Pondok Pesantren Al Manshurin Metro Lampung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pondok Pesantren Al Manshurin Metro Lampung
Lembaga Dakwah Islam Indonesia ( LDII ).jpg
Informasi
Didirikan 2001
Jenis Pesantren
Rektor H. Hadi Sukasman
Kepala Sekolah Nurjaya Abdullah
Program/jurusan/
peminatan
Dakwah
Kurikulum Tradisional plus
Status Yayasan
Alamat
Lokasi Jl. Merica I No. 17 Iringmulyo Metro Timur, Metro, Bandar Lampung, Indonesia
Koordinat 0°11′14″LU 121°52′16″BT / 0,187283°LU 121,871234°BT / 0.187283; 121.871234
Afiliasi Islam

Pondok Pesantren Al Manshurin didirikan sebagai respons atas kian besarnya tuntutan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia Metro Lampung terhadap kebutuhan ulama yang menguasai disiplin ilmu Al Quran dan Al Hadits.

Walupun usianya masih relatif muda, tetapi perkembangan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Manshurin Metro Lampung yang terletak di Jl. Merica I No. 17 Iringmulyo Metro Timur ini cukup pesat. Pesantren yang pada awal pembentukannya hanyalah sebagai tempat pengajian Al-Quran dan Al Hadits bagi warga di sekitar masjid Khoirul Huda ini ternyata dari tahun ke tahun terus mengalami kemajuan, baik jumlah santri, tenaga pengajar, maupun fasilitas yang dimiliki.

Ketua Pondok Pesantren Al Manshurin, Nurjaya Abdullah, saat ini santri yang menuntut ilmu di pesantren ini tidak hanya berasal dari Kota Metro saja, tetapi juga berasal dari luar Provinsi Lampung, antara lain dari Sumatera Selatan dan bahkan dari Jawa Timur.

Ponpes Al Manshurin didirikan oleh beberapa tokoh ulama di lingkungan Lembaga Dakwah Islam Indonesia Kota Metro, seperti H. Hadi Sukasman, H. Sahudi Raharjo (alm), dan H. Kartana pada tahun 2001. Menurut Nurjaya, pada awal mula berdirinya, Pesantren ini diorientasikan sebagai respons atas kian besarnya tuntutan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia terhadap kebutuhan ulama yang menguasai disiplin ilmu Al Quran dan Al Hadits.

Syarat untuk diterima menjadi santri di pondok ini tidak terlalu sulit. Yang utama adalah akhlakul karimah, bisa membaca dan menulis Arab, serta lulus wawancara. Para santri diharuskan untuk mondok atau tinggal di asrama. Hal ini dimaksudkan untuk membiasakan para santri hidup disiplin dan teratur, juga bertujuan untuk memudahkan para santri mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, untuk santri yang mondok sambil sekolah diberikan kemurahan kos di luar pondok. Ini juga mengingat daya tampung asrama yang tidak memungkinkan.

Sesuai dengan visinya yaitu menjaga kemurnian Al-Quran yang sarat dengan berbagai disiplin ilmu, serta menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dan pandangan hidup dalam kehidupan sehari-hari, ponpes ini berupaya mengangkat dan melahirkan kader-kader generasi penerus berkualitas, tidak saja pandai membaca Al-Quran, tetapi juga bisa mengajarkan kembali ilmu yang telah diterimanya, meliputi membaca dan menterjemahkan Al Quran dan Al Hadits. Bahkan kini kepada para santri mulai dikenalkan bacaan Qiroatush Sab’ah, atau system 21 cara membaca Al Quran. Ilmu cara membaca Al Quran ini masih belum banyak dikenal masyarakat di Indonesia.

Dengan didukung enam tenaga pendidik yang terdiri dari alumnus beberapa institusi pendidikan, dengan kapabilitas yang sesuai dengan jurusan bidang studinya masing-masing, kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan cukup optimal. Meski demikian, pihak pengelola berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan dari lembaga ini. Ponpes Al Manshurin sampai saat ini sudah menghasilkan tidak kurang dari 300 lulusan dan telah bertugas sebagai mubaligh/mubalighat yang tesebar di berbagai daerah di tanah air.

Meskipun secara umum proses pengembangan dan pembangunan Pondok Pesantren Al Manshurin ini belum sepenuhnya selesai, namun sebagai sebuah lembaga pendidikan, lembaga ini telah memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk diperlukan bagi keberlangsungan proses belajar-mengajar, diantaranya sarana ibadah (masjid tiga lantai ukuran 18x24 meter), aula, asrama putri, asrama putra, koperasi, dapur umum, dan lain-lain. Saat ini setiap santri hanya dikenakan biaya Rp. 100.000,- per bulannya. Itu sudah termasuk uang pemondokan, uang makan tiga kali sehari, serta uang SPP.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]