersih dan nyaman.

3. BERPENGETAHUAN LUAS

Para santri di Pondok Pesantren La Tansa dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengembangan ilmu pengetahuan, seluruh santri tidak hanya diajari pengetahuan dalam ruang kelas tetapi lebih dari itujuga para santri diajarkan cara belajar dan untuk apa dia belajar. Kyai sering berpesan bahwa ilmu pengetahuan itu luas, tak bertepi dan tanpa batas tetapi tidak boleh terlepas dari Al-Akhlakul Karimah atau berbudi luhur sehingga para santri tahu untuk apa dia belajar dan tahu prinsip untuk dia menambah pengetahuan, agar ilmu pengetahuan itu tidak digunakan pada hal-hal yang akan merugikan manusia itu sendiri.

4. BERPIKIRAN BEBAS

Berpikiran bebas itu tidak berarti bebas tanpa batas, kebebasan berpikir ini tidak boleh menghilangkan jati diri seorang muslim sejati, karenanya kebebasan berpikir itu adalah kematangan dan kedewasaan dari apa yang telah diperolehnya, motto ini ditanamkan sesudah santri telah memiliki budi yang luhur dan sudah berpengetahuan luas

Rujukan[sunting | sunting sumber]