Penyu sisik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Penyu sisik
Eretmochelys imbricata di laut Útila, Honduras.
Eretmochelys imbricata di laut Útila, Honduras.
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Testudinata
Famili: Cheloniidae
Genus: Eretmochelys
Spesies: E. imbricata
Nama binomial
Eretmochelys imbricata
(Linnaeus, 1766)
Wilayah penyebaran penyu sisik
Wilayah penyebaran penyu sisik
Subspesies

E. imbricata bissa (Rüppell, 1835)
E. imbricata imbricata (Linnaeus, 1766)

Sinonim

E. imbricata squamata sinonim junior

Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) adalah jenis penyu yang terancam punah, yang termasuk ke dalam familia Cheloniidae. Ia adalah satu-satunya spesies dalam genusnya. Spesies ini memiliki distribusi di seluruh dunia, dengan dua subspesies di Atlantik dan Pasifik. E. imbricata imbricata adalah subspesies di Atlantik, sedangkan E. imbricata bissa adalah subspesies di wilayah Indo-Pasifik.[2]

Penampilan penyu sisik mirip dengan penyu lainnya. Penyu ini umumnya memiliki bentuk tubuh yang datar, sebuah karapas sabagai pelindung, dan sirip seperti lengan, beradaptasi untuk berenang di samudera terbuka. Perbedaan E. imbricata dari penyu lainnya yang sangat mudah dibedakan adalah paruhnya yang melengkung dengan bibir atas yang menonjol, dan penampilan pinggiran cangkangnya spserti gergaji. Cangkang penyu sisik dapat berubah warna, berdasarkan dengan temperatur air. Walaupun penyu ini sebagian hidupnya berada di samudera terbuka, pada beberapa waktu mereka datang ke laguna yang dangkal dan terumbu karang.

Praktik memancing yang dilakukan oleh manusia telah membuat populasi E. imbricata terancam kepunahan. World Conservation Union mengklasifikasikan penyu sisik sebagai kritis.[1] Cangkang penyu sisik adalah sumber utama dari material cangkang kura-kura yang digunakan untuk bahan dekorasi. Convention on International Trade in Endangered Species melarang penangkapan dan penjualan penyu sisik maupun produk-produk berasal darinya.[3]

Anatomi dan morfologi[sunting | sunting sumber]

E. imbricata memiliki jenis tampilan kura-kura laut. Seperti anggota lain dari keluarganya, penyu tersebut memiliki bentuk tubuh yang datar dan sirip seperti lengan yang diadaptasi untuk berenang.

Foto dari bagian atas penyu berenang dengan empat sirip terbuka dan muka cangkang
Pinggiran karapas yang bergerigi dan skat-skat yang saling bertumpang tindih pada individu ini

Penyu sisik dewasa diketahui dapat bertumbuh sampai sepanjang 1 m (3 kaki) dan berat sekitar 80 kg (180 lb) pada rata-ratanya. Penyu sisik terbesar yang pernah ditangkap memiliki berat 127 kg (280 lb).[4] Cangkang penyu, atau karapas, memiliki susunan latar belakang kuning dengan kombinasi garis-garis terang dan gelap yang tak beraturan yang didominasi dengan warna hitam dan bintik-bintik berwarna cokelat yang memancar disekitarnya.[5]

Terdapat beberapa karakteristik penyu sisik yang membedakan dirinya dari spesies penyu lainnya. Salah satunya adalah bentuk kepala yang memanjang dan meruncing serta memiliki sebuah paruh yang mirip seperti mulut (dari berbagai nama umum yang diberikan), dan paruhnya lebih tajam dan menonjol ketimbang yang lainnya. Lengan penyu sisik memiliki dua cakar yang terlihat pada setiap sirip.

Profil foto kepala hewan dengan paruhnya yang menonjol diatas rahang bahwa, mata berada di kepala bagian depan
Paruh penyu sisik dilihat dari jarak dekat

Salah satu karakteristik penyu sisik yang sangat mudah terlihat adalah susunan skat yang menghiasi karapasnya. Sementara karapasnya memiliki lima skat tengah dan empat pasang skat lateral seperti beberapa anggota dari keluarganya, posterior skat-skat E. imbricata yang tumpang tindih dalam sedemikian rupa untuk memberikan pinggiran belakang karapasnya yang terlihat bergerigi, mirip dengan tepi gergaji atau pisau bistik. Karapas penyu tersebut diketahui dapat memiliki panjang sebesar 1 m (3 kaki).[6]

Pasir yang dilalui penyu sisik membentuk asimetris, karena mereka merangkak diatas tanah dengan cara berjalan alternatif. Berbeda dengan penyu hijau dan penyu belimbing yang merangkak secara simetris.[7][8]

Karena dapat memakan cnidaria yang berbisa, daging penyu sisik dapat dijadikan toksis.[9]



Distribusi[sunting | sunting sumber]

Penyu sisik dapat ditemukan di beberapa tempat yang umumnya berada di daerah tropis Samudera Hindia, Pasifik, dan Atlantik. Dari seluruh spesies penyu, E. imbricata adalah salah satu yang paling terikat dengan perairan tropis yang hangat. Dua subpopulasi utama yang diketahui adalah subpopulasi Atlantik dan Indo-Pasifik.[10]

Peta dunia ini menunjukan concentrated tempat sarang di Caribbean dan pesisir timur laut Amerika Selatan. Tempat lainnya berada di sepanjang kepulauan Pasifik selatan, dengan konsentrasi lainnya di Laut Merah dan Teluk Persia, pesisir timur Tiongkok, pesisir tenggara Afrika dan Indonesia.
Model lainnya dari kemungkinan distribusi E. imbricata: Lingkaran merah menunjukan tempat sarang utama yang diketahui. Lingkaran kuning adalah tempat sarang minor.

Subpopulasi Atlantik[sunting | sunting sumber]

Foto penyu berenang dengan memanjangkan siripnya
Seekor penyu sisik di Saba, Antilles Belanda

Di Atlantik, kumpulan populasi penyu sisik berada di barat Teluk Meksiko dan tenggara Tanjung Harapan di Afrika Selatan.[10][11][12] Mereka hidup di lepas pantai Brazil (khususnya Bahia) hingga selatan Florida dan perairan lepas Virginia.[4] Spesies tersebut dapat meluas sampai bagian utara Long Island Sound dan Massachusetts[13] di bagian barat Atlantik dan perairan dingin Selat Inggris di bagian timur (penampakan spesies paling utara sampai saat ini).

Di Caribbean, pantai-pantai yang dijadikan sebagai sarang utama berada di Antilles Kecil, Barbados,[14] Guadeloupe,[15] Tortuguero di Kosta Rika,[16] dan di Yucatan. Mereka makan di perairan lepas Kuba[17] dan sekitar Pulau Mona dekat Puerto Rico[18] diantara tempat-tempat lainnya.

Subpopulasi Indo-Pasifik[sunting | sunting sumber]

Di Samudera Hindia, penyu sisik umumnya berada di pesisir timur Afrika, termasuk laut yang berada di sekitar Madagaskar dan kelompok pulau-pulau terdekat, dan seluruh pesisir selatan Asia, termasuk Teluk Persia, Laut Merah, dan pesisir Subbenua India dan Asia Tenggara. Mereka muncul di sepanjang Kepulauan Melayu dan sebelah utara Australia. Di Pasifik, penyu sisik hanya terdapat di wilayah samudera tropis dan subtropis. Di bagian barat, hewan tersebut terdapat dari sebelah barat daya Semenanjung Korea dan Kepulauan Jepang sampai sebelah utara Selandia Baru.

Filipina memiliki beberapa sarang penyu sisik, termasuk pulau Boracay.[19] Sebuah kelompok kecil dari pulau-pulau di barat daya kepulauan yang dinamakan "Kepulauan Penyu" karena dua spesies penyu bersarang disana: penyu sisik dan penyu hijau.[20] Di Hawaii, penyu sisik kebanyakan bersarang di pulau-pulau "utama" yakni Oahu, Maui, Molokai, dan Hawaii.[21] Di Australia, penyu sisik diketahui bersarang di Pulau Milman di Karang Penghalang Besar.[22] Penyu sisik bersarang di sebelah barat Pulau Cousine di Seychelles, dimana spesies tersebut telah dilindungi secara hukum sejak 1994, dan populasi tersebut menunjukan beberapa pemulihan.[23] Pada pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil di Seychelles, seperti Aldabra, adalah tempat makan yang populer untuk penyu sisik yang belum dewasa.[8][24]

Subpopulasi Pasifik Timur[sunting | sunting sumber]

Di bagian timur Pasifik, penyu sisik diketahui berada di Semenanjung Baja di sebelah selatan Meksiko sampai pesisir selatan Peru.[10] Meskipun demikian, pada tahun 2007, sebagian besar spesies tersebut telah dianggap punah di wilayah tersebut.[25] Sejak sisa-sisa tempat bertelur dan mencari makan ditemukan di Meksiko, El Salvador, Nicaragua, dan Ekuador, penelitian dan konservasi telah mendapatkan peluang baru. Berbeda dengan kebiasaan mereka di bagian-bagian lainnya di dunia, dimana penyu sisik biasanya tinggal di terumbu karang dan wilayah berbatu, di bagian timur Pasifik, penyu sisik bisanya hidup untuk mencari makan dan bertelur principally di muara hutan bakau, seperti yang saat ini berada di Bahia de Jiquilisco (El Salvador), Teluk Fonseca (Nicaragua, El Salvador, dan Honduras), Estero Padre Ramos (Nicaragua), dan Teluk Guayaquil (Ekuador).[26] Insiatif multi-nasional, seperti Eastern Pacific Hawksbill Initiative, saat ini mendorong upaya untuk penelitian dan konservasi populasi yang saat ini masih kurang dipahami.

Ekologi[sunting | sunting sumber]

Habitat[sunting | sunting sumber]

Penyu sisik dewasa biasanya ditemukan di terumbu karang tropis. Mereka biasanya terlihat sedang beristirahat di gua-gua dan sekitaran terumbu karang sepanjang hari. Sebagai spesies yang bermigrasi sangat jauh, mereka dapat mendiami berbagai habitat, dari samudera terbuka sampai laguna dan rawa hutan bakau di muara.[6][27] Sedikit yang diketahui mengenai preferensi habitat awal kehidupan E. imbricata; seperti penyu muda lainnya, mereka diasumsikan sebagai pelagik sempurna yang tersisa di laut sampai masa dewasa.[28]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Foto penyu berenang dengab memanjangkan kepalanya
E. imbricata di sebuah terumbu karang di Venezuela

Sementara mereka adalah omnivora, spons laut adalah makanan utama dari penyu. Spons merupakan 70–95% makanan mereka di Caribbean. Namun, seperti kebanyakan spongivora, mereka hanya memakan spesies tertentu dan tidak memakan yang lainnya. Populasi Caribbean utamanya memakan mangsa yang berasal dari ordo Astroforida, Spiroforida, dan Hadromerida dalam kelas Demospongiae.[29] Selain memakan spons, penyu sisik juga memakan alga, cnidaria, Ctenofora, dan ubur-ubur lainnya, dan anemon laut.[6] Mereka juga memakan ubur-ubur berbahaya seperti ubur-ubur api (Physalia physalis) dari kelas hydrozoa. Penyu sisik menutup mata untuk melindungi mata mereka ketika memakan cnidaria. Sengatan dari ubur-ubur api tak dapat melawan lapisan kepala penyu tersebut.[4]

Penyu sisik memiliki ketangguhan dan ketahanann yang tinggi terhadap mangsa mereka. Beberapa spons mereka makan, seperti Aaptos aaptos, Chondrilla nucula, Tethya actinia, Spheciospongia vesparium, dan Suberites domuncula, yang sangat (sering mematikan) toksis sampai organisme lainnya. Selain itu, penyu sisik memilih spesies spons yang mengandung silika spikula dengan angka signifikan, seperti Ancorina, Geodia (G. gibberosa[4]), Ecionemia, dan Placospongia.[29]

Sejarah kehidupan[sunting | sunting sumber]

Foto penyu berenang
E. imbricata muda dari Pulau Réunion

Tidak banyak diketahui mengenai sejarah kehidupan dari penyu sisik.[30] Sejarah kehidupan mereka dapat dibagi sampai tiga fase, yang bernama fase pelagik, dari menukik sampai sekitar 20 cm, fase bentik, dimana penyu yang belum dewasa mencari tempat makan, dan fase reproduksi, dimana mereka telah mencapai kematangan seksual.[31][32] Fase pelagik mungkin berakhir pada usia 1 sampai 4 tahun.[33][34] Penyu sisik menunjukan tingkat kesetiaan setelah pertumbuhan sampai fase bentik,[35] namun pergerakan sampai ke habitat yang mirip lainnya sangat memungkinkan.[36]

Perkembangbiakan[sunting | sunting sumber]

Penyu sisik kawin dua kali di laguna terpencil yang berada di lepas pantai sarang mereka di pulau-pulau yang terpantau oleh rombongan mereka. Musim berkembang biak dari penyu sisik Atlantik dilakukan pada April sampai November. Populasi Samudera Hindia, seperti populasi penyu sisik Seychelles, berkembang biak dari September sampai Februari.[8] Setelah masa dewasa, betina menyeret tubuhnya sampai ke pantai saat malam hari. Mereka membersihkan area disekelilingnya dan membuat lubang yang digunakan untuk menyimpan telur menggunakan sirip belakang mereka, kemudian mengeluarkan telur-telur tersebut dan menutupinya dengan pasir. Sarang E. imbricata di Caribbean dan Florida biasanya berisi sekitar 140 telur. Setelah berproses dalam waktu yang panjang, betina tersebut kemudian kembali ke laut.[11][6]

Bayi penyu tersebut, biasanya dengan berat kurang dari 24 g (0.85 oz) merangkak pada malam hari setelah sekitar dua bulan. Tukik yang baru menetas berwarna gelap, dengan karapas berbentuk hati berukuran panjang sekitar 25 cm (9.8 in). Mereka secara naluriah merangkak di dalam laut saat tertarik dengan pantulan bulan di atas air (mungkin terganggu oleh sumber pencahayaan seperti lampu jalan dan penerangan). Meskipun mereka terjaga dibawah naungan kegelapan, bayi penyu yang tidak mencapai air pada saat fajar dapat dimangsa oleh burung pantai, kepiting pantai, dan predator lainnya.[6]

Foto penyu kecil berjalan di atas pasir
Hawksbill sedang menukik di Puerto Rico

Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Sejarah kehidupan penyu sisik saat masih muda tidak diketahui. Saat mencapai laut, tukik diasumsikan memasuki tahap hidup pelagik (seperti penyu laut lainnya) untuk beberapa waktu yang tidak ditentukan. Meskipun tingkat pertumbuhan penyu sisik tidak diketahui, ketika penyu remaja mencapai 35 cm (14 in), merek beralih dari gaya hidup pelagik menuju ke kehidupan di terumbu karang.

Masa dewasa[sunting | sunting sumber]

Penyu sisik memasuki masa dewasa setelah 30 tahun.[11] Mereka dipercaya dapat hidup dari 30 sampai 50 tahun di alam liar.[37] Seperti penyu lainnya, penyu sisik adalah hewan penyendiri pada sebagian besar hidup mereka; mereka bertemu hanya untuk mendapatkan pasangan. Minat hewan tersebut terhadap migrasi sangat tinggi.[30] Karena karapas mereka keras, predator penyu sisik dewasa hanya hiu, buaya muara, gurita, dan beberapa spesies ikan pelagik.[30]

Pada serangkaian isyarat biotik dan abiotik, seperti genetik individu, baik secara kuantitas maupun kualitas [38] atau kepadatan populasi, dapat memicu pematangan organ reproduksi dan produksi gamet dan dengan demikian menentukan kematangan seksual. Seperti kebanyakan reptil, seluruh penyu laut sama-sama memiliki keagresifan yang tinggi tidak seperti untuk mencapai kematangan seksual pada ukuran dan usia yang sama.[39] Masa kedewasaan terjadi antara usia 10[40] sampai 25 tahun[41] untuk penyu sisik Caribbean. Penyu yang bersarang di wilayah Indo-Pasifik mengalami masa dewasa minimal pada usia 30 sampai 35 tahun.[42][43]

Sejarah evolusi[sunting | sunting sumber]

Sebagai penyu laut, E. imbricata memiliki beberapa ciri-ciri anatomi dan ekologi yang unik. Hewan ini adalah satu-satunya reptil yang berasal dari spongivora. Karenanya, proses evolusinya agak tidak jelas. Analisis molekuler mendukung penempatan Eretmochelys dalam taksonomi tribus Carettini, yang meliputi karnivora penyu tempayan dan penyu belimbing, bukan dari tribus Chelonini, yang meliputi herbivora penyu hijau. Penyu sisik mungkin berevolusi dari hewan purba yang karnivora.[44]

Sejarah etimologi dan taksonomi[sunting | sunting sumber]

Sebuah gambar yang menunjukan tujuh penyu dengan berbagai bentuk tubuh dan karapas
Penyu sisik (kanan atas) dalam sebuah gambar dari tahun 1904 karya Ernst Haeckel

Linnaeus awalnya menamakan penyu sisik sebagai Testudo imbricata pada tahun 1766, dalam Systema Naturae edisi ke-12.[45] Pada tahun 1843, seorang ahli zoologi Austria yang bernama Leopold Fitzinger memasukkan hewan tersebut dalam genus Eretmochelys.[46] Pada tahun 1857, spesies tersebut pada beberapa waktu disalahartikan sebagai Eretmochelys imbricata squamata.[47]

Dua subspesies dimasukkan dalam takson E. imbricata. E. i. bissa (Rüppell, 1835) merujuk pada populasi yang berada di Samudera Pasifik.[48] Populasi yang berada Atlantik adalah sebuah subspesies yang terpisah, E. i. imbricata (Linnaeus, 1766). Subspesies tersebut adalah takson Atlantik, karena jenis spesimen Linnaeus berasal dari Atlantik.[49]

Fitzinger mengambil nama genus, Eretmochelys, dari penggabungan bahasa Yunani eretmo dan chelys yang masing-masing artinya adalah "dayung" dan "penyu". Nama tersebut merujuk sirip penyu bagian depan yang mirip dayung. Nama spesies imbricata adalah bahasa Latin, yang artinya imbrikasi. Penamaan ini sangat tepat untuk mendeskripsikan skat bagian belakang pada penyu tersebut yang bertumpang tindih. Nama subspesies penyu sisik Pasifik, bissa, adalah bahasa Latin untuk "ganda". Subspesies tersebut awalnya dinamakan sebagai Caretta bissa; istilah tersebut dipakai karena hewan tersebut adalah spesies kedua dalam genus tersebut.[50] Caretta adalah genus penyu sisik yang relatif berukuran besar, penyu tempayan.

Pemanfaatan oleh manusia[sunting | sunting sumber]

Uang wanita Palauan (toluk)

Di berbagai belahan dunia, penyu sisik diambil oleh manusia, secara ilegal dengan cara memburu mereka di berbagai negara.[51] Di beberapa bagian dunia, penyu sisik dimakan sebagai makanan lezat. Sejak abad ke-5 SM, penyu, termasuk penyu sisik, dimakan sebagai makanan lezat di Tiongkok.[52]

Beberapa kebudayaan juga menggunakan cangkang penyu untuk dekorasi. Penyu tersebut telah diternakkan untuk diambil cangkang indah mereka sejak jaman Mesir, dan material tersebut dikenal sebagai cangkang kura-kura yang biasanya berasal dari penyu sisik.[53] Di Tiongkok, dimana hewan tersebut dikenal sebagai tai mei, penyu sisik disebut sebagai "penyu bercangkang kura-kura", penamaan utama untuk cangkang tersebut, yang digunakan untuk membuat dan mendekorasi berbagai barang-barang kecil, seperti halnya di negara-negara Barat.[52] Di Jepang, penyu tersebut juga diternakkan untuk skat cangkang mereka, yang disebut bekko dalam bahasa Jepang. Hewan ini digunakan dalam berbagai kepentingan pribadi, seperti kerangka kacamata dan bahan pembuatan shamisen (alat musik tradisional Jepang yang memiliki tiga dawai).[53] Pada tahun 1994, Jepang menghentikan pengimporan cangkang penyu sisik dari negara lain. Sebelumnya, cangkang penyu sisik yang dijual di Jepang berkisar 30.000 kg (66,000 lb) dari rata-rata cangkang per tahun.[17][54] Di negara-negara Barat, cangkang penyu sisi diternakkan oleh orang-orang Yunani kuno dan Romawi kuno untuk dibuat perhiasan, seperti sisir, sikat, dan cincin.[55] Sebagian besar penjualan cangkang penyu sisik berasal dari Caribbean. Pada tahun 2006, cangkang yang tersedia diproses secara teratur, seringkali dalam jumlah besar, di berbagai negara termasuk Republik Dominika dan Kolombia.[56]

Konservasi[sunting | sunting sumber]

Foto penyu berenang in shallow, green water
Seekor penyu sisik di Tobago
Penangkaran Penyu Sisik di Pulau Pramuka, Kep.Seribu
Anak Penyu Sisik di Penangkaran Pulau Pramuka

Sebuah konensus telah menunjukan bahwa penyu laut, termasuk E. imbricata, berjumlah sangat sedikit. Spesies tersebut terancam karena pertumbuhan dan kedewasaan mereka rendah, serta tingkat reproduksi mereka rendah. Kebanyakan penyu dewasa telah dibunuh oleh manusia, baik secara sengaja maupun tidak disengaja. Selain itu, manusia dan hewan mengancam tempat sarang mereka, dan mamalia kecil membawa pergi telur-telur tersebut.[6] Di Kepulauan Virgin AS, garangan menyerbu telur-telur milik penyu sisik (bersama dengan milik penyu lainnya, seperti Dermochelys coriacea) setelah mereka letakkan.[57]

Pada tahun 1982, IUCN Red List untuk Spesies Terancam pertama kali memasukkan E. imbricata sebagai spesies terancam.[58] Status terancam tersebut berkali-kali dikatakan dalam beberapa pengumuman pada 1986,[59] 1988,[60] 1990,[61] dan 1994[62] sampai hewan tersebut dipindahkan dalam status kritis pada 1996.[1] Sebelumnya, dua petisi menetapkan statusnya sebagai spesies terancam yang mengklaim bahwa penyu tersebut (bersama dengan tiga spesies lainnya) memiliki beberapa ketetapan signifikan terkait populasi tersebut di dunia. Petisi tersebut ditolak berdasarkan analisis mereka terhadap data yang diajukan oleh Marine Turtle Specialist Group (MTSG). Data tersebut diberikan oleh MTSG yang menunjukkan populasi penyu sisik di dunia telah menurun sebanyak 80% dalam tiga generasi terbaru, dan tidak ada peningkatan signifikan pada jumlah populasi-nya pada tahun 1996. Namun status CR A2 ditolak karena IUCN tidak menemukan data yang cukup untuk menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah lebih dari 80% di masa depan.[63]

Spesies tersebut (bersama dengan seluruh anggota keluarga Cheloniidae) masuk pada Lampiran I dari Convention on International Trade in Endangered Species.[3] Mengimpor atau mengekspor produk penyu, atau membunuh, menangkap, atau mengusik penyu sisik adalah tindakan yang dianggap ilegal.[51]

Keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi juga telah meningkat pada beberapa tahun terakhir.

United States Fish and Wildlife Service dan National Marine Fisheries Service mengklasifikasikan penyu sisik sebagai spesies terancam dibawah Undang-Undang mengenai Spesies Terancam[64] sejak 1970. Pemerintahan AS mendirikan beberapa rencana pemulihan[65] untuk melindungi E. imbricata.[66]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Red List Standards & Petitions Subcommittee (1996). Eretmochelys imbricata. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 5 Februari 2007.
  2. ^ Eretmochelys imbricata (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  3. ^ a b CITES (2006-06-14). "Appendices" (SHTML). Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2007-02-03. Diakses 2007-02-05. 
  4. ^ a b c d "Species Booklet: Hawksbill sea turtle". Virginia Fish and Wildlife Information Service. Virginia Department of Game & Inland Fisheries. Diakses 2007-02-06. 
  5. ^ "Hawksbill turtle – Eretmochelys imbricata: More information". Wildscreen. Diakses 2007-02-05. 
  6. ^ a b c d e f "Eretmochelys imbricata, Hawksbill Sea Turtle". MarineBio.org. Diakses 2007-02-05. 
  7. ^ "The Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata)". turtles.org. Diakses 2007-02-22. 
  8. ^ a b c "Hawksbill". SeychellesTurtles.org - Strategic Management of Turtles. Marine Conservation Society, Seychelles. Diarsipkan dari aslinya tanggal 2007-10-17. Diakses 2007-02-22. 
  9. ^ "The Hawksbill Turtle: Eretmochelys imbricata". Auckland Zoo. Diakses 2007-07-14. 
  10. ^ a b c "Species Fact Sheet: Eretmochelys imbricata (Linnaeus, 1766)". FIGIS - Fisheries Global Information System. United Nations. 2006. Diakses 2009-06-14. 
  11. ^ a b c "Hawksbill Sea Turtle (Eretmochelys imbricata)". North Florida Field Office. United States Fish and Wildlife Service. 2005-12-09. Diakses 2007-02-18. 
  12. ^ Formia, Angela; Manjula Tiwari, Jacques Fretey and Alexis Billes (2003). "Sea Turtle Conservation along the Atlantic Coast of Africa". Marine Turtle Newsletter (IUCN Marine Turtle Specialist Group) 100: 33–37. Diakses 2007-02-18. 
  13. ^ Pope, C. H. (1939). Turtles of the United States and Canada. New York: Alfred A. Knopf. 
  14. ^ Beggs, Jennifer A.; Julia A. Horrocks and Barry H. Krueger (2007). "Increase in hawksbill sea turtle Eretmochelys imbricata nesting in Barbados, West Indies". Endangered Species Research (ESR) 3: 159–168. doi:10.3354/esr003159. Diakses 2010-12-06. 
  15. ^ Kamel, Stephanie J.; Eric Delcroix (2009). "Nesting Ecology of the Hawksbill Turtle, Eretmochelys imbricata, in Guadeloupe, French West Indies from 2000–07". Journal of Herpetology 43 (3): 367–376. doi:10.1670/07-231R2.1. Diakses 2010-12-06. 
  16. ^ Bjorndal, Karen A.; Alan B. Bolten and Cynthia J. Lagueux (December 1993). "Decline of the Nesting Population of Hawksbill Turtles at Tortuguero, Costa Rica". Conservation Biology (Blackwell Publishing) 7 (4): 925–927. doi:10.1046/j.1523-1739.1993.740925.x. JSTOR 2386826. 
  17. ^ a b Heppel, Selina S.; Larry B. Crowder (June 1996). "Analysis of a Fisheries Model for Harvest of Hawksbill Sea Turtles (Eretmochelys imbricata)". Conservation Biology (Blackwell Publishing) 10 (3): 874–880. doi:10.1046/j.1523-1739.1996.10030874.x. JSTOR 2387111. 
  18. ^ Bowen, B. W.; A. L. Bass, A. Garcia-Rodriguez, C. E. Diez, R. van Dam, A. Bolten, K. A., Bjorndal, M. M. Miyamoto and R. J. Ferl (May 1996). "Origin of Hawksbill Turtles in a Caribbean Feeding Area as Indicated by Genetic Markers". Ecological Applications (The Ecological Society of America) 6 (2): 566–572. doi:10.2307/2269392. JSTOR 2269392. 
  19. ^ Colacion, Artem; Danee Querijero (2005-03-10). "Uriel's journey home — a Young pawikan's story in Boracay". The Philippine STAR. Diakses 2007-02-06. 
  20. ^ "Ocean Ambassadors - Philippine Turtle Islands". Coastal Resource & Fisheries Management of the Philippines. OneOcean.org. Diakses 2007-02-06. 
  21. ^ Hoover, John P. (2008). The Ultimate Guide to Hawaiian Reef Fishes, Sea Turtles, Dolphins, Whales, and Seals. Mutual Publishing. ISBN 978-1-56647-887-8. 
  22. ^ Loop, K. A.; J. D. Miller and C. J. Limpus (1995). "Nesting by the hawsbill turtle (Eretmochelys imbricata) on Milman Island, Great Barrier Reef, Australia". Wildlife Research (CSIRO Publishing) 22 (2): 241–251. doi:10.1071/WR9950241. Diakses 2007-02-21. 
  23. ^ Allen, ZC; N. J. Shah, A. Grant, G-D. Derand and D. Bell (April 2010). "Hawksbill turtle monitoring in Cousin Island". Endangered Species Research 11 (3): 195–200. doi:10.3354/esr00281. Diakses 23 April 2012. 
  24. ^ Hitchins, P. M.; O. Bourquin and S. Hitchins (2004-04-27). "Nesting success of hawksbill turtles (Eretmochelys imbricata) on Cousine Island, Seychelles". Journal of Zoology (Cambridge University Press, The Zoological Society of London) 264 (2): 383–389. doi:10.1017/S0952836904005904. Diakses 2007-02-21. 
  25. ^ Gaos, Alexander; et al. (2010). "Signs of Hope in the Eastern Pacific: International collaboration reveals encouraging status of hawksbill turtles in the eastern Pacific". Oryx 44 (4): 595. doi:10.1017/S0030605310000773. 
  26. ^ Gaos, Alexander; et al. (2011). "Shifting the life-history paradigm: discovery of novel habitat use by hawksbill turtles". Biol Lett. 
  27. ^ Lutz, P. L.; J. A. Musick (1997). The Biology of Sea Turtles. Boca Raton, Florida: CRC Press. ISBN 0-8493-8422-2. 
  28. ^ Houghton, Jonathan D. R.; Martin J. Callow, Graeme C. Hays (2003). "Habitat utilization by juvenile hawksbill turtles (Eretmochelys imbricata, Linnaeus, 1766) around a shallow water coral reef" (PDF). Journal of Natural History 37 (10): 1269–1280. doi:10.1080/00222930110104276. Diakses 2007-03-17. 
  29. ^ a b Meylan, Anne (1988-01-22). "Spongivory in Hawksbill Turtles: A Diet of Glass". Science (American Association for the Advancement of Science) 239 (4838): 393–395. doi:10.1126/science.239.4838.393. JSTOR 1700236. PMID 17836872. 
  30. ^ a b c Edelman, Michael (2004). "Eretmochelys imbricata: Information". Animal Diversity Web. University of Michigan Museum of Zoology. Diakses 2007-02-04. 
  31. ^ Boulon, R. (1994). Growth Rates of Wild Juvenile Hawksbill Turtles, Eretmochelys imbricata, in St. Thomas, United States Virgin Islands. Copeia, 1994: 3 pp 811-814
  32. ^ Van Dam, R.P. & C.E. Diez. 1997b. Diving behavior of immature hawksbill turtles (Eretmochelys imbricata) in a Caribbean reef habitat. Coral Reefs 16: 133-138.
  33. ^ WITZELL, W. N. 1983. Synopsis of biological data on the hawksbill turtle, Eretmochelys imbricata (Linnaeus 1766). FAO Fisheries Synopsis 137:1-78.
  34. ^ MUSICK, J.A. & C. J. LIMPUS. 1997. Habitat utilization and migration in juvenile sea turtles. In: P. L. Lutz & J. A. Musick (Eds). The Biology of Sea Turtles. CRC Press, Boca Raton. pp. 137-163.
  35. ^ LIMPUS, C.J. 1992. The hawksbill turtle, Eretmochelys imbricata, in Queensland: Population structure within a southern Great Barrier Reef feeding ground. Wildlife Research, 19, 489-506.
  36. ^ BOULON, R.H. 1989. Virgin Island turtle tags recovered outside the U. S. Virgin Islands. In: S.A. Eckert, K.L. Eckert & T.H. Richardson (Compilers). Proceedings of the Ninth Annual Workshop on Sea Turtle Conservation and Biology. U.S. Dept. of Commerce. NOAA Tech. Memo. NMFS-SEFC-232. pp 207.
  37. ^ "Atlantic Hawksbill Sea Turtle Fact Sheet". New York State Department of Environmental Conservation. Diakses 2009-06-10. 
  38. ^ León, Y.M. and C.E. Diez, 1999. Population structure of hawksbill turtles on a foraging ground in Dominican Republic (Chelonian Conservation and Biology; 1999, v. 3, no. 2, p. 230-236)
  39. ^ LIMPUS, C.J., P.J. COUPER & M.A. READ. 1994. The green turtle, Chelonia mydas, in Queensland: population structure in a warm temperate feeding area. Memoirs of the Queensland Museum 35: 139-154.
  40. ^ Moncada, F. Carrillo, E., Saenz, A., and Nodarse, G. (1999). Reproduction and Nesting of the Hawksbill Turtle, Eretmochelys imbricata, in the Cuban Archipelago. Chelonian Conservation and Biology, 3(2):257–263
  41. ^ Diez, C. E. & Van Dam, R. P. (2002). Habitat effect on hawksbill turtle growth rates on feeding grounds at Mona and Monito Islands, Puerto Rico. Marine Ecology Progress Series. 234:301-309.
  42. ^ Limpus, C.J. and Miller, J.D. 2000. Final Report for Australian Hawksbill Turtle Population Dynamics Project. A Project Funded by the Japan Bekko Association to Queensland Parks and Wildlife Service. Dr. Colin J. Limpus and Dr. Jeffrey D. Miller, Planning and Research Division, Queensland Parks and Wildlife Service, P.O. Box 155, Brisbane Albert Street, Qld 4002, Australia.
  43. ^ Mortimer, J.A., Collie, J.,Jupiter, T. Chapman, R. Liljevik, A. and Betsy, B. 2003. Growth rates of immature hawksbills (Eretmochelys imbricata) at Aldabra Atoll, Seychelles (Western Indian Ocean). In: J.A. Seminoff (ed.), Proceedings of the Twenty-Second Annual Symposium on Sea Turtle Biology and Conservation, pp. 247.
  44. ^ Bowen, Brian W.; William S. Nelson and John C. Avise (15 June 1993). "A Molecular Phylogeny for Marine Turtles: Trait Mapping, Rate Assessment, and Conservation Relevance". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (National Academy of Sciences) 90 (12): 5574–5577. doi:10.1073/pnas.90.12.5574. PMC 46763. PMID 8516304. 
  45. ^ Testudo imbricata Linnaeus, 1766 (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  46. ^ Eretmochelys Fitzinger, 1843 (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  47. ^ Eretmochelys imbricata squamata Agassiz, 1857 (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  48. ^ Eretmochelys imbricata bissa (Rüppell, 1835) (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  49. ^ Eretmochelys imbricata imbricata (Linnaeus, 1766) (TSN {{{ID}}}). Integrated Taxonomic Information System.
  50. ^ Beltz, Ellin. "Translations and Original Descriptions: Turtles". Scientific and Common Names of the Reptiles and Amphibians of North America - Explained. ebeltz.net. Diakses 2007-02-06. 
  51. ^ a b UNEP-WCMC. "Eretmochelys imbricata". UNEP-WCMC Species Database: CITES-Listed Species. United Nations Environment Programme - World Conservation Monitoring Centre. A-301.003.003.001. Diakses 2007-02-05. 
  52. ^ a b Schafer, Edward H. (1962). "Eating Turtles in Ancient China". Journal of the American Oriental Society (American Oriental Society) 82 (1): 73–74. doi:10.2307/595986. JSTOR 595986. 
  53. ^ a b [1] STRP Hawksbill Sea Turtle
  54. ^ Strieker, Gary (2001-04-10). "Tortoiseshell ban threatens Japanese tradition". CNN.com/sci-tech (Cable News Network LP, LLLP.). Diakses 2007-03-02. 
  55. ^ Casson, Lionel (1982). "Periplus Maris Erythraei: Notes on the Text". The Journal of Hellenic Studies (The Society for the Promotion of Hellenic Studies) 102: 204–206. doi:10.2307/631139. JSTOR 631139. 
  56. ^ "Turtles of the Caribbean: the curse of illegal trade". Newsroom. World Wide Fund for Nature. 2006-10-01. Diakses 2007-02-27. 
  57. ^ Nellis, David W.; Vonnie Small (June 1983). "Mongoose Predation on Sea Turtle Eggs and Nests" (PDF). Biotropica (The Association for Tropical Biology and Conservation) 15 (2): 159–160. doi:10.2307/2387964. JSTOR 2387964. Diakses 2007-02-16. 
  58. ^ Groombridge, B. (1982). The IUCN Amphibia-Reptilia Red Data Book, Part 1: Testudines, Crocodylia, Rhynocehapalia. Gland, Switzerland: IUCN. 
  59. ^ IUCN Conservation Monitoring Centre (1986). 1986 IUCN Red List of Threatened Animals. Gland, Switzerland and Cambridge, UK: IUCN. ISBN 2-88032-605-2. 
  60. ^ IUCN Conservation Monitoring Centre (1988). 1988 IUCN Red List of Threatened Animals. Gland, Switzerland and Cambridge, UK: IUCN. 
  61. ^ IUCN (1990). 1990 IUCN Red List of Threatened Animals. Gland, Switzerland and Cambridge, UK.: IUCN. 
  62. ^ Groombridge, B. (1994). 1994 IUCN Red List of Threatened Animals. Gland, Switzerland: IUCN. ISBN 2-8317-0194-5. 
  63. ^ Red List Standards & Petitions Subcommittee (2001-10-18). "Ruling of the IUCN Red List Standards and Petitions Subcommittee on Petitions against the 1996 Listings of Four Marine Turtle Species, 18 October 2001" (PDF). International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Diakses 2007-02-05. 
  64. ^ Endangered Species Act
  65. ^ recovery plans
  66. ^ "Species Profile: Hawksbill sea turtle (Eretmochelys imbricata)". USFWS Threatened and Endangered Species System (TESS). United States Fish and Wildlife Service. 1970-06-02. Diakses 2007-02-05. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]