Permadi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Permadi, SH
Lahir 14 Mei 1940
Bendera Indonesia Semarang, Indonesia
Pekerjaan Paranormal, DPR
Pasangan hidup Dewi Noerjanti
Anak Dewi Ayuning Kraton
Dewi Tjiptaning Kraton
Bambang Tarunaning Prang
Bambang Andikaning Prang
Orang tua Poernomo, Sriyati

KRT Permadi Satrio Wiwoho, SH atau biasa dikenal dengan nama Permadi, SH (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 14 Mei 1940; umur 73 tahun). Namun ada sumber lain yang menuliskan kelahiran tanggal 16 Mei 1940. Pria ini sangat senang berpakaian hitam. Bukan hanya pakaian hitam yang dimilikinya. "Mobil, kamar, ruang. Bahkan, celana dalam juga hitam, ujar laki-laki kelahiran Semarang ini terkekeh.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Sebenarnya tidak ada yang berbeda di antara 550 wakil rakyat di DPR ini. Hanya saja, ada satu wakil rakyat yang selalu menggunakan pakaian hitam, memakai tas kecil yang selalu diapit tangan dan yang paling unik dia selalu memakai taksi untuk kegiatan di luar gedung DPR.

Permadi menceritakan, alasan kecintaannya menggunakan pakaian hitam berawal dari kebiasaan yang diterapkan oleh Poernomo (ayah Permadi) sejak kecil. Dalam keyakinannya, hitam memiliki makna tersendiri: Warna hitam melambangkan ilmu jawa yang paling tinggi atau dikenal dengan Sangkan Paraning Dumadi. Kedua, warna hitam adalah warna yang paling konsekuen.

"Anda pakai baju warna-warni, bayangan tetap hitam. Anda pakai pakaian warna kuning, tetap warna bayangan hitam. Artinya, apa yang dipikirkan, apa yang dilakukan, apa yang dirasakan, apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat harus sama dan konsekuen" ujar mantan wartawan ini.

Lika-liku dalam kehidupan manusia sangat beragam, masa sulitpun pernah dirasakan Permadi. Dia mengaku tidak menyangka dirinya bisa menjadi wakil rakyat dan merasakan keagungan gedung dewan yang terhormat.

Dia menuturkan, saat mulai merintis karier, segala macam pekerjaan pernah dilakoni. Mulai menjadi kondektur, sopir taksi gelap, hingga menjadi pekerja lepas yang tidak mempunyai pendapatan tetap. Itu terjadi antara 1967-1969.

“Dalam hidup, saya tidak pernah ngoyo. Istilah jawanya, ngeli ning aja keli. Jadi, mengalir seperti air saja. Bahkan, saya juga menerapkan prinsip hidup seperti yang diterapkan Eyang Sosrokartono yang merupakan kakak dari RA Kartini, yaitu ngelampah tanpa bolo, sugih tanpa bandho dan menang tanpa ngasorake, dengan prinsip itu hidup akan semakin enak" imbuh pengagum tokoh Soekarno ini.

Karena kecintaannya terhadap tokoh proklamasi nan kharismatik itu, dirinya pernah diberhentikan dari pekerjaannya. Kekagumannya terhadap sosok ketokohan dari mantan presiden pertama ini sudah dimulai sejak usia lima tahun.


“Saya tidak dekat secara fisik, tetapi dengan batin beliau sangat dekat dan itu tidak bisa saya ungkapkan. Ada pengalaman unik mengenai Bung Karno, saat itu, saya bekerja pada lembaga pariwisata RI. Namun, akhirnya saya diberhentikan gara-gara dicap "Soekarnois". Bahkan, ditempat lain juga sama ditolak, tapi ya saya terima saja" ujar kolektor puluhan keris ini.

Pria yang dikenal sangat vokal ini mengaku, siap membantu siapapun dengan kemampuan yang dimilikinya. Namun, dia berpesan jangan sekali-sekali memberikan imbalan. Sebab, bagi Permadi, ini merupakan bentuk konsistensi dirinya terhadap masyarakat.

Konsistensi ini saya pegang teguh, dengan catatan saya tidak menerima sogokan atau amplop. Bahkan, kalau ada kasus seperti itu, pasti akan saya bongkar

tandas pria yang enggan disebut sebagai paranormal ini.

Permadi merasa beruntung bisa menikah dengan Dewi Noerjanti. Pasalnya, saat menikah dengan Dewi, dirinya tidak mempunyai pekerjaan tetap dan uang.

“Saat saya menikah tidak punya apa-apa. Bahkan, untuk biaya hidup menggunakan gaji dari istri saya. Inilah saya yang tidak mau menipu diri, atau siapapun" tutur pemilik dua mobil mini Cooper ini.

Kehangatan cinta pun dirasakan Permadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga Permadi tidak bisa menghilangkan rasa cintanya terhadap istri dan keempat anaknya.

“Perhatian anak-anak saya memang sangat luar biasa. Saat saya terkena stroke dan tidak bisa menggunakan mobil, anak saya menyediakan mobil dengan sopirnya. Tapi, saya pikir itu belum perlu karena kasihan juga sopir disuruh menunggu seharian di parkiran. Makanya, kalau kemana-mana saya menggunakan taksi" tambahnya.

Riwayat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  1. SD Semarang (1952)
  2. SMP Semarang (1956)
  3. SMA Semarang (1958)
  4. S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1965)

Karier[sunting | sunting sumber]

  • Pegawai di Lembaga Pariwisata (1966-1967)
  • Sekretaris Redaksi Suara Pembaruan (1969-1971)
  • Sekretaris pribadi Hardi, SH (1971-1973)
  • Lembaga Konsumen Indonesia (1973-2004), Sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen (1973-1979), Ketua Yayasan Lembaga Konsumen (1979-1985)
  • Anggota PDIP (1999)
  • Anggota DPR RI

Kegiatan Lain[sunting | sunting sumber]

Berorganisasi dalam lebih kurang 20 LSM di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial budaya

  • Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) (1958)
  • Supir taksi, kondektur bus swasta (1967-1968)
  • Wartawan freelance (1968-1970)
  • LSM Bidang Poleksosbud Dan Lingkungan (1973-1999)
  • Pengurus Yayasan Parapsikologi Indonesia (1982)
  • Lembaga Parapsikologi semesta (1985–1990)
  • Gerakan Nasional Anti Narkotika
  • Berorganisasi dalam lebih kurang 20 LSM di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial budaya

Filmografi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]