Peretas bersertifikat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Peretas bersertifikat (atau Certified Ethical Hacker) merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seorang peretas dengan seizin dan sepengetahuan pemilik dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat keamanan pada suatu sistem. Kegiatan peretas yang dilakukan tanpa sepengetahuan dan izin dari pemilik, walaupun memiliki tujuan yang baik tidak dapat dikategorikan sebagai peretas yang beretika dan berisiko mendapat ancaman hukuman yang sesuai jika korban merasa tidak senang dengan perbuatan peretas.

Tahapan aktivitas hacking[sunting | sunting sumber]

Berikut ini akan dijelaskan tahapan-tahapan tertentu yang dilakukan dalam aktivitas yang dilakukan oleh seorang peretas.

Reconnaissance[sunting | sunting sumber]

Reconnaissance atau pengintaian adalah tahap mengumpulkan data. Peretas akan mengumpulkan semua data sebanyak-banyaknya mengenai target. Proses pengintaian terbagi menjadi dua yaitu pengintaian secara aktif dan pasif.

  • Pengintaian secara pasif adalah proses pengumpulan data tanpa berhubungan langsung dengan target
  • Pengintaian secara aktif adalah proses pengumpulan data dengan berhubungan dengan target. Peretas melakukan aktivitas terhadap korban atau lingkungan korban untuk bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

Scanning[sunting | sunting sumber]

Scanning merupakan tanda dari dimulainya sebuah serangan oleh peretas (pre-attack). Pada tahap ini, peretas akan mencari berbagai kemungkinan yang dapat digunakan untuk mengambil alih komputer atau sistem dari target. Tahapan ini dapat dilakukan jika informasi yang didapat pada tahap reconnaissance mencukupi sehingga peretas bisa mencari “jalan masuk” untuk menguasai sistem. Berbagai peralatan (tools) dapat membantu seorang peretas untuk melalui tahapan ini.

Pengambilan alih[sunting | sunting sumber]

Pada tahap ini peretas akan memulai proses penyerangan terhadap komputer atau sistem korban melalui penetrasi setelah peretas mengetahui kelemahan dari komputer atau sistem korban.

Memelihara akses[sunting | sunting sumber]

Setelah mendapatkan kekuasaan terhadap suatu sistem, terdapat kemungkinan ulah peretas diketahui oleh korban sehingga akan timbul tindakan dari korban untuk memperbaiki kelemahan dari sistemnya. Seorang peretas akan mempertahankan kekuasaannya terhadap sistem tersebut dengan berbagai cara seperti menanamkan backdoor, rootkit, trojan, dan lain-lain. Agar dapat mempertahankan kekuasaannya, peretas bahkan bisa memperbaiki beberapa kelemahan yang ada pada komputer atau sistem korban agar peretas lain tidak bisa memanfaatkannya untuk mengambil alih komputer atau sistem yang sama.

Menutupi jejak[sunting | sunting sumber]

Agar kegiatan dari seorang peretas tidak diketahui oleh korban, maka ada tahapan saat peretas menghapus log file serta menutupi semua jejak yang mungkin ditinggalkan. Maka itu seringkali korban tidak menyadari akan aktivitas peretas karena mereka membuatnya dalam modus tersembunyi (hidden).

Teknologi hacking[sunting | sunting sumber]

Untuk menguasai komputer korban, peretas hanya perlu mengeksploitasi salah satu elemen yang bermasalah pada komputer korban. Elemen-elemen atau jenis serangan bisa dikelompokan menjadi beberapa bagian.

Level sistem operasi[sunting | sunting sumber]

Banyaknya patch yang harus di-install dalam jangka waktu tertentu merupakan kelemahan dari sistem operasi pada umumnya, hal ini dapat diperbaiki dengan rajin meng-update komputer atau sistem dengan tambahan patch yang disediakan oleh vendor sistem operasi seperti Windows atau Linux.

Level aplikasi[sunting | sunting sumber]

Aplikasi-aplikasi biasanya memiliki kelemahan-kelemahan tertentu saat pembuatnya menyusun aplikasi tersebut. Hal ini dapat menyebabkan peretas memanfaatkan kelemahan-kelemahan tersebut.

Shrink wrap code[sunting | sunting sumber]

Banyak dari program-program memiliki fitur tambahan yang tidak disadari oleh penggunanya, yang malah bisa merusak sistem tersebut.

Kesalahan konfigurasi[sunting | sunting sumber]

Beberapa sistem bisa memiliki kesalahan konfigurasi atau berada pada tingkat kemanan terendah untuk meningkatkan pemanfaatan bagi penggunanya, yang sebenarnya malah menimbulkan kelemahan pada sistem dan mendatangkan ancaman.

Pengelompokan peretas[sunting | sunting sumber]

Peretas bisa dikelompokan berdasarkan aktivitas yang dilakukan. Peretas yang beretika terdapat dalam golongan kategori white hat hacker, namun ada juga yang terdapat dalam kategori grey hat hacker yang kemudian menjadi profesional kemanan dan menggunakan kemampuan mereka sesuai dengan peraturan peretas yang beretika

Black hat hacker[sunting | sunting sumber]

Black hat hacker adalah jenis peretas yang menggunakan kemampuan mereka untuk melakukan hal-hal yang dianggap melanggar hukum dan merusak. Ini adalah tipe peretas yang selalu digambarkan dan mendapatkan berita dari media massa karena ulah mereka. Kelompok ini juga disebut sebagai cracker.

White hat hacker[sunting | sunting sumber]

White hat hacker adalah jenis peretas yang menggunakan kemampuan mereka untuk menghadapi black hat hacker. Umumnya mereka adalah profesional yang bekerja pada perusahaan keamanan dan disebut sebagai security analys, security consultant dan sebagainya.

Grey hat hacker[sunting | sunting sumber]

Grey hat Hacker adalah jenis peretas yang bergerak diwilayah abu-abu, kadang-kadang menjadi black hat hacker namun bisa juga menjadi white hat hacker.

Proses kerja peretas yang beretika[sunting | sunting sumber]

Kegiatan peretas yang beretika dilakukan secara terstruktur dan sesuai dengan peraturan. Sedalam dan sejauh apa tes keamanan yang dilakukan tergantung pada keinginan dan kebutuhan klien. Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan seorang peretas yang beretika sebelum memulai kegiatannya:

  1. Berbicara dengan klien, mendiskusikan apa yang dibutuhkan dan tujuan yang ingin dicapai.
  2. Menyiapkan dan menandatangani dokumen NDA (NonDisclosure Agreement) bersama dengan klien.
  3. Menyusun tim peretas dan menyiapkan jadwal tes keamanan.
  4. Melakukan tes keamanan.
  5. Melakukan analisis dari hasil tes kemanan dan menyiapkan laporan.
  6. Mempresentasikan laporan kepada klien.

Jenis tes[sunting | sunting sumber]

Black-box hacking[sunting | sunting sumber]

Metode ini memposisikan peretas sebagai orang dari luar perusahaan yang tidak mengetahui perusahaan tersebut. Peretas akan mencoba mencari informasi dari segala sumber informasi yang bisa didapatkan dan mencoba menerobos ke dalam perusahaan.

White-box hacking[sunting | sunting sumber]

Metode ini memposisikan peretas sebagai orang yang telah mengetahui segala hal tentang perusahaan baik secara teknis maupun non-teknis, bahkan seorang yang memiliki akses ke dalam source code program dan segala informasi penting lainnya. Jadi peretas telah mengetahui bagaimana jaringan perusahaan dibentuk, sistem operasi yang digunakan, pertahanan yang dimiliki, prosedur dan segalanya. Dengan informasi detail semacam ini, peretas yang beretika akan mencoba menerobos ke dalam perusahaan untuk melihat kelemahan yang ada pada sistem pertahanan.

Grey-box hacking[sunting | sunting sumber]

Metode ini juga dikenal dengan internal testing atau penetrasi/pengujian yang dilakukan di dalam jaringan perusahaan. Metode ini memiliki asumsi bahwa peretas mengetahui informasi sistem yang digunakan namun dalam tahap yang terbatas.

Vulnerability research and tools[sunting | sunting sumber]

Vulnerability research merupakan salah satu cara untuk mengasah dan mengikuti perkembangan dalam dunia kegiatan peretas. Vulnerability research merupakan proses menemukan dan mencari kelemahan yang memungkinkan suatu sistem di-hack. Beberapa situs sangat membantu dalam hal ini karena melaporkan berbagai permasalahan pada berbagai perangkat lunak. Contohnya adalah Securitytracker[1], Securiteam[2], Hackerstorm[3], Secunia[4], Hackerwatch[5], Securityfocus[6], National Vulnerabillity Database[7], SCMagazine[8], Zone-h[9], dan Milw0rm[10].

Hacktivism[sunting | sunting sumber]

Hacktivism mengacu pada aktivitas peretas yang bermaksud untuk menyampaikan pesan agar didengar oleh orang-orang tanpa diketahui identitasnya. Kegiatan ini memiliki tujuan tertentu seperti tujuan sosial atau politik. Kebanyakan dari peretas ini berpartisipasi dalam aktivitas seperti serangan terhadap website, membuat virus atau kegiatan lain yang mendukung tujuan mereka. Target dari hacktivism biasanya agensi pemerintah, kelompok politik atau golongan lain yang dianggap "salah" atau "buruk".

Laporan kerja peretas beretika[sunting | sunting sumber]

Hasil dari penetrasi jaringan atau security audit adalah laporan dari peretas yang beretika. Laporan ini menjelaskan detail dari kegiatan peretas, jenis tes yang dilakukan dan metode yang digunakan. Hasil ini akan diteliti lebih lanjut untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sistem. Laporan ini harus dijaga kerahasiaannya karena menampilkan risiko keamanan dan kelemahan dari suatu sistem yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Jika laporan ini jatuh pada tangan yang salah, akan menyebabkan kehancuran pada perusahaan tersebut.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Graves, Kimberly. 2007. CEH: official certified ethical hacker review guide. Canada: Wiley Publishing, Inc.
  • Gregg, Michael. 2008. The Certified Ethical Hacker. India: Dorling Kindersley
  • S'to. 2009. Certified Ethical Hacker; 100% illegal. Jakarta: Jasakom
  • Niata, Aliama. 2008. Hacker Bersertifikat. Jakarta.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • [11] Penjelasan mengenai kegiatan peretas yang beretika
  • [12] Info pelatihan dan kegiatan peretas yang beretika