Perpustakaan Proklamator Bung Hatta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta merupakan salah satu Perpustakaan Nasional Indonesia yang terletak di Jalan Kusuma Bakti-Gulai Bancah, Bukittinggi, Sumatera Barat, tepatnya di komplek Gedung Walikota Bukittinggi. Perpustakaan ini terdiri dari kepala perpustakaan, pustakawan, bahan pustaka yang berbagai macam, serta ruangan yang beragam [1].

Perpustakaan yang merupakan perpustakaan terbesar di Provinsi Sumatera Barat ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 September 2006 dalam suatu acara di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Umum Mohammad Hatta[sunting | sunting sumber]

Awalnya, pada tanggal 12 Agustus 1976 didirikanlah Perpustakaan Umum Mohammad Hatta yang terletak di Jln. A. Riva’i, tepatnya di sebelah Rumah Sakit Umum Daerah DR. Achmad Mochtar Kota Bukittinggi. Perpustakaan ini diresmikan oleh Bung Hatta sendiri yang merupakan putra Minangkabau sekaligus Pahlawan Proklamator Republik Indonesia.[2]

Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta[sunting | sunting sumber]

Dalam perkembangannya, perpustakaan ini telah mengalami pergantian nama beberapa kali. Setelah bernama Perpustakaan Umum Mohammad Hatta, perpustakaan ini sempat diganti namanya menjadi Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta.[2]

Sejak didirikannya Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta, masyarakat diberikan pelayanan secara cuma-cuma. Setiap tahunnya pelayanan yang diberikan mengalami peningkatan terus menerus. Begitu pula dengan penggunanya yang semakin hari juga semakin bertambah. Tidak hanya dari masyarakat Bukittinggi sendiri, namun juga dari masyarakat luar Kota Bukittinggi. Akibatnya gedung perpustakaan yang berlantai dua ini terasa semakin sempit. Kemudian Pemerintah Kota Bukittinggi berencana untuk membangun gedung perpustakaan baru yang lebih luas dibanding gedung perpustakaan sebelumnya.[2]

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2000-an, pemerintah berencana untuk membangun perpustakaan kembar, yaitu perpustakaan yang akan dibangun di daerah kelahiran dua orang Pahlawan Proklamator Republik Indonesia. Kemudian rencana tersebut pun berhasil diwujudkan pada tahun 2003, yaitu dengan dibangunnya Perpustakaan Soekarno di Kota Blitar, dan diikuti dengan pembangunan Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta di lokasi yang lebih luas dan berdampingan dengan Kantor Walikota Bukittinggi yang baru. Kemudian Perpustakaan Proklamator Mohammad Hatta ini mengalami pergantian nama menjadi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, dan kemudian diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, H. Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 September 2006. Peresmian tersebut ditandai dengan penekanan sirine oleh Presiden SBY, dan diikuti dengan pembukaan selubung kain prasasti yang berisi nama Perpustakaan Proklamator Bung Hatta serta patung tokoh Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Dr. Mohammad Hatta pada pukul 18:15 WIB. Selanjutnya presiden menandatangani prasasti peresmian Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dan melakukan peninjauan ke dalam gedung perpustakaan. Tidak hanya itu, Presiden berkenan untuk memberikan pesan beliau pada buku tamu.[2]

Seiring dengan perkembangannya, perpustakaan ini sejak tahun 2006 hingga sekarang sedang berproses menjadi perpustakaan UPT Perpustakaan Nasional. Oleh sebab itu, perpustakaan ini mulai membenahi setiap bagian yang ada agar menjadi lebih baik, sehingga nantinya layak disebut sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional. Selain peningkatan bahan pustaka, pelayanan dan sumber daya manusia (SDM)-nya juga ikut diperhatikan. Hal ini terbukti dengan diutusnya dua orang pegawai untuk kuliah program sarjana dan program pascasarjana di salah satu universitas negeri di Bandung.[2]

Perpustakaan yang sebelumnya tidak pernah disentuh oleh teknologi informasi ini, sekarang sudah mulai menerapkan otomasi perpustakaan, dengan menggunakan sebuah software yang merupakan buatan Indonesia sendiri. Rencananya Perpustakaan Nasional akan membuat jaringan kerja sama antar perpustakaan secara nasional. Sekarang proyek tersebut sedang berlangsung di semua perpustakaan daerah di Indonesia. Dalam hal ini, diharapkan agar kedepannya semua perpustakaan di Indonesia dapat melakukan kerja sama antar perpustakaan dengan lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh, pengguna perpustakaan di Kota Makassar bisa meminjam bahan pustaka yang terdapat di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dengan memanfaatkan software tersebut. Dengan penggunaan software ini, pengguna bisa mengetahui dimana bahan pustaka yang mereka butuhkan dan kemudian mereka bisa meminjamnya hanya dengan datang ke perpustakaan yang ada di kota mereka. Untuk itu perpustakaan juga akan melayani delivery bahan pustaka antar perpustakaan.[2]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Fasilitas yang ada di perpustakaan ini diantaranya:

1. Ruang Baca, perpustakaan ini juga memiliki ruang baca seperti perpustakaan lain pada umumnya.

2. Ruang Anak, merupakan ruang baca yang dikhususkan hanya kepada anak-anak.

3. Ruang Administrasi, tempat berlangsungnya proses administrasi perpustakaan.

4. Ruang Pengolahan, tempat pengolahan bahan pustaka.

5. Ruang Referensi, terdapat berbagai referensi yang sangat berguna bagi para peneliti.

6. Ruang Teknologi Informasi, memanfaatkan fasilitas internet.

7. Ruang Auditorium, mampu menampung sekitar 1000 orang [3].

8. Ruang Penjilidan, berguna untuk pemeliharaan serta pelestarian bahan pustaka.

9. Ruang Fumigasi, sayangnya ruangan ini tidak digunakan semestinya, malah ruangan ini menjadi gudang untuk tempat penyimpanan koran.

10. Ruang Miniteater, karena kapasitasnya hanya sedikit, yaitu terdiri dari 54 tempat duduk, maka dikenal dengan "ruangan miniteater" [4].

11. Ruang Fotokopi, bisa digunakan oleh semua pengunjung.[2]

12. Ruang Rapat, berkapasitas sekitar 70 orang.[4]

13. Musala, perpustakaan ini juga menyediakan musala bagi umat Islam yang hendak menunaikan ibadah.

14. Museum Bawah Tanah (Musabata), mengoleksi berbagai macam benda-benda kuno tempo dulu,[3] seperti batu-batuan, tulang, dan lain sebagainya.

Selain fasilitas yang sudah disebutkan diatas, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta juga memiliki perpustakaan keliling yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi, terutama bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan. Pada dasarnya, fungsi dari perpustakaan keliling ini sebenarnya sama dengan perpustakaan umum, karena perpustakaan keliling merupakan kepanjangan layanan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Sesuai dengan mottonya, yaitu Perpustakaan sebagai Agen Perubahan Sosial, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta ini menjadikan masyarakat bebas dari kebodohan, dan buta huruf, serta meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat, terutama masyarakat Kota Bukittinggi sendiri. Dengan senangnya masyarakat membaca, berarti Perpustakaan Proklamator Bung Hatta telah berpartisipasi aktif dalam pembebasan masyarakat dari kemiskinan, karena kebodohan merupakan awal dari kemiskinan. Peranan ini diharapkan agar Perpustakaan Proklamator Bung Hatta benar-benar dapat menjadi agen perubahan sosial bagi masyarakat Kota Bukittinggi dan Sumatera Barat secara umum.[2]

Selain itu sebagai agen perubahan sosial, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta harus mampu mewujudkan masyarakat yang memiliki wawasan yang luas serta kaya akan informasi. Oleh karena itu, perpustakaan ini harus bisa memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai pemenuhan rasa ingin tahu mereka, sehingga masyarakat bisa mengetahui berbagai informasi terbaru (up to date).[2]

Selain fungsi yang sudah dijelaskan di atas, ada 4 fungsi perpustakaan pada umumnya [5], yaitu:

1. Sebagai Fungsi Pendidikan

Perpustakaan memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk menambah pengetahuan mereka.

2. Sebagai Fungsi Rekreasi

Selain menyediakan buku-buku pengetahuan, perpustakaan juga menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan), sehingga dapat digunakan oleh para pembaca dalam mengisi waktu senggang.

3. Sebagai Fungsi Penelitian

Perpustakaan juga menyediakan bahan bacaan yang bisa dijadikan sumber / obyek penelitian.

4. Sebagai Fungsi Informasi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perpustakaan menyediakan berbagai bahan bacaan yang terdiri dari berbagai informasi yang bermutu dan up to date yang disusun secara teratur dan sistematis.

Koleksi[sunting | sunting sumber]

Sejak peresmian Perpustakaan Proklamator Bung Hatta pada tanggal 21 September 2006 oleh Presiden Republik Indonesia, H. Susilo Bambang Yudhoyono, sumbangan buku untuk perpustakaan ini terus mengalir, sehingga dalam waktu singkat total buku yang sudah disumbangkan ke perpustakaan ini mencapai ribuan jumlahnya. Kemudian ditambah lagi 100 buah buku yang disumbangkan oleh Nursyamsi, yang merupakan hasil karya beliau sendiri, dan langsung diterima oleh Kepala Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Faisal S.Pd. Buku-buku yang beliau sumbangkan tersebut diantaranya terdiri dari Revitalisasi Perbankkan, Presiden dan Wakil Presiden, Kiat-Kiat Memenangkan Pilkada, Memahami Sistem Struktur, dan Person [6].

Selanjutnya, selama tahun 2010 Perpustakaan Proklamator Bung Hatta telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Tercatat bahwa perpustakaan ini memiliki 110.000 eksemplar buku dalam 60.000 judul. Data terakhir menunjukkan bahwa perpustakaan ini setiap harinya dikunjungi oleh 400 pembaca, dengan total buku yang dipinjam sejumlah 100 judul tiap harinya. Buku-buku tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari sejarah, ekonomi, politik, hingga kuliner. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu dan informasi. Sebagaimana diketahui bahwa Bukittinggi adalah kota pendidikan dengan ribuan siswa dan mahasiswa. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kualitas koleksinya, perpustakaan ini terus berusaha menggalang dana dan sumbangan dari para donator dan pecinta buku [7].

Pameran Buku dan Bazar Buku[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka memperingati hari lahir Bung Hatta yang ke-107, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-64, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menyelenggarakan pameran buku dan bazar buku murah. Acara pameran dan bazar buku ini diisi oleh koleksi buku-buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Daerah Sumatera Barat, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, serta sejumlah penerbit buku.[8]

Pameran tersebut bertajuk “Dengan Memperingati Hari Lahir Bung Hatta ke 107 Kita jadikan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menjadi Pusat Pembelajaran Seumur Hidup”. Pameran ini secara resmi dibuka oleh Wakil Walikota Bukittinggi, H. Ismet Amzis, S.H. Pada acara pameran tersebut turut hadir Kakan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi, Drs. H. Zulkifli Joneva, Ketua Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang diwakili oleh Kabid Pelayanan, Nini Suarni, penerbit, Kepala Sekolah se-Kota Bukittinggi, dan siswa Sekolah Dasar (SD).[8]

Dalam kesempatan ini, Ismet Amzis memaparkan bahwa kegiatan bazar dan pameran buku ini diharapkan agar dapat menyebarluaskan informasi mengenai koleksi buku dan scientific museum yang dimiliki oleh Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Kemudian, hal yang tidak kalah penting yaitu mampu memotivasi dan meningkatkan minat baca masyarakat Kota Bukittinggi pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.[8]

Sementara Nini Suarni mengatakan bahwa hingga saat ini penyelenggaraan perpustakaan di Indonesia telah diatur oleh 2 Undang-Undang (UU). Oleh karena itu ia berharap agar semua perpustakaan konsisten dalam menjalankan apa yang tertera atau tercantum di dalam UU ini, sehingga sinkronisasi dan koordinasi dari pusat ke daerah dapat tercapai dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perpustakaan.[8]

Kemudian, pada kesempatan yang sama, Zulkifli mengemukakan bahwa buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta berasal dari pengadaan melalui APBD, bantuan instansi pemerintah perpustakaan nasional,perpustakaan daerah, masyarakat, serta souvenir PNS yang melakukan perjalanan ke luar daerah.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]